Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
Matahari mulai menampakkan cahayanya remang-remang. Warga masih berkumpul di teras rumah Abah Dikun. Ara duduk di ujung teras bersama dua ibu-ibu yang mendampinginya, sementara Ziano malah lanjut tidur selepas shalat subuh tadi.
Suara mobil bak terbuka berhenti tepat di depan rumah. Lampunya menyapu halaman yang masih penuh orang.
Abah Dikun yang baru turun langsung mengernyit.
"Lho... aya naon ieu?" gumamnya.(Ada apa ini?)
Ambu yang menggendong Lusi ikut memandang bingung. "Kok rame kieu?" (kok rame gini)
Lusi malah senang melihat banyak orang. "Abah... banyak orang..."
Tak ada satu pun warga yang menjawab. Mereka justru saling melirik.
Pak RT maju lebih dulu. "Aki... ada yang perlu kita bicarakan."
Belum sempat Abah bertanya lagi, matanya menangkap sosok Ara.
Gadis itu duduk di ujung teras. Matanya sembab, hidungnya meah dan tangannya masih bergetar. Alih-alih menanggapi ucapan pak RT, abah dan ambu menghampiri putrinya.
"Neng Ara nggak apa-apa?" Ara menggeleng.
"Ziano mana? kenapa rumah rame kayak gini?" tanyanya lagi sambil melirik ke dalam, abah lantas menggelengkan kepala. Bisa-bisanya bocah itu tidur padahal keadaan rumah begitu ramai dan membiarkan putrinya nangis sampai matanya sembab.
Ara berdiri memeluk ayahnya, "Abah..."
Baru sata kata keluar tapi tangisannya makin kencang. Ambu yang masih menggendong Lusi mengelus sayang kepala putrinya.
"Cerita sama abah sama ambu, ini sebenernya kenapa? rumah kita kemalingan?" tebak ambu.
"Bah...Ambu... Ara nggak ngapa-ngapain..." ucapnya dengan tatapan takut.
Abah mengusap kepala putrinya pelan. "Iya, tapi cerita dulu pelan-pelan."
"Aki biar saya saja yang cerita." Belum sempat menjawab, Pak RT sudah menyela.
Abah ikut duduk di samping pak RT dan beberapa warga. Sementara ambu mendengarkan cerita dari ibu-ibu yang membersamai Ara.
"Gini Ki... " Pak RT menceritakan semuanya secara runtut. Dari mulai aduan warga hingga penggrebekan tengah malam tanpa terlewat sedikit pun. Tentang Ziano dan Ara yag berduaan, tentang komputer, tentang dugaan maksiat hingga tentang usulan agar keduanya segera dinikahkan. Ara yang ikut mendengar pun menjadi semakin terisak.
Abah hanya mengangguk santai. Semakin lama wajah Abah semakin datar. Tidak marah, tidak pula panik. Selesai mendengar semuanya, Abah malah menatap komputer yang masih menyala. Barcode scanner masih tergeletak. Printer struk masih berkedip.
Abah menoleh pada Ara. "Nggak apa-apa, Neng. Jangan nangis."
"Aki ini gimana sih! Anak maksiat kok malah bilang nggak apa-apa?" Pak RT setelah emosi.
"Karena saya abahnya, saya tau anak saya seperti apa." jawab abah santai.
"Belajar?" lanjutnya pada Ara.
Ara mengangguk sambil sesenggukan. "Iya Bah..."
"Lanjut sampe malam?"
"Iya..." jawab Ara lirih.
"Yudi tadi ikut?"
"Iya Bah... tapi pulang karena adeknya sakit."
Abah mengangguk pelan.
"Aki jangan langsung percaya, kami saksi, Ki. Mereka berduaan, anak sekarang suka banyak alasan Ki." Jelas pak RT.
"Iya. Anak sekarang suka banyak alasan, tapi bukan berarti anak saya seperti itu pak RT." Abah berjalan ke arah televisi.
Semua orang menahan napas. Mungkin sekarang Abah akan membangunkan Ziano dan memarahinya habis-habisan.
Namun...
Bug!
Abah malah menendang pelan telapak kaki Ziano. "No."
"Hm?" Ziano membuka sebelah mata.
"Udah pulang, Ki?" lanjutnya.
"Iya."
Ziano mengamati sekitar, gila warga masih aja ada. "Aku pusing, Ki." Keluhnya
"Tau."
"Mau muntah." ucap Ziano lagi sambil memijit pelipisnya.
"Tau."
"Dibeliin komputer belum sempet dipake malah dipake sidang warga." Abah menghela napas.
Pak Hansip berdehem. "Ki... menurut kami lebih baik mereka dinikahkan saja."
Abah langsung menoleh. "Nikah?"
"Iya."
"Supaya nggak jadi fitnah."
Abah tertawa kecil. Semakin lama semakin keras.
Sampai Pak Hansip bingung. "Apa yang lucu, Ki?"
Abah menggeleng. "Kalian nyuruh anak saya nikah, karena mau ngerokin orang masuk angin?"
Ruangan mendadak hening.
"Tapi mereka berduaan!" seru seseorang.
Abah mengangguk. "Iya. Terus?"
"Mereka bukan mahram!"
"Iya."
"Terus?"
"Neng Ara perempuan!"
"Iya."
"Terus?"
Satu per satu warga kehilangan kalimat. Abah menarik kursi lalu duduk. Tangannya menyatu di atas lutut. "Saya lebih kenal anak saya daripada bapak ibu."
"Neng Ara kalau bohong telinganya merah." lanjutnya.
Semua mata langsung menoleh ke Ara. Telinganya memang tidak merah.
"Kalau gugup karena takut saya marah, dia nangis." jelas Abah sambil melirik putrinya.
"Sekarang dia nangis, tapi bukan karena ketahuan salah. Dia takut saya kecewa." lanjutnya.
Ara makin menangis. Ambu ikut memeluk putrinya.
Pak RT mulai melunak. "Tapi ..."
Belum selesai. Ziano tiba-tiba berdiri dengan rambut yang masih acak-acakan bahkan masih terlihat mengantuk. Ziano melirik semua orang bergantian, lalu berjalan santai dan berhenti tepat di samping Ara, Menepuk pelan bahu gadis yang terus-terusan terisak. "jangan nangis mulu!"
"Gini aja deh." ucapnya seraya menatap satu persatu warga.
"Kalau aturan desa bilang belajar komputer sampai malam itu dosa..."
"Saya minta maaf. Tapi kalau aturan desa bilang semua laki-laki yang masuk angin harus langsung nikah sama yang mau ngerokin..." Ziano menjeda ucapannya beberapa detik sambil menahan tawa.
"Besok saya buka jasa kerokan aja, kayaknya sehari bisa punya lima istri."
Hening.
Entah siapa yang pertama kali tertawa.
Yudi yang baru datang bersama ibunya spontan menutup mulut.
Ambu memalingkan wajah.
Bahkan Pak RT terlihat menarik napas panjang supaya tidak ikut tertawa.
Hanya Ara yang langsung memukul lengan Ziano.
"A Ano! Ini bukan waktunya bercanda!"
Ziano memegang lengannya. "Lho emang salah? Aku kan cuma ngitung peluang usaha."
"Kan kalo gini lo jadi berenti nangisnya." ledek Ziano.
"Ini waktunya serius, Aa!"
"Terus gimana? lo mau gue seriusin gitu? nikah aja gitu?" ledeknya lagi.
Pak RT dan Pak Hansip beserta warga mulai geram dengan sikap Ziano yang tak ada seriusnya sama sekali sejak tadi malam. "Abah lihat sendiri kan? banyak orang saja mereka berani saling tepuk seperti itu. Apalagi kalo cuma berdua. Kami tidak menerima alasan apa-apa lagi, mereka harus dinikahkan."
"Pak RT tolong pakai kepala dingin." ucap Abah, "ini hanya salah paham, kenapa jadi dibesar-besarkan."
"Sudah pak RT jangan dengerin Aki Dikun, langsung panggil pak Amil aja. Sudah jelas-jelas kita lihat sendiri tadi malam." lagi-lagi teriakan itu berhasil mengompori warga yang mulai tenang.
"Betul nikahkan saja." timpal yang lainnya.
"Iya kalo nggak nikah usir aja dari sini dua-duanya!"
"Tenang semuanya tenang!" pak Hansip memberi instruksi.
"Aki, saya beri waktu sampai besok. Nikahkan atau usir Ara dari sini. Ini sudah keputusan akhir." pungkas Pak RT kemudian mengistruksikan warga untuk bubar.
Ziano menghela nafas panjang sambil menyilangkan tangan di depan dada, tatapannya tak lepas dari orang-orang yang mulai menjauh dari rumah. "sumpah, ngampungnya ngampung banget orang-orang sini."