NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Aroma kopi yang pekat bercampur dengan wangi parfum mahal khas anak-anak borjuis Los Angeles memenuhi koridor utama gedung Fakultas Bisnis pagi itu.

Maximilian Valerio melangkah santai dengan jaket kulit yang tersampir di bahu kanan, membiarkan tas ranselnya tergantung asal di pundak yang lain.

Di tengah tatapan penuh selidik dan bisik-bisik penasaran dari para mahasiswa yang masih mengagumi perawakannya yang tegap, Max tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang acuh tak acuh.

Baginya, Universitas Los Angeles tidak lebih dari sekadar tempat persinggahan baru untuk memuaskan tuntutan sang ayah.

Namun, langkah kakinya terhenti ketika dua buah tepukan keras mendarat di bahu kirinya secara bergantian.

"Tunggu, demi tuhan... mata gue nggk salah lihat, kan? Ini beneran lo, Max?!"

Max menoleh, mendapati dua pemuda dengan pakaian modis sedang menatapnya dengan mata terbelalak tidak percaya.

Ingatannya berputar cepat, menyusuri memori beberapa tahun lalu sebelum dia dikirim ke Boston.

"Demon? Carter?" gumam Max, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman maskulin yang samar.

"Wah, wah! Gila, kami bener-bener nggk menyangka kalau rumor tentang anak pindahan dari Harvard itu adalah lo, Max!" Carter berseru heboh, langsung merangkul pundak Max dengan akrab. "Kita benar-benar kembali satu kelas setelah lulus high school!"

Demon menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap penampilan baru Max dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Sialan, lo berubah banyak, Bro. Terakhir kali gue lihat, lo itu anak baik-baik yang kemejanya selalu disetrika rapi. Sekarang? Jaket kulit, kaos ketat, dan... tunggu, lo ngerokok juga sekarang?" Demon berbisik sambil melirik bungkus rokok yang menyembul dari saku jaket Max.

"Bukan urusan lo," sahut Max terkekeh, menepis tangan Carter dari pundaknya dengan gerakan bercanda. "Gue cuma bosan jadi anak baik."

"Tapi otak genius lo nggk hilang, kan? Baguslah, setidaknya gue punya sandaran baru buat ujian semester nanti," timpal Carter sambil tertawa lepas.

Meskipun saat masa high school dulu mereka tidak berada dalam lingkaran pertemanan yang sangat dekat, namun Demon dan Carter adalah tipe teman yang menyenangkan, setia kawan, dan tidak bermuka dua seperti kebanyakan anak-anak kaya di kota ini.

Bertemu dengan mereka di hari pertama tentu saja menjadi sebuah keberuntungan kecil bagi Max untuk beradaptasi di lingkungan baru yang asing ini.

Sinyal bel masuk berbunyi, memotong obrolan reuni kecil mereka.

Ketiganya segera melangkah masuk ke dalam ruang kelas untuk mata kuliah pertama mereka hari itu: Manajemen Strategis.

Kelas berlangsung dengan cukup tenang dan berjalan lancar. Bagi Maximilian, materi yang disampaikan oleh profesor di depan kelas terasa begitu mendasar—efek samping dari sistem pendidikan super ketat yang sudah dia lahap habis selama dua tahun di Harvard.

Dia hanya duduk di barisan belakang, menopang dagu dengan satu tangan sembari mencatat beberapa poin penting dengan malas, sementara Demon dan Carter di sampingnya sibuk berbisik mengagumi betapa cepatnya Max menangkap penjelasan dosen.

Setelah dua jam yang cukup membosankan berlalu, bel istirahat akhirnya menggema, memicu sorak sorai tertahan dari para mahasiswa.

Perut yang mulai berkeroncong membawa langkah ketiga pemuda itu menuju kantin utama universitas—sebuah area luas yang lebih mirip seperti food court mall mewah daripada kantin kampus pada umumnya.

"Gue beri tahu lo, Max," kata Carter dengan penuh semangat memandu jalan, membelah kerumunan mahasiswa yang mengantre.

"Kantin di sini emang isinya makanan mahal, tapi ada satu stan yang punya menu paling best dan legendaris. Smoked Beef Brisket Burger dengan saus madu hitam. Lo wajib coba! Kalau lo nggk suka, gue yang bayar!"

"Jangan percaya dia, Max. Selera makannya di bawah rata-rata," sahut Demon yang berjalan di sisi lain, memicu umpatan pelan dari Carter.

Max hanya mendengarkan sembari tersenyum tipis. Carter berjalan di depannya, menunjuk-nunjuk ke arah stan makanan yang terletak di sudut kanan kantin.

Karena suasana kantin yang sangat ramai dan padat oleh mahasiswa yang berlalu-lalang, Max terpaksa mengambil langkah mundur beberapa senti untuk menghindari seorang mahasiswa yang membawa nampan sup panas dari arah berlawanan.

Max berjalan mundur dua langkah tanpa melihat ke belakang.

Tepat saat Carter berteriak, "Nah, di seberang sana stannya, Max! Balik badan lo!", Max langsung membalikkan badannya dengan cepat demi mengikuti arahan sang teman.

Namun, di detik yang sama, takdir seolah sedang bermain gila dengannya.

DEG.

Tubuh tegap Max menabrak sesuatu yang empuk namun padat. Gerakan membalikkan badannya yang terlalu cepat dan tidak terkontrol membuat telapak tangan kanannya yang terbuka tanpa sengaja menyenggol, menekan, dan mengenai bagian depan—tepat di dada—seorang wanita yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.

Waktu seolah berhenti berputar selama satu detik.

Sentuhan itu begitu jelas, begitu nyata di permukaan telapak tangan Max.

Kulit tangannya merasakan kehangatan dan bentuk yang sangat kentara di balik kain pakaian wanita tersebut. Max mematung di tempatnya, matanya membelalak sempurna, sementara otaknya mengalami stuck sesaat karena syok yang luar biasa.

Dia baru saja melakukan hal paling mematikan dan memalukan di hari pertamanya kuliah.

Dengan sigap, Max menarik tangannya kembali seperti baru saja menyentuh bara api yang panas. Wajahnya yang biasa datar kini mendadak memerah karena rasa bersalah yang teramat sangat.

"Sorry, sorry... gue bener-bener nggk sengaja," ucap Max dengan nada suara yang bergetar, benar-benar tulus meminta maaf.

Kedua tangannya terangkat ke udara sebagai tanda bahwa dia tidak memiliki niat buruk. "Gue bener-bener minta maaf, gue nggk lihat ada orang di belakang tadi..."

Max menatap wajah wanita di hadapannya, bersiap menerima makian atau bahkan tamparan yang menurutnya wajar dia dapatkan karena kelalaiannya.

Namun, bukannya jawaban "tidak apa-apa" atau ekspresi terkejut yang dia terima, wanita di depannya justru menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kebencian, muak, dan kilat kemarahan yang begitu dingin.

Wanita itu memiliki rambut hitam pekat yang diikat tinggi ke atas. Perawakannya begitu sempurna dengan bentuk tubuh yang berisi—sebuah fakta fisik yang baru saja disadari tangan Max secara tidak sengaja.

Dia adalah Amieyara Walker.

Yara melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Max dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan, seolah pria di hadapannya ini adalah seekor serangga menjijikkan yang baru keluar dari selokan.

"Trik murahan!!" ucap Yara, suaranya terdengar lantang, dingin, dan penuh penekanan, menarik perhatian hampir separuh penghuni kantin yang langsung menghentikan aktivitas makan mereka.

"Hah?" Max mengerutkan alisnya, rasa bersalahnya mendadak terusik oleh tuduhan aneh tersebut. "Apa maksud lo?"

Yara maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka, membiarkan auranya yang intimidatif menekan Max. "Modus murahan seperti itu benar-benar menjijikkan, Bocah. Kau pikir aku tidak tahu? Kau sengaja berjalan mundur, berlagak bingung, dan pura-pura tidak sengaja membalikkan badan hanya untuk menyentuhku? Kekanakan sekali. Dasar bocah birahi!"

Bisik-bisik langsung pecah di seluruh sudut kantin.

"Eh, lihat... anak baru itu nyari gara-gara sama Yara?"

"Gila, berani banget dia nyentuh asetnya pelacur kampus."

Darah Maximilian Valerio mendidih seketika. Kata-kata 'Trik murahan' dan 'Bocah birahi' menghantam harga dirinya dengan telak.

Rasa bersalah dan penyesalan yang dia

rasakan satu menit lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa geram yang membakar dada.

Selama hidupnya, bahkan saat dia dicap liar di Boston, tidak pernah ada satu orang pun yang berani memfitnah dan menghinanya serendah ini di depan umum.

Dia benar-benar tidak sengaja melakukannya! Itu adalah kecelakaan murni akibat ruang kantin yang padat. Namun wanita di depannya ini dengan begitu angkuh memutarbalikkan fakta dan mempermalukannya di hadapan semua orang.

Max menurunkan kedua tangannya, matanya menatap tajam lurus ke dalam netra dingin Yara.

Rahangnya mengeras. "Jaga mulut lo, Nona Sok Suci. Gue udah minta maaf karena gue tahu gue salah karena nggk lihat-lihat. Tapi menuduh gue sengaja ngelakuin modus murahan? Jangan kepedean. Tubuh lo sama sekali nggk semenarik itu sampai gue harus pakai trik buat menyentuhnya."

Yara menyunggingkan senyum sinis yang sangat meremehkan. "Oh, benarkah? Katakan itu pada otak kotormu yang penuh dengan selangkangan. Minggir dari hadapanku sebelum aku melaporkanmu ke komite kedisiplinan kampus atas pelecehan!"

Tanpa menunggu jawaban Max, Yara mengibaskan rambut hitamnya yang diikat tinggi dengan gerakan anggun, lalu melangkah pergi melewati Max begitu saja dengan kepala tegak, meninggalkan atmosfer ketegangan yang pekat di tengah kantin.

Max mengepalkan tinjunya erat-erat, berniat untuk mengejar wanita angkuh itu demi menuntut permintaan maaf atas fitnahnya, namun Demon dan Carter dengan cepat menahan kedua lengan Max, menariknya mundur dari pusat perhatian.

"Tenang, Max! Tahan emosi lo, Bro!" bisik Demon dengan wajah panik, menarik Max menuju meja sudut yang lebih sepi. "Jangan berurusan dengan dia. Nilai lo taruhannya kalau sampai lo bermasalah sama wanita itu."

Max menghempaskan tangan kedua temannya dengan kasar, napasnya masih memburu karena amarah yang tertahan.

"Sialan, Siapa Dia?! Angkuh sekali jadi orang! Dia merusak hari pertama gue di sini dengan fitnah sampah kayak gitu!"

Carter menghela napas panjang, memastikan Yara sudah benar-benar keluar dari area kantin sebelum berbisik, "Jangan bermasalah dengan dia, Max. Dia itu Amieyara Walker. Selain jadi mahasiswi hukum, dia juga Asisten Profesor di Fakultas Bisnis kita. Makanya Demon bilang nilai lo taruhannya. Dia punya kuasa buat bikin lo nggak lulus di kelasnya."

Max tertegun sejenak mendengarnya. Asisten Profesor? Wanita sedingin dan seangkuh itu adalah seorang pengajar?

Demon mendekatkan wajahnya, merendahkan volume suaranya menjadi bisikan yang sangat tipis.

"Dan ada satu hal lagi yang harus lo tahu, Max... Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati perkataannya. Dia emang sensitif banget soal sentuhan pria. Di kampus ini, rumor tentang dia udah jadi rahasia umum. Jangan bermasalah sama wanita panggilan kayak dia."

"Wanita panggilan?" Max mengerutkan dahinya, mengulang kata-kata Demon dengan dahi berkerut. Otaknya mencoba mencerna kontradiksi gila ini—seorang Asisten Profesor Bisnis dan mahasiswi hukum yang berprestasi, namun diberi predikat sebagai wanita panggilan oleh lingkungan kampusnya sendiri?

Carter mengangguk mantap, membenarkan ucapan Demon. "Iya, rumornya dia itu simpanan orang tua kaya, anak haram yang suka jual diri. Dan puncaknya seminggu lalu, dia baru aja menyandang gelar janda satu malam karena ditinggal kabur sama suaminya di malam pertama mereka karena ketahuan udah nggk perawan dan udah 'longgar'. Makanya dia sensitif banget kalau ada pria yang menyenggol tubuhnya, dia langsung mikir itu modus pelecehan."

Maximilian yang belum mengerti penuh tentang seluk-beluk konspirasi dan rumor busuk di kampus ini hanya bisa mengangguk pelan.

Pikirannya masih dipenuhi oleh sisa-asap kemarahan. Dia masih belum paham sepenuhnya tentang kebenaran di balik gosip tersebut, dan sejujurnya, dia tidak peduli apakah wanita itu seorang pelacur, janda, atau asisten profesor.

Satu hal yang pasti bagi Max: kata-kata "bocah birahi" yang dilontarkan Yara telah merobek harga dirinya sebagai seorang pria dari keluarga Valerio.

Ditambah lagi dengan tuduhan modus murahan yang sama sekali tidak dia lakukan.

Max menyandarkan punggungnya di kursi kantin, mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya namun tidak menyalakannya karena aturan kantin.

Matanya menatap tajam ke arah pintu keluar kantin tempat Yara menghilang tadi.

Amieyara Walker, batin Max dengan seringai dingin yang mulai terbentuk di wajah tampannya.

Lo udah salah memilih lawan untuk diajak bermain gila. Kita lihat, siapa yang akan berlutut duluan di kampus ini.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!