NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Sampai di Hutan Terkutuk

"Aku harus bergegas membersihkan kekacauan ini," gumamnya.

Arum mengibaskan tangan di udara. Dengan menggunakan sisa kekuatan gaibnya, helaian rambut yang berserakan di lantai serta pakaian kerajaannya seketika lenyap berdesir, menyisakan kamar yang kembali bersih dan rapi seperti semula tanpa jejak pelarian.

Rencananya sudah matang. Malam ini juga, Arum akan pergi meninggalkan istana, bahkan keluar dari dunia bunian ini menuju dunia manusia. Ia ingin mencari keberadaan ibu kandung serta saudara kembarnya.

Meskipun sejujurnya, Arum sendiri belum tahu bagaimana cara menembus gerbang antar-dimensi tersebut. Sang ayah selalu melarangnya dengan keras dan tidak pernah mau membocorkan rahasia cara pergi ke dunia manusia.

Namun, Arum tidak peduli lagi. Ia akan mencari jalan keluar sendiri, atau meminta bantuan kepada siapa pun yang ia temui di luar sana nanti.

Namun, sebelum benar-benar melangkah pergi, Arum berbalik untuk mengambil sebuah kantong kain berisi koin emas. Uang itu akan ia gunakan sebagai bekal perjalanan nanti. Setelah mengamankan satu-satunya harta yang ia bawa, Arum tidak mengambil apa-apa lagi.

Tepat setelah kantong emas itu dimasukkan ke dalam saku celana komlongnya, Arum berdiri tegak dan memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap menggunakan sihir menghilang—sebuah ilmu gaib tingkat tinggi yang selama ini diam-diam ia pelajari tanpa sepengetahuan ayah maupun ibu tirinya.

Arum tahu betul, ia tidak boleh ceroboh. Kabur lewat jendela adalah ide yang bodoh karena para prajurit berjaga sangat ketat di setiap sudut istana, bahkan di depan pintu kamarnya sendiri.

Sihir ini adalah satu-satunya tiket kebebasannya.

"Selamat tinggal, Putri Arum Rengganis," bisik pemuda berkumis palsu itu kepada dirinya sendiri.

Bsttt!

Dalam satu kedipan mata, tubuh Arum mendadak memudar menjadi partikel cahaya tipis, lalu lenyap tanpa bekas di dalam kesunyian kamar.

****

Sementara itu, Kiano beserta kedua makhluk bunian tersebut kini telah sampai di jantung Hutan Terkutuk. Lebih tepatnya, mereka mendarat agak jauh dari posisi pohon Malaka Hitam yang menjadi tujuan utama mereka.

Ki Saron dan Dharma perlahan melesat turun mendekati tanah.

Jleg!

Tubuh Kiano diturunkan oleh Ki Saron dengan sangat hati-hati. Begitu menapakkan kaki, bulu kuduk Kiano langsung meremang. Suasana di dalam hutan itu begitu gelap gulita, menyebarkan aura mistis yang luar biasa mencekam—sangat cocok dengan nama menyeramkannya.

"Ini beneran tempatnya, Ki?" tanya Kiano sembari celingukan, tangannya otomatis memeluk tubuh sendiri karena hawa dingin yang menusuk tulang.

"Benar, Tuan," jawab Ki Saron tenang.

"Terus di mana pohonnya?" tanya Kiano lagi, mencoba menembus kegelapan.

"Pohonnya berada di depan sana," tunjuk Ki Saron ke arah depan.

Namun, pandangan Kiano sama sekali tidak menangkap apa pun selain kepekatan malam yang gulita.

"Mana?! Gue kagak liat apa-apaan!" ucap Kiano kesal. Ia sampai harus melotot-lotot hingga matanya perih, tetapi hasilnya tetap nihil.

"Itu persis di depanmu, Kiano. Masa begitu saja tidak kelihatan, sih?" ucap Dharma yang mulai ikut gemas dan kesal.

Kiano mendengus kuat-kuat. "Au ah, gelap! Mata gue, kan, mata manusia biasa, Cuk! Kagak kayak mata kalian yang sudah otomatis ada fitur senternya! Harap maklum aja, ya. Mana jam digital gue kagak dibawa lagi. Gue simpan di kamar si Wirasada karena di dunia ini sama sekali kagak ada gunanya!"

"Iya, saya maklumi, Tuan. Namun, sebelum itu kita harus menyusun strategi terlebih dahulu," ucap Ki Saron sembari mengelus kumis baplangnya yang lebat.

"Pakai acara susun strategi segala lagi! Emangnya kita mau tanding game online atau main sepak bola, sih? Langsung aja ke sana, terus petik buahnya. Beres, kan? Lagian kalian berdua bisa terbang, biar gue nunggu santai aja di sini," ucap Kiano mulai tidak sabaran.

"Tidak bisa begitu, Kiano," sela Dharma cepat.

"Kenapa emangnya?" tanya Kiano sembari melipat kedua tangan di dada.

"Kau lupa, ya? Pohon Malaka Hitam itu dijaga ketat oleh jin purba yang sangat kuat. Kau sengaja mau menumbalkan kami berdua?" ucap Dharma sewot, matanya mendelik kesal dalam kegelapan.

"Lah, emang gimana penampakan makhluknya? Serem banget, ya? Masa lo takut sih, Dhar? Lo, kan, panglima kerajaan! Lo juga, Ki. Lo, kan, jin jawara yang sudah terkenal legendaris di kalangan dunia dedemitan. Masa kalian berdua ciut, sih?" cerocos Kiano, mencoba memprovokasi.

"Bukan soal takut, Tuan. Namun, kita harus punya alasan kuat untuk meminta izin secara baik-baik. Sebelumnya, saya kan sudah memberi tahu Anda kalau buah itu harus langsung dimakan beberapa detik setelah dipetik. Nah, masalah utamanya, jin penunggu itu sangat membenci bangsa manusia, Tuan," jelas Ki Saron dengan nada serius.

"Oh, jadi cuma itu masalahnya? Itu mah gampang banget, biar gue yang atur!" ucap Kiano sembari menyunggingkan senyum misterius.

"Caranya bagaimana?" tanya Dharma sangsi.

"Muka ganteng gue, kan, sudah mirip seratus persen sama si Wirasada asli. Masa tuh jin jin purba kagak percaya sama gue? Nanti gue bakalan gertak dan ancam dia pakai nama bokap-nyokap KW gue. Gue bilang aja gue anak Prabu Raksa Buana. Pasti tuh setan bakalan takut dan langsung sungkem ngasih buahnya ke gue!" cerocos Kiano dengan penuh rasa percaya diri yang kelewat batas.

Ki Saron dan Dharma saling berpandangan dalam keheningan malam.

"Anda yakin, Tuan?" tanya Ki Saron, mendadak merasa ragu dengan tingkat kewarasan majikan barunya ini.

Kiano mengangguk mantap. "Yakin sejuta persen gue! Sudah, tenang aja. Yuk, buruan jalan!" ucapnya mencoba meyakinkan kedua makhluk di dekatnya.

Meskipun begitu, jauh di dalam lubuk hati, Kiano sebenarnya belum siap lahir dan batin. Ia mendadak ngeri membayangkan jika harus bertemu dengan sesosok jin purba yang wajahnya jauh lebih seram daripada korban bencana malpraktik operasi plastik—alias rupa asli Nini Kalingking yang sempat ia lihat sebelumnya.

Langkah kaki mereka pun mulai menembus kegelapan. Sepanjang jalan, Kiano tidak henti-hentinya berkomat-kamit merapal berbagai bacaan ayat suci yang ia ingat. Tangannya mencengkeram erat ujung jubah Ki Saron agar tidak menubruk pohon atau tersandung akar gaib, sementara Dharma setia mengekor menjaga di belakangnya.

Pada akhirnya, sampailah mereka bertiga di hadapan pohon ajaib. Pohon Malaka Hitam yang sangat terkenal berkhasiat tinggi untuk penyembuhan segala macam penyakit magis.

"Ki, kita sudah sampai, ya?" bisik Kiano pelan. "Mana jin penunggunya? Kok kagak nongol, Ki?" tanyanya waswas. Ia mendadak takut jika jin purba itu tiba-tiba muncul dari kegelapan dan langsung membacoknya dari belakang.

"Dia sudah ada di depan kita, Tuan," ucap Ki Saron dengan nada siaga.

"Beraninya kalian datang ke tempatku...!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!