NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02

Keesokan paginya, Dilan menjemput Aletta untuk pergi ke sekolah bareng, itu adalah salah satu rutinitas yang Dilan lakukan setiap hari, Alya sempat menolak untuk pergi bareng namun dengan gigihnya Dilan tetap kekeh menjemputnya dengan beralasan Citra yang menyuruhnya sehingga Aletta tidak bisa menolaknya.

"Udah lama" Ucap Aletta mengobrol basa basi membuat Dilan yang tengah sibuk bermain ponsel langsung menoleh ke arahnya.

" Gak kok, yuk berangkat " Ucap Dilan menggenggam tangan Aletta memasangkan helm kepadanya tak lupa dia mencubit pipi chubby nya.

"Dilan, boleh kita ngobrol sebentar?" ucap Aletta dengan wajah yang serius dan takut, takut dengan apa yang akan dia ucapkan kepadanya. Dilan mengangguk dengan hati yang berdebar-debar, firasatnya tidak enak karena dari tadi wajah Aletta murung.

"Tamara suka sama loh, dan gue mau loh Terima cintanya" Ucap Aletta dengan nada pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dilan.

"Apaan sih gak yah, gue sukanya sama loh bukan sama Tamara" Ucap Dilan kaget dan langsung mencengkram bahu Aletta.

Aletta hanya bisa menundukkan kepalanya matanya memanas penglihatannya kabur perlahan air matanya menetes "loh juga suka kan sama gue, kenapa harus kita yang ngalah kenapa gak dia aja yang merelakan kita bareng bareng" Ucap Dilan mengguncang badan Aletta.

"Maaf gue gak bisaaa... " Pecah Aletta tidak bisa melanjutkan perkataannya detik itu juga tangisnya pecah Dilan memeluk Alya dengan sangat erat.

"Gue bakal ngomong sama Tamara, kalau gue cuma cinta sama loh" Ucap Dilan menekankan nadanya dengan serius.

"Jangan plis gue mohon jangan, Tamara itu udah baik banget sama gue dia udah banyak bantuin gue apalagi keluarganya dan gue gak mau nyakitin dia" Ucap Aletta memohon kepada Dilan dan dia tidak bisa menolak keputusannya Aletta apalagi ketika dia sedang menangis.

Dilan tidak menjawab apapun, mereka berangkat sekolah dengan keheningan dan pikirannya masing-masing.

Sesampainya di sekolah Dilan tidak banyak bicara dan meninggalkan Aletta di parkiran dia mengerti karena memang mereka berdua butuh waktu untuk sendiri dulu.

"Nah tuh Aletta datang bener kan kata gue juga apa Aletta pasti sekolah" Ucap Tamara mengarahkan wajah Ruby karena dari tadi Ruby mencari Aletta.

Aletta langsung tersenyum dan segala menyembunyikan kesedihannya dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa-apa.

"Dilan mana Al" Tanya Tamara penuh semangat mencari laki-laki yang beberapa hari ini selalu ada di pikirannya.

"Gak tau tadi dia buru-buru pergi" Ucapnya gelagapan mencari alasan, Ruby paham dengan ucapannya Aletta sudah dipastikan pasti dia sudah bilang kepada Dilan karena tidak biasanya Dilan meninggalkan Aletta begitu saja.

"Eh Al PR matematika loh udah di kerjaan belum? " Tanya Ruby mengalihkan perhatian karena tak membuat sahabatnya sedih.

"Lah emang ada PR yah, kok gue gak tau sih" Ucap Tamara mengingat ingat.

"Adaaa, itu loh PR yang di buku LKS halaman 125 masa gak inget" Jawab Ruby mengingatkan.

"Yah lupa lagi gimana dong! " Ucap Tamara panik dan kembali ke tempat duduknya membuka buku pelajarannya berniat mengerjakan soalnya.

"Perhatiannya ibu Jasmin akan telah ke sekolahnya katanya ada urusan sebentar kita di suruh belajar mandiri dulu, nanti kalau ada beliau kita ulangan matematika" Ucap Diego memberikan informasi dengan sangat gagah dan ber kepemimpinan sebagai ketua kelas yang baik, makanya banyak yang diam diam mengincarnya apalagi adik kelas.

"Akhirnya selamat gue" Ucap Tamara merasa lega karena dia bisa mengerjakan PR nya sebelum ibu Jasmin datang.

Aletta melirik tempat duduk di sampingnya Dilan tidak masuk kelas ada rasa sedih yang iya rasakan tapi cepat atau lambat dia harus ngomong sebelum perasaannya semakin besar.

Tak terasa bel istirahat pun berbunyi Dilan tidak kunjungan datang ketua kelas mengumumkan bahwa dia sedang ada acara ekstrakurikuler nya yang akan mengadakan lomba main bola.

Aletta langsung pergi ke Rooftop tempat dimana hanya Aletta yang tau kalau Dilan sedang bersedih dan dia pasti berada disana.

Tamara hendak menyusul Aletta namun segera ditahan oleh Ruby dengan alasan dia sangat lapar dan mengajaknya ke kantin, alhasil tamara menemaninya dengan senang hati.

"Dilan" Teriak Aletta berlari menghampiri Dilan yang sedang duduk di tembok penghalang benteng yang ada di Rooftop, Dilan hanya melirik sekilas dan memalingkan pandangannya kepada gedung gedung tinggi di hadapannya.

Angin bertiup sepoi-sepoi Aletta menikmati kesejukan udara disana, mereka duduk berdampingan, Dilan mulai berbicara pelan-pelan "setelah aku simak cerita kamu dan aku pikir- pikir. Tentang perasaan Tamara yang kamu katakan... dan tentang perasaan aku sendiri."

Aletta menekan bibirnya, mencoba tetap tenang. "Kamu tidak perlu khawatir, Dilan. Tamara itu sangat baik hati, dia akan memberikan cintanya yang begitu tulus untuk kamu dan aku jamin kamu pasti bahagia bersamanya."

Dilan menggeleng perlahan. "Bukan cuma tentang Tamara, Al. Aku ingin kamu tahu... aku tidak menyukai Tamara dalam arti hubungan cinta. Aku melihat Tamara sebagai sahabat yang sangat berharga, dan untukmu..." dia menghentikan bicaranya sejenak, menatap mata Aletta dengan tatapan hangat. "Untuk kamu, aku rasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar teman. Tapi aku juga tahu kamu sedang mencoba membuatku dan Tamara bersama, dan itu membuatku bingung."

Aletta merasa mata nya mulai berkaca-kaca, tapi dia segera mengusapnya dengan cepat. "Dilan, aku hanya ingin kamu berdua bahagia. Tamara sangat menyukaimu, ini pertama kalinya dia jatuh cinta..."

"Tapi bagaimana dengan aku, Al?" Dilan menyela dengan lembut. "Apa kamu tidak pernah melihat bagaimana aku memperjuangkan kamu, dan aku juga merasakan kalau kamu juga mempunyai perasaan terhadapku. Mengapa kamu harus menyembunyikan perasaan kamu sendiri?"

Aletta dan Dilan masih duduk di Rooftop, di mana sinar matahari siang mulai naik ke atas. Udara pagi yang segar membuat suasana lebih tenang meskipun hati mereka sedang berdebar.

"Aku tidak bisa menerima perasaanku bersama Tamara dengan paksaan, Al," ujar Dilan dengan suara tegas tapi lembut. "Kalau memang kamu benar-benar ingin itu terjadi, ada satu syarat yang aku mau ajukan."

Alya menatapnya dengan mata bingung. "Syarat apa, Dilan?"

"Kamu harus bersedia memiliki hubungan dengan orang yang belum kamu kenal – dan kita lakukan secepatnya," jelas Dilan sambil menggaruk kepalanya. "Aku tidak bisa melihatmu menyakiti diri kamu sendiri sambil membuat aku bahagia dengan orang yang sama sekali gak aku cinta. Kalau kamu juga bisa menemukan orang yang bisa membuat kamu bahagia, baru aku akan mempertimbangkan untuk bersama Tamara."

Aletta terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan meskipun wajahnya menunjukkan keraguan. Dia menghela napas dalam-dalam, wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan.

"Syukur deh kalian berdua bisa menyelesaikan permasalahannya, tapi gue harus bilang – gue tidak suka dengan ide ini," ucap Ruby sambil memeluk Aletta, semenjak kejadian di Rooftop setelah pulang sekolah Aletta langsung menemui Ruby karena hanya dia yang bisa mendengarkan masalahnya. "Memaksakan hubungan dengan orang yang tidak dikenal hanya untuk memenuhi syarat, itu bukan cara yang benar buat mencari kebahagiaan."

"Gue tahu loh khawatir, Ruby," kata Aletta dengan suara lemah. "Tapi ini adalah satu-satunya cara agar Dilan bisa bahagia dengan Tamara, dan aku juga tidak merusak persahabatanku dengan mereka berdua," lanjut Aletta dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

"Gue cuma mau semua orang baik-baik saja, Ruby. Gue tidak bisa menikmati kebahagiaan kalau tahu Tamara sendiri sedang kesusahan." Ucap Aletta meyakinkan sahabatnya kalau dia bisa melewati semua itu.

Ruby duduk bersebelahan dengan Aletta, menatap taman yang mulai ramai dengan burung berkicau. Udara pagi yang biasanya menyegarkan kini terasa berat di dadanya.

"Kalau memang itu sudah menjadi keputusan loh, setidaknya jangan lakukan semuanya terburu-buru ya," ujar Ruby dengan nada penuh perhatian.

Keesokan harinya, Dilan masih mengantarkan Aletta ke sekolah walaupun suasana di antara mereka tak lagi sama. Tidak ada tawa, tidak ada cubitan pipi, hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka. Aletta tahu, ini adalah konsekuensi dari keputusannya.

Sesampainya di rumah setelah pulang sekolah, Aletta benar-benar membuka sosial medianya. Jari-jarinya bergerak ragu di layar ponsel. Dengan berat hati, dia mulai mencari dan berkenalan dengan seorang cowok yang tidak dikenalnya, hanya demi memenuhi syarat Dilan, dan hanya demi melihat sahabatnya bahagia.

Malam itu, Aletta duduk termenung di kamarnya. Pikirannya penuh dengan pertemuan kemarin di Rooftop. Syarat yang diajukan Dilan terus terngiang di kepalanya "Kalau kamu bisa bahagia sama orang lain, baru aku akan terima Tamara."

Dengan tangan gemetar dan hati yang berat, Aletta akhirnya membuka aplikasi sosial media di ponselnya. Dia tidak mencari karena ingin, tapi karena terpaksa. Jari-jarinya mulai bergerak, mencari nama-nama baru, membalas pesan dari orang yang bahkan tidak dikenalnya, seolah-olah dia sedang mencari pengganti. Padahal, di hatinya hanya ada satu nama, yaitu Dilan.

"Gue harus lakukan ini... demi kalian semua," bisik Aletta pelan sambil menatap layar ponsel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Tidak butuh waktu lama, Ruby yang peka segera menyadari perubahan sikap sahabatnya. Saat mereka sedang duduk santai, Ruby melihat Aletta terus saja sibuk dengan HP-nya dan tersenyum palsu membalas chat.

"Al, seriusan loh mau lanjutin hal gila ini?" tanya Ruby sambil menatap Aletta tajam, mencoba membaca isi hati sahabatnya.

Aletta menghela napas panjang, "Gue harus gini Rub, biar Dilan mau sama Tamara dan semuanya jadi baik-baik saja."

Ruby menggeleng kuat, memegang bahu Aletta. "Gue mohon buka mata loh! Ini bukan solusi, Al. Loh cuma lagi nyiksa diri loh sendiri dan nyakitin orang lain. Berhenti sebelum semuanya terlambat dan loh nyesel seumur hidup. Jangan sampai loh kehilangan sesuatu yang berharga cuma karena ego loh mengorbankan diri loh sendiri."

"Tapi gue udah janji Rub..." jawab Aletta lemah.

"Janji bisa diingkari kalau itu salah, Al!" seru Ruby dengan nada khawatir yang sangat dalam.

Beberapa hari kemudian, cowok yang diajak kenalan itu mengajak Aletta untuk bertemu langsung di sebuah warung seblak. Aletta mengiyakan ajakan itu. Saat dia memberitahu rencananya pada Ruby, sahabatnya itu langsung meledak.

"Gue gak kasih izin loh pergi! Loh gak tau siapa orang itu, bahaya gak nya Al!" larang Ruby dengan tegas, wajahnya terlihat sangat khawatir.

"Ya ampun Rub, gue cuma mau ketemu sebentar kok. Lagian kan gue udah bilang mau jalan sama dia," alasan Aletta.

"Gak bisa! Gue gak bakal membiarkan loh pergi sendirian atau ketemu orang asing! Apa loh gak mikir perasaan Dilan? Apa loh gak mikir perasaan loh sendiri?" Ruby mencoba menahan Aletta yang sudah bersiap pergi. "Gue takut loh nyesel, Al. Plis jangan pergi."

Tapi Aletta tetap pada pendiriannya, seolah dia sedang memaksakan takdir agar Dilan benar-benar melepaskannya.

Entah kabar bagaimana sampai ke telinga Dilan. Mungkin dari Ruby yang tidak sengaja membocorkannya, atau firasatnya saja yang tajam. Saat Aletta sedang berdiri di depan gerbang rumahnya, tiba-tiba motor Dilan berhenti di depannya.

Wajah Dilan terlihat datar, namun matanya menyimpan kesedihan yang mendalam.

"Mau kemana loh?" tanya Dilan pelan.

"Eh... mau keluar jalan-jalan," jawab Aletta gugup.

"Ketemu cowok itu kan?" potong Dilan cepat. Aletta hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani menatap mata Dilan.

Dilan menarik napas panjang, mencoba menahan sakit di dadanya. "Naik. Gue anter."

"Hah? Enggak usah Dilan, gue bisa sendiri..." tolak Aletta tergagap.

"Gue anter. Biar gue liat sendiri orangnya kayak gimana, dan biar gue yakin kalau loh bakal aman sama dia. Naik," ucap Dilan lagi dengan nada yang tidak bisa ditawar, meski hatinya hancur berkeping-keping harus mengantar orang yang dicintainya bertemu cowok lain.

Aletta segera mundur selangkah, menggeleng kuat. Air matanya hampir jatuh melihat ketulusan Dilan yang justru semakin membuatnya merasa bersalah.

"Enggak bisa Dilan! Gue gak mau loh yang anterin!" tolak Aletta dengan suara bergetar.

"Kenapa?"

"Karena... karena gue gak sanggup! Loh jangan gini dong!" Aletta memalingkan wajah, "Gue udah minta Ruby sama Tamara yang anterin. Mereka udah di jalan nih."

Dilan terdiam, tangannya yang memegang stang motor mengepal kuat. Dia kecewa, tapi dia tahu dia tidak bisa memaksa.

"Oke... kalau itu mau loh," ucap Dilan lirih, matanya menatap Aletta penuh arti seolah ingin berkata jangan pergi.

Tak lama kemudian, mobil Ruby datang. Tamara ada di sampingnya, terlihat antusias seolah tidak tahu apa-apa.

"Yuk Al! Buruan masuk!" teriak Tamara dari dalam mobil.

Aletta menatap Dilan sekilas, lalu dengan langkah berat dia masuk ke dalam mobil. Dilan hanya diam mematung di tempat, melihat kendaraan yang membawa cintanya pergi menjauh, sementara dia harus berpura-pura ikhlas demi sebuah pengorbanan yang sia-sia.

Aletta masuk ke dalam mobil menyembunyikan kesedihannya dia tidak mau Tamara tau soal keretakan hubungannya dengan Dilan gara gara dia.

"Kirain loh mau pergi sama Dilan" Ucap Tamara membalikkan badanya ke jok belakang karena dia duduk di depan.

"Gak kok dia cuma mau nganterin makanan saja ke rumah" Ucap Aletta santai berharap Tamara tidak mencurigainya.

"Owh gitu, emang nyokap sama bokap loh gak pulang lagi" Ucap Ruby kali ini dia yang berbicara sambil menjalankan mobilnya karena dia sudah di beritahu alamatnya akan pergi ke mana.

"Yah gitu deh, gue kaya biasa aja di tinggal di rumah udah kaya anak kucing kehilangan induknya" Ucapnya sambil memainkan ponselnya memberi kabar kalau dia sudah otw di warung seblak.

"Makanya loh sering ke rumah Dilan" Ucap lagi Tamara, beberapa hari ini Tamara sering banget bertanya perihal Dilan kepadanya dan kedekatannya Dilan kepada Aletta seperti apa.

"Yah begitu lah" Ucapnya "tapi loh jangan mikir kemana mana orang tua gue sama orang tua Dilan tuh sahabatan jadi jangan heran kalau loh sering liat Dilan ke rumah gue atau gue ke rumah Dilan" Ucapnya menjelaskan.

"Tapi mereka gak ada kepikiran kan buat jodohin kalian" Ucapnya

"Pertanyaan macam apa itu" Gerutu Aletta di dalam hati mereka kesal seperti sedang di pojokan.

"Gays udah deh dari pada kita bahas itu mending kita bahas soal cowok baru loh itu" Ucap Ruby mencairkan suasana mereka karena situasi di mobil aga sedikit tegang.

"Udah kok gue udah whatsapp dia katanya dia udah sampai" Ucap Aletta langsung menggantikan ekspresinya menjadi lebih ceria dan bersemangat.

"Coba loh inget gak nama tempat seblak nya itu apa, soalnya kita udah mulai dekat nih sama lokasinya" Ucap Ruby melirik ke segala arah mencari tempat seblak.

"Namanya sih warung seblak pelangi" Ucap Aletta sambil melirik chet WA nya semalam.

"Nah itu tuh kayanya di depan dekat dengan sekolah SD itu kayanya" Ucap Tamara menunjukkan ke arah depan.

Lalu mereka turun dari mobil dan mengecek situasi tempat seblak itu namun tempatnya sepi seperti belum buka atau emang sudah tutup permanen.

~back to continue~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!