NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.Irama Napas yang Tersembunyi

"Masalah keluargamu, nasibmu, itu sama sekali tak ada hubungannya denganku!" seru pemilik kedai dengan nada yang semakin meninggi dan tajam, wajahnya berkerut jijik menatap Paman Fang Xi.

"Sudah kubilang berkali-kali, usahaku sedang kekurangan uang. Tak ada uang untukmu! Jangan cari masalah di sini. Coba lihat dirimu sendiri! Penuh lumpur, keringat, dan debu... kotor sekali."

Ia meludah pelan ke lantai, lalu melanjutkan dengan nada menghina yang menyakitkan hati.

"Orang sepertimu, kalau bukan karena kalian yang mengantar sayuran murahan itu, aku bahkan takkan membiarkanmu melangkah masuk dan mengotori lantai bersihku.

Kau tahu berapa biaya yang kuhabiskan untuk mencuci lantai ini sekali saja? Penghasilanmu mengantar sayur selama setahun pun belum cukup untuk membayar biaya cuci lantaiku sekali saja!"

Pemilik toko itu menunjuk ke arah pintu dengan kasar, matanya berkilat jahat.

"Aku beri satu kesempatan terakhir. Pergi dari sini sekarang! Jangan banyak tingkah. Kalau kau berani buka mulut lagi, kujanjikan kau akan keluar dari sini dengan berlutut menyeret kakimu sendiri!"

Wajah Paman Fang Xi memerah padam, campuran antara rasa malu, marah, dan kepedihan yang mendalam. Tubuhnya gemetar hebat, namun ia tak berani melawan.

"Pak Pemilik... bagaimana bisa Anda berpikir begitu? Kita sudah sepakat..." suaranya parau dan hampir tak terdengar.

"Bagaimana aku bisa begini? Begini lho sifatku!" sergah si pemilik toko sambil menepuk dada bidangnya sendiri dengan angkuh. "Di kedai ini, akulah hukum! Dasar orang tak tahu berterima kasih.

Sepertinya kalau aku tak beri pelajaran hari ini, kau takkan tahu bedanya langit dan bumi! Berani-beraninya kau menasehatiku?!"

Ia bertepuk tangan keras tiga kali.

PLAK! PLAK! PLAK!

Seketika itu juga, dari ruang belakang kedai, muncul empat orang pria bertubuh kekar dengan otot yang menonjol di balik baju goni kasar.

Wajah mereka buas, mata mereka liar—jelas orang-orang yang biasa dipakai untuk mengintimidasi dan melakukan kekerasan.

Melihat kedatangan mereka, darah seketika mengalir dingin di pembuluh darah Paman Fang Xi. Wajahnya yang tadi merah karena marah kini berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan.

Ia melirik sekilas ke arah pemilik toko yang tertawa sinis, rasa rendah diri dan ketidakberdayaan memenuhi dadanya. Ia menghela napas panjang, lalu memutar badan hendak pergi diam-diam.

Namun, keinginan untuk mundur saja pun ternyata tak diizinkan.

"Hmph! Baru sadar diri mau pergi? Terlambat!" seru pemilik toko itu dengan suara keras dan penuh kemenangan. "Kau pikir omonganku tadi cuma angin lalu?

Pukul dia! Beri dia pelajaran yang takkan ia lupakan seumur hidupnya! Biar dia tahu siapa yang berkuasa di sini."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada kejam.

"Dan setelah kau habisi dia, ingatkan dia untuk tetap mengantar sayur besok! Kalau tidak, sama sekali takkan kubayar sepeser pun uangnya. Dasar sampah desa!"

Mendengar perintah itu, keempat preman itu menyeringai lebar. Mereka menggerakkan leher dan jari-jari tangan mereka, menimbulkan bunyi tulang yang berderak, lalu melangkah menghampiri Paman Fang Xi yang kini sudah gemetar ketakutan.

Paman Fang Xi berbalik dan berlari secepat mungkin ke arah pintu keluar, namun mereka lebih cepat. Langkah panjang mereka dengan mudah menyusul langkah pendek lelaki paruh baya itu.

Tepat saat tangan kasar salah satu preman hendak mencengkeram bahu Paman Fang Xi, sebuah sosok kurus namun tegap melangkah maju dan berdiri tepat di tengah jalan, memblokir sepenuhnya jalan mereka.

Itu adalah Xiao Xuan.

"Minggir, anak kecil! Kalau tidak mau sakit, enyah dari sini!" bentak preman di paling depan, menatap Xiao Xuan dengan pandangan meremehkan dan mengancam.

Xiao Xuan tak bergeming. Matanya yang gelap menatap dingin ke arah mereka, sorot matanya sedingin es di puncak gunung, tajam dan mengerikan.

"Kalian boleh mencoba melewati aku..." jawab Xiao Xuan pelan, namun suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan yang seketika hening itu.

"Kau mencari mati rupanya!"

Merasa dihina oleh seorang anak kecil, preman itu menggeram marah. Ia mengayunkan tangan kanannya yang besar dan berat, memukul lurus ke arah wajah Xiao Xuan dengan niat mematahkan hidung pemuda itu.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang yang melihatnya ternganga tak percaya.

Xiao Xuan sama sekali tidak mundur atau menangkis dengan kekuatan kasar. Saat kepalan tangan itu tinggal satu jengkal dari wajahnya, kepalanya sedikit miring ke samping, menghindari pukulan itu dengan gerakan halus dan mengalir seperti air.

Di saat yang sama, tangan kanannya bergerak ringan, menyambar pergelangan tangan pemukul itu, sementara tangan kirinya menempel tepat di siku lawan.

Tanpa ada suara benturan keras, tubuh Xiao Xuan berputar sedikit, memanfaatkan momentum pukulan lawan. Dalam sekejap, tenaga lawan yang besar itu seolah dialihkan, ditarik, lalu dibalikkan arahnya.

BAMM!!

Dengan gerakan memutar yang elegan namun dahsyat, preman bertubuh besar itu terangkat ke udara, melayang bagai boneka tanpa berat, lalu jatuh terbalik menghantam lantai tanah kedai itu dengan bunyi hantaman yang memekakkan telinga. Debu beterbangan, dan preman itu tergeletak diam, pingsan seketika karena benturan keras itu.

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan.

Semua orang menatap tak percaya. Bagaimana mungkin seorang anak kurus bisa melempar orang dewasa bertubuh kekar begitu mudahnya?

Gerakan itu... bukan sekadar kuat, tapi penuh kehalusan, penuh hitungan, seolah ia tahu persis setiap inci gerakan lawan.

Apakah dia Master Roh? batin mereka bertanya-tanya. Tapi... dia tidak mengeluarkan Rohnya, tidak ada cincin roh yang muncul, tidak ada ledakan energi...

"Kau... kau berani...!" Pemilik toko itu gemetar marah, menunjuk ke arah Xiao Xuan dengan jari yang gemetar. Ia membanting meja kasirnya hingga barang-barang di atasnya berjatuhan.

"Kalian apa hanya diam saja?! Maju serang! Dia cuma anak kecil! Apa yang kalian takutkan?! Mau aku potong gaji kalian semua?!"

Tiga preman yang tersisa saling pandang. Meski terkejut, rasa malu dan rasa percaya diri karena jumlah mereka lebih banyak menguasai pikiran mereka.

Mereka menggeram bersama, lalu menyerbu serentak dari arah depan, kiri, dan kanan, berniat memukul habis pemuda itu.

Xiao Xuan berdiri tegak di tengah ruangan. Napasnya tenang dan teratur. Matanya menyipit, menatap gerakan kaki dan bahu mereka. Di dalam hatinya,

ia mengingat kembali ajaran Yu Xiaogang tentang keseimbangan, tentang prinsip saling melengkapi dan meniadakan, serta ilmu bela diri kuno yang ia pelajari di kehidupan masa lalunya.

Kakinya terbuka selebar bahu, berat tubuhnya dibagi rata. Lengan-lengannya bergerak melengkung, membentuk pola yang tak beraturan namun memiliki ritme yang pasti. Tubuhnya berputar perlahan, seolah berdiri tepat di tengah diagram Yin dan Yang.

"Tai Chi: Menyerap, Mengalirkan, Membalikkan!"

Saat pukulan dan tendangan menghujaninya, Xiao Xuan tak pernah berhadapan langsung. Ia menyambut serangan itu dengan lembut, menyerap tenaga itu ke dalam gerakannya, lalu mengembalikannya kembali ke arah asalnya, diperkuat dengan tenaga lawan itu sendiri.

BAM! DUK! BRUK!

Suara benturan tubuh terdengar beruntun. Semakin keras mereka memukul, semakin sakit benturan yang mereka terima.

Xiao Xuan bergerak di antara mereka seperti sepotong awan yang terbawa angin—ringan, sulit ditangkap, namun menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya.

Tak sampai sepersekian menit, ketiga preman itu sudah terkapar berantakan di lantai, mengerang kesakitan, persis seperti kawan mereka. Kursi-kursi kayu patah, meja-meja terbalik, makanan dan minuman tumpah ke mana-mana.

Pemilik kedai itu memegangi dadanya, wajahnya pucat pasi melihat kerusakan yang terjadi. Hatinya terasa remuk melihat kerugian materi yang dideritanya, namun rasa takut jauh lebih besar daripada rasa sakit hatinya. Ia berteriak histeris ke arah belakang.

"Bagus... bagus sekali jurusmu, anak kecil! Tapi jangan kau kira aku tak punya andalan!" Ia menoleh ke arah pelayannya yang gemetar ketakutan. "Cepat panggil Pak Tua Zhu! Sekarang juga!"

"Ta-tapi Pak... dia masih anak-anak... apa perlu sejauh itu?" tanya pelayan itu ragu-ragu.

"Dasar bodoh! Kau mau mati seperti mereka?! Pergi!!" bentak pemilik toko itu hingga pelayan itu lari terbirit-birit.

Ia kembali menatap Xiao Xuan dengan sorot mata penuh dendam dan kemenangan yang keliru.

"Tunggu saja! Pak Tua Zhu adalah Grandmaster Roh tingkat dua puluh satu! Dia pelindungku dan mitra usahaku. Dia pasti akan merobekmu berkeping-keping!"

Di sudut ruangan, Paman Zhang yang sedari tadi hanya mematung dengan mulut terbuka lebar, akhirnya sadar dari keterkejutannya. Ia menatap wajah Xiao Xuan yang tenang itu, lalu matanya membelalak semakin besar.

"X-Xiao Xuan?! Ya Tuhan... ternyata kau... anak dari Kepala Desa..." gumamnya tak percaya. Bukankah dulu anak ini diketahui memiliki kekuatan roh tingkat satu saja? Sudah berapa bulan berlalu? Bagaimana dia bisa berubah menjadi sehebat ini? Mengalahkan empat orang kekar tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun?

Namun ia tak sempat berkomentar lebih jauh. Xiao Xuan berbalik menghadapnya, nada bicaranya tenang namun tegas.

"Paman Fang Xi, berapa sebenarnya uang yang kedai ini berutang untuk pasokan desa kita?"

Paman Fang Xi masih linglung, menjawab secara otomatis. "Itu... s-satu keping emas..."

"Satu keping emas?!"

Xiao Xuan mengangkat suaranya, matanya menyala marah. Kemarahannya bukan pada Paman Fang Xi, tapi pada kenyataan yang baru didengarnya.

Sialan! Hanya satu keping emas?!

Ia menatap tajam ke arah pemilik kedai yang masih pucat itu. Kau jual mie seharga satu keping perak, daganganmu ramai setiap hari, kau simpan kantong-kantong emas di laci kasirmu...

tapi kau berani menindas orang miskin hanya karena berutang satu keping emas?! Kau bicara soal kekurangan dana, arus kas macet... padahal kau jelas-jelas pelit dan kejam!

Niat hati Xiao Xuan untuk membiarkan orang ini hidup tenang perlahan lenyap. Ia hendak berkata sesuatu, namun langkah kaki berat dan langkah berirama terdengar mendekat dari luar pintu.

Seorang pria bertubuh tegap dan kekar melangkah masuk. Ia memegang sebilah golok besar yang tajam, noda darah kering masih terlihat di bilahnya. Di bawah kakinya, dua cincin roh berputar perlahan: satu berwarna putih, satu lagi berwarna kuning cerah.

Grandmaster Roh tingkat dua puluh satu Pak Tua Zhu.

Ia mengenakan celemek putih yang penuh noda, jelas orang yang biasa bekerja di dapur sekaligus menjadi pelindung. Ia berjalan santai, seolah menganggap dirinya dewa pelindung di tempat ini.

Sesampainya di depan Xiao Xuan, Pak Tua Zhu berhenti. Ia menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan, lalu tersenyum dingin.

"Nak, sampai-sampai harus memanggilku, sepertinya kau punya keahlian lumayan ya," ucapnya dengan suara berat dan parau. Ia memutar goloknya dengan satu tangan, menimbulkan suara berdesing tajam.

"Bagaimana kalau begini saja? Kau mau uang kan? Katanya dia berutang satu emas. Baiklah... asalkan kau bisa mengalahkanku, aku sendiri yang akan berikan uang itu, bahkan lebih banyak lagi."

Xiao Xuan menatap pria bertubuh besar itu dengan tatapan datar, sama sekali tidak tergoda atau takut melihat cincin roh yang berputar itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum dingin yang membuat Pak Tua Zhu merasa tak enak hati.

"Kau...?" Xiao Xuan berbicara perlahan, nada bicaranya penuh ejekan yang samar namun menusuk. "Apa yang membuatmu berpikir... kau pantas menyebut dirimu 'aku' di depanku?"

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!