Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kangen
Beberapa hari Kania penasaran kenapa Axel tidak lagi terlihat di ruangan kantornya, bahkan kini Bella jadi sering datang ke kafe seakan mengawasinya terus.
"Bella, kenapa kok om Axel ngga kelihatan Akhir-akhir ini? Kemana ya om Axel?" tanya Kania ketika mereka sedang beristirahat.
"Ngga tahu." jawab Bella singkat.
Kania cemberut sekaligus kesal, beberapa kali dia tanya pada Bella kemana Axel selalu di jawab tidak tahu. Dia tahu Bella itu bohong padanya, tapi tentu saja bukan Bella namanya kalau gadis itu selalu menutupi kemana Axel pergi.
Apa jangan-jangan masalah malam itu tentang kejujurannya.
Bella melirik Kania yang sedang melamun entah memikirkan apa, tapi yang jelas gadis itu memikirkan pamannya.
"Om Axel pergi ke Jerman," ucap Bella cepat, Kania menoleh menatapnya.
"Ke Jerman? Mau apa?" tanya Kania.
"Ya jelaslah mau menemui istri dan anaknya, gimana sih?" jawab Bella.
"Ah, ngga mungkin. Om Axel itu udah cerai sama istrinya, dia duda," kilah Kania.
"Sok tahu lo, gue ini keponakannya. Bukan kamu," kata Bella lagi.
Kania diam, dia sedikit ragu dengan ucapan Bella, dia berpikir apa benar Axel itu belum bercerai dengan istrinya di Jerman. Lalu, bagaimana dengan ucapan teman-teman di kafe kalau bos mereka itu duda.
"Jangan bohong bell, gue ngga percaya sama omongan Lo. Gue tahu Lo hanya mau menghalangi gue dekat dengan om Axel," ucap Kania membantah.
"Ck, kalau Lo ngga percaya ya udah. Gue ngga maksa." kata Bella sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Kania.
Gadis itu pun jadi ragu kembali, apa benar Axel belum bercerai?
"Ah, nanti gue cari tahu lagi. Gue ngga percaya sama tuh si bel bel."
_
Sepuluh hari Kania tidak melihat Axel di kafe, ada rasa rindu di hatinya. Entah perasaan itu adalah cinta atau hanya karena terbiasa dengan Axel. Tapi Kania merasa sangat hampa meski Bella selalu bersamanya.
"Bella, kapan om Axel pulang? Kok lama banget sih?" tanya Kania dengan lesu.
"Ck, emangnya yang di urusin om Axel itu cuma kafe ini? Di Jerman juga ada beberapa restoran yang perlu di perhatikan, udah deh jangan lebay gitu jadi cewek," Bella sedikit kesal karena setiap hari hampir beberapa kali satu hari bertanya kapan Axel pulang.
"Ck, Lo sih ngga ngerasain kangen sama cowok. Gue kangen tahu sama om Axel," ucap Kania membuat Bella kembali jengah.
Tanpa menanggapi lagi, Bella pun pergi ke ruangan kantor Axel. Kania melihat sahabatnya masuk ke ruangan Axel itu pun bangkit dari duduknya. Mengikuti kenapa Bella sering masuk ke dalam ruangan Axel.
Pintu tidak di kunci, Kania mendorong pelan pintu dan mengintip Bella sedang ada di ruangan Axel. Dia mendorong lagi pintu tersebut dan melihat Bella sedang menelepon seseorang. Kania mendengar sayup-sayup Bella menelepon.
"Om, kapan pulang sih? Kok lama di Jerman ya?"
"...."
"Ya kan mama ngga lama kalau di kafe, aku juga males di sini. Mana lagi di gangguin Kania terus."
"....."
"Adalah pokoknya, males banget dia bilang kangen om Axel."
"....."
"Ih, kok om tertawa sih? Aku males sama dia, dan kenapa om buru-buru pergi ke Jerman?"
"...."
"Ya udah, kapan om Axel pulang?"
"...."
"Bener ya? Awas kalau ngga pulang cepat."
"....."
"Oke om, cepat pulang. Daah."
Klik!
Bella menutup sambungan telepon sama Axel, Kania yang bersembunyi di belakang rak buku itu tersenyum kecil mendengar percakapan Bella dengan om-nya Axel.
Gadis itu berbalik dan melangkah perlahan keluar, Bella sekilas melihat bayangan orang pun menoleh dan terkejut. Dia bangkit dari duduknya lalu segera keluar mengejar sosok yang tadi keluar dari ruangan Axel.
"Kania." teriak Bella, Kania menoleh dan memasang wajah datar.
"Apa?"
"Lo tadi masuk ya?" tanya Bella.
"Masuk kemana? Ke dapur? Gue di sini kok."
"Alah, jangan bohong Lo. Lo tadi masuk dan nguping gue teleponan kan?"
"Ngga, emangnya gue Intel apa?"
"Jangan banyak alasan deh, Lo bener tadi masuk ke ruangan kantor om Axel?" tanya Bella lagi mencecar.
Kania diam menatap sahabatnya, tangannya bersedekap seakan dia ingin menantang Bella.
"Kalau iya, kenapa? Gue tadi tanya sama Lo, kapan om Axel pulang. Tapi Lo ngga jawab, ya udah gue intip dan nguping," jawab Kania seakan merasa tidak bersalah.
"Cih, dasar Lo tukang ngintip."
"Biarin. Lo yang pelit."
"Awas Lo gue bilangin om Axel kalau Lo masuk ke ruangannya tanpa permisi," kata Bella.
"Bilangin aja, oh ya. Gue tahu nomor telepon om Axel sejak dulu. Tapi gue ngga telepon om Axel karena gue pikir ngga sopan, jadi gue ngga akan tanya sama Lo lagi. Gue mau telepon langsung untuk tanya kapan om Axel pulang," ucap Kania.
"Lo berani? Lo ngga takut bakal di tolak telepon Lo? Cih, dasar."
Saling tatapan tajam dan sinis terus terjadi, Kania kesal pada sahabatnya. Begitu juga Bella yang kesal kenapa Kania menguping dan mengintip dirinya menelepon pamannya, apa lagi masuk ke ruangan Axel tanpa permisi.
_
_
*****
tapi gak apa-apa cuekin dan jutekin ajah si bela nya terus ... balas dendam kecil2an