NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gunung

Su Jinyu terbaring di ranjang lipatnya, kedua mata terbelalak menatap langit-langit genteng hijau yang mulai lapuk di beberapa bagian. Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah jendela, membentuk garis-garis cahaya di lantai kamar mungil itu.

"Huuum..." gumamnya lirih, suara kecil yang nyaris tak terdengar.

Ia membolak-balikkan badan. Kiri. Kanan. Kiri lagi. Kemudian kembali menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

"Ibu ke pasar," bisiknya pada diri sendiri, menghitung satu per satu. "Kakak pertama kuliah, kakak kedua sekolah, kakak ketiga main... membosankan sekali sendiri."

Benar saja. Pagi-pagi buta tadi Ibu Liu sudah berangkat ke pasar tradisional bersama beberapa tetangga, berbekal keranjang bambu dan daftar belanjaan. Su Weiguo, kakak sulungnya, berangkat ke kampus universitas komunikasi sejak subuh. Su Jianguo, kakak kedua, memanggul tas sekolah dan bergegas menuju SMA-nya. Dan Su Weimin... bocah 10 tahun itu pamit dengan wajah berseri-seri, mengaku hendak main ke luar bersama teman-temannya—meski Jinyu curiga dia lebih tertarik pada belalang dan ikan kecil daripada teman-temannya.

Jinyu menghela napas panjang. Sepi.

Tiba-tiba...

Shshsss~

Sebuah desisan lembut terdengar dari samping bantalnya. Jinyu menoleh, dan seulas senyum kecil mengembang di wajah mungilnya.

Yoyo melingkar rapi di sampingnya, kepala mungil si ular perak itu mendongak dengan kedua mata merah delima berkilau. Perlahan, ular itu merayap naik ke lengannya, melilitkan tubuh lentiknya dengan lembut.

"Kok kamu keluar?" tanya Jinyu sambil mengelus kepala Yoyo dengan jari telunjuknya.

Shshsss~ "Kamu kelihatan bosan, makanya aku temani Shshsss~"

Jinyu tersenyum kecil. Tangannya terus mengelus kepala ular itu, merasakan sisik halus yang dingin namun menenangkan. Ia menatap langit-langit lagi, kali ini sambil berpikir.

"Yoyo, apa kamu tahu tentang era 60 ini?"

Shshsss~ Yoyo mengangkat kepalanya, mata merah delima berbinar. "Tentu saja tahu Shshsss~. Aku mengumpulkan banyak data sejak kita tiba di sini. Tapi seharusnya kamu juga tahu, Jinyu. Kau kan ratu kiamat, masa tidak belajar sejarah?"

Jinyu mendengus. "Aku malas mendengar dongeng guru sejarahku. Panjang, membosankan, dan membuat ngantuk. lagipula saat kiamat muncul, siapa juga yang mau mendengarkan nya."

Shshsss~ Yoyo menggeleng-gelengkan kepala, sebuah gerakan lucu yang kontras dengan tubuh ularnya. "Dasar ratu bolos Shshsss~. Baiklah, aku jelaskan. Era 60 ini adalah masa yang penuh gejolak. Tahun 1966 nanti, universitas-universitas akan ditutup. Banyak mahasiswa dan pemuda akan dikirim ke pedesaan untuk 'membangun kontribusi negara', katanya begitu. Mereka disebut 'pemuda terpelajar yang turun ke desa'."

Jinyu mengernyit. "Ditutup? Dikirim ke desa? Aneh sekali."

Shshsss~ "Itulah yang terjadi di era ini, Jinyu. Banyak keluarga terpelajar akan terpisah. Anak-anak muda yang biasa hidup di kota tiba-tiba harus bekerja di sawah dan ladang."

Jinyu mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali, matanya setengah tertutup. "Ngerti... ngerti..."

Shshsss~ "Jadi seharusnya kamu tidak bolos kelas sejarah Shshsss~. Pengetahuan itu—"

"Yoyo, lihat! Ada kupu-kupu di luar!" Jinyu tiba-tiba menunjuk ke jendela, padahal tidak ada kupu-kupu sama sekali.

Shshsss~ "Jinyu, itu—"

Sebelum Yoyo menyelesaikan kalimatnya, Jinyu sudah melompat turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. Yoyo yang masih melingkar di lengannya ikut terseret, tapi dengan gesit ia melepaskan lilitannya dan jatuh empuk di kasur.

Shshsss~ "Jinyuuu!" desisnya kesal. Tapi Jinyu sudah menghilang di balik pintu.

Di luar rumah, Jinyu berdiri di halaman depan, menarik napas dalam-dalam. Udara dingin menusuk hidung, tapi menyegarkan. Ia menatap ke sekeliling kompleks militer yang sepi. Beberapa ibu memang terlihat duduk-duduk di teras rumah, bergosip seperti biasa, tapi Jinyu tak tertarik.

Matanya lalu tertuju pada sesuatu di kejauhan. Di belakang kompleks perumahan, tampak sebuah gunung menjulang. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup besar dengan pepohonan lebat di lerengnya. Dari sini, gunung itu terlihat sunyi dan misterius.

Jinyu tersenyum tipis. "Gunung... pasti ada sesuatu yang menarik di sana."

Tanpa berpikir panjang, ia berjalan santai meninggalkan kompleks. Beberapa tentara yang berjaga di gerbang hanya meliriknya sekilas—anak kecil jalan-jalan di pagi hari, biasa saja. Apalagi mereka sudah tahu Jinyu adalah anak angkat Komandan Su.

Setelah berjalan cukup jauh, Jinyu tiba di kaki gunung. Beberapa warga terlihat di tepi hutan, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mengambil daun-daunan. Tapi tak satu pun dari mereka yang berani masuk terlalu dalam. Hanya di pinggiran saja.

Jinyu melenggang masuk melewati mereka. Seorang bapak-bapak yang sedang memotong ranting menegurnya, "Hei, Nak, jangan masuk dalam-dalam. Nanti tersesat!"

Jinyu hanya menoleh, tersenyum sopan, lalu melanjutkan langkahnya.

Begitu masuk ke dalam hutan, suasana berubah. Suara kota dan kompleks militer lenyap, digantikan oleh kicauan burung, desiran angin di dedaunan, dan sesekali suara ranting patah. Pepohonan besar menjulang, membentuk kanopi yang menaungi.

Jinyu berjalan santai, matanya mengamati sekeliling dengan waspada. Bagi mantan ratu kiamat, hutan seperti ini adalah taman bermain. Tidak ada yang perlu ditakutkan.

Ia berjalan semakin dalam, melewati semak-semak, sungai kecil, dan bebatuan berlumut. Hening. Hanya suara alam yang menemani.

Sampai akhirnya...

"Cuit cuit... cuit cuit cuit..."

"Cuit! Cuit cuit!"

Jinyu menghentikan langkah. Telinganya menangkap suara itu dengan jelas. Bukan sekadar kicauan burung biasa—tapi percakapan. Ia bisa mendengar artinya.

"Dengar-dengar, keluarga Li di ujung desa mau menikahkan anaknya bulan depan. Calonnya dari kota, katanya. Tapi ku lihat calonnya seusia ayahnya"

"Ah, itu mah sudah basi. Aku punya gosip lebih segar. Istri komandan batalyon Zhang itu... katanya suka ngambek kalau suaminya pulang malam. Sampai lempar piring segala!"

"Wah, serius? Dasar manusia aneh, urusan kecil dilempar-lempar."

"Lalu ada istri kapten song itu, katanya dia ketahuan selingkuh saat suaminya sedang berada di Medan perang"

"Wih, manusia - manusia aneh"

Jinyu tersenyum lebar. Dua ekor burung pipit sedang asyik berceloteh di atas ranting pohon waru. Buruk rupa, suara biasa, tapi informasinya... wah, menarik.

Jinyu merogoh saku bajunya. Dari ruang dimensi, ia mengeluarkan segenggam biji jagung—persediaan makanan yang selalu ia siapkan untuk keadaan darurat. Lalu dengan hati-hati, ia melemparkan beberapa biji ke arah bawah pohon, tepat di tempat yang terlihat oleh burung-burung itu.

"Cuit?!" Kedua burung itu langsung diam. Kepala mungil mereka menoleh ke bawah, waspada.

Jinyu melangkah mendekat perlahan, tangannya terangkat menunjukkan biji jagung. "Hei, jangan takut. Ini untuk kalian."

Salah satu burung pipi yang lebih besar menunduk, menatap Jinyu dengan mata hitam bulatnya. "Cuit? Manusia... bicara?"

Yang satunya ikut-ikutan menunduk. "Kamu... kamu mengerti bahasa kami?"

Jinyu mengangguk, tersenyum ramah. "Iya, aku bisa mengerti kalian. Turunlah, biji jagung ini enak."

Kedua burung itu saling menatap sejenak, lalu dengan ragu-ragu mereka terbang turun, hinggap di tanah di depan Jinyu. Paruh-paruh kecil itu mulai mematuk biji jagung dengan lahap.

"Enak cuit!" puji burung yang lebih besar. "Manusia ini baik, kasih makanan!"

Jinyu duduk bersandar di batang pohon waru, lalu dari sakunya ia mengeluarkan biji melon persiapan camilan untuk dirinya sendiri. Ia menggigitnya pelan sambil berkata, "Aku ingin dengar gosip-gosip tadi lanjutannya. Ceritakan semua."

Burung-burung itu melompat-lompat kecil, antusias. "Wah, manusia ini suka gosip juga cuit!"

"Baiklah, baiklah, akan kami ceritakan semua!"

Berjam-jam kemudian, matahari mulai merangkak turun ke barat. Sore hari telah tiba. Jinyu masih duduk di bawah pohon waru, biji melon di tangannya sudah habis, sementara kedua burung pipit itu masih asyik berceloteh.

"—lalu istri komandan resimen Wang itu ternyata... cuit... diam-diam sering mengirim surat ke bekas pacarnya di kota! Tapi suaminya tidak tahu!"

Jinyu tertawa kecil. "Wah, ibu-ibu kompleks ternyata banyak rahasia, ya."

"Masih banyak lagi cuit!" Burung yang lebih kecil ikut bersemangat. "Aku tahu gosip tentang—"

Jinyu mengangkat tangan, menyela. "Sudah, nanti saja lanjutannya. Aku harus pulang sekarang. Sore sudah mulai gelap."

Kedua burung itu tampak kecewa, tapi tetap menghormati. "Baiklah cuit. Lain kali datang lagi, ya? Bawa jagung lagi!"

"Janji," kata Jinyu sambil berdiri, membersihkan dedaunan yang menempel di bajunya. "Terima kasih atas gosipnya. Sangat... informatif."

Ia melambai pada burung-burung itu, lalu berbalik meninggalkan hutan.

Saat menuruni gunung, Jinyu merasa perutnya mulai keroncongan. Sarapan bubur ayam sudah lama dicerna. Ia butuh makanan lebih.

Matanya menangkap gerakan di semak-semak.

Seekor burung pegar sebuah ayam hutan berukuran cukup besar dan gendut, sedang asyik mematuk tanah mencari cacing. Jinyu mengamatinya sebentar. Ia coba dengarkan suaranya, tapi hanya terdengar suara asing tak berarti. Spesies ini tidak bisa ia ajak bicara.

"Yah, mungkin memang tidak semua hewan bisa," gumamnya. "Yang penting, ini bisa buat lauk makan malam."

Dengan gerakan cepat, Jinyu meraih leher burung itu. Krek! Selesai. Tubuh burung itu lemas dalam genggamannya. Ia segera menyimpannya ke ruang dimensi, di ruang penyimpanan bahan makanan.

"Untuk makan malam nanti," pikirnya senang

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!