NovelToon NovelToon
Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Minaaida

Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.

Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Menjadi seorang Ibu

Alexander...

"Dia akhirnya pergi, Carol." jawabku dengan sinis dan ekspresi wajah Carol berubah menjadi kekhawatiran.

"Olivia? Mengapa dia pergi?"

Aku menceritakan semua yang terjadi pada Carol. Setelah mendengar ceritaku, dia membawaku ke dalam pelukannya yang hangat.

"Kamu pasti bisa melewati semua ini." bisiknya, "Tapi untuk saat ini, kamu harus menenangkan diri dulu. Papi dan Mommy ada di ruang tamu. Mereka menunggumu."

Aku dan Carol melangkah ke ruang tamu. Aku sangat senang bisa bertemu kedua orang tuaku karena sudah lama kami tidak bertemu.

Mommyku memelukku dengan pelukan hangat dan erat penuh kerinduan. Papi menjabat tanganku erat. Hubunganku dengan kedua orangtuaku memang selalu baik. Maka dari itu, kami selalu punya waktu untuk berbagi kasih sayang.

"Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya papi saat kami berdua duduk berdampingan di sofa. Sejak orang tuaku pindah dari kota ini, aku lah yang mengelola perusahaan dan juga kerajaan bisnis keluarga Stone. Papiku, Riley Stone, dan Mommyku Deborah Harris, pindah ke Singapura, dan menetap di sana. Carol tidak tertarik dengan dunia bisnis. Dia hanya tertarik dunia fashion.

"Sejauh ini, perkembangannya cukup bagus, Pah." jawabku, aku mencoba fokus meskipun otakku masih terus memikirkan Olivia. Orang tuaku masih belum tahu mengenai apa yang terjadi antara aku dan Olivia. Semua itu hanya masalah waktu sebelum mereka bertanya di mana Olivia.

Kami berbincang - bincang sejenak sebab banyak hal yang ingin kami bicarakan. Tak lupa juga kami berbincang mengenai Dean, adikku . Aku bertanya bagaimana kabarnya saat ini karena sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Dia tinggal bareng papa dan mommy di Singapura.

"Oh, iya. Aku jadi ingat sesuatu, dimana Olivia?" tanya mommyku, yang membuat ekspresi bahagia di wajahku berubah menjadi gelap. Tadinya aku sempat merasa gembira namun kegembiraan itu telah hancur dalam sekejap karena pertanyaan mommyku.

Tidak ada gunanya untuk menyembunyikan masalah ini dari mereka karena bagaimanapun cepat atau lambat mereka pasti akan tahu juga. "Olivia sudah tidak tinggal di sini lagi." hatiku hancur saat aku memberi tahu mereka tentang masalah ini.

Aku tidak akan pernah lupa wajah - wajah bingung mereka saat mendengar semua itu.

"Olivia tadi pagi masih di sini," ucap ibuku, dia tertawa kecil, "Apa maksud kamu dengan mengatakan Olivia tidak di sini lagi?"

Sejenak aku ragu dan berpaling menatap Carol dan Dean, memberi mereka isyarat untuk melakukan sesuatu agar perhatian papa dan mama teralihkan. Namun, sepertinya mereka tidak mengerti.

Baru saja aku mengangkat mulut untuk bicara, tiba-tiba ponselku berdering nyaring. "Tunggu sebentar," tanganku merogoh saku dan mengeluarkan ponselku.

Itu adalah panggilan dari Sonya.

Aku berharap itu adalah Olivia yang mencoba membujukku melalui Sonya sehingga aku tanpa ragu menerima telpon Sonya. "Hey, ada apa?" tanyaku ingin tahu mengapa Sonya menelpon ku.

"Ini,... tentang Olivia, dia pingsan." jawab Olivia, suaranya terdengar gemetar dari seberang sana dan aku terdiam, panik.

"Dia sekarang ada di rumah sakit.. Aku akan kirim alamatnya." ucap Sonya lagi.

Dia kemudian menutup telepon tanpa membiarkan aku bertanya lebih lanjut.

***

Olivia....

"Apa kamu yakin kamu tidak ingin memberitahunya tentang hal ini?" tanya Sonya saat dia duduk di sebelahku di tempat tidur rumah sakit.

Aku menganggukkan kepalaku dengan sangat yakin. "Seratus persen yakin," jawabku. "Aku bahkan juga tak ingin kedua orang tuaku mengetahui tentang hal ini."

Sonya tersentak, dia menatapku dengan tidak percaya pada kalimat yang terakhir kuucapkan.

Hidupku penuh dengan kejutan. Ketika di awal tahun, aku tidak pernah membayangkan aku akan berakhir menjadi seorang ibu. Alex dan aku tidak pernah mengharapkan kehadiran seorang bayi sebab dulu aku belum siap untuk menjadi seorang ibu.

Alex menghormati keputusanku dan kami selalu memakai pengaman saat berhubungan intim. Yeah, aku rasa semua itu tidak sepenuhnya di bilang aman. Namun, memiliki bayi akan mengubah banyak hal.

Aku tidak siap untuk memberitahu semua orang. Alex sebenarnya berhak untuk tahu tentang kehamilanku yang sudah berjalan dua bulan. Namun, kami baru saja bercerai dan aku tidak berniat untuk memberitahu nya.

Selama beberapa minggu terakhir, aku mengira kelelahan dan kegelisahan yang ku rasakan itu disebabkan oleh tekanan akibat pernikahanku yang sedang bermasalah. Sungguh , aku sama sekali tidak menyadari bahwa aku sebenarnya sedang mengandung.

Aku merasa emosiku bercampur aduk saat pertama kali mendengar dokter memberitahu tentang kabar tersebut. Sialan ! Aku bahkan sempat berpikir untuk menggugurkan bayi itu.

Namun, aku berubah pikiran dan tidak jadi menggugurkan bayiku. Bayi itu adalah awal yang baru, dan aku membutuhkan awal yang baru.

"Aku sudah menghubungi Alex saat kamu tidur tadi. Aku pikir, saat ini dia dalam perjalanan kesini."

Aku tertegun sejenak. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Alex tidak boleh tahu jika aku hamil.

Aku harus memikirkan alasan lain untuk kukatakan padanya karena tak mungkin aku memberitahunya soal bayi kami. Aku juga tak ingin ada hal apa pun yang bisa membatalkan proses perceraian kami.

"Bisakah kamu menelponnya dan mengatakan padanya agar tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku karena aku sekarang baik-baik saja."

Mohonku pada Sonya namun dia menggeleng tanda tidak setuju.

Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap diriku, Alex dan Dave tiba di rumah sakit. ", Olivia, apa yang terjadi?" tanya Alex begitu dia melihatku.

"Tidak ada, sungguh, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Tadi pagi aku belum makan sesuatu pun, jadi hanya asam lambungku naik dan aku pingsan." dustaku, aku bergegas pergi. Untung saja Sonya sudah pergi lebih dahulu karena dia tidak ingin melihatku membohongi Alex.

Wajah Alex masih diliputi kecemasan. "Apa kamu yakin? Dokter bilang apa? apakah kamu sudah diperiksa dan di test?" tanya Alex, dia memeriksa seluruh bagian tubuhku dan mengecek suhu tubuhku.

"Dokter bilang aku baik-baik saja," ucapku berusaha menyakinkan Alex. Aku menarik ujung lengan bajuku sekedar untuk menutupi kegugupanku. Aku perlu pengalihan agar kebohonganku tidak terbongkar.

"Apakah kamu ingin kembali ke rumah?" tanya Alex lagi, "Setidaknya untuk malam ini saja," tambahnya saat melihat keraguan di mataku sebagai respon.

Aku mengangkat bahu. "Aku tidak yakin." Aku yakin sekali bahwa aku sudah tidak ingin kembali lagi ke rumah Alex namun aku ingin bersikap sopan. Maka aku pun menjawab, " Sonya sedang menungguku di mobilnya. Untuk sementara waktu, aku akan tinggal di rumah Sonya karena aku merasa nyaman di rumahnya."

Aku melihat kekecewaan yang jelas di wajah Alex. "Berapa lama kamu akan tinggal di rumah Sonya?"

Sialan! Itu sama sekali bukan urusannya.

Aku bahkan sudah punya rencana untuk pergi meninggalkan kota ini. Aku ingin pindah ke negara lain untuk memulai hidup baru. Aku ingin merahasiakan keberadaan anakku dari siapapun dan aku harus mengubah posisiku.

"Aku tidak tahu. Aku pikir aku akan tinggal di sana sampai aku mendapatkan apartemen."

"Itu bisa diatur. Aku akan meminta keuanganku untuk mengirimkan sejumlah uang. Aku ingin kamu selalu hidup nyaman." Ucap Alex dan bibirku langsung membentuk sebuah senyum.

Aku senang mengetahui dia masih mengkhawatirkan keadaanku tapi aku tidak bisa menerima kebaikan yang dia tawarkan.

"Terima kasih atas kebaikanmu tapi aku baik-baik saja."

Alex mengerti bahwa tak ada gunanya membujukku, maka dia pun akhirnya berkata. "Tapi kamu harus tahu, bahwa kamu bisa menghubungiku kapan saja jika kamu butuh sesuatu, kan?" ucap Alex dan aku hanya mengangguk.

Aku merasa tidak nyaman saat Alex bersikap baik padaku. Yang ingin aku lakukan adalah menjaga jarak dengannya. Aku dan dia sudah berakhir. Jadi aku tidak ingin lagi memberikan tanda-tanda bahwa aku menginginkan dia kembali.

Aku juga tidak ingin merasa bersalah karena telah menyembunyikan fakta bahwa Alex akan menjadi seorang ayah. Setelah berbincang - bincang sesaat, Alex kemudian mengantarku ke mobil.

Setelah berpamitan dengan Alex dan Dave, aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di samping Sonya. Sonya tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya fokus mengemudi di sepanjang jalan dari rumah sakit menuju rumahnya.

1
Mariani Ajja
ini lakinya yg goblok nih
Mariani Ajja
lanjut Thor...
olyv
lanjut
Nessa
lanjut thor 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Nessa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!