Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Aku Bukan Laura!
Mentari terbit, seperti biasanya namun sinarnya tak kalah hangat dari sinar kemarin. Perubahan status Laura membuatnya di ratukan. Oleh sang mertua karena saat ini ia tengah mengandung
Tak hanya itu Quenza bahkan, memerintahkan dirinya untuk tidur di kamar bawah begitupun Martin yang hanya bisa pasrah karena sesungguhnya. Ini adalah ide gilanya untuk pura-pura hamil menjebak Laura di lingkaran kebohongan untuk kesekian kalinya, ia harus berbohong membuatnya tidak enak hati
"Martin, kita hentikan saja aku benar-benar tidak enak dengan mama " Kata Laura kala mereka sedang berdua di kamar.
Martin menoleh sejenak ke arahnya,
" Kamu tidak enak? " Tanya Martin dengan suara dingin Laura menganggukkan kepalanya. " Ya Martin "
" Kenapa kita tidak mencobanya? " Tanya Martin dengan suara pasti membuat Laura menggeleng kan kepala nya. " Martin, maaf aku ngga bisa! " Sahut Laura cepat
" Kenapa? " Tanya Martin tatapannya menyelidiki gadis cantik tersebut, yang berbalut awan penyesalan
Laura. Menatap dalam Martin penuh rasa bersalah kalau ia semakin mengubur informasi tentang dirinya akan terlalu menyakitkan bagi keduanya bila Martin tahu dari orang lain, dan akan menjadi luka di hubungan mereka kedepannya
Laura menghela napas berat, seolah ada sebuah batu besar menghampit dadanya ia menatap lekat Martin.
" Aku Bukan Laura " Kata itu lolos begitu saja, membuat Martin menatap sang istri dengan tatapan tidak percaya. " Maksud kamu apa? "
" Martin, aku adalah seorang penyihir yang terlahir kembali menjadi seorang wanita bernama Laura! " Jelas Laura air mata mengalir deras saat ia melihat kilatan kemarahan yang terpancar dari mata Martin,
Tangan Martin bergerak mencengkram leher Laura, Gadis itu tidak menolak ia sengaja memberikan lehernya ia begitu menyesal telah menyimpan begitu besar rahasia ini.
" Penyihir??, jadi kamu penyihir? " Kata Martin dengan suara keras, membuat tubuh Laura bergetar hebat " Ya.. Aku Evelyn penyihir "
" Bajingan! " Martin menguatkan cengkraman tersebut, membuat Laura kesulitan untuk bernapas rasa bencinya terhadap seorang penyihir mendarah daging hingga Ketulang-tulangnya.
" Aku minta maaf, aku tahu aku salah.. Martin aku benar-benar ngga tahu kenapa aku bereinkarnasi menjadi Laura! " Jelas Laura dengan suara terbata-bata di ujung cengkraman tangan Martin. Yang begitu kuat
" Aku ingin kita pisah! "
Prak!
Martin dengan kasarnya, melempar tubuh Laura hingga terjatuh ke lantai yang dingin sebenarnya ia sudah menerka semua perilaku Martin kala tahu dirinya penyihir.
" Maafkan aku, aku benar-benar ngga tahu harus kemana lagi Martin kalau kita pisah.. Aku gimana? " Kata Laura napasnya tersengal
" Aku benci berhubungan dengan Penyihir!, aku akan memberitahu ke mama tentang kamu! " Sahut Martin ia menarik kasar tangan Laura membawanya ke ruang tengah dimana Quenza tengah bersantai
Tetiba tatapannya penuh kemarahan kepada Martin, yang dengan kasarnya Martin menjatuhkan tubuh ramping tersebut di lantai hadapan Quenza
" Martin! " Pekik Quenza
" Ma, dia bukan Laura dia adalah penyihir yang bereinkarnasi menjadi Laura! " Jelas Martin. Membuat Quenza membola ia menatap Laura yang tampilan nya kacau. Dengan tatapan tidak percaya " Laura jelaskan! "
" Mama, Martin maafkan aku.. " Kata Laura dengan suara serak
Dengan suara tergagap-gagap, ia menceritakan semuanya kepada Martin dan Quenza membuat Ibu dan anak itu menatap nya dengan tidak punya hati nurani.
Quenza, mengambil sapu yang ada di dekatnya ia mendekati gadis tersebut lalu sapu itu melayang ke tubuh gadis itu. Membuat Laura sebisa mungkin menahannya,
" Bajingan!, kamu menipu kami!.. Dasar penyihir! "
" Penyihir!! "
Plakk!
Brukkk!
Martin hanya bisa menatap nanar gadis tersebut, yang di terpa pukulan demi pukulan dari sang mama sebenarnya ia merasa kasihan dengan gadis itu namun saat ia mengingat kalau Laura adalah seorang penyihir hilang lah rasa empatinya.
" Sakit! " Gumam Laura nyaris putus
Quenza tidak putus asa memukul gadis tersebut. Seolah gadis itu adalah sebuah benda yang begitu yang begitu jijik— Laura menahan nyeri di sekujur tubuhnya.
" 𝘚𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪.. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶....𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢! "
Brukk!
" Ma berhenti! " Martin mengambil sapu yang ada di tangan Quenza, membuat wanita tersebut melotot " Kenapa, kamu hentikan? Kamu tahu dia keturunan penyihir yang membuat kakimu lumpuh! " Kata Quenza dengan nada tidak suka
" Dia masih tetap istriku!, " Sahut Martin ia melengkung kan tubuh nya lalu, menggendong gadis tersebut membuat Quenza mendelik tidak suka " Ma cukup!, Martin tahu mama benci dengan penyihir Martin pun sama. Tapi mereka berbeda " Kata Martin dengan suara berat
" Kamu berani menentang, mama hanya karena wanita ini? " Tantang Quenza matanya berkilat penuh kemarahan
" Ma, setelah aku pikir-pikir Evelyn tidak bersalah dia hanya bereinkarnasi! "
" Kamu membela dia, dan kamu harus tahu bahwa hubungan kita ngga akan baik-baik
saja Martin! "
" Terserah mama, Martin ngga apa-apa di keluarkan dari Gilbert Company! "
" Martinn!! "
Namun Martin tidak peduli, ia membawa gadis yang ada di pangkuan nya itu ke kamarnya dengan cara gadis itu duduk di pangkuan nya.