Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Tiktok: Purnamanisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Lagi Dari Awal
Berkat kerjasama yang baik antara Arumi dan Ardi, proses perceraian keduanya hanya membutuhkan waktu satu bulan. Arumi merasa lega semua proses sudah selesai. Hak asuh Kayla ada padanya. Harta gono gini dibagi berdasarkan aturan yang sesuai. Arumi tidak menuntut nafkah berlebihan dari Ardi untuk Kayla. Semua demi mempermudah proses perceraiannya.
Kini, Arumi resmi menyandang status janda. Hatinya merasa lebih ringan sekarang, meski dia memiliki tanggung jawab yang berbeda. Ya. Menjadi single mom tak pernah terbayang dalam benak Arumi. Namun, Arumi cukup menikmatinya.
Dengan bermodalkan ijazah dan pengalamannya di dunia mengajar, Arumi mendapat pekerjaan menjadi tentor bimbel yang terletak tak jauh dari sekolah Kayla. Karena kebutuhan Kayla ditanggung oleh Ardi, gaji Arumi sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Arumi dan Kayla.
Selama proses perceraian, Arumi tidak mengunjungi klinik Dokter Arisa. Dimas sesekali menanyakan kabar Arumi via pesan singkat. Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Arumi karena tiba-tiba menghentikan konsultasinya. Namun, Arumi pikir, saat ini dirinya sedang tak membutuhkan konsultasi ahli.
Gimana kabar kamu, Arumi?
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Arumi. Arumi tersenyum.
Baik, Dim. Makasih
Arumi berusaha tidak terlalu bergantung pada Dimas. Arumi cukup tahu diri akan statusnya. Dia tak ingin membuat Dimas terlalu dalam masuk ke dalam hidupnya.
Sudah lama nggak ketemu Kayla. Kangen
Pesan balasan dari Dimas membuat jantung Arumi berdegup kencang.
Maaf
Satu lagi pesan mendarat. Arumi tak tahu harus membalas apa. Dia hanya mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam tas.
'Maaf, Dim. Nggak seharusnya kita terlalu akrab,'
***
Satu bulan. Dimas sudah menahan diri selama satu bulan untuk tidak mengatakannya. Namun, sepertinya, perasaannya sudah tak ingin lagi ditahan lebih lama.
Sudah lama nggak ketemu Kayla. Kangen
"Nggak cuma sama Kayla. Sama kamu juga, Rum," gumam Dimas sambil menatap layar ponselnya. Sadar balasan Arumi tak kunjung datang, Dimas kembali mengirim sebuah pesan singkat.
Maaf
Dimas masih menatap layar ponselnya berharap akan ada balasan dari Arumi.
"Hhh~ menyedihkan sekali aku ini," gumamnya di ruang konsultasi.
Dimas meletakkan ponselnya di atas meja lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Dia mengusap wajahnya seolah mencoba menghapus bayangan wajah Arumi dari kepalanya.
"Om Dimas! Ke taman yuk!" suara Gendhis mengagetkan Dimas.
"Eh? Ada Gendhis,"
"Ayok, Om!" ajak Gendhis sambil menarik-narik tangan Dimas. Arisa berdiri di ambang pintu konsultasi sambil tersenyum.
"Sorry," ucap Arisa tanpa mengeluarkan suara atas kelakuan Gendhis. Dimas menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Oke. Kita ke taman. Tapi, Om ganti baju dulu ya?" kata Dimas pada Gendhis.
"Oke, Om! Yay!! Ke taman!!!" kata Gendhis sambil berlari keluar ruang konsultasi.
"Anak itu. Kenapa lebih akrab sama kamu dibanding sama bapaknya sendiri sih?" kata Arisa setelah Gendhis keluar dari ruangan Dimas. Dimas tersenyum.
"Bapaknya terlalu sibuk, Mbak. Bilang sama Mas Aris, jangan sibuk-sibuk. Ntar anaknya nyari papa baru," ledek Dimas.
"Berani meledek atasan? Hukuman potong gaji lima puluh persen," kata Arisa.
"Waduh! Harusnya sih ditambah ya? Kan jadi baby sitter juga," kata Dimas sambil terkekeh.
"Dasar!"
"Ya udah. Aku mau ngedate sama Gendhis dulu," kata Dimas lalu pergi meninggalkan Arisa yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah sepupunya.
Dimas segera mengantar Gendhis ke taman yang letaknya tak jauh dari klinik. Keduanya berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan yang tak begitu ramai.
"Oke. Waktunya gendong," kata Dimas pada Gendhis saat hendak menyeberang jalan raya. Dimas dengan erat menggendong Gendhis menyeberangi jalan raya.
Saat hendak menurunkan Gendhis, mata Dimas menangkap sosok yang dia kenal. Sosok yang selama ini mengganggu pikirannya. Sosok yang begitu dia... rindukan.
'Mungkin ini pertanda,'
***
"Kay!" teriak Dimas sambil melambaikan tangan pada sosok gadis kecil yang tengah asyik bermain ayunan sendirian.
"Wah! Mas Dokter!!" Kayla segera turun dari ayunan dan berlari menghambur ke arah Dimas. Dimas reflek menangkap Kayla ke dalam pelukannya.
"Tambah besar ya sekarang?" kata Dimas saat memeluk Kayla.
"Kata Bu Ida, berat Kayla naik dua kilo," kata Kayla bangga.
"Dua kilo? Hebat!" puji Dimas.
"Eh? Mana tadi Gendhis?" tanya Dimas sambil celingukan mencari Gendhis.
"Om!!" teriak Gendhis yang ternyata sudah berada di ayunan yang tadi dinaiki Kayla.
"Wah!! Gendhis!!!" Kayla segera berlari kembali menuju ayunan. Dimas tersenyum menatap Kayla yang ceria, merasa lega gadis kecil itu masih tetap ceria. Malah lebih ceria daripada sebelumnya.
Dimas menoleh ke arah bangku taman, tempat Arumi duduk. Dimas berjalan mendekat ke arah Arumi. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergap.
"Hai," sapa Dimas, berdiri di samping bangku taman.
"Hai," jawab Arumi sambil tersenyum kikuk.
"Boleh... duduk?" tanya Dimas perlahan.
"Oh? Silakan," kata Arumi sambil sedikit menggeser duduknya.
Dimas duduk sambil berdehem, mencoba menghilangkan gugup yang tiba-tiba muncul.
"Udah lama?" tanya Dimas.
"Mmm... Sepuluh menitan," jawab Arumi. Dimas memperhatikan Arumi yang memakai setelan baju kantor yang rapi.
"Kamu... kerja dimana?" tanya Dimas ragu-ragu.
"Hm? Oh... Di Fun English," jawab Arumi sambil tersenyum.
"Fun English? Yang deket lampu merah?" tanya Dimas memastikan. Arumi mengangguk.
"Tentor?" tanya Dimas. Arumi mengangguk sambil mengawasi Kayla dan Gendhis. Dimas manggut-manggut.
Hening.
Angin berhembus lembut, menerbangkan dedaunan kering perlahan mendekat ke arah kaki Arumi dan Dimas, seolah mengisi kesepian yang ada di antara keduanya. Dimas menoleh perlahan, menatap wajah Arumi, yang entah mengapa, terlihat semakin mempesona ditempa serpihan cahaya mentari sore yang jatuh dari sela-sela dedaunan pohon trembesi.
Arumi menoleh, menangkap kedua mata Dimas yang menatapnya dalam-dalam. Dimas tersenyum, hangat, masih sehangat seperti saat konsultasi dulu. Arumi merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Arumi buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kayla dan Gendhis.
"Senang melihat kamu dalam keadaan yang lebih baik," kata Dimas lalu menatap Kayla yang sedang asyik bermain bersama Gendhis. Arumi tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari anak-anak.
"Kayla juga. Dia terlihat semakin ceria daripada dulu," lanjut Dimas, masih menatap Kayla.
Arumi menoleh, menatap Dimas. Tatapan Dimas pada Kayla, terlihat begitu dalam dan hangat. Arumi mengingat bagaimana Kayla pernah menangis dalam pelukan Dimas, bagaimana Dimas menjaga Kayla ketika Ardi tengah sakit, bagaimana Kayla terlihat begitu nyaman bercanda dan bercerita dengan Dimas.
Dimas menoleh. Kedua matanya bertemu dangan mata Arumi yang tengah menatapnya.
"Arumi," panggil Dimas. Arumi terdiam, masih menatap Dimas.
"Bisakah... aku... kita... mulai lagi dari awal?" tanya Dimas ragu-ragu. Arumi masih diam.
"Bukan sebagai teman, melainkan sebagai... pria dan wanita lajang," lanjut Dimas.
Arumi tertunduk. Sedetik kemudian dia menatap ke arah Kayla. Jawaban dari pertanyaan Dimas tak akan pernah mudah Arumi berikan begitu saja. Ada banyak hal yang harus dia pertimbangkan. Bahkan bagi Arumi, jatuh cinta di saat-saat seperti sekarang adalah sesuatu yang mewah.
'Nggak semudah itu, Dim,'
***