Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Bilal tidak langsung tersenyum lebar, ia hanya mengangguk, seolah menghargai keputusan sekecil apapun itu
"Kita pelan pelan aja," katanya. Feryal mengangguk, "pelan pelan aja, dibikin slow." Malam itu pun berakhir dengan suasana yang lebih ringan.
Mereka tidak membahas detak perjalanan yang tidak sebentar dan terlalu jauh dan semua terasa serba dadakan. Tapi karena itulah sesuatu yang selama ini ia harapkan menjadi awal dari sebuah perubahan.
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berjalan sendiri sendiri dalam pernikahan itu. Melainkan mulai melangkah ke arah yang sama.
Di kamarnya, Feryal duduk ditepi tempat tidur sambil menatap ponselnya. Nama ibunya muncul di layar percakapan lama yang belum sepenuhnya selesai.
Jemarinya diam beberapa detik di atas layar. Lalu perlahan ia mengetik. "Aku mungkin akan ke Bali dalam waktu dekat Ma."
Pesan pun terkirim, dan bersamaan dengan itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat bukan karena suatu keraguan melainkan karena ia tau ada langkah yang akan berubah.
Diruang lain, Bilal berdiri sendiri di dekat jendela. Ia menatap langit malam. Dengan tangannya yang masuk ke saku celana, rahangnya pun sedikit mengeras. Bukan karena marah melainkan karena sudah menahan banyak hal.
"Ini bukan cuma perjalanan," gumamnya pelan. Ini ujian untuk mereka. Untuk Feryal dan juga dirinya sendiri.
Pesan itu terkirim tanpa bisa ditarik kembali. Feryal menatap layar ponselnya cukup, seolah berharap balasan akan datang secepat detak jantungnya yang kini terasa tidak stabil. Namun menit demi menit berlalu tanpa notifikasi apa pun.
Ia meletakkan ponselnya disamping, lalu merebahkan tubuhnya perlahan ke atas kasur, pandangannya menatap langit langit kamarnya, dengan pandangan yang kosong dan pikirannya yang penuh.
"Aneh ya,.." gumamnya pelan. Keputusan yang tadi terasa ringan,.. perlahan mulai menunjukkan beratnya.
Di sisi lain rumah, Bilal.masih berdiri di tempat yang sama. Namun kini pikirannya tidak lagi tenang. Bayangan bayangan kemungkinan mulai bermunculan.
Tentang bagaimana pertemuan itu akan berjalan. Tentang bagaimana Santi akan menatapnya. Dan bagaimana Feryal perlahan berdiri..di antara dua dunia yang berbeda.
Bilal menghembuskan napas panjang, tangannya terangkat mengusap wajahnya pelan. "Jangan salah langkah.." bisiknya. Bukan pada Feryal melainkan pada dirinya sendiri. Keesokan paginya datang dengan suasana yang sedikit berbeda.
Tidak ada yang benar benar berubah secara kasat mata, tapi keduanya sama sama saling menyadari bahwa mereka sedang menuju suatu hal.
Sarapan berlangsung sederhana, Fahrizal duduk di meja makan dengan jadwal kuliahnya hari itu. Feryal dan Bilal duduk berdampingan tidak terlalu dekat.
Tapi juga tidak lagi sejauh sebelumnya. "Rencana hari ini?" tanya Fahrizal santai. Bilal menoleh sebentar ke arah Feryal, memberi isyarat halus. Feryal menarik napas pelan, "Aku,..sama Bilal mungkin mau pergi beberapa hari ke depan."
"Pergi?" Syahira langsung menoleh, matanya sedikit membesar.
"Iya," jawab Feryal. "Ke Bali." Seketika suasana meja makan berubah mencair tidak setegang sebelumnya.
Fahrizal menurunkan korannya perlahan. Menatap putrinya dengan dalam. "Ke ibumu?, Feryal mengangguk. Beberapa detik,..tidak ada yang bicara.
Lalu Fahrizal tersenyum kecil, "Bagus."
Jawaban itu sederhana, tapi cukup membuat Feryal sedikit terkejut. "Aku kira Abi bakal,.." Feryal tidak melanjutkan. "Melarang?" tebak Fahrizal ringan.
Feryal tersenyum tipis. Fahrizal menggeleng pelan. "Abi nggak pernah melarang kamu mencari jawaban, Ra." Ia menyesap kopinya sebentar, lalu melanjutkan.
Ia menyesap kopinya sebentar lalu melanjutkan. "Selama kamu tahu kamu lagi mencari,..bukan lari."
Deg.
Kalimat itu langsung menancap. Feryal mengangguk pelan. "Aku ngerti, Bi." Syahira yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Aku juga ikut dong."
Feryal langsung menoleh dengan cepatnya. "Nggak usah."
"Lho kenapa?, protes Syahira.
"Ini bukan liburan ramean, Sya."
"Lah katanya honeymoon telat?, celetuk Syahira dengan wajah polos.
Deg. Feryal langsung tersedak minumannya, Bilal menahan senyum sementara Fahrizal tertawa kecil, "wah,..ternyata,..serius juga ya."
"Enggak gitu juga, Bi.." Feryal langsung menutup wajahnya sebentar. Syahira justru makin senyum senyum. "Yaudah deh, aku doain aja semoga lancar."
Feryal melirik tajam. "kamu ini ya."
Namun suasana itu terasa hangat. Dan entah kenapa justru memberi sedikit rasa berani.
Siang hari dihabiskan dengan persiapan sederhana. Tidak banyak barang yang dibawa. Feryal memilih seperlunya.
Seolah ia tau,..yang akan Ia hadap disana bukan soal perjalanan panjang. Tapi pertemuan yang dalam, Bilal sesekali memperhatikan dari jauh. Ia tidak ikut campur.
Hanya membantu saat diminta, dan itu cukup. "Udah?, tanya Bilal saat melihat Feryal menutup koper.
Feryal mengangguk. "Seadanya aja."
"Bagus."
Feryal menoleh, "kamu nggak deh degan?." Bilal tersenyum tipis, "ada."
"Terus kok santai banget?."
"Karena kalau aku ikut panik,..kamu makin panik."
Feryal terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil. "Makasih ya." Bilal mengangguk. Tidak banyak kata tapi cukup.
Sore menjelang malam, ponsel Feryal akhirnya berbunyi. Satu notifikasi masuk, nama itu muncul yaitu mamanya. Dengan jantungnya yang langsung berdegup lebih cepat.
Ia membuka pesan itu perlahan. "Akhirnya kamu kasih kabar juga, kamu datang kapan?." Ucapnya datar, dingin tidak hangat pun tidak sepenuhnya.
Feryal membaca ulang pesan itu dua kali, mencoba menangkap nada di baliknya. "besok atau lusa, Ma. Aku sama Bang Bilal." Balasan itupun dikirim, dan tidak butuh waktu lama mamanya pun langsung membalas pesan itu. "Oke mama tunggu." balasnya singkat. Namun cukup membuat dada Feryal.terasa penuh. Bukan karena takut atau apa tapi karena,..ini terasa nyata.
Malam sebelum keberangkatan, rumah terasa lebih sunyi. Syahira sudah lebih dulu masuk kamarnya. Fahrizal duduk diruang keluarga, tapi tidak banyak bicara. Seolah memberi ruang. Feryal berdiri di depan kamarnya.
Menatap pintu itu beberapa detik, kamar yang sudah lama tidak ia tempati sepenuhnya bersama Bilal. Tangannya pun terangkat lalu perlahan membuka pintunya.
Di dalam, Bilal sudah lebih dulu ada. Duduk di tepi tempat tidur. Seolah memang menunggu dan tatapan mereka pun bertemu tanpa kata namun adanya kesepakatan yang tidak diucapkan.
Feryal.pun melangkah masuk dengan langkah pelan meski sedikit ragu. Tapi ia tidak mundur. "Aku,..disini aja ya malam ini," ucapnya akhirnya.
Meski sedikit canggung tapi pada akhirnya Bilal mengangguk pelan, "iya,..sini." ia menepok kasur disebelahnya.
Meski tidak ada reaksi berlebihan dengan wajah datar dan pembawaan yang tenang, Feryal pun duduk di sisi lain tempat tidur.
Meski jarak masih ada, tapi tidak lagi terasa seperti dinding, dan malam itu mereka pun tidur dalam satu ruang yang sama dengan jarak yang mulai bisa dipahami bukan karena rasa terpaksa melainkan memilih untuk mencobanya lagi memulai dari awal.
Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya redup dari luar yang masuk melalui celah tirai. Feryal memejamkan matanya. Namun pikirannya belum benar benar tidur. "Bi,.."
"Hm?."
"Kamu yakin?." pertanyaan itu muncul tiba tiba tanpa Feryal rencanakan sama sekali. Bilal tidak menjawabnya langsung, ia hanya menatap langit langit sejenak lalu berkata "nggak ada yang benar benar yakin sebelum menjalani."
Feryal pun terdiam, "yang penting,.." lanjut Bilal, "kita jalan bareng mulai lagi dari awal ya." Feryal pun menarik napasnya panjang, meski hening seketika namun terasa begitu menenangkan kemudian ia pun menghembuskannya perlahan.
"Hm oke."
Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ia tidak merasa sendirian dalam perjalanannya itu. Dan diluar sana, malam pun terus berjalan tidak ada yang benar benar berubah, namun di dalam rumah itu, dia orang yang sempat berjalan sendiri sendiri.
Akhirnya mulai belajar, melangkah berdampingan kembali. menuju sesuatu yang belum mereka tahu pasti bentuknya. Namun kali ini mereka tidak lagi menghindar satu sama lain.