Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
Gandamana segera tahu bahwa semua penyerangan ini sudah direncanakan dengan baik. Dia langsung menatap tajam ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang memimpin pasukannya memasuki Bangunan Suci Nawagraha.
'Jadi dia pimpinan penyerangan ini? Aku harus membunuh nya lebih dulu', batin Gandamana sambil mengerahkan tenaga dalam nya.
Ujung jari telunjuk dan jari tengah Gandamana memunculkan cahaya terang. Begitu sudah mencapai tahap puncak, Gandamana segera mengayunkan tangan kanan nya ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.
Cllaaaaaasssssssss....
Cahaya terang berwarna putih keperakan itu langsung menerabas cepat ke arah sang pangeran kedua Medang. Menyadari bahaya sedang menuju ke arah nya, Pangeran Mapanji Wijaya langsung menghentakkan kaki kanannya ke tanah dan sebongkah batu mencelat keluar dari halaman Bangunan Suci Nawagraha. Akibatnya cahaya putih keperakan dari ujung jari Gandamana langsung menghantam batu itu.
BLLAAAAAAAAMMMMM!!!
Ledakan keras terdengar saat batu itu meledak dan hancur berkeping-keping. Pangeran Mapanji Wijaya pun segera menendang sebuah tombak yang tergeletak di sebelahnya sekuat tenaga.
Dhhhuuuuuuuggggg!!
Tombak melesat cepat ke arah Gandamana. Dia pun segera menjejakkan kaki nya hingga tubuhnya melesat di belakang tombak yang meluncur cepat ke arah salah satu dari Empat Penjaga Arah Serikat Bulan Darah ini.
Dengan gesit Gandamana menghindari serangan balik cepat dari Pangeran Mapanji Wijaya. Tetapi saat ia hampir berbalik arah, dari depan muncul Pangeran Mapanji Wijaya yang menghantamkan tapak tangannya ke arah dada. Mau tak mau, Gandamana memapak serangan dadakan ini dengan dua tapak tangan nya.
BLLAAAAAAAARRRRRRR....
AAAAAAAAUUUUUGGGGGHHHH!!!
Tubuh Gandamana mencelat jauh ke belakang. Wrehaspati Si Tapak Siluman yang melihat itu, langsung bergerak cepat menyambar tubuh Gandamana dan membawanya mendarat 6 tombak jauhnya dari tempat pertarungan nya.
Hoooooooeeeeggggg...
Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulut Gandamana menjadi penanda bahwa ia saat ini menderita luka dalam.
"Kau tidak apa-apa Gandamana? ", tanya Wrehaspati tanpa menatap ke arah Gandamana yang sedang meringis kesakitan.
" Kakang Wrehaspati, mata mana yang melihat aku tidak apa-apa??
Uhukkk uhhuukkk kau ini... ", keluh Gandamana yang membuat Wrehaspati langsung menoleh.
" Kau muntah darah? Bagian mana yang sakit? Biar Kakang periksa.. ", Wrehaspati hendak meraba tubuh Gandamana tapi dengan cepat ditepis.
" Aduh saat begini masih bisa bercanda..
Orang yang melukai ku sepertinya memiliki Ajian Sepi Angin. Gerakannya cepat dan gesit. Bantu aku mengalahkan nya", pinta Gandamana segera.
"Tenang saja... Sebentar lagi ia akan makan bogem mentah ku ini.. ", Wrehaspati langsung melepaskan tubuh Gandamana dan langsung melesat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya. Akibatnya Gandamana Si Jari Penghancur Bintang terjatuh mencium tanah.
Tanpa menunggu lama, Wrehaspati langsung mengayunkan tapak tangan nya ke arah Pangeran Mapanji Wijaya. Keduanya langsung bertarung sengit dengan menggunakan ilmu silat tangan kosong.
Sementara itu, pertarungan di dalam markas besar Serikat Bulan Darah telah merata di segala penjuru. Warak dengan kekuatan besar nya, terus mengamuk dengan kapal besar nya. Setiap anggota Serikat Bulan Darah yang mencoba untuk menghadapi nya, langsung mandi darah segar di ujung kapak besar nya.
Lain Warak, lain pula Ludaka. Bersama dengan Subadra, Ludaka memamerkan kebolehan nya dalam memainkan pedang. Puluhan orang Serikat Bulan Darah tewas bersimbah darah di ujung mata pedang mereka.
Di sisi lain pertarungan, Ratri berpasangan dengan Nararya Candrawulan mengamuk tak terkendali. Kedua perempuan itu tanpa ampun membunuh setiap anggota Serikat Bulan Darah yang mencoba untuk menghadang.
Pllaaaakkk pllaaaakkk...
Dhhaaaaassss dhhaaaaassss..!!!
Wrehaspati tersurut mundur beberapa tombak ke belakang tepat di dekat Gandamana yang masih mengurut dadanya yang sesak. Tangannya kebas dan ngilu setelah bertarung ilmu tangan kosong puluhan jurus dengan Pangeran Mapanji Wijaya.
"Bedebah satu ini memang tak bisa diremehkan, Gandamana..
Sebaiknya kita menggabungkan kekuatan jika ingin mengalahkan nya", ujar Wrehaspati yang disambut anggukan kepala oleh Gandamana.
" Aku sependapat, Kakang Wrehaspati..
Aku akan menggunakan seluruh kekuatan Ajian Jari Penghancur Bintang. Kau sebaiknya juga mengerahkan Ajian Tapak Siluman mu.. "
Dua orang anggota Empat Penjaga Arah Serikat Bulan Darah ini langsung memusatkan tenaga dalamnya pada ilmu kanuragan masing-masing sambil komat-kamit merapal mantra. Gandamana memusatkan tenaga dalam nya pada ujung jari nya sementara Wrehaspati pada telapak tangan kanannya. Cahaya putih keperakan berpendar pada ujung jari Gandamana, sedangkan cahaya ungu kehitam-hitaman bersinar pada tangan Wrehaspati.
"Mampus kau bajingan...!!! Chhiiiyyyaaaatttt.... "
Shhiiiuuuuttttt whhuuuuusss....!
Dua gelombang cahaya berbeda warna menerabas cepat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya diikuti oleh angin kencang yang berputar disekelilingnya. Melihat ini, Pangeran Mapanji Wijaya segera bergerak menghindar ke samping kanannya. Dan..
BLLAAAAAAAAMMMMM.. BLLAAAAAAAAMMMMM!!
Dua ledakan dahsyat membongkar bekas tempat Pangeran Mapanji Wijaya berdiri. Wrehaspati langsung menggeram marah melihat serangan nya di hindari dengan mudah. Bersama dengan Gandamana, pria berwajah aneh itu terus memburu pergerakan Pangeran Mapanji Wijaya yang gesit dan lincah.
BLLAAAAAAAAMMMMM..!!
BLLAAAAAAAAMMMMM..!!
BLLAAAAAAAAMMMMM..!!
Ledakan dahsyat terakhir menghancurkan satu sisi Bangunan Suci Nawagraha. Pangeran Mapanji Wijaya yang sudah menemukan titik lemah dua orang ini dengan cepat membuat gerakan tak beraturan sambil merapal mantra Ajian Segara Geni.
Gandamana dan Wrehaspati panik melihat gerakan ini dan membabi buta mengirimkan serangan maut mereka. Tetapi ini semua sudah dibawah kendali sang pangeran Medang.
Dengan gerak tipu yang membingungkan, Pangeran Mapanji Wijaya muncul di samping kanan Wrehaspati sambil menghantamkan tapak tangan nya yang berselimut cahaya merah kekuningan. Wrehaspati langsung memapaknya dengan Ajian Tapak Siluman nya dan Gandamana buru-buru menyalurkan tenaga dalamnya ke punggung sang kawan.
DHHUUUUAAAAARRRRRR...!!
Ledakan maha dahsyat terdengar dan tubuh Wrehaspati serta Gandamana mencelat jauh dan menghantam tanah dengan keras. Separuh tubuh Wrehaspati gosong seperti terbakar api sedangkan Gandamana tak sadarkan diri setelah muntah darah. Bisa dipastikan bahwa Wrehaspati tewas dalam pertarungan ini.
Saat itulah 4 orang berpakaian aneh melayang turun dari angkasa, membuat Resi Mpu Lodra gemerutuk gigi nya menahan marah.
"Empat Manusia Aneh Gunung Sundara....!
Rupa-rupanya mereka bersembunyi disini", geram Resi Mpu Lodra sembari mendekati Pangeran Mapanji Wijaya yang juga sedang menatap ke arah mereka.
" Siapa mereka Resi? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya sambil mengusap peluh yang membasahi wajah.
" Mereka adalah Empat Manusia Aneh Gunung Sundara, Gusti Pangeran..
Mereka adalah tokoh dunia persilatan yang sudah lama tidak menunjukkan taring nya ke para pendekar di Tanah Jawa. Hampir 20 tahun lebih mereka menghilang dan baru kali ini unjuk gigi di tempat ini. Sudah pasti mereka akan membantu Serikat Bulan Darah. Kekuatan ilmu bela diri mereka berempat jauh di atas Empat Penjaga Arah yang baru Gusti Pangeran kalahkan. Kita harus hati-hati terhadap mereka ", urai Resi Mpu Lodra panjang lebar.
Empat Manusia Aneh Gunung Sundara merupakan tokoh sakti golongan hitam yang sangat ditakuti. Mereka terdiri dari empat orang berperawakan tak biasa hingga mendapat julukan itu. Yang bertubuh tinggi besar dengan berewok lebat dan rambut gondrong ikal adalah Mpu Wardaya atau yang lebih kondang dengan sebutan Si Tangan Kanan Dewa Kematian, merupakan pimpinan dari Empat Manusia Aneh Gunung Sundara. Dia memegang sebuah gada berwarna kuning yang menjadi senjata andalannya.
Selain Mpu Wardaya, ada lagi kakek kakek berbadan bungkuk dengan mata cekung hingga mirip seperti tengkorak hidup yang selalu memegang tongkat berkepala tengkorak bertanduk. Dia adalah Ki Gandamayit atau yang lebih tersohor dengan julukan Kakek Bungkuk dari Neraka. Satu lainnya adalah seorang perempuan berbadan semok dengan pupur tebal dan sanggul besarnya. Dia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok ini yang dikenal sebagai Nyai Basingah atau Sinden Penebar Maut. Yang terakhir adalah seorang lelaki cebol dengan janggut panjang menyentuh tanah yang memiliki sepasang tanduk kecil di kedua pelipisnya serta membawa senjata trisula. Dia adalah Ki Pilang alias Si Anak Iblis.
Begitu mendarat di tanah Mpu Wardaya mengedarkan pandangan nya ke sekitar tempat itu. Setelah mendengus keras, ia langsung berteriak lantang penuh amarah,
"Siapa yang berani mengacaukan tempat ini???!! "