Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Frekuensi yang Menolak Mati
Kampus Universitas Bina Harapan di bawah naungan malam tidak lagi terlihat seperti pusat ilmu pengetahuan yang hangat. Dari balik jendela mobil Jaksa Satria yang melaju sunyi, gedung-gedung beton itu tampak seperti deretan batu nisan raksasa yang menancap di tanah mati. Gerimis tipis yang mengguyur Jakarta malam ini menciptakan lapisan kabut yang membuat lampu-lampu jalanan terlihat seperti mata predator yang sedang mengintai dalam keremangan.
Aku duduk di kursi belakang, tubuhku dibungkus oleh sweter tebal milik Devan yang masih menyisakan aroma parfumnya yang maskulin dan sedikit jejak asap. Namun, kehangatan itu tidak mampu menahan getaran di tanganku. Getaran ini bukan karena dingin, melainkan karena withdrawal—gejala putus obat yang mulai mengoyak sistem sarafku. Setiap detik terasa seperti ada ribuan serangga yang merayap di bawah kulitku, mencoba mencari jalan keluar dari tubuh yang selama ini menjadi laboratorium bagi ambisi Dokter Frans.
"Anya, kau masih kuat?" Devan bertanya tanpa menoleh, namun tangannya yang menggenggam kemudi terlihat begitu kaku hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku tidak punya pilihan lain, Van," jawabku, suaraku terdengar serak, hampir seperti gesekan kertas pasir. "Jika aku harus mati malam ini, aku lebih memilih mati saat mengingat siapa diriku yang sebenarnya daripada hidup sebagai bayangan di bawah kendali Frans."
Jaksa Satria, yang duduk di kursi penumpang depan, terus memindai layar tabletnya. "Area gedung seni sudah disterilkan. Alasan kebocoran gas bekerja dengan baik; semua mahasiswa dan staf sudah dievakuasi. Tapi sensor kami menangkap pergerakan di lantai tiga. Frans tidak bodoh. Dia tahu kita akan datang ke sini."
Mobil berhenti di dekat gerbang belakang fakultas sastra, tempat yang biasanya menjadi jalur pintas favoritku untuk menghindari keramaian. Namun kini, lorong-lorong itu gelap gulita. Hanya ada pendaran lampu darurat yang memberikan warna merah suram pada dinding-dinding semen.
Devan turun lebih dulu, lalu membantuku keluar. Saat kakiku menyentuh aspal, duniaku seolah berputar. Napasku tersengal, dan jantungku berdegup dengan irama yang disonansi—sebuah kekacauan frekuensi yang membuat dadaku terasa seperti dihantam palu godam.
"Tahan, Anya. Fokus pada suaraku," Devan merangkul bahuku, menopang hampir seluruh beban tubuhku. "Jangan biarkan zat itu menguasai pikiranmu. Kau lebih kuat dari apa pun yang mereka suntikkan ke darahmu."
Kami mulai melangkah masuk ke dalam gedung seni. Suasana di dalam sangat mencekam. Bau kayu tua dan debu partitur yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan. Setiap langkah kami bergema di koridor yang kosong, menciptakan kakofoni suara yang menyiksa telingaku yang kian sensitif.
Satria memimpin di depan dengan pistol yang siaga. "Tim luar sedang menutup semua akses keluar. Kita harus cepat."
Kami menaiki tangga menuju lantai tiga. Setiap anak tangga terasa seperti pendakian menuju puncak gunung yang mustahil. Keringat dingin membanjiri pelipis dan punggungku. Aku bisa merasakan penglihatan perferalku mulai mengabur, digantikan oleh kilasan-kilasan memori statis—wajah ibuku yang menangis, jarum suntik Frans yang berkilat, dan tawa dingin ayahku.
"Kita hampir sampai," Devan berbisik tepat di telingaku.
Pintu Ruang Musik Lama berdiri di ujung lorong. Pintu kayu jati yang berat itu terlihat begitu megah namun juga mengancam. Saat kami mendekat, sebuah melodi piano mulai terdengar sayup-sayup dari balik pintu. Melodi yang sangat kukenal. Melodi Elegia yang selalu menghantuiku.
Beep... Beep... Beep...
Monitor portabel yang dipasang Satria di pinggangku berbunyi nyaring, menandakan detak jantungku sudah mencapai batas berbahaya.
"Anya, jangan dengarkan melodinya!" Devan berseru panik, ia mencoba menutupi telingaku dengan tangannya.
"Tidak, Devan..." aku melepaskan tangannya dengan sisa tenagaku. "Melodi itu... itu bukan serangan. Itu adalah panggilan."
Satria menendang pintu itu hingga terbuka.
Ruangan itu diselimuti oleh kegelapan, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat dari jendela besar di sisi ruangan. Di tengah ruangan, di depan piano grand hitam yang legendaris itu, sesosok pria duduk dengan tenang. Ia tidak sedang bermain piano secara fisik; sebuah perangkat mekanis kecil yang dipasang pada tuts piano itulah yang sedang memainkan melodi tersebut secara otomatis.
Dokter Frans.
Ia berbalik perlahan, menatap kami dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Ia tidak lagi terlihat seperti dokter yang terhormat. Rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan kegilaan yang absolut—kegilaan seorang seniman yang karyanya sedang diambang kehancuran.
"Selamat datang kembali, Anya," ujar Frans, suaranya terdengar jernih di tengah dentingan piano. "Tepat waktu untuk gerakan terakhir dari simfoni ini."
"Hentikan semua ini, Frans!" Satria mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Frans. "Menyerahlah. Kau tidak punya tempat untuk lari lagi."
Frans tertawa, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Lari? Untuk apa? Aku sedang berada di singgasana mahakaryaku. Ruangan ini... kau tahu, Satria? Hendra Kusuma membangunnya dengan spesifikasi akustik yang tidak ada duanya di dunia. Setiap sudut dinding ini dirancang untuk memantulkan frekuensi tertentu yang bisa membuka atau menutup gerbang di otak manusia."
Ia menatapku, matanya memicing. "Bagaimana rasanya, Anya? Jantungmu terasa seperti mau meledak, bukan? Itu karena melodi ini sedang beresonansi dengan sisa-sisa zat 'Elegia' di darahmu. Tanpa intervensi manual dariku, frekuensi ini akan menyebabkan kegagalan jantung permanen dalam waktu lima menit."
"Lakukan sesuatu, Frans! Berikan penawarnya!" Devan menerjang maju, namun Frans mengangkat sebuah pemicu kecil di tangannya.
"Satu langkah lagi, dan aku akan mengaktifkan gelombang ultrasonik yang akan menghancurkan sistem pendengaran kalian semua selamanya," ancam Frans. "Anya, kemarilah. Duduk di depan piano ini. Hanya kau yang bisa menghentikan melodi ini. Hanya kau yang memegang 'Kunci Harmonik' itu."
Aku melangkah maju dengan gemetar. Tubuhku terasa sangat berat, seolah ditarik oleh gravitasi yang tidak terlihat. Devan mencoba menahanku, namun aku menggeleng.
"Aku harus, Devan. Ini satu-satunya cara."
Aku duduk di bangku piano, tepat di samping perangkat mekanis milik Frans. Tuts-tuts piano itu bergerak sendiri, memainkan melodi yang menyayat hati. Saat aku meletakkan jemariku di atas tuts yang dingin, sebuah gelombang rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalaku.
"Mainkan, Anya," bisik Frans, ia kini berdiri tepat di belakangku. "Ingat apa yang Devan ajarkan padamu tiga tahun lalu di ruangan ini. Ingat nada-nada yang ia berikan sebagai perlindungan. Mainkan disonansi di tengah harmoni ini. Hancurkan blokadenya."
Aku memejamkan mata. Di tengah kekacauan suara di kepalaku, aku mencoba mencari suara Devan muda. Aku mencoba mencari nada minor yang ia katakan sebagai 'bom waktu'.
Do... Mi... Sol...
Bukan. Itu harmoni yang salah. Itu harmoni yang diinginkan Frans.
Aku menekan tuts La dan Si datar secara bersamaan dengan kekuatan penuh. Sebuah suara sumbang yang tajam memecah melodi Elegia yang halus.
KRAK!
Sebuah sensasi seperti kaca pecah terjadi di dalam kepalaku. Rasa sakitnya begitu hebat hingga aku merasa mataku akan meledak. Namun bersamaan dengan itu, kabut yang selama ini menutupi memoriku tersapu bersih. Bukan lagi fragmen, bukan lagi kilasan. Aku melihat semuanya.
Aku melihat malam di mana ibuku meninggal. Aku melihat wajah Bima yang menyeringai saat ia menyuruh supirnya menabrak Oren. Dan aku melihat wajah Devan... wajah Devan yang menangis saat mereka menyeretnya menjauh dariku di malam kecelakaan itu.
"Aku... aku ingat..." bisikku di sela isak tangis.
"Terus mainkan, Anya! Jangan berhenti!" Devan berteriak dari kejauhan.
Aku mulai memainkan melodi versiku sendiri—sebuah melodi penuh kemarahan, kepedihan, dan cinta yang menolak untuk dihapus. Jari-jariku menari di atas tuts dengan kecepatan yang tidak pernah kukuasai sebelumnya. Frekuensi suara di ruangan itu berubah. Dinding-dinding kayu seolah bergetar hebat.
Perangkat mekanis milik Frans mulai mengeluarkan asap dan akhirnya meledak, terpelanting dari tuts piano.
Frans terhuyung mundur, menutupi telinganya. "Tidak! Itu mustahil! Disonansi itu seharusnya menghancurkan sarafmu!"
"Disonansi itu adalah kebenaranku, Frans!" aku berteriak, menekan nada terakhir yang sangat rendah dan berat.
Hening.
Seketika, ruangan itu menjadi sangat sunyi. Detak jantungku perlahan mulai melambat. Rasa dingin di darahku menghilang, digantikan oleh kehangatan yang menjalar dari ujung jari hingga ke dadaku. Blokade itu sudah hancur. Sistem 'Elegia' telah dilumpuhkan oleh frekuensi yang ia benci.
Satria segera menerjang Frans dan menjatuhkannya ke lantai. "Frans Sugiarto, kau ditahan atas tuduhan kejahatan kemanusiaan tingkat tinggi!"
Devan berlari ke arahku, ia berlutut di samping bangku piano dan mendekapku sangat erat. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia menangis—pemuda yang selama ini berpura-pura menjadi tembok baja itu akhirnya runtuh.
"Kau kembali, Anya... kau benar-benar kembali..." bisiknya berulang kali.
Aku membalas pelukannya, menghirup aroma tubuhnya yang kini terasa lebih nyata dari apa pun. "Terima kasih sudah memasang kunci itu, Devan. Terima kasih karena tidak pernah menyerah mencariku."
Di bawah cahaya bulan yang mulai tertutup awan, di tengah puing-puing rencana gila Frans dan aroma debu Ruang Musik, kami akhirnya berdiri di atas puing-puing kebohongan. Namun, saat aku melirik ke arah Frans yang sedang diborgol, aku melihat tatapannya yang masih penuh dengan misteri.
"Kau pikir ini sudah berakhir, Anya?" Frans berbisik saat Satria menyeretnya keluar. "Kunci itu memang membuka memorimu, tapi ia juga membuka pintu bagi mereka yang selama ini menunggu di balik bayang-bayang. Bima... dia hanyalah awal."
Aku merapatkan tubuhku pada Devan. Ancaman itu belum berakhir. Namun kali ini, aku tidak lagi takut. Karena kaset di kepalaku tidak lagi rusak. Ia sedang merekam melodi kemenangan kami yang pertama.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
EXT. GERBANG SEKOLAH - SORE HARI (MASA LALU)
Hujan deras mengguyur. ANYA (16 tahun) berdiri di bawah payung bening, menunggu jemputan supir ayahnya. Wajahnya terlihat murung.
Tiba-tiba, DEVAN (17 tahun) datang dengan motor bututnya, ia sudah basah kuyup. Ia berhenti tepat di depan Anya.
DEVAN
"Anya, ikut aku sekarang. Aku tahu rahasia tentang obat yang diberikan Ayahmu. Kita harus lari ke Ruang Musik. Ada sesuatu yang harus aku tunjukkan padamu."
ANYA
"Tapi Devan, Ayah bilang obat itu untuk kesehatanku!"
DEVAN
(Turun dari motor, memegang kedua bahu Anya)
"Anya, lihat mataku. Apakah kau lebih percaya pada ayahmu yang selalu menyembunyikanmu, atau padaku yang selalu berdiri di sampingmu? Di Ruang Musik... aku akan memberikanmu kunci untuk tetap bebas, biarpun dunia mencoba membuatmu lupa."
Anya ragu sejenak, menatap mobil hitam mewah ayahnya yang mulai terlihat di ujung jalan. Ia kemudian menatap Devan yang menggigil kedinginan namun matanya penuh dengan kejujuran.
ANYA
"Ayo, Devan. Bawa aku ke sana."
Kamera fokus pada tangan mereka yang bertautan, berlari menerobos hujan menuju gedung seni, sementara suara piano Elegia mulai terdengar sayup-sayup sebagai latar belakang yang menghantui.
ANYA (V.O)
"Malam itu, di bawah raungan badai dan gema nada-nada minor, Devan memberikan 'senjata' terakhirnya padaku. Sebuah frekuensi yang menolak mati. Dan hari ini, senjata itulah yang menyelamatkan nyawaku."
Layar perlahan memudar menjadi warna hitam, hanya menyisakan satu nada piano terakhir yang berdenting jernih.
FADE OUT.
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??