ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Senyuman di Ujung Dermaga dan Amukan Leviathan Es
Suara terompet Galleon Pemecah Es berbunyi panjang dan memekakkan telinga, menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Jangkar rantai raksasa yang terbuat dari baja hitam perlahan ditarik naik dari dasar laut, berderak keras bergesekan dengan lambung kapal. Angin laut barat yang membawa aroma garam dan kebebasan mulai mengembangkan layar-layar kapal yang ditenagai oleh kristal angin sihir.
Kapal raksasa itu perlahan mulai menjauh dari dermaga pualam Kerajaan Valeria.
Di anjungan buritan kapal, Ajil berdiri dengan kedua tangan bersedekap. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya berkibar pelan diterpa angin laut yang mulai terasa dingin. Di bawah sana, di ujung dermaga, Raja Steven, Leon, Reyna, dan Kurogane sang samurai dalam balutan haori biru pekat, masih berdiri mengamati kepergian sang anomali yang telah mengubah sejarah kota mereka.
Namun, tepat ketika kapal itu berjarak sekitar dua puluh meter dari dermaga, sebuah keributan kecil memecah barisan para penjaga kerajaan.
"TUAN AJIL! TUNGGU!"
Sebuah suara wanita yang sangat melengking, dipenuhi oleh keputusasaan dan kehabisan napas, terdengar menembus deru ombak dan suara angin.
Dari balik kerumunan ksatria berzirah perak, Karin berlari sekuat tenaga. Gadis resepsionis itu tidak memedulikan tatapan kaget sang Raja maupun para Master Guild. Gaun katun putih pucatnya berkibar berantakan. Ia berlari hingga ujung dermaga batu, nyaris terperosok ke dalam air laut yang bergolak, namun ia menahan tubuhnya tepat waktu.
Napas Karin tersengal hebat. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang memerah karena kelelahan berlari dari gedung Guild. Ia menatap kapal raksasa yang semakin menjauh itu, mencari sosok berjaket hitam di anjungan.
Begitu mata birunya menangkap siluet Ajil yang berdiri menjulang di buritan kapal, Karin berjinjit, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan melambaikan tangannya dengan sangat kuat.
"TUAN AJIL! SELAMAT JALAAAAAAN!" teriak Karin sekuat tenaga, suaranya pecah oleh isak tangis. "TERIMA KASIH! SAYA AKAN SELALU MENDOAKAN ANDA!"
Di atas kapal, Ajil mendengar teriakan itu. Matanya yang kelam menatap gadis manusia yang tampak sangat kecil di ujung dermaga. Tangan kanan Ajil, yang tersimpan di dalam saku trench coat-nya, tanpa sadar meremas lembut kalung Jimat Air Mata Dewi yang diberikan Karin semalam.
Ingatannya kembali berputar. Tentang wanita di Bumi yang menangis di hari pernikahannya dengan Ami. Tentang bagaimana Ajil di masa lalu hanya memalingkan wajah dan pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan luka yang tak pernah sembuh bagi wanita itu. Sebuah penyesalan kecil yang selalu mengganjal di sudut hatinya.
Pria berhati es itu menarik napas panjang. Udara laut memenuhi paru-parunya.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Cinta gadis itu memang tidak akan pernah terbalas, karena ruang di hatinya telah terkunci rapat untuk selamanya. Namun, sebuah ketulusan tidak pantas ditinggalkan dengan punggung yang dingin.
Perlahan, Ajil mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku. Ia tidak melambai, namun ia menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Dan kemudian, sebuah keajaiban yang tidak pernah disaksikan oleh siapa pun di dunia Ridokan terjadi.
Otot-otot di wajah Ajil yang selalu tegang dan sedatar pahatan gletser itu perlahan mengendur. Ujung bibirnya tertarik ke atas, menciptakan sebuah lengkungan yang sangat tipis namun nyata. Matanya yang selalu memancarkan kekosongan dan aura membunuh, kini menyiratkan kehangatan dan rasa terima kasih yang mendalam.
Ajil tersenyum.
Sebuah senyuman yang sangat tulus, rapuh, namun begitu indah hingga seolah mampu menghentikan waktu di sekitar dermaga. Senyuman itu bukan untuk memberikan harapan palsu, melainkan sebuah pengakuan dari seorang dewa kematian bahwa ia menghargai keberadaan gadis tersebut.
Di ujung dermaga, Karin terkesiap. Napasnya seakan terputus. Mata birunya membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pria yang membelah naga dan membantai seratus orang tanpa berkedip itu... tersenyum padanya.
Seketika itu juga, rona merah yang sangat pekat meledak menutupi seluruh wajah hingga telinga Karin. Jantungnya berdebar dengan kecepatan yang nyaris membuatnya pingsan. Isak tangis sedihnya berubah menjadi tangisan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis sesenggukan dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum lebar. Meski Karin tahu betul bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan pria itu tidak akan pernah menjadi miliknya, satu senyuman itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi harta karun terindah di sisa hidupnya.
Sementara itu, di atas geladak kapal, berjarak hanya tiga langkah di sebelah kiri Ajil, Erina berdiri mematung.
Mata zamrud sang High Elf itu menangkap dengan sangat jelas lengkungan senyum di bibir Ajil. Jantung Erina serasa ditikam oleh ribuan jarum es. Tangannya yang ramping mencengkeram pagar kayu kapal dengan sangat kuat, hingga kayu Pohon Besi yang diklaim sekeras baja itu berderak retak dan serpihannya menusuk telapak tangannya.
Cemburu. Sebuah rasa cemburu yang begitu buta, gelap, dan membakar, meledak di dalam dada sang peri abadi.
Ia, seorang High Elf Kelas SSS, yang telah mengorbankan harga dirinya untuk mengikuti pria ini, yang telah menyembuhkan luka-lukanya dan melihatnya menangis... tidak pernah sekalipun mendapatkan senyuman setulus itu! Dan pria ini justru memberikannya pada seorang resepsionis manusia yang lemah sebagai hadiah perpisahan?!
Erina menggigit bagian dalam pipinya hingga berdarah. Ia memaksa wajahnya tetap berekspresi datar dan sinis, membuang muka ke arah lautan, menyembunyikan badai emosi yang mengamuk di dadanya.
"Tersenyumlah pada kenanganmu, Ajil," batin Erina, matanya berkilat hijau menahan amarah dan cinta yang bercampur aduk. "Karena mulai detik ini, aku akan memastikan tidak ada wanita lain di seluruh benua ini yang bisa menatap wajahmu selain aku."
Senyum di wajah Ajil hanya bertahan selama tiga detik. Setelah kapal berputar mengikuti arus dan dermaga Valeria perlahan menghilang di balik kabut laut, wajah sang Algojo kembali membeku layaknya es abadi di kutub utara.
Tujuh hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan Kerajaan Valeria.
Perjalanan menuju Benua Utara bukanlah pelayaran biasa. Semakin kapal Galleon Pemecah Es itu bergerak ke utara, langit biru berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh awan kelabu tebal yang tak pernah beranjak. Suhu udara anjlok secara ekstrem. Air laut yang tadinya biru jernih kini berubah menjadi hitam pekat dan dipenuhi oleh bongkahan es raksasa yang tajam layaknya pedang yang mencuat dari dasar laut.
Di atas geladak kayu yang kini licin oleh embun beku, Rino dan Richard terus melatih fisik mereka. Mereka tidak mengenakan atasan zirah mereka, membiarkan tubuh berotot yang dipenuhi bekas luka naga itu diterpa angin bersuhu minus sepuluh derajat Celcius. Pedang dan tombak saling beradu, menciptakan percikan api dan serpihan es yang langsung membeku di udara.
Ajil berdiri di haluan kapal. Setelan Malam Abadi-nya menetralisir suhu ekstrem secara otomatis. Ia menatap ke depan, ke arah lautan hitam yang tak berujung.
Terdengar suara langkah kaki yang sangat ringan mendekatinya. Erina, mengenakan jubah sutra putih tebal yang melilit zirah mithrilnya, berdiri di sebelahnya. Sejak kejadian di dermaga, sang High Elf menjadi sedikit lebih pendiam, namun aura posesifnya saat berada di dekat Ajil semakin menebal.
"Aku tidak tahu bahwa Sang Dewa Kematian pandai mengukir senyum manis untuk gadis manusia," cibir Erina memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah profil samping wajah Ajil. Sindiran itu akhirnya meluncur dari bibirnya yang gatal. "Apakah kau meninggalkan separuh hatimu di meja resepsionis itu?"
Ajil bahkan tidak menoleh. Matanya tetap mengunci garis cakrawala.
"Sebuah senyuman tidak akan mengurangi kekuatanmu, dan tidak akan mengikat jiwamu," ucap Ajil dengan nada bariton yang sangat datar, menjawab sindiran Erina tanpa emosi. "Tapi menahan satu kebaikan kecil di saat kau memiliki kesempatan untuk memberikannya... hanya akan meninggalkan penyesalan yang akan menghantuimu di dalam tidur. Aku tidak menukar hatiku, Peri. Aku hanya membuang sebuah penyesalan masa lalu ke dasar lautan."
Erina terdiam. Sindirannya terasa mentah saat berhadapan dengan kedewasaan luka pria ini. Ia menghela napas pelan, rasa cemburunya sedikit mereda, digantikan oleh pemujaan yang semakin dalam terhadap kedalaman jiwa Ajil.
Tiba-tiba, kapal raksasa itu berguncang hebat.
BUMMM!!
Bukan guncangan karena menabrak gunung es. Sesuatu yang sangat masif dari dasar laut baru saja menghantam lambung bawah kapal baja sihir tersebut. Para pelaut di geladak terjerembap. Rino dan Richard segera meraih senjata mereka, mengambil posisi waspada.
[SISTEM: Peringatan Bencana Ekstrem! Anomali Laut Dalam Terdeteksi.]
[Nama: Leviathan Es Kuno (Raja Laut Utara)]
[Level: 125]
[Kelas: SS (Penjaga Teritorial Air Hitam)]
Permukaan laut hitam di sekitar kapal mendadak bergolak. Sebuah pusaran air raksasa terbentuk, mencoba menyedot Galleon itu ke dasarnya. Suhu udara anjlok hingga minus lima puluh derajat dalam sekejap, membekukan layar-layar kapal hingga keras membatu.
Dari balik pusaran air yang mendidih oleh hawa dingin, mencuatlah delapan tentakel raksasa berwarna biru pucat. Setiap tentakel memiliki ketebalan setara dengan batang pohon berusia seribu tahun, dan dipenuhi oleh paku-paku es bergerigi yang setajam tombak Richard.
Di tengah tentakel tersebut, muncul sebuah kepala yang sangat mengerikan. Ia menyerupai perpaduan antara cumi-cumi purba dan naga air. Matanya memancarkan cahaya ungu beracun, dan mulutnya dipenuhi barisan gigi setajam gergaji yang saling bergesekan, mengeluarkan suara decitan yang memekakkan telinga.
"I-Itu Leviathan Es!" teriak Kapten Kapal dengan wajah pucat pasi dari ruang kemudi. "Monster mitologi penjaga Benua Utara! Kita tidak akan selamat! Lindungi lambung kapal!"
Tentakel raksasa itu mengayun membelah udara, siap menghancurkan tiang utama dan membelah kapal menjadi dua.
Rino mengaum, pedang apinya menyala menerangi badai salju. "Jangan harap kau bisa merusak kapal Pemimpinku, Gurita Beku!" Rino melompat, menebaskan pedangnya menangkis tentakel tersebut. Namun, saat pedang api Rino berbenturan dengan paku es monster itu, apinya padam seketika, dan Rino terpental mundur hingga menabrak pagar geladak.
"Tingkat ketahanan esnya melampaui sihir apiku!" geram Rino, mengusap darah dari bibirnya.
Ajil menatap monster Level 125 itu dengan tenang. Sistem di kepalanya terus menganalisis. Masalahnya bukan pada kemampuan Ajil untuk membunuh makhluk ini. Jika ia mencabut Pedang Petir Hijau Abadi dan melepaskan Amukan Petir Abadi secara brutal ke lautan, ledakan energi God-Tier itu akan menghancurkan molekul air laut sekaligus meremukkan lambung kapal tempat mereka berpijak. Ia harus membunuhnya dengan presisi, bukan daya hancur area.
"Erina, bawa Rino dan Richard ke udara. Jangan biarkan tentakelnya menyentuh kapal," perintah Ajil dingin.
"Apa yang akan kau lakukan?!" teriak Erina di tengah gemuruh ombak.
Tanpa menjawab, Ajil melangkah ke ujung haluan, dan menjatuhkan dirinya ke arah lautan hitam yang bergolak.
WUSSSHH!
"PEMIMPIN!" teriak Richard panik.
Namun Ajil tidak tercebur ke dalam air. Saat ujung sepatu botnya hampir menyentuh permukaan laut yang membeku, Ajil memfokuskan aliran mana ke telapak kakinya, memadatkan partikel air di bawahnya menjadi pijakan absolut. Ia berlari melesat di atas permukaan laut layaknya peluru hitam, menerjang langsung ke arah pusat pusaran pusaran tempat kepala Leviathan Es itu berada.
Melihat seekor manusia kecil berani mendekatinya, Leviathan itu marah besar. Tiga tentakel berduri es melesat secara bersamaan, membentuk jaring kematian yang mengunci pergerakan Ajil dari segala arah.
Ajil tidak mencabut pedangnya. Tangan kanannya mengepal kuat di samping pinggangnya.
"Kekuatan sejati bukanlah seberapa besar ledakan yang bisa kau ciptakan," gumam Ajil, matanya menyipit fokus. "Melainkan seberapa tajam kau bisa memusatkan ledakan itu hingga menembus jantung musuhmu tanpa merusak sehelai daun pun di sekitarnya."
Saat ketiga tentakel itu berjarak satu inci dari tubuhnya, Ajil mengaktifkan Aura Gravitasi Jiwa yang sangat terkonsentrasi di sekeliling tubuhnya sendiri. Tentakel-tentakel raksasa itu seolah menghantam sebuah dinding tak kasat mata yang memiliki berat massa sebuah planet. Gerakan mereka terhenti mendadak secara kaku, hingga otot-otot monster itu merobek persendiannya sendiri akibat gaya inersia.
Memanfaatkan celah sedetik itu, Ajil melompat tinggi melintasi rintangan tentakel, mendarat tepat di atas dahi berlendir sang Leviathan Kuno.
Monster itu meraung, mencoba menyelam untuk menenggelamkan Ajil.
"Terlambat," desis Ajil.
Ia memusatkan 100% Tinju Petir Ungu-nya bukan untuk meledak ke luar, melainkan memadatkannya menjadi sebuah jarum energi sebesar ujung pena di telunjuk kanannya. Ajil menancapkan jarum petir ungu itu tepat di tengah-tengah dahi sang Leviathan, menembus tengkorak esnya, dan langsung menyalurkan jutaan volt listrik murni secara internal ke dalam otak monster tersebut.
BZZZZTTTT!! KRAAAAK!
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada ombak raksasa yang tercipta. Yang terjadi adalah, petir ungu Ajil merambat secara mikroskopis di dalam sistem saraf sang Leviathan, membakar seluruh jaringan otaknya dalam seperseribu detik. Mata ungu monster itu langsung padam seketika.
Tubuh raksasa seberat ratusan ton itu menegang kaku, sebelum akhirnya mati rasa sepenuhnya dan perlahan tenggelam ke dasar lautan hitam, meninggalkan pusaran air yang berangsur tenang.
[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Leviathan Es Kuno (Lv.125) secara Presisi. EXP Ekstra Presisi Ditambahkan!]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 117.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 120.]
[Menyerap drop material: 1x Inti Beku Laut Dalam (Kelas SS), Tinta Es Kuno. Disimpan ke Cincin Ruang.]
Ajil melesat kembali, memantul di atas bongkahan es, dan mendarat dengan mulus di atas geladak Galleon. Ia tidak sedikit pun terengah-engah. Setelan Malam Abadi-nya memancarkan uap tipis, membuang hawa dingin dari pertarungan barusan.
Kapten kapal, para pelaut, serta Rino dan Richard menatap Ajil dengan lutut lemas. Mereka baru saja menyaksikan pembunuhan presisi tingkat dewa. Sang Algojo mematikan monster Level 125 tanpa merusak selembar pun layar kapal!
Erina melayang turun, mendarat di samping Ajil. Mata zamrudnya berkilat penuh pemujaan. "Kau selalu memiliki cara untuk membuat jantungku berdetak tak karuan, Ajil," bisiknya dengan senyum menggoda, menyelipkan sehelai rambut peraknya ke belakang telinga.
Ajil hanya mendengus pelan, memalingkan wajahnya kembali ke arah utara.
Dan tepat pada saat itu, badai salju tebal yang menghalangi pandangan mereka perlahan-lahan mulai terbuka, terbelah oleh sihir alam yang aneh.
Di balik kabut putih tersebut, menjulanglah sebuah benua yang keseluruhannya diselimuti oleh es abadi dan pegunungan batu hitam yang menembus awan. Udara di tempat ini terasa sangat berat, dipenuhi oleh sisa-sisa mana tempaan kuno yang sangat pekat.
Di kaki gunung berapi yang tertutup salju terbesar, terdapat sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari Baja Hitam Bintang, tingginya mencapai lima puluh meter, dipenuhi oleh ukiran rahasia bangsa Dwarf—lambang palu dan landasan tempa yang bersilang.
Inilah Gunung Tempa Abadi. Domain eksklusif Ras Dwarf, tungku peleburan logam paling mematikan di seluruh Planet Ridokan.
"Kita sudah sampai," ucap Ajil dingin, matanya mengunci gerbang baja yang tertutup rapat tersebut. "Siapkan senjata kalian. Jika kurcaci-kurcaci itu menolak membuka pintu, kita akan merobohkan gunung mereka."
Perjalanan di Benua Utara telah dimulai, dan cuaca ekstrem serta arogansi para Dwarf akan menjadi ujian selanjutnya bagi sang Pahlawan yang tengah mencari kepingan takdirnya.