NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pergi dengan luka

Di apartemen yang biasanya terasa hangat, siang itu justru terasa sepi bagi Bella.

Ia duduk di sofa, kaki dilipat, ponsel di tangan. Sesekali membuka media sosial, lalu menutup lagi. Tidak benar-benar fokus.

Pikirannya… masih ke satu orang.

Yoga.

“Lagi ngapain ya sekarang…” gumamnya pelan.

Ia sempat membuka chat terakhir mereka.

Pesan sederhana.

Hangat.

Dan penuh rindu.

Bella tersenyum kecil… sampai tiba-tiba—

ponselnya bergetar.

Notifikasi masuk.

Nomor tidak dikenal.

Bella mengernyit. “Siapa sih…”

Ia membuka pesan itu.

Dan detik berikutnya—

wajahnya langsung berubah.

Tangannya gemetar.

Di layar…

sebuah foto.

Yoga.

Dan Aline.

Tampak sangat dekat.

Seolah… berciuman.

Dunia Bella seperti berhenti.

Matanya membesar.

Napasnya tertahan.

“Ini… apa…” suaranya hampir tak terdengar.

Tangannya refleks menutup mulut.

Air mata langsung jatuh tanpa izin.

Satu.

Dua.

Lalu semakin banyak.

“Enggak… ini nggak mungkin…” Bella menggeleng cepat.

Ia memperbesar foto itu.

Melihat lagi.

Lebih dekat.

Lebih jelas.

Dan justru itu yang membuat hatinya semakin sakit.

“Dia bilang… lagi kerja…” suaranya bergetar.

Tangannya langsung mencari nama Yoga di kontak.

Tanpa berpikir panjang—

ia menelpon.

Satu kali.

Nada sambung.

Tidak diangkat.

Bella menunggu, napasnya tidak teratur.

“Angkat… angkat dong…” bisiknya panik.

Panggilan terputus.

Bella langsung menelpon lagi.

Kali ini lebih cepat.

Lebih panik.

Nada sambung kembali terdengar.

Namun—

tetap tidak diangkat.

Air mata Bella semakin deras.

Tangannya mulai dingin.

“Kenapa nggak diangkat…” suaranya mulai pecah.

Ia mencoba lagi.

Ketiga kali.

Keempat kali.

Kelima kali.

Semuanya…

tidak dijawab.

Bella menatap layar ponselnya kosong.

Nama Yoga masih di sana.

Tapi terasa… jauh.

Sangat jauh.

“Yoga…” bisiknya lirih.

Dadanya terasa sesak.

Pikirannya mulai kacau.

Foto itu.

Panggilan yang tidak diangkat.

Semua bercampur jadi satu.

“Jadi selama ini…” ia berhenti.

Napasnya tersendat.

“Aku… dibohongin?”

Bella memeluk dirinya sendiri.

Air matanya tidak berhenti.

Ia mencoba mengingat semua yang terjadi.

Semua perhatian Yoga.

Semua kata-katanya.

Semua janji…

“Janji…” Bella tertawa kecil pahit.

“Janji apa…”

Ia menatap kembali foto itu.

Tangannya gemetar.

“Kalau ini bener…”

Suaranya melemah.

“…aku siapa?”

Hening.

Hanya suara tangis yang terdengar di ruangan itu.

Bella menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Menangis lebih keras.

Tanpa sadar—

rasa percaya yang selama ini ia pegang…

mulai retak.

Dan di dalam hatinya—

muncul satu hal yang paling menyakitkan.

Ragu.

Tentang Yoga.

Tentang cinta mereka.

Tentang semuanya.

...----------------...

Sementara di kantor yoga sedang berendam menggunakan air dingin dengan di bantu Kalvin beruntung ruangan yoga saat ini memiliki kamar mandi pribadi

"aku akan membuat pembalasan pada mu aline "

yoga sedang di kamar mandi tidak menyadari banyak telpon masuk dari bella

Yoga meninggalkan hp nya di ruangan kerja nya di Maja kerja

...----------------...

di apartemen

Tidak ada suara TV, tidak ada tawa, tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Hanya ada suara langkah pelan Bella yang terdengar di dalam ruangan.

Di kamar, lampu menyala redup.

Bella berdiri di depan lemari, menatap kosong ke dalamnya.

Beberapa detik.

Lalu tangannya bergerak.

Ia mulai mengambil pakaian.

Melipatnya.

Memasukkannya ke dalam koper.

Satu per satu.

Tanpa ekspresi.

Tanpa suara.

Hanya sesekali napasnya terdengar berat.

Di atas tempat tidur, koper sudah terbuka lebar.

Setengah terisi.

Namun Bella berhenti.

Tangannya menggenggam salah satu baju.

Baju itu… yang pernah ia pakai saat bersama Yoga.

Senyumnya dulu.

Tawa mereka.

Semua tiba-tiba terlintas.

Bella memejamkan mata.

Air mata kembali jatuh.

“Kalau ini bener…” suaranya lirih.

Tangannya mengepal kain itu.

“Aku nggak mau lagi…”

Napasnya tersendat.

“…kenal kamu.”

Kalimat itu terasa berat.

Sangat berat.

Seolah ia memaksakan diri untuk mengatakannya.

Padahal hatinya…

masih tidak siap.

Bella duduk di tepi kasur.

Menunduk.

Tangannya gemetar.

Pikirannya terus kembali ke foto itu.

Yoga.

Aline.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dan panggilan yang tidak dijawab.

“Kenapa…” bisiknya pelan.

Air matanya jatuh ke tangannya.

“Aku kurang apa…”

Ia tertawa kecil.

Pahit.

“Katanya… aku yang bikin kamu berubah…”

Bella menggeleng.

“Nyatanya… aku cuma bagian sementara ya…”

Ruangan kembali hening.

Hanya suara tangisnya yang tertahan.

Namun beberapa menit kemudian—

Bella mengusap air matanya.

Pelan.

Seolah memaksa dirinya kuat.

Ia berdiri.

Menutup koper itu.

Klik.

Suara kecil… tapi terasa seperti keputusan besar.

“Aku nggak mau jadi orang yang nunggu disakitin,” ucapnya pelan.

Meski hatinya… masih hancur.

 

Di tempat lain—

Bandung.

Malam juga menyelimuti kota itu.

Di luar gedung kantor, mobil Aline sudah siap.

Ia berdiri di samping pintu mobil.

Diam.

Wajahnya tidak lagi penuh percaya diri seperti sebelumnya.

Justru terlihat… kesal.

Kecewa.

Tangannya menyilang di dada.

Pikirannya masih memutar kejadian tadi.

Yoga.

Penolakan itu.

Tatapan dinginnya.

Kata-katanya.

“Aku memang bukan orang yang kamu kenal lagi.”

Kalimat itu masih terngiang.

Aline menghela napas panjang.

“Berubah…” gumamnya.

Matanya menyipit.

“Apa karena dia…”

Nama itu tidak perlu disebut.

Bella.

Aline tersenyum tipis.

Namun kali ini… bukan senyum menang.

Lebih ke… senyum pahit.

“Aku kira…” ia berhenti sejenak.

“Aku masih punya tempat.”

Ia tertawa kecil.

Tapi tidak ada rasa bahagia di sana.

Asistennya mendekat. “Non, kita jadi berangkat?”

Aline terdiam beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Ia membuka pintu mobil.

Namun sebelum masuk—

ia menoleh ke arah gedung kantor itu.

Tatapannya dalam.

Seolah masih ada sesuatu yang tertinggal.

“Ini belum selesai, Yoga…” bisiknya pelan.

Nada suaranya rendah.

Tidak lagi terburu-buru.

Tapi… tidak menyerah.

Ia masuk ke mobil.

Pintu tertutup.

Mesin menyala.

Mobil perlahan meninggalkan tempat itu.

Malam semakin larut.

Di dua tempat berbeda—

dua hati sedang sama-sama kacau.

Yang satu…

dipenuhi keraguan dan luka.

Yang satu lagi…

dipenuhi ambisi dan kekecewaan.

Dan di tengah semua itu—

Yoga belum tahu…

bahwa sesuatu yang besar…

sudah mulai runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!