Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGELAK
"Iya, aku setuju dengan mama. Permasalahan ini seharusnya bisa selesai cepat tahun lalu, tapi gara-gara wanita tidak tahu diri itu akhirnya berlarut-larut begini. Biarkan saja ia menjadi gembel di jalanan sana–"
"Apa tidak terbalik nantinya Nania. Malah kau yang jadi gembel di jalan.."
Dengan wajah terangkat,
Mikhaela melangkah masuk ke ruang tamu berukuran luas di kediaman keluarga Dion tanpa permisi.
Di sana, Warda sedang menyesap teh hangat bersama anaknya Tio dan Nania, serta pengacara.
Kehadiran Mikhaela yang menerobos masuk kerumah mereka, tidak membuat semua orang kaget ataupun menunjukkan reaksi kuatir. Malah seperti tidak perduli.
Tio bahkan masih tertawa. Pun Nania masih menampakkan senyum di bibirnya seolah-olah mereka sedang merayakan kemenangan yang belum sah itu.
"Berhenti berakting", suara Mikha menggelegar, membuat cangkir di tangan Warda berdenting keras. "Aku sudah tahu semuanya. Salfa bukan anak mas Dion. Dan surat-surat itu palsu, hingga rencana busuk kalian merampas aset mas Dion!!!".
Warda mencoba bersikap tenang, meskipun matanya berkilat. Nampak kaget mendengar perkataan Mikhaela.
"Apa-apaan kamu, Mikha? Datang ke sini cuma untuk memfitnah?", hardik Nania menghunuskan tatapan tajam seperti ujung belati yang siap menancap ke jantung Mikhaela.
Mikha melemparkan tasnya ke atas meja, mengeluarkan rekaman suara dan salinan pengakuan Ira.
Seketika suasana ruangan menjadi riuh. Tawa dan senyuman Nania seketika lenyap tak terdengar lagi.
"Ira sudah bicara. Salfa adalah anak Tio, bukan anak mas Dion. Kalian memanfaatkan anak kecil untuk menipuku agar aku menyerahkan semua harta suamiku ke tangan kalian!", teriak Mikhaela dengan suara meninggi.
"Sekarang alasan apa lagi yang akan kalian berikan? Mengelak dari bukti itu?".
Tio berdiri dengan wajah merah padam, sementara Nania membuang muka, tak berani menatap mata Mikha yang tajam ditujuhkan padanya. Namun Nania sedikit tenang karena Mikha datang sendirian saja. Tidak bersama orang lain. Tentu memudahkan ia dan Tio melenyapkannya.
"Kalian pikir aku selemah itu?" lanjut Mikha dengan nada rendah yang mengancam. "Harta mas Dion tetap di tanganku dan mulai detik ini, aku tidak akan memberikan satu sen pun untuk keluarga ini. Justru, aku yang akan memastikan kalian berakhir di penjara karena penipuan dan pemalsuan dokumen".
Tubuh Warda seketika gemetar, bukan karena uang. Tapi pengakuan Ira yang mengatakan bahwa Salfa ternyata anak Tio. Artinya Tio yang merupakan darah dagingnya sendiri tega membohonginya tentang kondisi sebenarnya.
Wanita tua itu memijat keningnya, mendadak merasa sakit kepala teramat sangat. Nafasnya pun terdengar menderu seperti sebuah dengkuran.
Tio berdiri dengan kasar hingga kursi jati di belakangnya terpelanting, saking kasarnya laki-laki itu. Wajahnya yang semula panik berubah menjadi seringai licik yang mengerikan. Ia melangkah mendekati Mikha, mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang lebih besar.
"Kamu pikir rekaman dari perempuan lemah seperti Ira cukup untuk menjatuhkan aku?" desis Tio tepat di depan wajah Mikha. "Kamu lupa siapa yang memegang akses ke sistem keuangan perusahaan Dion selama ini? Aku bisa menghapus jejak ku dalam semalam".
"Kau itu sama lemahnya seperti Ira, Mikhaela. Kamu tidak tahu apa-apa tentang perusahaan jadi jangan sok-sokan mengancam ku!!!".
Tio kemudian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto di layar yang membuat jantung Mikha seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto laundry milik Mikha dari sudut tersembunyi, dengan seseorang yang mencurigakan berdiri di dekat tangki gas besar di belakang bangunan.
"Harta Dion bisa kamu simpan untuk sementara, Mikha. Tapi bagaimana dengan tempat usahamu? Atau nyawamu... Nyawa anak mu Revan?", ancam Tio dengan nada suara yang rendah namun mematikan. "Satu telepon dariku...Boommm!! HABIS semua tak bersisa".
"Laundry kebanggaanmu itu akan rata dengan tanah sebelum polisi sempat mendengar rekaman sampah mu itu!".
Seketika wajah Mikhaela pucat pasi. Wanita itu diam tak berkutik. Yang tadinya tampak bersemangat mendadak gelisah. Rasanya tak menentu.
Nania yang tadi terdiam, kini ikut berdiri dengan wajah terangkat dan bersedekap. Senyum kemenangan terlihat lagi di wajahnya.
"Jangan main api kalau nggak mau terbakar, Mik. Serahkan surat kuasa aset Dion sekarang, atau kamu akan kehilangan segalanya—termasuk nyawa mu dan anak mu!!". Ancam wanita berwajah culas itu.
Warda yang menyaksikan semuanya terdiam terhenyak. Menekan dadanya. Wanita itu seperti hendak berbicara dan menggapai sesuatu di dekatnya namun lidahnya kelu. Ia tercekat dengan bersandar.
Begitu juga dengan pengacara yang di bawa Tio, melihat keadaan tidak kondusif dan merasa bisa membahayakan dirinya maupun karirnya, pengacara itu segera pergi meninggalkan rumah Warda.
Mikha mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Dia sadar, dia tidak sedang berhadapan dengan keluarga, melainkan dengan kriminal kelas kakap. Sindikat yang sangat berbahaya.
Mikhaela mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Mengulang perkataan Tio dan Nania barusan. "Rekaman ini telah membuktikan kejahatan kalian berdua. Aku pastikan kalian masuk penjara!!", ucap Mikha dengan suara bergetar karena sesungguhnya ia pun mati langkah. Tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Sebenarnya Mikhaela sangat panik dan ketakutan. Salahnya ia tidak memberi tahu Dante atau bahkan menghubungi polisi untuk membantunya. Yang ia lakukan justru mendatangi rumah ini sendirian.
Melihat itu, dengan langkah cepat Tio hendak mengambil handphone Mikhaela.
"Ambil Tio, jangan sampai jalang itu melaporkan kita!!".
Mikhaela berusaha menghindar dengan berlari menuju kamar Warda yang ada di lantai itu, sekuat tenaga Mikha mendorong pintu yang sudah di tahan Tio.
"Berikah handphone itu Mikhaela. Atau aku suruh orang menghabisi anak mu!!!".
"Brugghh!!!".
Pintu depan kediaman Warda terbuka lebar dengan dentuman keras.
"Jangan pernah berani kalian melukai Mikhaela. Sehelai rambut yang kau ambil aku akan menghancurkan mu!!", teriak Dante dengan suara meninggi.
Dante melangkah masuk dengan tatapan dingin dan wajah itu penuh emosi. Auranya seketika membekukan seringai kemenangan di wajah Tio dan Nania. Terlebih laki-laki itu ternyata tidak sendirian namun ia datang bersama beberapa pria bertubuh besar. Di belakang mereka ada empat orang polisi berpakaian lengkap langsung menyebar, menutup semua jalan keluar.
Seketika Tio dan Nania terdiam tak berkutik.
"Permainan kotor kalian selesai di sini!". suara Dante berat dan penuh otoritas.
Tio terperanjat, ponsel Mikhaela yang sempat ia rampas di tangannya hampir terjatuh. "Dante? Apa-apaan ini? Ini urusan keluarga kami!"
"Keluarga?" Dante mendengus sinis sambil berdiri di samping Mikha, memberikan perlindungan dan menenangkannya dengan menggenggam erat tangan Mikhaela. "Memalsukan dokumen negara, pengancaman nyawa, dan percobaan perampasan aset bukan urusan keluarga. Itu tindak pidana!!".
Salah satu petugas polisi maju ke depan, mengeluarkan borgol dan surat perintah penangkapan. "Saudara Tio dan Saudari Nania, Anda berdua ditahan atas dugaan pemalsuan dokumen ahli waris dan konspirasi penipuan. Segala pernyataan Anda akan dicatat. Silahkan menyanggah di kantor polisi!!".
Nania memekik histeris, mencoba bersembunyi di balik punggung Warda yang kini pucat pasi, sementara Tio mencoba melawan namun dengan cepat diringkus oleh dua petugas.
"Mikha..." Warda merintih, suaranya bergetar hebat. "Jangan biarkan mereka dibawa mereka, tolong... Nania dan Tio saudara mu!".
Mikha hanya menatap ibu mertuanya itu dengan tatapan kosong. "Dante sudah menyiapkan segalanya, mah. Aku tidak datang ke sini tanpa perlindungan. Rekaman tadi? Itu hanya pembuka. Dante punya bukti transaksi gelap yang Tio lakukan di belakang mas Dion selama bertahun-tahun. Mama boleh menyayangi mereka, tapi mereka adalah kriminal. Bahkan mas Dion mereka fitnah dengan cerita bohong itu. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka".
Dante menoleh ke arah Mikha, memastikan wanita itu baik-baik saja, sebelum kembali menatap tajam ke arah Tio yang kini sudah terborgol. "Kamu pikir ancamanmu pada laundry Mikha tidak terpantau? Semua CCTV di sekitar sana sudah di bawah kendali timku sejak satu bulan lalu."
"Aku pastikan kalian berdua membusuk di penjara!!".
"T-idak-tidak...Lepaskan aku. Aku tidak bersalah semua ini rencana adikku. Lepaskan!!", teriak Nania histeris.
"Brengsek kamu mbak. Bukankah kamu yang lebih ngotot dari aku menguasai aset mas Dion-"
Kalian berdua diam!! Bicara saja nanti dikantor polisi!!", bentak petugas yang membrogol tangan keduanya. Dan menyeret keduanya ke mobil polisi yang ada di depan rumah.
Bahkan di luar sudah banyak orang-orang yang penasaran ada kejadian apa di rumah megah itu.
Nania dan Tio tidak bisa berkutik lagi.
...***...
To be continue