Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Tumbal Spion Kiri
Heningnya rumah keluarga Tan setelah adzan subuh justru terasa lebih mencekam daripada hutan bambu di Sukaraja. Koh Adnan, papa Della, duduk lunglai di kursi kayu ruang tamu.
Di depannya, Della masih menggenggam Busi Merah dengan tangan gemetar, sementara Geri sibuk mengoleskan minyak kayu putih ke dahi Sasha yang nyaris pingsan lagi.
"Pa, jangan diam aja. Siapa Bibi Mei?" desak Della. "Kenapa dia bilang Della harus gantiin dia?"
Koh Adnan mengangkat wajahnya. Matanya sembab. "Mei itu kakak perempuan Papa satu-satunya, Del. Dulu, pas jaman Buyut Tan, keluarga kita kena musibah beruntun. Toko kain di pasar ludes terbakar, saudara-saudara Papa sakit aneh. Buyutmu... dia nekat."
"Nekat gimana, Pa?" tanya Geri, logat Sunda-China-nya terdengar cemas.
"Dia melakukan perjanjian di Sukaraja. Semua sial keluarga dikunci ke dalam satu benda: Si Creamy. Tapi mesin itu butuh 'nyawa' buat terus jalan dan menyerap sial. Bibi Mei dijadikan pameungkeut (pengikat). Jiwanya tidak tenang, dia terjebak di antara kabel dan piston selama puluhan tahun."
Sreeek... sreeek...
Suara gesekan kain terdengar dari arah jendela yang gordennya tertutup rapat. Sasha, yang tadinya diam, tiba-tiba menunjuk ke arah gorden dengan wajah pucat pasi.
"Del... itu apa...?"
Di balik kain gorden, terlihat siluet wanita yang sangat kurus. Bukannya berdiri, siluet itu tampak menempel di kaca jendela dengan posisi terbalik. Tangan-tangannya yang panjang meraba-raba kaca, mencari celah untuk masuk.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan itu bukan berasal dari tangan manusia, tapi suara benturan dahi ke kaca jendela.
"Geri! Ambil senter!" perintah Della.
Geri menyalakan senter HP-nya ke arah jendela. Begitu cahaya mengenai kaca, mereka semua berteriak. Bibi Mei ada di sana. Wajahnya pucat dengan mulut yang dijahit menggunakan kawat tembaga persis seperti yang Della lihat di bayangan sebelumnya. Tapi yang bikin ngeri, mata Bibi Mei tidak ada, melainkan digantikan oleh dua buah kaca spion kecil yang tertanam di rongga matanya.
Tiba-tiba, dari arah luar rumah, mesin Si Creamy menderu sangat kencang.
Vroom! Vroom!
Padahal kunci kontak ada di tangan Della.
Kaca spion kiri motor itu mendadak pecah berantakan, dan dari pecahannya, keluar asap hitam pekat yang merayap masuk lewat celah bawah pintu rumah. Asap itu membentuk tangan-tangan kecil yang mulai menarik ujung jaket varsity Della.
"Della... hayu gentosan... Bibi tos tunduh... (Della... ayo gantian... Bibi sudah ngantuk...)" Suara itu muncul dari setiap sudut ruangan, seperti suara radio rusak yang statis.
"Nggak akan! Geri, bantu gue!" Della berlari ke arah pintu depan, membawa Busi Merah.
"Del, jangan keluar! Di luar gelap pisan!" teriak Sasha sambil menangis.
Tapi Della tahu, kalau dia nggak menghadapi Bibi Mei sekarang di atas motor itu, rumah ini bakal jadi kuburan buat mereka semua. Luka ungu di lengan Della mulai mengeluarkan cairan hitam yang berbau oli, tanda bahwa "proses pertukaran" sudah dimulai.
Saat Della memegang gagang pintu, ia merasakan tetesan cairan dingin jatuh ke kepalanya. Ia mendongak perlahan.
Tepat di atasnya, Bibi Mei sudah berhasil masuk lewat ventilasi. Dia merangkak di langit-langit dengan rambut panjang yang menjuntai ke bawah, membelit leher Della.
"DELLA!" Geri menerjang, mencoba menarik rambut itu, tapi rambutnya terasa seperti kawat baja yang tajam.
Bibi Mei membuka mulutnya yang dijahit kawat, memaksa suara keluar dari kerongkongannya yang kering. "Busi... pasang busina... (Busi... pasang businya...)"
Della tercekik, wajahnya membiru. Dalam sisa kesadarannya, ia melihat ke arah Papanya yang hanya bisa bersimpuh sambil menangis.
Della sadar, satu-satunya cara menghentikan ini adalah memasang Busi Merah itu kembali ke mesin Si Creamy, meskipun itu berarti dia harus "beradu nyawa" dengan Bibi Mei.
Della tersedak, nafasnya semakin sesak karena lilitan rambut Bibi Mei yang menjuntai dari langit-langit. Geri mencoba menarik rambut itu sekuat tenaga, tapi tangannya malah teriris karena rambut itu setajam silet.
"Del! Pake Kunci Tulang! Tusuk rambutnya!" teriak Geri sambil menahan perih di tangannya.
Della yang nyaris kehilangan kesadaran mengayunkan Kunci Tulang itu ke arah lilitan rambut di lehernya.
CRIIT!
Suara lengkingan kesakitan terdengar dari langit-langit. Rambut itu memendek, melepaskan leher Della. Della jatuh tersungkur, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang kini berbekas merah keunguan.
"Pa! Jelasin yang bener!" Della berteriak ke arah Koh Adnan yang masih gemetar. "Gimana bisa Bibi Mei ada di dalam Si Creamy? Zaman Buyut kan belum ada Scoopy!"
Koh Adnan mengusap air matanya. "Dulu... Buyut mengunci Mei ke dalam piston mesin uap kuno di pabrik penggilingan. Tapi tahun lalu, pas Papa mau kasih hadiah motor buat kamu, Papa nggak sengaja beli onderdil 'bekas' dari kolektor di Sukaraja buat modifikasi daleman mesin Si Creamy supaya awet. Papa nggak tahu kalau di dalem blok mesin itu ada besi pengikat jiwa Mei..."
"Jadi Papa yang bawa Bibi Mei ke sini?!" Sasha menutup mulutnya, nggak percaya.
"Papa cuma mau kamu aman, Del... Papa pikir itu cuma jimat keberuntungan biasa," isak Koh Adnan.
Tiba-tiba, dari lubang ventilasi di atas pintu, muncul cairan hitam kental yang menetes tepat ke punggung jaket varsity Della. Della mendongak, dan kali ini jaraknya hanya beberapa senti.
Wajah Bibi Mei yang pucat pasi mengintip dari lubang sempit itu. Matanya yang berupa spion memantulkan wajah Della yang ketakutan.
"Tukeuran... tubuh manéh seungit, Della... Bibi mah geus bau oli... (Tukaran... tubuh kamu wangi, Della... Bibi mah sudah bau oli...)"
Bibi Mei mulai memaksakan tubuhnya yang elastis keluar dari lubang ventilasi. Suara tulang-tulangnya yang bergerak krek... krek... krek... memenuhi ruangan.
"Geri! Bawa Sasha ke dapur! Biar gue yang urus motor di luar!" Della bangkit, ia memegang Busi Merah dengan tekad bulat.
Della mendobrak pintu depan.
Di halaman rumah yang gelap, Si Creamy sedang berguncang hebat. Lampu depannya menyala-mati, menyala-mati, membentuk kode Morse yang aneh.
Spion kiri yang pecah tadi mengeluarkan cairan merah yang mengalir ke aspal. Dari balik pohon mangga di depan rumah, muncul sosok Pria Berbaju Pangsi yang tempo hari di Sukaraja. Ia memegang sebuah rantai motor besar yang membara.
"Waktuna, Della... bikeun nyawa manéh, atawa babaturan manéh nu dibawa? (Waktunya, Della... berikan nyawa kamu, atau teman kamu yang dibawa?)"
Pria itu mengayunkan rantainya ke arah jendela rumah, dimana Sasha sedang mengintip ketakutan.
"JANGAN!" Della berlari ke arah Si Creamy. Ia harus memasang Busi Merah itu ke mesin sekarang juga, meski ia tahu resikonya: ia akan terhubung secara batin selamanya dengan penderitaan Bibi Mei.