Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Perintah Evakuasi
“Kemas apa yang benar-benar penting. Kita pergi dalam lima menit.”
Suara Leon tidak tinggi, namun memiliki berat yang sanggup meruntuhkan keheningan di dalam Klinik Arden. Alice menghentikan gerakan penanya di atas buku catatan medis. Ujung tinta hitam itu menciptakan noda bulat yang perlahan melebar di kertas, tanda bahwa konsentrasinya baru saja hancur berantakan.
Alice mendongak, menatap pria yang berdiri di ambang cahaya lampu neon yang berkedip. Leon tidak lagi tampak seperti pasien yang terluka dan butuh jahitan. Ia tampak seperti predator yang baru saja mencium aroma badai di udara. Jaket taktisnya basah oleh gerimis Valmere, dan aroma dingin dari luar merambat masuk, mengusir bau antiseptik yang biasanya mendominasi klinik kecil itu.
“Lima menit?” Alice meletakkan penanya dengan perlahan. Ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil, meskipun jantungnya mulai berpacu melawan logika. “Aku punya jadwal operasi kecil besok pagi. Aku punya stok vaksin yang harus tetap berada di lemari pendingin agar tidak rusak. Kamu tidak bisa datang ke sini dan menghapus hidupku dalam satu kalimat, Kurir.”
Leon melangkah maju. Sepatu botnya tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu, sebuah kebiasaan yang selalu membuat bulu kuduk Alice meremang. Bayangan pria itu jatuh menelan meja kerja Alice, menciptakan intimidasi tanpa perlu menyentuh.
“Besok pagi, tempat ini tidak akan ada lagi jika kau tetap di sini,” sahut Leon datar. Matanya yang sedingin es memindai setiap sudut ruangan, seolah sedang menghitung rute pelarian tercepat. “Mereka sedang menuju ke arahmu, Alice. Dan mereka tidak datang untuk berobat.”
Alice menyilangkan tangan di depan dada, mencoba mempertahankan sisa-sisa otoritas di wilayahnya sendiri. “Siapa ‘mereka’? Penagih utang distrik? Atau geng pelabuhan yang kau ganggu semalam? Aku sudah terbiasa menghadapi preman yang mencari masalah di Distrik 6, Leon. Aku punya protokol keamanan sendiri.”
“Ini bukan soal preman pasar yang bisa kau gertak dengan lapor polisi,” potong Leon tajam. “Orang-orang yang mencarimu tidak akan memberimu kesempatan untuk bernegosiasi. Mereka tidak akan mengetuk pintumu; mereka akan meruntuhkan seluruh gedung ini bersamamu di dalamnya.”
“Berikan aku alasan logis!” seru Alice, suaranya naik satu oktav karena frustrasi. “Kenapa mereka mencariku? Aku hanya seorang dokter di distrik paling kumuh di kota ini. Aku tidak punya uang, tidak punya musuh, dan tidak punya rahasia yang layak dibayar dengan nyawa!”
Leon mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia tahu persis siapa yang sedang bergerak di luar sana. Helix. Nama itu terasa seperti racun yang mengendap di pangkal lidahnya. Ia tahu Alice adalah kunci dari penelitian neurologis yang sangat mereka incar, namun ia melihat ketenangan Alice yang rapuh. Ia tahu Alice telah mengubur masa lalunya dalam-dalam, dan ia tidak ingin menjadi orang yang membongkar kuburan itu sekarang.
“Kau terlalu banyak bertanya untuk seseorang yang nyawanya sedang dipertaruhkan,” Leon mengalihkan pembicaraan, suaranya kembali ke nada profesional yang dingin. “Anggap saja kau secara tidak sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat dari pasien-pasien gelapmu. Di dunia ini, itu sudah cukup untuk membuatmu masuk ke daftar hitam.”
Alice tertegun. Penjelasan itu masuk akal bagi seorang dokter yang sering mengobati luka tembak tanpa bertanya nama. Namun, ada keraguan yang tersisa di matanya. “Hanya karena itu?”
“Hanya karena itu,” bohong Leon dengan wajah tanpa ekspresi. “Sekarang, kemasi tasmu. Jangan bawa barang pecah belah. Hanya yang paling krusial; obat-obatan darurat, dokumen identitas, atau apa pun yang tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.”
Leon sengaja tidak menyebutkan catatan riset atau formula. Ia tidak ingin Alice sadar bahwa ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya diketahui oleh seorang kurir biasa.
Alice menghela napas panjang, bahunya merosot saat ia mulai menyadari bahwa Leon tidak sedang bercanda. Dengan gerakan gemetar, ia meraih tas kulit tua di bawah meja. Ia bergerak menuju lemari besi kecil di sudut ruangan. Leon memperhatikannya dari sudut mata saat Alice mengambil beberapa map usang dan menyelipkannya di antara botol-botol antibiotik. Alice berpikir ia sedang menyembunyikan rahasianya dengan rapi, tanpa tahu bahwa pria di belakangnya adalah alasan mengapa rahasia itu masih aman sejauh ini.
“Satu menit lagi,” Leon memperingatkan. Ia berdiri di dekat jendela, menyibak tirai sedikit saja dengan ujung jarinya.
“Aku tidak bisa meninggalkan mikroskop ini, ini pemberian—”
PRANG!
Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga memotong kalimat Alice. Sebuah proyektil kecil menghantam rak obat tepat di samping kepala Alice, menghancurkan lusinan botol kaca hingga isinya tumpah ke lantai. Alice menjerit pelan, secara refleks berjongkok di balik meja kayu yang tebal.
“Tiarap!” bentak Leon.
Leon bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia biasa. Dalam satu lompatan, ia sudah berada di sisi Alice, menekan bahu wanita itu agar tetap menempel di lantai. Detik berikutnya, rentetan peluru tak bersuara—hanya desisan angin dari peredam suara—merobek tirai jendela dan menghujani dinding dengan serpihan kayu dan beton.
Thud! Thud! Thud!
“Mereka sudah di depan,” desis Leon. Ia menarik Glock-17 dari balik jaketnya, mengokangnya dengan suara klik yang mantap. Bau mesiu mulai bercampur dengan bau obat-obatan yang tumpah, menciptakan aroma kematian yang menyesakkan.
Alice meringkuk di lantai yang dingin, matanya menatap botol-botol antibiotik yang pecah berkeping-keping. Kliniknya—satu-satunya tempat di mana ia merasa berguna setelah bertahun-tahun melarikan diri—sedang dihancurkan. “Mereka benar-benar datang untuk membunuhku…”
“Jangan menatap sisa-sisa itu, Alice. Tatap aku,” perintah Leon, memaksa Alice melihat matanya yang dingin namun stabil. “Jika kau tetap di sini, kau hanya akan menjadi angka statistik di koran pagi besok. Kita keluar lewat pintu belakang. Sekarang!”
Leon menyambar tas Alice dan menyampirkannya di bahu. Ia menarik tangan Alice, memaksa wanita itu berdiri di tengah kekacauan. Mereka merangkak cepat di bawah bayang-bayang meja saat satu ledakan kecil dari granat kejut menerangi ruangan dengan cahaya putih yang membutakan.
BOOM!
Gema ledakan itu membuat telinga Alice berdenging hebat. Pandangannya berputar. Ia merasa Leon menariknya dengan kekuatan yang luar biasa, menuntunnya melewati lorong sempit menuju pintu belakang klinik yang tersembunyi.
Saat mereka keluar ke gang belakang yang basah, udara dingin langsung menusuk pori-pori. Namun, mereka tidak sendirian.
Dua siluet pria dengan pakaian taktis hitam muncul dari balik tumpukan kontainer sampah. Mereka memegang senapan pendek, moncongnya sudah terarah tepat ke arah mereka.
“Lepaskan wanita itu, Phantom!” teriak salah satu dari mereka. “Kau melanggar protokol kontrak!”
Leon tidak membuang waktu untuk berdebat. Sambil masih memegangi tangan Alice, ia melepaskan dua tembakan presisi. Satu peluru mengenai bahu lawan, dan satu lagi mengenai leher pria kedua sebelum ia sempat menarik pelatuk. Tubuh mereka jatuh berdebam ke aspal yang tergenang air hujan.
Alice membeku. Ia melihat darah mulai mengalir, bercampur dengan air hujan yang mengalir menuju selokan. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Leon membunuh secara langsung, dengan ketenangan yang mengerikan. Pria yang ia rawat lukanya dengan lembut beberapa hari lalu, kini adalah seorang malaikat maut tanpa keraguan.
“Jangan berhenti! Berlari!” teriak Leon.
Mereka mencapai motor sport hitam milik Leon yang tersembunyi di bawah tumpukan terpal tua. Leon menghidupkan mesinnya. Raungan bariton mesin motor itu membelah kesunyian gang, terdengar seperti geraman harimau yang lapar.
“Naik! Pegangan yang kuat dan jangan pernah lepaskan pinggangku!” perintah Leon sambil memasangkan helm ke kepala Alice dengan kasar namun protektif.
Alice naik ke jok belakang, tangannya melingkar erat di pinggang Leon. Ia membenamkan wajahnya di punggung pria itu, mencoba menghalau kenyataan bahwa hidupnya baru saja meledak.
Motor itu melesat keluar dari gang dengan ban yang mencicit di atas aspal basah. Dari arah belakang, Alice bisa melihat cahaya kemerahan mulai muncul dari jendela kliniknya. Api mulai menjalar. Tempat perlindungannya selama ini sedang dibakar untuk menghilangkan jejak.
“Siapa mereka, Leon?” Alice berteriak di tengah deru angin dan raungan mesin. “Kenapa mereka sampai membakar kliniku?”
Leon tidak menoleh. Ia memacu motornya menembus jalanan Distrik 6 yang gelap, memotong jalur di antara truk-truk logistik yang melaju lamban. Pikirannya terfokus pada jalan keluar tercepat dari kota ini.
“Orang-orang yang menganggap nyawamu lebih murah daripada rahasia yang mereka simpan,” jawab Leon pendek.
“Kau tahu organisasi itu, kan?” desak Alice, suaranya pecah karena amarah dan ketakutan yang bercampur. “Katakan padaku siapa mereka! Aku berhak tahu siapa yang ingin menghancurkan hidupku!”
Leon mengerem mendadak saat mereka mencapai persimpangan jalan tol yang sepi di pinggiran distrik. Ban motor berdecit, menciptakan kepulan asap karet. Ia menoleh sedikit, menatap Alice melalui visor helm hitamnya yang gelap, menghalangi Alice melihat kilatan trauma di matanya sendiri.
“Jika aku menyebutkan nama mereka sekarang, kau akan mulai melihat hantu di setiap sudut jalan yang kau lalui,” kata Leon dengan nada suara yang sangat rendah. “Dan saat ini, aku butuh kau tetap waras agar kita bisa bertahan hidup.”
Leon memutar gas kembali, membuat motor itu meluncur seperti peluru perak di bawah lampu-lampu jalan tol yang buram. Di belakangnya, Alice terdiam. Ia memeluk Leon lebih erat, bukan karena kasih sayang, melainkan karena ia menyadari bahwa di dunia yang gila ini, pria berbahaya di depannya adalah satu-satunya dinding yang berdiri di antara dia dan kematian.
Namun jauh di dalam tas medisnya, Alice menyentuh map riset ayahnya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah pemburu di belakang mereka dan kurir di depannya ini sebenarnya sedang mengejar hal yang sama.
“Leon," panggil Alice lagi, suaranya kini lebih dingin dan penuh selidik.
"Apa?”
"Apa kau sedang membawaku ke tempat persembunyian, atau kau sebenarnya sedang membawaku langsung ke mulut serigala?"
Leon tidak menjawab. Ia hanya menambah kecepatan, membiarkan pertanyaan itu tertelan oleh deru mesin dan badai yang mulai mengamuk di Valmere.
“Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Alice. Apakah kau lebih takut pada serigala di depanmu, atau pada monster yang sudah lama tidur di dalam ingatanmu?”