Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Itu
Kuliah di hari Sabtu hanya setengah hari, tapi tetap membuat kepala Randy cenut-cenut, maka Randy buru-buru pulang untuk tidur siang sebentar, melepas lelah sambil membuang waktu karena malam minggu nanti dia sudah ada kencan dengan Mulan yang nggak kalah mantep sama Lisa Blackpink itu.
“Anterin pulang, dong Rand,” kata Cindy yang berjalan di belakang Randy dekat parkiran motor. “Lagi males naik bus nih, lagi gerah.”
Randy pura-pura nggak mendengar dan mempercepat langkahnya.
“Kalau gua tipe cowok iseng panen, ini gua, ada Helen, Tatia, Cindy, dll. yang minta digonceng motor gua,” kata Randy dalam hati. “Cuma Mulan yang nggak pernah minta gua goncengin, tapi gua yang pengen sekali-kali nggoncengin dia.”
Kemudian dia buru-buru mengendarai motornya dengan pelan. Beberapa teriakan cewek, entah siapa saja, tidak diperdulikannya. Nggak sampai setengah jam dia sudah sampai rumah, dan buru-buru masuk kamarnya karena otak Randy sudah penuh rasanya dan ingin cepat-cepat tidur.
“Eh pulang kuliah, nggak cuci tangan kaki, langsung tidur,” omel mamanya. “Sekalian makan siang dulu gih, Rand.”
Randy dengan nyengir tapi males-malesan akhirnya menuju kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki. “Tapi Randy nggak makan siang, Ma, nggak pengen makan,” kata Randy.
“Tahu gitu Mama tadi nggak usah masak,” omel Mama Randy lagi. “Makan dikit-dikit aja.”
Dengan malas Randy menuju ke ruang makan dan mengambil dua sendok makan nasi dan lauk lalu makan.
“Kenapa sih, sakit?” tanya mamanya sambil memegang jidat Randy.
“Enggak, Ma, cuma pikiran capek aja, tadi kuliah bahannya berat-berat melulu,” jawab Randy sambil mengunyah makanan. “Randy mau tidur sebentar. Eh Mama nggak makan?”
“Mama sudah tadi, nungguin kamu makan bareng nggak pulang-pulang,” kata Mama Randy.
“Papa ke mana, Ma?”
“Katanya tadi ke bengkel, mau servis mobilnya katanya, tapi belum pulang-pulang juga,” jawab Mama Randy.
Setelah selesai makan, Randy langsung berbaring di ranjang di kamarnya, dan tak lupa menyetel alarm di ponselnya jam 5 sore nanti. Sayup-sayup dia mendengar papanya pulang dan komplain, “Huh, kalau Sabtu gini, bengkel mobil antreannya minta ampun. Masak apa, Ma?”
Tapi Randy sudah terlalu lelah untuk menemui papanya dan akhirnya terlelap. Sampai jam 5 sore ketika alarm di ponselnya berbunyi. Masih males-malesan Randy berbaring di ranjang sambil scrolling HP, ada beberapa pesan masuk seperti biasa, dari cewek-cewek pengagum dirinya:
“Rand, malam minggu mau ke mana?” atau “Ran, sudah ada acara malam minggu nanti?”, dsb.
Satu per satu dia jawab pesan itu, “Sorry aku ada acara keluarga.” Tapi dari puluhan pesan yang nggak penting itu, ada suatu pesan dari nomor tak dikenal yang bunyinya:
“Boleh minta waktunya sebentar?”
“Dari siapa nih? Paling salah kirim,” kata Randy dalam hati lalu menghapus pesan itu. Lalu dia segera mandi dan berdandan sedikit karena mau mengajak Mulan dan keluarganya makan malam lagi malam ini.
“Ma, Pa, Randy jalan dulu ya,” kata Randy. “Mau malam mingguan.”
“Ceile, yang mau malam mingguan,” balas Mama Randy sambil tertawa pelan. “Masakan Mama malam ini nggak laku nih.”
“Kayak nggak pernah muda aja, Mama,” Papa Randy menimpali dengan senyum.
Randy hanya tertawa kecil mendengar candaan kedua orang tuanya dan langsung meluncur ke Petak Sembilan, dan sekitar 30 menit dia sampai di Petak Sembilan dan segera menyusuri gang demi gang ke rumah Mulan.
Sesampainya di rumah Mulan, Randy memarkirkan motornya dan mengetuk pintu rumah, yang membukakan pintu Cu Niang.
“Apa kabar, Om?” sapa Randy sambil tersenyum lebar.
Cu Niang juga tersenyum lebar. “Eh, ada apa ini kok sore-sore?”
“Lho, Mulan nggak cerita kah, Om?” tanya Randy heran. “Saya mau ajak Mulan dan sekeluarga makan malam lagi.”
“Oh, nggak tuh? Sebentar Om panggil dia.” Lalu Cu Niang menuju ke kamar Mulan, lalu mengetuk pintu.
“Lan, ada yang nyari,” kata Cu Niang dari luar kamar. Tapi Mulan diam saja.
“Lan, ini dicari Randy,” panggil Cu Niang lagi sambil mengetuk pintu.
“Sama Papa aja, Mulan lagi nggak enak badan,” sahut Mulan dari kamar.
Randy juga mendengarnya dan pipinya langsung terasa panas. “Waduh, ada apa pula ini?” kata Randy dalam hati.
Mama Mulan yang juga mendengarnya langsung masuk kamar Mulan. “Ada apa sih, Lan? Randy jauh-jauh datang pengin ketemu kamu, kok malah begitu?”
“Mulan sedang nggak enak badan, Ma,” jawab Mulan.
“Jangan bohong sama Mama, ayo temui dulu Randy,” kata Mama Mulan dengan sabar sambil mengelus kepala anak bungsunya itu. Dengan cemberut dan malas-malasan akhirnya Mulan keluar kamar menemui Randy yang jadi kikuk karena sikap Mulan itu.
“Lan, jadi keluar makan?” tanya Randy yang masih bingung mau ngomong apa lagi. “Ayo Om, Tante, ikut makan sekalian di Glodok, katanya ada bakso enak.”
“Om enggak, sayang, Tante tadi masak nggak ada yang makan,” jawab Papa Mulan itu pengertian.
“Tante juga enggak, biar makan di rumah aja nemenin Om,” kata Mama Mulan. “Kamu sama Mulan aja.”
“Mulan juga nggak mau, Ma,” kata Mulan. “Mulan udah bilang, lagi nggak enak badan.”
Randy tercekat dan kecewa mendengar jawaban Mulan itu.
“Ayo, Mulan kan udah janjian sama Randy, nggak boleh gitu dong,” kata Mama Mulan pelan. “Kasihan Randy.”
Randy hanya diam saja, dan nggak mampu berkata-kata.
“Ayo Mulan, nggak boleh begitu,” kata Papa Mulan. “Nurut dong kata Mama.”
Dengan ogah-ogahan akhirnya Mulan mau juga. “Tapi Mulan mandi dulu, ya.”
Saat Mulan mandi, Mama dan Papa Mulan menemui Randy. Mereka nggak enak sama Randy atas sikap Mulan itu.
“Maafin Mulan, ya Rand,” kata Mama Mulan pelan kepada Randy. “Anaknya memang suka angot-angotan begitu.”
“Mengerti, Nte, nggak apa-apa,” jawab Randy. “Ayo gabung aja, katanya baksonya terkenal enak lho.”
“Beneran, Rand,” jawab Mama Mulan. “Kalian anak muda, enjoy aja malam minggu.”
Nggak lama Mulan keluar dari kamar mandi dan berdandan rapi, cantik banget. Kayak bintang film dari Hongkong, yang membuat hati Randy berdesir.
“Om dan Tante nggak mau ikut, kita naik motor aja ya, Lan,” kata Randy kepada Mulan. “Nggak jauh ini, paling lima menit naik motor.”
Mulan hanya mengangguk kecil dan masih cemberut. “Terserah.”
Akhirnya Randy dan Mulan naik motor berboncengan ke restoran bakso Ahin di daerah Glodok. Untuk acara spesial malam itu, Randy khusus memesan kamar VIP di restoran bakso kelas atas itu untuk mereka yang lebih privat supaya bisa bicara bebas tanpa takut ada yang menguping.
Selesai makan, Randy menatap Mulan sebentar lalu berkata lirih dengan suara agak gugup,
“Lan, aku mau sama kamu.”
Mulan diam tanpa ekspresi, namun matanya sedikit berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Randy.
“Sebelum aku jawab ya atau tidak, jelaskan dulu foto ini,” katanya dengan nada dingin sambil menunjukkan foto Randy berboncengan dengan Tatia.
Muka Randy langsung berubah merah padam melihat foto itu. “Siapa yang mengambil foto itu?”
“Nggak perlu tahu siapa yang moto, tapi jelaskan dulu siapa cewek itu?” tanya Mulan dingin.
“Kejadian sebenarnya nggak seperti yang kamu lihat di foto itu, Lan.” Randy mencoba menjelaskan Mulan.
“Aku nggak nanya itu, pertanyaanku siapa cewek itu?” tanya Mulan lebih dalam.
Randy kembali menarik napas panjang dan berkata lagi dalam hati, “Mungkin ini bukan waktu yang tepat gua menyatakan cinta kepada Mulan. Sekarang mau nggak dia sama gua? Life sucks!”