Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di lokasi proyek Gondanglegi, matahari sedang terik-teriknya.
Abraham berada di atas tangga, fokus menyambung kabel fiber optik yang sempat tertunda kemarin.
Keringat bercucuran di pelipisnya, namun fokusnya tidak goyah.
Semangatnya hari ini berbeda; ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa pulang membawa burger untuk Prita.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang sama seperti kemarin terdengar.
Deddy yang berada di bawah, memegang tangga, langsung berdeham keras.
"Bram, tamu agungmu datang lagi," bisik Deddy dengan nada penuh peringatan.
Abraham menoleh ke bawah. Benar saja, Diana turun dari mobilnya.
Kali ini ia tidak berseragam bidan, melainkan memakai gamis anggun dengan jilbab senada.
Ia membawa rantang plastik tingkat tiga yang tampak berat.
Abraham menghela napas panjang. Ia turun dari tangga dengan gerakan cepat.
Begitu kakinya memijak tanah, ia langsung berdiri tegak, menjaga jarak aman.
"Mas Ham. ini Diana bawakan gudeg kesukaan Mas. Ibu bilang Mas kemarin belum sempat makan pemberian Diana," ucap Diana dengan suara yang sengaja dilembutkan, mencoba mencari simpati.
"Diana," potong Abraham dengan suara berat dan tegas.
"Sudah saya katakan kemarin, jangan datang lagi. Saya hargai niat baikmu sebagai orang yang dikenal Ibu, tapi ini lokasi kerja. Dan yang paling penting, saya punya istri yang perasaannya jauh lebih berharga daripada masakan apa pun yang kamu bawa."
Wajah Diana mendadak berubah. Bibirnya bergetar.
"Tapi Mas. Diana tulus. Diana cuma mau berteman. Kenapa Mas ketus sekali? Apa salah Diana kalau Ibu menjodohkan kita?"
"Salahmu adalah kamu tahu saya sudah beristri tapi kamu tetap melangkah maju," jawab Abraham telak.
"Tolong, bawa pulang makanan itu. Jangan buat saya terlihat buruk di depan rekan-rekan saya dan di depan Tuhan."
Mendengar ketegasan luar biasa dari Abraham, pertahanan Diana runtuh.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya dan perlahan jatuh membasahi pipinya.
Ia menunduk, bahunya terguncang hebat karena tangis yang mulai pecah.
"Mas jahat, Diana cuma mau berbuat baik," isak Diana sesenggukan.
Melihat wanita menangis di depan umum, Abraham seketika merasa serba salah.
Beberapa warga sekitar dan teknisi lain mulai melirik ke arah mereka.
Ada rasa tidak tega yang muncul sebagai naluri laki-laki, namun bayangan wajah sembab Prita di Gunung Kawi semalam jauh lebih kuat menghantam nuraninya.
Abraham mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak mendekat atau sekadar menyodorkan tisu.
"Ded, tolong bantu Diana ke mobilnya," perintah Abraham kepada Deddy tanpa mengalihkan pandangan.
"Maaf, Diana. Masalah air matamu, saya tidak bisa bertanggung jawab. Silakan bicarakan dengan Ibu saya kenapa dia memberimu harapan palsu. Saya kembali bekerja."
Abraham berbalik badan, memanjat kembali tangga kabelnya tanpa menoleh lagi.
Di atas sana, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ia baru saja bersikap sangat dingin, namun baginya, lebih baik menyakiti hati satu wanita yang salah daripada menghancurkan hati istri yang sangat ia cintai.
Prita baru saja selesai menyapu dan mengepel lantai mess yang kecil itu hingga mengkilap.
Aroma karbol yang segar memenuhi ruangan, sedikit memberikan rasa tenang di hatinya.
Ia baru saja hendak duduk untuk melepas lelah sambil menyesap sisa susu sapi hangat dari Gunung Kawi tadi pagi, ketika ponselnya di atas meja bergetar pendek.
Ztt... Ztt...
Jantung Prita mencelos. Ada trauma kecil yang tersisa setiap kali ia mendengar notifikasi pesan masuk.
Dengan tangan yang sedikit ragu, ia meraih ponsel itu.
Sebuah pesan video masuk dari nomor yang kembali tidak dikenal.
Prita menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat janji setia Abraham semalam. Namun, rasa penasaran mengalahkan logikanya. Ia menekan tombol play.
Video itu diambil dari kejauhan, tersembunyi di balik kaca mobil yang gelap.
Di layar yang jernih itu, Prita melihat suaminya, Abraham, sedang berdiri berhadapan dengan Diana di lokasi proyek.
Prita melihat Diana yang mengenakan gamis cantik, memegang rantang tingkat, dan yang paling menyesakkan dada adalah saat video itu memperlihatkan Diana yang mulai menangis sesenggukan di depan Abraham.
Di video itu, Abraham tampak terdiam, wajahnya terlihat kaku dan—dalam sudut pandang kamera yang sengaja dibuat ambigu—seolah-olah Abraham sedang menatap Diana dengan penuh rasa iba.
"Mas Ham..." bisik Prita, bibirnya bergetar.
Ia melihat suaminya tidak segera pergi, melainkan tetap berdiri di sana sementara Diana terus mengusap air matanya.
Video itu terputus tepat saat Abraham tampak seperti hendak mengatakan sesuatu kepada Deddy.
Dada Prita kembali terasa sesak. Bayangan tentang "kesebelasan anak" dan tawa terbahak-bahak Abraham di Gunung Kawi tadi malam mendadak terasa jauh.
Meskipun Abraham sudah jujur, melihat wanita lain menangis di depan suaminya tetaplah sebuah hantaman bagi perasaan Prita.
"Kenapa dia kembali lagi? Dan kenapa dia harus menangis di depan suamiku?" gumam Prita pedih.
Ia menatap bungkusan jagung manis di atas meja.
Rasa percaya yang baru saja ia bangun susah payah di lereng gunung kini kembali diuji oleh rekaman berdurasi tiga puluh detik itu.
Prita meremas ponselnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia ingin marah, tapi ia teringat janjinya pada Prames dan Abraham untuk lebih dewasa.
Abraham melangkah masuk ke dalam kamar dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya.
Aroma gurih dari kantong kertas berisi burger hangat itu tercium sedap, kontras dengan udara malam yang mulai mendingin di area mess.
Ia merasa puas karena hari ini pekerjaannya selesai tepat waktu dan ia bisa menepati janji pada istrinya.
Namun, begitu pintu terbuka, suasana hangat yang ia bayangkan mendadak terasa beku.
Ia melihat Prita sudah menyiapkan segelas kopi hitam kesukaannya di atas meja kecil, namun istrinya itu tidak menyambutnya dengan binar mata seperti tadi pagi.
Wajah Prita datar, matanya sembab seperti habis menahan tangis yang panjang.
"Dik, ini burgernya. Masih panas, tadi Mas bela-belain antre sebentar," ucap Abraham lembut, menyodorkan kantong kertas itu.
"Iya Mas, terima kasih," jawab Prita singkat. Suaranya datar, tanpa ada sedikit pun lengkungan senyum di bibirnya.
Abraham tertegun. Ia meletakkan burger itu di samping kopi yang sudah mendingin.
Perasaannya mulai tidak enak. "Dik? Kamu sakit? Kok pucat lagi?"
Prita tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru merapikan letak sarung milik Abraham yang tersampir di kursi.
"Lekaslah mandi, Mas. Air hangatnya sudah siap di kamar mandi. Setelah itu lekaslah makan malam. Prita mau istirahat dulu."
Tanpa menunggu balasan dari Abraham, Prita langsung naik ke atas tempat tidur.
Ia membelakangi suaminya dan memejamkan matanya rapat-rapat, menyembunyikan getaran di
kelopak matanya yang menahan air mata.
Abraham berdiri mematung di tengah ruangan. Ia menatap punggung Prita dengan bingung.
Pikirannya langsung melayang pada kejadian di lapangan tadi siang—saat Diana menangis di hadapannya.
Apakah ada yang mengadu lagi? pikir Abraham kalut.
Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mendekati ranjang.
Ia duduk di tepian kasur, tangan kasarnya ragu-ragu hendak menyentuh bahu Prita yang tampak kaku.
"Prita, kalau ada sesuatu yang mengganjal, katakan sama Mas. Jangan dipendam sendiri seperti ini. Mas tadi kerja serius, Mas tidak ke mana-mana selain ke lapangan dan beli burger ini," bisik Abraham lirih.
Abraham memutuskan untuk tidak memperkeruh suasana.
Ia tahu Prita sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk diajak bicara secara emosional.
Dengan langkah berat, ia bangkit dari tepian ranjang dan membawa handuknya menuju kamar mandi.
Guyuran air hangat yang sudah disiapkan Prita sedikit meluruhkan penat dan sisa debu lapangan di tubuhnya, namun tidak dengan beban di pikirannya.
Setelah rapi, Abraham duduk sendirian di meja kecil.
Di sana sudah tersedia semangkuk rawon hitam pekat dengan aroma kluwek yang menggoda selera, masakan istrinya yang selalu ia puji.
Namun malam ini, suapan pertama rawon itu terasa hambar di lidahnya.
Matanya terus melirik ke arah ranjang, menatap gundukan di balik selimut tebal yang tak bergerak sedikit pun.
Abraham menghabiskan makanannya dalam keheningan yang menyesakkan.
Setelah meletakkan sendok, ia berdeham pelan.
"Dik, bisa minta tolong ambilkan air minum?" tanya Abraham dengan suara rendah, mencoba memancing reaksi istrinya.
Suasana hening sejenak. Kemudian, perlahan selimut itu tersingkap.
Prita membuka selimutnya, menampakkan wajah yang kuyu dan mata yang kemerahan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia turun dari tempat tidur dengan langkah gontai.
Prita berjalan menuju dispenser, menuangkan air ke dalam gelas, lalu membawanya ke meja makan.
Ia meletakkan gelas itu di depan Abraham dengan gerakan mekanis, seolah-olah ia adalah orang asing yang sedang melayani tamu.
"Ini Mas airnya," ucap Prita pendek. Ia hendak berbalik kembali ke tempat tidur, namun gerakan tangannya tertahan.
Abraham dengan cepat menangkap pergelangan tangan Prita.
Pegangannya tidak keras, namun cukup kuat untuk membuat Prita berhenti.
"Prita, tatap mata Mas sebentar saja," pinta Abraham parau.
"Rawonnya enak sekali, tapi kenapa rasanya pahit di tenggorokan Mas? Apa ada video lagi yang masuk ke HP-mu?"
Prita terdiam, bahunya mulai bergetar. Ia mencoba melepaskan tangannya, namun Abraham justru menariknya pelan agar Prita berdiri tepat di hadapannya.
Prita tidak lagi mampu membendung gejolak di dadanya.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku daster keringnya dan mengeluarkan ponsel.
Tanpa kata, ia menyodorkan benda tipis itu tepat di depan wajah Abraham.
Layar ponsel itu menampilkan video berdurasi singkat: Diana yang terisak hebat di depan Abraham yang tampak kaku mematung.
"Aku capek, Mas..." ucap Prita lirih, suaranya nyaris hilang.
"Aku capek harus terus-terusan curiga. Aku capek melihat wanita lain menangis di depan suamiku sendiri seolah-olah aku ini penghalang kebahagiaan kalian."
Abraham tertegun. Matanya membelalak melihat sudut pengambilan gambar video itu.
Ia segera menyadari bahwa seseorang—kemungkinan besar orang suruhan ibu tirinya—telah mengintai mereka di lapangan tadi siang hanya untuk momen sesingkat itu.
"Prita, dengar Mas..." Abraham mencoba meraih kedua bahu istrinya, namun Prita bergeming.
"Video itu tidak bohong, kan? Dia menangis, dan Mas diam saja di sana. Kenapa dia harus menangis kalau Mas tidak memberinya harapan? Mas tahu betapa sakitnya hatiku melihat ini tepat setelah kita berbaikan di Gunung Kawi?"
Air mata Prita luruh, membasahi pipinya yang pucat.
Abraham menarik napas panjang, menahan emosinya sendiri.
Ia menatap mata Prita dengan dalam, mencoba menyalurkan kejujuran yang paling murni.
"Dia menangis karena Mas menolaknya dengan sangat kasar, Prita. Mas bilang padanya kalau dia tidak punya tempat di hidup Mas. Mas diam karena Mas serba salah melihat wanita asing histeris di lokasi proyek, tapi Mas tidak menyentuhnya, Mas tidak membujuknya. Mas justru minta Deddy yang mengantarnya pulang."
Abraham menggenggam tangan Prita yang dingin.
"Siapa pun yang mengirim video ini ingin kamu mengucapkan kata 'capek' itu, Dik. Mereka ingin kamu menyerah. Apa kamu benar-benar mau memberikan kemenangan itu pada mereka?"
Prita terdiam, isakannya mereda namun dadanya masih terasa sesak.
Ia menatap suaminya, mencari sisa-sisa keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang sama di mata Abraham—kelelahan karena harus terus membuktikan kesetiaan yang sebenarnya tidak perlu diragukan.
Melihat ketulusan di mata Abraham yang tampak begitu lelah namun tetap berusaha menjaganya, pertahanan Prita akhirnya runtuh sepenuhnya.
Rasa sesak yang tadi menghimpit dadanya perlahan menguap, berganti dengan rasa bersalah karena sempat meragukan suaminya lagi.
Prita tertunduk, membiarkan air matanya jatuh ke punggung tangan Abraham yang masih menggenggamnya.
Ia menyandarkan keningnya di bahu bidang sang suami, menghirup aroma sabun mandi yang menenangkan.
"Maafkan Prita, Mas. Prita terlalu takut kehilangan Mas sampai Prita gampang sekali goyah," bisik Prita lirih.
Abraham menghela napas lega, sebuah beban berat seolah terangkat dari pundaknya.
Ia menuntun Prita untuk duduk di kursi kayu di samping meja makan.
Dengan telaten, ia membuka bungkus kertas burger yang tadi sempat terabaikan. Aroma daging panggang dan keju yang gurih kembali menyeruak.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti burgernya keasinan kena air mata," goda Abraham pelan, mencoba memancing senyum di bibir istrinya.
Ia memotong sedikit bagian burger itu, lalu menyuapkannya ke mulut Prita dengan penuh kasih sayang.
"Ayo, makan dulu. Kamu tadi belum makan nasi, kan? Cuma masak rawon buat Mas saja."
Prita menerima suapan itu, mengunyahnya perlahan sambil menatap wajah Abraham.
Rasa hangat dari makanan itu seolah menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan energi baru.
"Jangan capek ya, Dik. Kita sama-sama belajar. Mas belajar untuk lebih tegas dan terbuka, kamu belajar untuk lebih percaya. Kita ini satu tim, ingat kan? Kapten dan manajernya," ucap Abraham sambil mengusap sudut bibir Prita yang terkena saus.
Prita menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Kali ini, sebuah senyum tipis akhirnya terukir di wajahnya.
Ia meraih tangan Abraham dan menciumnya lama, sebuah tanda bakti dan janji bahwa ia tidak akan membiarkan video atau fitnah mana pun merusak "kapal" yang sedang mereka kayuh bersama.
Malam itu di kamar mess yang sederhana, mereka menghabiskan burger itu berdua, berbagi tawa kecil di sela-sela cerita Abraham tentang tingkah lucu Deddy di lapangan tadi siang.
Badai yang dikirimkan sang ibu tiri melalui layar ponsel kembali gagal merobohkan benteng mereka.