Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 13
Hujan turun sejak dini hari.
Bukan hujan deras yang mengguyur tanpa ampun, melainkan rintik panjang yang jatuh perlahan, konsisten, seperti napas yang tidak pernah benar-benar berhenti. Suaranya halus, hampir menenangkan, namun justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam dan lebih sunyi.
Jalanan terlihat basah. Aspal mengilap memantulkan lampu-lampu kota yang belum sepenuhnya padam, sementara udara membawa dingin yang merayap pelan hingga ke tulang. Langit Seoul tertutup awan abu-abu, membuat pagi terasa tertahan seolah hari belum benar-benar diizinkan untuk dimulai.
Kim Ae Ra berdiri di depan jendela.
Tangannya memegang cangkir teh hangat, uap tipis naik perlahan, mengaburkan sebagian pandangannya. Namun matanya tidak benar-benar fokus pada pemandangan di luar. Tatapannya kosong. Jauh. Seolah melihat sesuatu yang tidak ada di sana.
Ia jarang memiliki pagi seperti ini.
Biasanya ia bangun terburu-buru, menyiapkan diri dengan cepat, memeriksa ulang jadwal, lalu berangkat sebelum waktu sempat terasa. Setiap detik selalu memiliki tujuan. Namun hari itu berbeda. Ia terbangun lebih awal. Tanpa alarm. Tanpa alasan yang jelas.
Dan sejak membuka mata, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan sesuatu yang menggantung di dadanya, ringan tapi mengganggu. Hujan. Suara itu lagi.
Ae Ra menatap tetesan air yang meluncur di kaca jendela. Garis-garis air itu turun tanpa pola, saling bertemu, lalu terpisah lagi.
Entah kenapa setiap kali hujan turun seperti ini, dadanya terasa berat. Seperti ada sesuatu yang ingin muncul. Namun selalu gagal.
“Ae Ra.”
Suara lembut memanggilnya dari arah dapur. Ia mengedipkan mata pelan, menarik dirinya kembali ke realitas.
“Iya, Bu.”
“Kau tidak bersiap kerja?”
“Iya… sebentar.”
Ae Ra berbalik.
Rumah itu kecil, namun hangat. Meja makan sederhana sudah ditata dengan rapi. Nasi hangat, sup ringan, dan beberapa lauk sederhana tersaji dengan perhatian yang jelas terlihat di setiap detailnya.
Mi Ran berdiri di sana.
Rambutnya yang mulai memutih diikat rapi ke belakang. Wajahnya tetap lembut seperti dulu, tenang, penuh kesabaran namun garis lelah tidak pernah benar-benar hilang dari matanya. Garis yang terbentuk dari waktu. Dari sesuatu yang tidak pernah dibicarakan.
“Kau lembur lagi semalam?” tanya Mi Ran sambil menuangkan teh ke cangkir lain.
“Tidak juga” Jawaban itu keluar begitu saja. Setengah jujur. Setengah disembunyikan.
Mi Ran tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap putrinya beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
“Kau terlihat kurus.”
Ae Ra tersenyum kecil. Senyum yang ia gunakan untuk menenangkan orang lain.
“Aku baik-baik saja, Bu.” Ia duduk, mengambil sendok, mencoba terlihat normal.
Namun saat kilatan petir tipis menyambar di luar jendela tangannya tanpa sadar menegang. Cangkir teh di tangannya sedikit bergetar. Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk terlihat. Mi Ran langsung menyadarinya. Gerakannya berhenti. Tatapannya berubah cepat. Terlalu cepat.
Ada sesuatu di sana, sesuatu yang hampir menyerupai kepanikan, sebelum ia segera menenangkan dirinya kembali.
“Hujannya dingin hari ini,” katanya pelan. Nada suaranya sengaja dibuat ringan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ae Ra hanya mengangguk. Ia tidak bertanya. Namun perasaan aneh itu kembali muncul. Ia sendiri tidak mengerti. Kenapa suara hujan selalu membuat pikirannya kosong. Seperti ada sesuatu yang hampir ia ingat namun selalu menghilang tepat sebelum terbentuk.
Perjalanan menuju kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Bus melaju perlahan di antara jalan basah. Suara mesin terdengar lebih halus, tertahan oleh hujan yang terus jatuh tanpa henti.
Ae Ra duduk di dekat jendela. Ia memandangi garis-garis air yang mengalir turun di kaca. Setiap tetesan seperti mengikuti jalur sendiri, tidak pernah benar-benar sama. Tangannya bertumpu di pangkuan. Diam. Namun pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Sekilas sebuah bayangan muncul. Panas. Terik.
Berbanding terbalik dengan dinginnya pagi itu. Asap. Pekat. Menyesakkan. Dan seseorang memeluknya erat. Hangat. Melindungi. Ae Ra mengerjap cepat. Napasnya sedikit terhenti. Bayangan itu hilang. Seolah tidak pernah ada. Ia menegakkan tubuhnya perlahan. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung tas.
“Apa aku kurang tidur…” gumamnya pelan.
Namun bahkan saat ia mengatakannya ia tahu itu bukan jawaban yang benar.
Aegis Corp sudah sibuk ketika ia tiba.
Lobi dipenuhi orang-orang yang bergerak cepat, suara langkah kaki dan percakapan ringan saling bersahutan, menciptakan ritme yang hidup meski cuaca di luar terasa berat. Namun ada sesuatu yang berbeda hari itu. Suasana tidak setegang biasanya. Beberapa rapat dibatalkan. Beberapa agenda ditunda. Hujan memberi jeda jarang, tapi terasa.
Ae Ra duduk di mejanya, membuka tablet, dan mulai menyiapkan agenda seperti biasa. Rutinitas itu menenangkannya. Memberinya kendali.
Pintu ruang CEO terbuka. Hyun Jae Hyuk keluar sambil mengenakan jasnya. Gerakannya rapi. Terbiasa. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Tatapannya jatuh pada Ae Ra.
“Kau basah.”
Ae Ra sedikit terkejut. Ia menyentuh ujung rambutnya. Baru sadar masih sedikit lembap.
“Hanya sedikit kehujanan.”
Jae Hyuk menghela napas pelan. Tidak panjang. Namun cukup terdengar. Ia berbalik, mengambil sesuatu dari rak dekat pintu, lalu kembali. Payung lipat. Ia meletakkannya di meja Ae Ra.
“Pakai ini saat pulang.”
Ae Ra berkedip. Beberapa detik ia hanya menatap benda itu.
“Tapi ini milik Anda.”
“Aku punya yang lain.” Nada suaranya datar. Singkat. Tidak memberi ruang untuk penolakan.
Ae Ra menatap payung itu lebih lama dari seharusnya. Lalu perlahan, ia mengambilnya. Tangannya menyentuh gagangnya. Hangat. Aneh. Dan entah kenapa familiar. Seperti pernah merasakan hal yang sama sebelumnya. Namun ia tidak tahu kapan. Siang hari berjalan lebih tenang dari biasanya.
Pekerjaan tetap ada, namun tidak menumpuk seperti hari-hari sebelumnya. Ritme kantor terasa lebih longgar, memberi ruang bagi napas yang biasanya terkejar-kejar. Ae Ra berdiri dari mejanya, berjalan menuju pantry untuk mengambil minuman.
Ia mendekati mesin pemanggang roti, berniat sekadar membuat sesuatu ringan. Namun begitu ia menekan tombol aroma samar sesuatu yang terbakar tiba-tiba memenuhi ruangan. Tidak kuat. Tidak menyengat. Namun cukup.
Ae Ra berhenti. Tubuhnya membeku. Napasnya tercekat. Suara di sekeliling mendadak terasa jauh. Seolah teredam. Dan dalam sekejap kilatan gambar muncul. Cepat. Tidak utuh. Warna oranye. Api. Panas yang terlalu dekat. Suara retakan kayu. Dan rasa takut yang tidak ia pahami.
Tangannya gemetar. Cangkir di tangannya hampir terlepas.
“Ae Ra?” Suara itu datang dari belakang.
Tenang. Jelas. Membawanya kembali. Ia mengedipkan mata. Menarik napas.
“Aku… tidak apa-apa.”
Namun wajahnya pucat. Jae Hyuk melangkah mendekat, tanpa banyak bicara. Ia melihat pemanggang roti itu, lalu mematikannya. Gerakannya sederhana. Efisien. Namun matanya sempat menatap Ae Ra sedikit lebih lama.
“Keluar sebentar,” katanya pelan.
Bukan perintah keras. Namun cukup tegas. Ae Ra menurut. Tanpa bantahan. Mereka berdiri di dekat jendela koridor. Hujan masih turun. Lebih pelan. Namun belum berhenti.
“Kau tidak suka bau asap?” tanya Jae Hyuk.
Ae Ra menggeleng pelan. “Aku… tidak tahu. Hanya terasa tidak nyaman.” Jawaban itu jujur. Namun tidak lengkap. Karena ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan.
Jae Hyuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berdiri di sana diam. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Menjaga jarak yang sama. Dan entah kenapa keheningan itu terasa familiar. Seperti sesuatu yang pernah ia rasakan lama sekali.
Namun tidak bisa ia ingat. Ae Ra menatap hujan di luar. Untuk beberapa detik ia merasa tidak sendirian.
Malam hari, Ae Ra pulang lebih awal.
Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya, meski pikirannya belum sepenuhnya tenang. Begitu pintu rumah terbuka aroma masakan langsung menyambutnya.
Mi Ran sudah menunggu.
“Kau pulang cepat hari ini.”
“Iya. Tidak terlalu sibuk.”
Mereka makan bersama. Suasana hangat. Tenang. Sendok dan piring berbunyi pelan, mengisi ruang tanpa perlu banyak kata. Untuk sesaat semuanya terasa normal Namun ketika televisi di sudut ruangan menampilkan berita gambar api muncul di layar.
“Laporan kebakaran apartemen di—”
Klik.
Mi Ran langsung mengganti saluran. Gerakannya cepat. Ae Ra menatapnya.
“Bu…?”
Mi Ran tidak menoleh.
“Tidak ada yang menarik.” Jawabannya singkat.
Hampir datar. Namun ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang ditahan. Ae Ra tidak bertanya lagi. Namun perasaan itu kembali muncul. Aneh. Mengganjal. Seperti potongan puzzle yang hilang.
Malam semakin larut. Hujan belum berhenti. Langit tetap gelap, hanya sesekali diterangi kilatan jauh yang tidak terlalu terang. Ae Ra berdiri di balkon kecil rumah mereka. Tangannya memegang payung yang diberikan Jae Hyuk pagi tadi. Ia menatapnya beberapa detik.
Lalu membukanya perlahan.
*Tak.*
Suara kecil terdengar. Hujan langsung mengenai permukaannya, bunyi rintik itu berubah. Lebih dekat. Lebih jelas. Ae Ra mengangkat pandangan. Melihat air yang jatuh di sekelilingnya. Dan untuk sepersekian detik sesuatu terasa berbeda. Seperti ia pernah berdiri di posisi yang sama.
Di bawah payung. Namun… tidak sendirian. Sebuah suara muncul. Samar. Jauh. Namun cukup jelas untuk didengar.
*Kalau hujan terus, kau bisa sakit.*
Ae Ra mengerutkan kening. Napasnya tertahan.
“Siapa…” Ia berbisik pelan.
Namun seperti sebelumnya ingatan itu menghilang. Lenyap. Seolah tidak pernah ada. Hanya menyisakan rasa. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Di kejauhan, hujan terus turun. Tanpa henti. Membasahi kota. Menyentuh kaca. Dan perlahan membawa sesuatu kembali. Kenangan yang selama ini terkubur… mulai menemukan jalannya pulang.