NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35.Pura-pura

Di ruangan rumah sakit yang lain, suasana malam terasa sunyi dan menekan. Lampu redup menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan panjang di dinding kamar VVIP itu. Di sudut ruangan, Sinta terlelap di atas sofa, napasnya teratur, sama sekali tak menyadari apa yang sedang terjadi.

Donni melirik sekilas ke arahnya, memastikan wanita itu benar-benar tertidur. Setelah yakin, ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang dengan hati-hati, suaranya ditahan serendah mungkin.

“Kita harus melanjutkan rencana selanjutnya,” ucapnya pelan, namun penuh tekanan. “Suruh Steven untuk meniduri Lora agar kita bisa menyebar video mesum mereka ke jagat maya, sehingga aku sebagai keluarganya bisa menuntut Lora bercerai dengan Devon dan dia tersingkir dari perusahaan ataupun dari keluarga Morrix.”

Nada suaranya dingin, tanpa sedikit pun keraguan. Seolah rencana keji itu hanyalah langkah biasa dalam permainan yang ia jalani.

Di seberang sana, Delia tersenyum tipis. Perempuan itu memang seperti ular—licin dan beracun. Namun ia tidak sadar, bahwa ia kini bermain bersama seseorang yang jauh lebih berbahaya dari dirinya.

“Kamu tenang saja, sayang,” jawab Delia lembut, suaranya mengalir seperti madu yang menyimpan racun. “Aku pastikan Steven akan melakukan tugasnya dengan benar kali ini. Aku pastikan dia tidak akan tertipu lagi dengan wanita itu.”

Donni mengepalkan tangannya yang tidak tergips, rahangnya mengeras.

“Dia harus secepatnya tersingkir dari perusahaan dan keluarga Morrix sebelum dia membongkar penggelapan dana yang kita lakukan. Sedikit lagi… hanya sedikit usaha lagi, kita akan memiliki perusahaan sendiri seperti yang kita impikan. Dan aku juga akan terlepas dari wanita bodoh ini.”

Kalimat terakhirnya terdengar begitu dingin—tanpa rasa bersalah, tanpa beban.

“Iya, sayang. Aku akan mendukungmu menyingkirkan dia. Kita akan mencapai tujuan kita,” balas Delia mantap.

“Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu dan juga begitu merindukanmu. Andai saja keadaanku tidak seperti ini, mungkin aku akan menemuimu dan bercinta seperti biasanya.”

Nada suaranya berubah, lebih rendah, lebih intim, seolah melupakan sejenak rencana gelap yang baru saja mereka susun.

“Aku juga sangat mencintaimu dan aku juga sangat ingin bertemu denganmu. Fokuslah dengan kesembuhanmu dulu, sayang. Setelah kamu sembuh, aku akan memuaskanmu berapa ronde pun yang kamu mau.”

Senyum tipis terukir di wajah Donni. Wajahnya yang penuh luka dan lebam tampak kontras dengan ekspresi penuh nafsu yang ia tunjukkan.

“Aku akan segera sembuh jika kamu menjanjikannya seperti ini,” ucapnya, suaranya mengandung nada puas.

Namun suasana itu tiba-tiba berubah saat Sinta bergerak di sofa. Ia bergeliat pelan, lalu membuka matanya.

“Mas… kamu sedang menelpon siapa?” tanyanya dengan suara lemah.

Donni refleks mematikan panggilan itu. Dalam sekejap, ekspresinya berubah, kembali menjadi pria yang tampak biasa.

“Hanya rekan bisnis biasa. Tidurlah, aku juga akan tidur,” ucapnya singkat, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, membelakangi Sinta seolah tak terjadi apa-apa.

Sedangkan di sisi lain Delia justru tengah mengangkang di atas kasur di dalam kamar apartemennya di temani oleh Steven ang perlahan membuka pakaiannya.

"Aku juga perlu melepaskan stres ku ."ucap Delia menatap Steven yang berdiri di hadapannya.

_______

Devon berdiri di ruang rahasia itu—ruangan yang sama tempat David selama ini membawa Lora berlatih bela diri setiap malam. Suasana di dalamnya sunyi dan tertutup, hanya cahaya lampu redup yang memantul di dinding beton dingin.

Keduanya berdiri saling berhadapan dengan wajah datar dan serius.

Perban masih melilit kepala Devon. Beberapa memar akibat kecelakaan di tangga masih jelas terlihat di tubuhnya. Namun satu hal telah berubah sepenuhnya—ekspresi polos bak anak kecil yang selama ini ia tunjukkan telah menghilang tanpa jejak.

Kini yang tersisa hanyalah tatapan tajam seorang pria yang sepenuhnya sadar.

“Kenapa pengacara handal dan terkenal begitu sibuk sepertimu berada di sini dan menyamar sebagai kepala pelayan untukku?” tanya Devon.

Nada suaranya rendah namun penuh keheranan. Ingatannya yang baru saja pulih membuatnya tak menyangka melihat sosok yang sangat ia kenal berdiri di rumah keluarga Morrix dengan identitas yang begitu berbeda.

Di hadapannya berdiri David—pengacara terkenal sekaligus sahabatnya semasa di universitas. Meski penampilannya diubah sedemikian rupa, Devon tetap mengenali wajah itu dengan jelas.

“Jadi dugaanku benar, kamu sudah pulih sepenuhnya,” ucap David tenang.

Devon mengangguk singkat.

“Aku berada di sini dan menyamar seperti ini untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh pimpinan tepat sebelum dia meninggal untuk menjaga hartanya. Makanya aku terpaksa membuang waktu berhargaku di sini. Harusnya kamu sembuh lebih cepat agar apa yang sudah ditugaskan pimpinan kepadamu bisa selesai dengan cepat,” lanjut David.

Nada suaranya terdengar kesal, namun di balik itu tersimpan kelegaan karena Devon akhirnya sadar sepenuhnya.

Devon menghela napas pelan sebelum menjawab.

“Harusnya semuanya sudah selesai. Karena tepat sebelum kecelakaan aku menerima telepon dari seseorang yang mengatakan jika dia tahu soal kematian anak pimpinan. Bahkan dia juga punya bukti yang kuat jika Sinta dan Donni lah yang sudah membunuhnya.”

Mata David langsung menajam.

“Siapa? Apa kamu mengenalnya?” tanyanya antusias.

Devon menggeleng pelan.

“Aku tidak mengenalnya, karena aku hanya berbicara sebentar dengannya sebelum akhirnya aku terjun ke jurang.”

David menggeram kesal sambil mengacak rambutnya.

“Aakkkhhh… seharusnya kamu menemuinya lebih dulu sebelum terjun dari jurang. Dengan begitu aku tidak akan terjebak di sini, tempat yang penuh dengan pemarasit dan kuman seperti kata Lora.”

Raut wajahnya menunjukkan rasa muak yang nyata terhadap keluarga Morrix.

Devon menatapnya datar.

“Kamu pikir aku mau seperti itu? Jika aku bisa mungkin aku akan memilih tidak akan pernah kecelakaan.”

David menyilangkan tangan di dada.

“Tapi kamu dirumorkan mengonsumsi obat penenang. Bahkan obat-obatan itu terbukti berada di mobilmu.”

Tatapan Devon langsung berubah dingin.

“Kamu percaya rumor bodoh itu?”

David mengangkat bahu.

“Mungkin saja, karena kamu memang sedikit gila setelah putus dari Lora. Bahkan setelah kamu pulih sepenuhnya kamu memilih berpura-pura menjadi anak-anak di hadapannya.”

Rahang Devon mengeras mendengar ucapan itu.

“Itu semua aku lakukan untuk bisa menjebak orang-orang. Harusnya kamu sebagai pengacara handal mampu membaca tujuanku.”

David menatapnya lama sebelum berkata santai.

“Aku tidak akan mempermasalahkannya jika kamu memang masih mencintai Lora. Lagipula dia kini juga sudah menjadi istrimu.”

Tatapan Devon langsung mengeras.

“Tidak perlu sok paling tahu tentangku. Jalankan saja tugasmu sebagai pengacara kepercayaan Tuan Martanus dan segera menyingkir dari hadapanku,” ucapnya sarkastis.

David justru tersenyum tipis.

“Semakin kamu menyangkal, semakin semuanya terlihat jelas, Devon.”

Suasana ruangan semakin tegang.

Devon akhirnya melangkah mendekat, menatap David dengan penuh tekanan.

“Diamlah. Kamu hanya pelayanku di sini. Kamu hanya perlu merahasiakan kondisiku di hadapan Lora dan semua orang selagi aku mencari flashdisk yang berisi penggelapan dana yang dilakukan Donni dan Delia.”

Tatapannya berubah tajam penuh keyakinan.

“Aku yakin laki-laki itu menjebakku untuk melenyapkan barang bukti itu saat kecelakaanku.”

"Mulai besok ikuti intruksiku diam-diam untuk membantu Lora menyingkirkan para kuman di rumah ini."ucap Devon dengan mata penuh tekad yang di angguki oleh David.

.

.

.

💐💐💐Bersambung💐💐💐

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa

1
Allea
kamu ogah2an upnya thor 😅
Mila Julia: maklum KK masih suasana lebaran sodara2 belum pada minggat🤣🤣🤣
total 1 replies
Mila Julia
kasih tau cintaa biar lora sadarrrr😅😅😅
Allea
good steven 🤭🤭🤭 masih edisi sebel ma lora thor 😅
Allea
senang sih lora lengah terlalu nyantay soalnya udah tau banyak musuh ga gercep 🤭🤭🤭
Mila Julia: iyaaa lagiiuu🤭🤭
total 1 replies
Allea
akhirnyaaaaaa ingatan Epon kembali tetap pura2 y Epon buat membumi hanguskan kuman2😁
Mila Julia: uuuuhhhh sayang bangett sama kakak iniii😘😘😘
siap kakak
total 1 replies
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: klo disini namanya kilang padi, yang mengeluarkan beras dgn beberapa merk
total 3 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!