Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sinar matahari pagi Jakarta menyelinap masuk melalui jendela besar villa modern yang kini menjadi saksi bisu kehidupan baru Elvano dan Selena. Suasana ruang makan itu terasa tenang, hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Elvano sudah tampak rapi dengan kemeja hitam yang senada dengan auranya yang mahal, sementara Selena tampil segar dengan blus kerja yang memberikan kesan profesional sekaligus lembut.
Mereka menikmati sarapan dalam keheningan yang nyaman, sebuah kemewahan kecil sebelum terjun ke dunia luar yang penuh sorot kamera. Namun, ketenangan itu terusik saat pintu depan terbuka dan Darian melangkah masuk dengan gaya santainya yang khas.
“Wah, villa kalian benar-benar berkelas ya. Nyaman, tenang, dan sangat menggambarkan karakter kalian berdua yang sama-sama elegan,” ujar Darian sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Selena mendongak dan memberikan senyum hangatnya. “Terima kasih, Darian. Mari bergabung sarapan bersama kami, masih banyak porsinya,” ajak Selena ramah.
Darian tidak perlu diajak dua kali. Ia segera menarik kursi dan bergabung di meja makan. Sambil mengunyah roti panggangnya, ia memperhatikan interaksi antara bosnya dan sang dokter gizi yang kini sudah sah menjadi istri rahasianya.
Di sela-sela suapannya, Elvano meletakkan cangkir kopinya perlahan. Matanya menatap Darian dengan tatapan yang sulit ditebak, namun penuh penekanan.
“Darian, aku ingin kau membantu Selena membentuk tim khusus,” ucap Elvano tanpa basa-basi.
Darian menghentikan kunyahannya, ia mengangkat kepala dan menatap Elvano serta Selena bergantian seolah sedang meminta penjelasan lebih detail.
“Tim khusus untuk apa? Apa ada ancaman?” tanya Darian dengan nada bicara yang mulai serius.
Elvano menggeleng pelan. “Bukan. Kau tahu sendiri belakangan ini Selena sering mendapatkan tawaran endorsement dari berbagai brand besar. Masalahnya, dia selalu ragu mengambilnya karena kekurangan tenaga. Selama ini dia mengurus semuanya sendiri, mulai dari jadwal rumah sakit sampai urusan konten. Itu sangat menguras energinya,” jelas Elvano, nada suaranya terdengar sangat protektif.
Darian mengangguk-angguk paham, kembali melanjutkan sarapannya. “Oh, urusan manajemen influencer toh. Aku mengerti. Jadi kau ingin aku mencari tim untuk menangani sisi bisnis dari akun @DailyDoseBySelena?” tanya Darian memastikan.
“Persis. Aku ingin tim itu fokus mengurus semua kontrak dan jadwal kerjasamanya agar Selena tetap bisa fokus di rumah sakit tanpa harus pusing dengan urusan admin,” tambah Elvano lagi.
Selena yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara karena penasaran. “Sebenarnya, bagian apa saja yang paling krusial dibutuhkan untuk tim seperti itu, Darian?” tanya Selena dengan raut wajah serius.
Darian memajukan posisi duduknya, mode profesionalnya mulai bangkit. “Begini, minimal kita butuh Manajer Akun untuk negosiasi kontrak agar kamu tidak dirugikan oleh brand nakal. Lalu butuh Editor Konten supaya visualnya tetap standar tinggi, dan Admin Sosial Media untuk memfilter pesan yang masuk. Intinya, kamu tinggal terima beres saja,” papar Darian panjang lebar.
Selena mengangguk-angguk setuju. “Sepertinya itu memang akan sangat membantu.”
Elvano kembali menimpali dengan suara baritonnya yang tegas. “Cari manajer yang benar-benar kompeten. Kau tahu kan bagaimana standarku dalam memilih orang?” tanya Elvano yang langsung dijawab dengan anggukan mantap oleh Darian.
“Siap Bos, serahkan padaku. Tapi ngomong-ngomong, kenapa tidak sekalian saja Selena masuk ke dalam naungan Zenithra Entertainment? Infrastruktur kita sudah lengkap di sana,” usul Darian yang terdengar logis.
Wajah Elvano seketika berubah datar. “Tidak. Aku tidak mau Selena terikat kontrak dengan perusahaan manapun, termasuk Zenithra. Cukup dengan tim pribadinya saja agar privasinya tetap terjaga,” jawab Elvano mutlak, tidak memberi ruang untuk perdebatan.
Darian mengedikkan bahu, ia melirik ke arah Selena dengan tatapan jahil. “Mungkin saja Selena sebenarnya tertarik gabung ke agensi besar supaya karirnya makin melejit? Kenapa tidak tanya orangnya langsung saja?” pancing Darian.
Selena segera menyahut sebelum suasana menjadi kaku. “Aku memang tidak mau bergabung dengan agensi manapun, Darian. Bagaimanapun aku ini seorang dokter. Aku tahu keputusan Elvano adalah yang terbaik, dia jauh lebih paham seluk-beluk industri hiburan dibandingkan aku,” ujar Selena sambil menatap Elvano dengan penuh kepercayaan.
Elvano langsung menatap Darian sambil mengangkat sebelah alisnya, sebuah gestur kemenangan yang jarang ia tunjukkan. “Dengar itu? Dia sependapat denganku,” ucap Elvano dingin.
Darian berdecak kesal sambil menggelengkan kepala. “Ah, Selena ini tidak seru. Bilang saja tidak berani bicara lain karena ada Elvano di sini. Auranya kan memang suka mengintimidasi kalau sudah bicara soal prinsip,” keluh Darian yang membuat Elvano menatapnya tajam penuh ancaman.
Selena pun tertawa kecil.
**
Rumah Sakit Internasional Medika sudah tampak sibuk. Max datang dengan penyamaran standar; topi hitam dan masker, berharap tidak ada yang mengenalinya. Ia berjalan menuju poli gizi klinik sesuai instruksi Bram. Di depan pintu ruangan tersebut, tertera sebuah nama yang membuatnya sedikit mengernyit: dr. Selena Nayumi, Sp.GK.
Max mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar suara lembut dari dalam yang memintanya masuk. Di balik meja kerja yang rapi, duduk seorang wanita yang tampak begitu fresh dengan aura hangat yang membuat siapa pun merasa nyaman.
“Selamat pagi. Silakan duduk,” sapa Selena dengan senyum profesionalnya yang ramah. Ia belum menyadari siapa sosok di balik masker hitam tersebut.
Max duduk dan perlahan menarik turun maskernya, gerakan tangan Selena yang hendak meraih pulpen seketika membeku.
“Selena?” Pria itu bergumam, suaranya tertahan antara tidak percaya dan terkejut. Matanya beralih cepat ke papan nama kristal yang bertengger di sudut meja; dr. Selena Nayumi, Sp.GK.
Selena merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Namun, pengalaman bertahun-tahun menghadapi pasien kritis dan sorot kamera influencer membuatnya mampu menarik napas dalam dan memaksakan diri kembali ke mode profesional dalam hitungan detik.
“Bukankah atas nama Bramantyo yang terdaftar di jadwal jam ini?” tanya Selena, suaranya terdengar datar dan stabil, seolah pria di hadapannya hanyalah pasien biasa, bukan seseorang dari masa lalu yang pernah mengisi hatinya.
Max berusaha mengatur raut wajahnya. Ia berdehem pelan, mencoba mengikis kecanggungan yang merambat di antara mereka setelah bertahun-tahun hubungan mereka kandas.
“Itu manajer saya. Dia yang mengurus semua jadwal,” jawab Max singkat, matanya masih menatap Selena dengan intensitas yang sulit dibaca.
Selena mengangguk formal, tangannya kini lincah membuka lembar konsultasi baru. “Jadi, apa keluhan atau tujuan Anda datang ke poliklinik gizi hari ini, Tuan Max?”
Max sedikit tersentak mendengar panggilan formal itu. Ia menarik napas panjang, mencoba memposisikan diri sebagai pasien.
“Saya butuh konsultasi untuk menurunkan berat badan secara signifikan. Ada tuntutan peran baru yang mengharuskan saya terlihat lebih dewasa, tapi juga jauh lebih kurus dari sekarang.”
“Baik. Saya mengerti,” sahut Selena tanpa emosi berlebih. Ia menekan tombol interkom di mejanya. “Dira, tolong bantu pemeriksaan dasar untuk pasien ini.”
Pintu terbuka, dan Dira masuk dengan riang seperti biasa. Namun, begitu matanya menangkap sosok yang duduk di depan Selena, asistennya itu hampir saja menjatuhkan papan jalannya.
“M-Max? Aktor Max?” Dira berbisik tertahan, matanya membelalak lebar.
“Dira, tolong fokus. Cek berat badan, tinggi, dan tekanan darahnya sekarang,” instruksi Selena dengan nada yang sedikit lebih tegas, menyadarkan asistennya dari mode penggemar.
Selama pemeriksaan berlangsung, ruangan itu diselimuti keheningan yang menyesakkan. Selena sibuk mencatat, sementara Max patuh mengikuti arahan Dira. Setelah data terkumpul, Dira meletakkan laporan itu di meja Selena dengan tangan yang masih sedikit gemetar, lalu segera pamit keluar setelah mendapat kode dari atasannya.
Selena menatap data tersebut dengan teliti. “Proporsi tubuh Anda sebenarnya sudah sangat ideal untuk standar pria atletis. Namun, jika ini untuk kebutuhan karakter, kita harus melakukan defisit kalori yang terukur. Saya ingin Anda tidak hanya menguruskan badan, tapi juga mengurangi lemak di area wajah agar pipi Anda terlihat lebih tirus dan menonjolkan struktur tulang rahang,” jelas Selena sambil menunjukkan beberapa grafik pada layar monitornya.
Ia mulai menuliskan resep pola makan harian yang sangat detail. “Saya meresepkan menu dengan rasio protein tinggi dan karbohidrat kompleks yang rendah. Tidak boleh ada jalan pintas atau obat-obatan diet instan.”
Max memperhatikan cara Selena berbicara. Gadis yang dulu ia kenal sebagai siswi yang lembut kini telah berubah menjadi wanita otoriter di bidangnya.
“Saya dengar, Dokter Selena juga menyediakan jasa katering menu khusus untuk diet medis tertentu?”
Selena berhenti menulis sejenak. “Itu benar. Tapi itu program di luar praktik rumah sakit ini. Jika Anda tertarik untuk memesan meal plan yang disesuaikan secara personal, Anda bisa menghubungi nomor di kartu ini,” Selena menyodorkan sebuah kartu nama elegan dengan logo klinik pribadinya, Serenity Nutri-Heal.
Max menerima kartu itu, ujung jarinya sempat bersentuhan dengan jari Selena selama sepersekian detik, namun Selena segera menarik tangannya kembali.
“Terima kasih, Dokter. Saya rasa ini sudah cukup untuk awal,” ujar Max sambil kembali mengenakan maskernya.
“Sama-sama. Kita lihat perkembangannya dalam dua minggu. Jika tidak ada perubahan signifikan, saya akan menyesuaikan intensitasnya. Silakan,” ucap Selena sambil mempersilakan Max untuk meninggalkan ruangan.
Max berdiri, memberikan anggukan sopan, lalu melangkah keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Max tidak langsung pergi. Ia berdiri diam di koridor rumah sakit yang mulai ramai, menatap papan nama di samping pintu ruangan yang baru saja ia tinggalkan.
Jemari Max mengusap nama Selena yang terukir di sana dengan sangat hati-hati, seolah takut akan merusaknya.
“Sekarang kamu sudah sehebat ini, Selena,” gumam Max lirih, nyaris tidak terdengar.
Pria itu menarik topinya lebih rendah, menyembunyikan kilat penyesalan yang mendadak muncul di matanya, lalu berjalan cepat meninggalkan area rumah sakit.
***