Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Suara pecahan kaca masih menggema di telinga semua orang. Beberapa tamu, anak-anak kecil menangis ketakutan. Ibu-ibu yang menemani mereka buru-buru menarik anak-anaknya menjauh dari serpihan kaca di lantai.
Namun bagi Arcelia, suara itu terdengar jauh. Karena yang berdiri di sudut ruangan itu… bukan sekadar bayangan lagi. Ia lebih jelas sekarang.
Tinggi.
Samar, tapi memiliki bentuk.
Seperti siluet manusia yang terbuat dari asap gelap.
Papa Alveron berdiri di depan Arcelia dan Elvarin tanpa berpikir panjang.
“Apa pun ini,” ucapnya tegas, “kalian masuk ke belakang.”
“Papa—” Arcelia ingin menariknya mundur.
Tapi sosok itu berbicara lebih dulu.
“Ayah yang protektif,” suaranya bergema, seperti berasal dari ruang kosong yang dalam. “Kamu tidak melihatku… tapi kamu merasakanku.”
Papa Alveron membeku.
Ia memang tidak melihat bentuk jelasnya seperti Arcelia. Namun udara di ruangan itu… terasa salah.
Mama Mirella meraih tangan Elvarin dan menariknya mendekat. “Adek ikut Mama ya.”
Elvarin menggenggam tangan Mamanya kuat-kuat, wajahnya pucat.
Arcelia melangkah maju.
“Ini urusanku Pa,” katanya, suaranya bergetar tapi tegas.
Sosok itu menoleh padanya. “Kamu yang membuka pintu.”
“Aku akan menutupnya sekarang.”
“Tidak semudah itu.”
Udara bergetar. Lampu kembali berkedip. Beberapa tamu dewasa berteriak menyuruh semua orang keluar rumah.
Kaelion, yang berdiri tak jauh dari tangga, tidak lari.
Ia mendekat ke sisi Arcelia.
“Aku ada di sini,” katanya pelan.
Sosok itu menatapnya. “Kamu bukan bagian dari perjanjian itu.”
Kaelion tidak menjawab.
Arcelia menelan ludah.
“Perjanjian apa?” tanyanya.
Sosok itu mengangkat tangannya.
Di udara, seperti kabut yang membentuk gambar, terlihat potongan ingatan.
Arcelia kecil.
Menangis sendirian di depan cermin besar rumah lama mereka.
“Aku mau ada yang selalu bersamaku… jangan tinggalkan aku…”
Cermin itu menyala samar waktu itu.
Dan bayangan kecil muncul di belakangnya.
“Aku akan menemanimu.”
Arcelia gemetar melihat ingatan itu.
“Itu cuma anak kecil yang kesepian!”
“Janji tetaplah janji.”
Sosok itu mendekat lagi.
Lantai kayu berderit.
“Sekarang kamu tumbuh. Tubuhmu kuat. Jiwamu matang. Aku ingin sepenuhnya masuk.”
Kaelion berdiri di depan Arcelia tanpa sadar.
“Dia bukan wadahmu,” katanya tegas.
Sosok itu tertawa pelan. “Semua manusia adalah wadah.”
Papa Alveron, meski tidak melihat jelas, melangkah maju.
“Apa pun yang kamu inginkan,” ucapnya dingin, “jangan sentuh anakku.”
Sosok itu menoleh perlahan ke arahnya. “Kamu tak bisa melindunginya dari sesuatu yang ia panggil sendiri.”
Kata-kata itu seperti pisau.
Namun Arcelia tiba-tiba merasa sesuatu berubah.
Bukan di luar, tapi ada didalam dirinya. Ia berhenti gemetar.
Ia mengangkat wajahnya. “Kalau aku yang membuka,” katanya pelan tapi jelas, “aku juga yang punya kuasa atas pintu itu.”
Sosok itu diam.
Retakan di lantai berhenti merambat.
Arcelia menutup mata.
Ia mengingat perasaan waktu kecil itu.
Kesepian, takut ditinggal. Dan ia menyadari, ia tidak lagi sendirian sekarang.
Ia punya keluarga.
Ia punya Kaelion.
Ia punya orang-orang yang memilih bertahan bersamanya.
“Aku tidak butuh kamu lagi,” ucapnya tegas.
Udara bergetar keras.
Sosok itu mendekat satu langkah terakhir. “Kamu pikir cinta manusia itu cukup kuat menutupku?”
Arcelia membuka mata.
“Cukup.”
Ia melangkah maju.
Tangan terulur ke arah bayangan itu. Bukan untuk menyentuh, tapi untuk mendorong. Dan saat jari-jarinya hampir bersentuhan dengan kabut gelap itu, cahaya kecil muncul dari dadanya.
Bukan cahaya besar.
Bukan ledakan dramatis.
Hanya kilau lembut.
Hangat.
Sosok itu mundur setengah langkah. Untuk pertama kalinya… ia terlihat goyah.
“Ini belum selesai,” suaranya terdengar lebih berat sekarang.
Tubuhnya mulai memudar. Retakan di lantai berhenti menyebar.
Lampu kembali stabil.
Sosok itu menatap Arcelia untuk terakhir kalinya malam itu.
“Aku akan menunggu retakan berikutnya.”
Dan ia menghilang. Udara kembali normal.
Sunyi.
Hanya suara napas semua orang yang masih terengah. Beberapa detik tak ada yang bergerak. Lalu Elvarin menangis kecil. Arcelia berbalik cepat dan memeluk adiknya.
Papa Alveron memeluk mereka berdua. Mama Mirella ikut merangkul dari samping.
Bang Kaiven yang baru tiba karena menerima kabar panik dari rumah berdiri terpaku melihat kaca yang pecah dan wajah-wajah tegang itu.
“Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Arcelia menatap cermin yang kini hanya menyisakan bingkai kosong.
“Pintu hampir terbuka,” jawabnya lirih.
“Tapi belum.”
Di luar rumah,
Langit yang tadinya cerah tiba-tiba tertutup awan tipis. Dan di suatu tempat yang tak terlihat, sesuatu masih mengawasi.
Permainan belum berakhir.
Ia hanya mundur.
Menunggu momen retakan berikutnya.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....