Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Kembalikan kalung itu!" Senja mendekat hendak merampas kalung itu.
"Mengapa harus aku kembalikan? Bukankah kamu membuangnya?" Sean mengangkat kalung itu setinggi mungkin.
Senja pun melompat-lompat hendak mengambilnya, namun tentu saja tak akan bisa karena postur tubuh Sean yang cukup tinggi darinya.
Senja tak menyerah, namun saat dia melompat sekali lagi, kakinya salah mendarat sehingga membuat dia hampir terjatuh dan dengan sigapnya Sean menangkap tubuhnya. Waktu seakan berhenti ketika Senja dan Sean saling bertatapan.
Senja buru-buru berdiri dan menjauh dari tubuh Sean. Begitu juga dengan Sean yang seperti salah tingkah dengan terus memegang lehernya seperti biasanya.
" Kembalikan kalungnya!"
" Ternyata kamu masih menyimpannya."
"Kamu salah, aku bahkan tak ingat menyimpan kalung itu. Aku tak sengaja menemukannya ketika mau membuang beberapa barang tak perlu semalam."
"Kamu bohong, Senja. Aku mengenalmu dan aku tau kamu bukan tipe orang yang lalai dalam menyimpan barang berharga!" tegas Sean.
"Mengapa kamu tiba-tiba membuangnya?" Tanya Sean menatap teduh Senja.
"Tak ada alasan buat seseorang ingin membuang suatu barang!"
"Bukankah dari pada kamu buang, kamu bisa jual kalung ini. Uangnya bisa kamu gunakan untuk keperluan kamu!"
"Atau kamu memang tak rela melihat kalung ini dipakai orang lain?"
" Sean! "Nada ucapan Senja sedikit meninggi.
" Kenapa Senja? Apa kamu takut kalau sebenarnya kamu tak pernah melupakan aku sedikit pun?"
Senja memilih diam dan membuang muka.
" Jawab aku, Senja!"
" Apa kamu begitu percaya dirinya Sean? Kamu kira hidupku ini hanya tentang kamu? Kamu salah! "Senja akhirnya bersuara karena terus disudutkan Sean.
"Jangan mengira aku masih memikirkan kamu selama ini! Aku sudah lama melupakan kamu! Bahkan seujung kuku pun sudah tak ada nama kamu di sini!" Senja menunjuk dadanya.
" Bu.. Om... Kalian bertengkar? " Tanya Angkasa yang tiba-tiba keluar dari rumah.
" Bu, kenapa ibu marah sama om tampan?"
" Tidak sayang.. Ibu tidak berantem sama dia kok. Kami hanya berdebat kecil. Berdebat masalah pekerjaan." Senja memegang lembut pipi anaknya.
" Benar Angkasa. Om sama mama kamu tidak bertengkar kok. Kami hanya berdebat kecil masalah negara! "Kata Sean tersenyum.
"Beneran?" Angkasa bergantian menatap ibunya dan Sean.
" Iya ." Jawab Sean dan Senja kompak.
" Angkasa, kita berangkat sekarang?" Tanya Sean menatap Angkasa.
Angkasa malah menatap Senja.
"Yaudah, kamu pergi sama om. Kamu kan udah lama gak pergi liburan." Ucap Senja memberi izin.
"Ibu yakin gak mau ikut?"
" Iya sayang.. Kamu saja yang pergi dengan om ini. Ibu di rumah saja. Sekalian ibu sudah lama gak bantu-bantu Nini. "
" Baiklah. "Angkasa mengangguk paham.
"Ayo!" Sean menggenggam tangannya Angkasa dan mengajak ke dalam mobilnya.
Sementara Senja terus menatap punggung Sean dan Angkasa.
"Andai saja...." Lirih Senja merasakan sesak di dada.
***
Senja memilih membersihkan dan merapikan rumahnya sebelum membantu Bu Asni di warung makan. Sebenarnya dia sedikit suntuk karena tak ada Angkasa di rumah.
Notifikasi di ponselnya pun berbunyi. Senja melihatnya dan ternyata pesan dari Dirgantara.
" Keluarlah! Aku tunggu kamu di depan !"
Senja akhirnya keluar dari rumah dan berjalan sedikit ke arah depan gang rumahnya. Ternyata memang ada Dirgantara yang sedang berdiri di depan mobilnya dengan memakai kaca mata hitam.
"Apa kamu tidak punya pakaian yang lain?" Dirgantara menurunkan kaca matanya sedikit dan menatap Senja dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Senja yang berpakaian santai dengan rambut asal di cepol malah menatap heran Dirgantara.
"Ini pakaian yang sering saya pakai di rumah, jadi buat apa saya harus berpakaian yang bagus kalau di rumah?"
"Tapi aku mau ngajak kamu keluar!"
Senja mengernyit kan keningnya.
" Maksud anda? "
"Saya mau ngajak kamu pergi ke suatu tempat!"
"Saya?" Senja menunjuk dirinya sendiri.
"Ya kamu. Siapa lagi yang berdiri di depan saya kalau bukan kamu." Jawab Dirgantara.
"Mengapa anda mengajak saya?Bukankah banyak yang lain yang bisa anda ajak." Ujar Senja sedikit bingung.
"Saya butuhnya kamu. Gak mungkin saya ngajak Rudi untuk hal ini!"
"Maaf, saya tak bisa ikut dengan anda!" tolak Senja sopan.
"Kita bisa ajak anak kamu juga kok!" tawar Dirgantara.
" Anak saya lagi tidak di rumah. Dia sedang pergi jalan-jalan. "
" Hmmm... "
" Kalau begitu daripada kamu sendirian, mending ikut dengan saya!" Dirgantara membuka pintu mobilnya dan mendorong tubuh Senja ke dalam.
"Pak Dirgantara... anda.."
"Kamu terlalu banyak mikir!" jawab Dirgantara menghidupkan mesin mobilnya.
"Tapi pakaian saya?"
" Kamu hanya perlu duduk manis. Masalah pakaian kamu, itu urusan saya nanti!"
Senja terpaksa ikut dan pasrah meski dia sendiri penasaran akan dibawa kemana oleh Dirgantara.
Dirgantara menghentikan mobilnya di sebuah salon. Dia kemudian membuka pintu mobil dan mengajak Senja ke dalam salon tersebut. Tak lupa dia membawa paper bag coklat yang tadi berada di bagasi mobil.
" Apa anda mau mengajak saya untuk menemani anda potong rambut?"
"Kamu cerewet ternyata!" Jawab Dirgantara memegang pipi senja dengan satu tangannya sehingga bibir Senja malah jadi maju. Ekspresi Senja seperti itu membuat Dirgantara tersenyum.
" Dasar anak-anak! " Dirgantara tiba-tiba menggusar rambutnya Senja.
"Saya bukan anak-anak!" Ucap Senja tak terima.
"Ah ... Saya lupa. Kamu kan anak-anak yang sudah punya anak!" Dirgantara cukup puas menertawakan Senja.
Senja yang kesal memilih berdiam dan cemberut dan tak mau diajak masuk ke dalam salon.
Dirgantara tak kehilangan akal. Dia malah menggendong Senja dan memaksa Senja masuk ke dalam salon.
" Pak Dirgantara!" Bentak Senja saat dirinya sudah diturunkan dari gendongan di dalam salon.
"Makanya jangan banyak protes!" Ucap Dirgantara.
"Mbak!" Panggil Dirgantara ke pemilik salon.
" Iya pak Dirgantara, ada yang bisa di bantu?"Jawab pemilik salon.
" Buat wanita ini menjadi secantik mungkin. Dan ini pakaian untuk dirinya! " suruh Dirgantara.
" Baik pak! "Angguk pemilik salon kemudian mengajak Senja ke sebuah ruangan VVIP.
Senja hanya bisa diam,ketika para pegawai salon mulai merapikan rambutnya.Bahkan bagian bawah rambutnya yang panjang dibuat curly dan dibiarkan tergerai. Wajahnya pun mulai di dandani dengan make up natural namun terlihat cantik di wajah Senja.
Setelah itu Senja berganti pakaian yang diberikan Dirgantara tadi. Senja menatap dirinya di depan cermin. Dia sendiri cukup terkejut dengan penampilannya. Susahnya hidup yang ia jalani selama ini,membuat dia tak pernah memperhatikan penampilannya selama ini.
" Anda terlihat cantik,mbak!"puji pemilik salon.
Senja hanya tersenyum dan merasa asing dengan penampilannya ini.
"Ayo,mbak! Pak Dirgantara sudah menunggu anda di depan."
Senja mengangguk dan ikutan melangkah dengan pemilik salon berjalan ke depan.
Dirgantara yang duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya,langsung terdiam dan matanya tak berkedip menatap penampilan Senja. Tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis.
Dirgantara kemudian berjalan menghampiri Senja sambil membawa sepasang high heels.
"Dengan ini kamu akan terlihat lebih sempurna!" Ucap Dirgantara pelan dan tiba-tiba berjongkok. Dia kemudian memasangkan sepatu high heels tersebut ke kakinya Senja.
"Sepatu bagus akan membawa langkah kamu ke tempat dan hal yang bagus!" Ucap Dirgantara lagi, membuat Senja hanya terdiam menatap dirinya.
Tungguin novel aku selanjutnya ya.. ☺️☺️