Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Perjalanan pulang terasa… berbeda.
Mobil melaju seperti biasa, melewati jalanan kota yang mulai ramai. Tapi suasana di dalam mobil tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Tidak ada ketegangan.
Tidak ada jarak yang terasa dingin.
Hanya… diam yang penuh arti.
Aku beberapa kali melirik ke arah Adrian.
Ia duduk tenang seperti biasa, menatap ke depan. Namun kali ini, ada sesuatu yang berubah di wajahnya.
Bukan ekspresi.
Tapi… aura.
Lebih hidup.
—
“Kamu capek?”
Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Aku sedikit terkejut.
“…Tidak,” jawabku pelan.
Ia mengangguk kecil.
“Kalau capek, bilang.”
Aku tersenyum tipis.
“Iya.”
Sunyi lagi.
Namun kali ini… hangat.
—
Sesampainya di rumah, aku kembali mendorong kursi rodanya masuk.
Langkahku ringan.
Tanpa sadar… aku tersenyum sendiri.
Bukan senyum besar.
Tapi cukup untuk membuat dadaku terasa hangat.
—
“Aku ke ruang kerja dulu.”
Suara Adrian menghentikan langkahku.
Aku mengangguk. “Iya.”
Namun sebelum aku berbalik—
“Alina.”
Aku menoleh.
“Iya?”
Ia menatapku beberapa detik.
Seolah ingin mengatakan sesuatu… tapi ragu.
“…Nanti sore,” katanya akhirnya, “kita lanjut.”
Aku langsung mengerti maksudnya.
Pijatan itu.
Aku mengangguk kecil.
“Iya.”
—
Sore itu datang lebih cepat dari biasanya.
Atau mungkin… aku yang terlalu menunggu.
Aku mengetuk pintu ruang kerja seperti biasa.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Aku masuk perlahan.
Adrian sudah berada di tempatnya.
Tidak sedang bekerja.
Hanya… menunggu.
Hal kecil itu membuatku sedikit terdiam.
—
“Aku mulai?” tanyaku pelan.
Ia mengangguk.
Seperti sebelumnya, aku berlutut di samping kursi rodanya.
Tanganku menyentuh kakinya perlahan.
Masih dingin.
Namun tidak sedingin pertama kali.
Aku mulai memijat.
Gerakan yang sama.
Ritme yang sama.
Namun perasaan… berbeda.
—
Beberapa menit berlalu.
Kami diam.
Namun kali ini, diam itu terasa… nyaman.
—
“Tadi di rumah sakit…”
Suara Adrian terdengar.
Aku tidak berhenti memijat.
“Iya?”
Ia terdiam sejenak.
“…Aku takut.”
Tanganku berhenti.
Perlahan aku mengangkat wajahku.
Menatapnya.
“Aku takut… kalau ini hanya sementara,” lanjutnya pelan. “Kalau ini hilang lagi.”
Aku terdiam.
Kalimat itu…
jujur.
Sangat jujur.
Aku menunduk sedikit.
Lalu kembali melanjutkan pijatan.
“Kalau hilang…” kataku pelan, “kita mulai lagi.”
Ia menatapku.
“Mulai lagi?”
Aku mengangguk kecil.
“Iya. Dari awal.”
Sunyi.
—
“Kalau gagal lagi?”
Aku tersenyum tipis.
“Ya… kita coba lagi.”
Ia mengernyit sedikit.
“Kamu tidak pernah capek?”
Aku berhenti sejenak.
Berpikir.
Lalu menjawab—
“Capek.”
Ia terlihat sedikit terkejut.
“Tapi…” lanjutku pelan, “aku lebih capek kalau tidak mencoba apa-apa.”
Sunyi.
Namun kali ini…
lebih dalam.
—
Aku kembali fokus pada pijatan.
Beberapa menit berlalu.
Dan lagi—
“Ada.”
Aku langsung berhenti.
Menatap kakinya.
Lebih jelas kali ini.
Lebih terasa.
Aku menahan napas.
“Adrian…”
Suaraku pelan.
Namun penuh keyakinan.
“Kamu rasain?”
Ia menutup matanya sebentar.
Fokus.
Lalu—
“…Iya.”
Suaranya lebih pelan dari biasanya.
Tapi…
jelas.
Aku tidak bisa menahan senyumku.
Bukan senyum kecil.
Tapi benar-benar… bahagia.
—
“Lebih jelas dari kemarin,” kataku.
Ia membuka matanya.
Menatapku.
Tatapannya… berubah.
Tidak lagi sekadar dingin atau tenang.
Tapi…
hangat.
—
“Alina.”
Aku menatapnya.
“Iya?”
Ia diam beberapa detik.
Lalu berkata—
“Kamu tidak perlu melakukan ini sendirian.”
Aku sedikit bingung.
“Hm?”
“Aku akan ikut berusaha.”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
“Berusaha?”
Ia mengangguk kecil.
“Terapi. Latihan. Apa pun yang diperlukan.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
—
Hari itu terasa seperti titik awal.
Bukan akhir.
Bukan hasil.
Tapi…
permulaan.
—
Malamnya, aku kembali ke kamarku.
Namun kali ini…
langkahku ringan.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Menatap foto ibu yang masih ada di meja.
Aku mengambilnya perlahan.
“Ibu…” bisikku pelan.
Mataku sedikit berkaca-kaca.
“Tadi… ada perubahan.”
Senyum kecil muncul di wajahku.
“Sedikit… tapi ada.”
Aku memeluk bingkai foto itu.
“Sepertinya… aku mulai melakukan sesuatu yang benar.”
Air mataku jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena sedih.
—
“Aku tidak sendirian lagi, Bu…”
Bisikku pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
Aku benar-benar mempercayai kalimat itu.
—
Di luar sana,
di rumah yang dulu terasa asing—
perlahan berubah.
Bukan karena kemewahannya.
Bukan karena ukurannya.
Tapi karena…
ada dua orang yang mulai belajar
untuk tidak berjalan sendiri lagi.
Aku sedang duduk di ruang keluarga kecil, membaca buku seperti biasanya, ketika Bibi Ratna datang membawa sebuah amplop berwarna hitam dengan aksen emas di pinggirannya.
“Nyonya,” katanya sopan, “ini undangan untuk Anda dan Tuan.”
Aku menutup bukuku perlahan. “Undangan?”
Bibi Ratna mengangguk, lalu menyerahkannya padaku.
Aku menerima amplop itu dengan hati-hati. Bahannya tebal, terasa mahal bahkan hanya dari sentuhannya saja. Namaku dan nama Adrian tertera rapi di bagian depan.
Perasaanku langsung tidak enak.
Aku membuka perlahan.
Dan begitu membaca isinya—
Dadaku langsung terasa sesak.
“Pesta ulang tahun Vanessa Pradipta.”
Tanganku sedikit menegang.
Vanessa.
Nama itu… lagi.
Aku menatap undangan itu lebih lama. Acara diadakan di hotel mewah, lengkap dengan dress code formal. Undangan khusus. Terbatas.
Eksklusif.
Aku menghela napas pelan.
“Dia mengundang…” gumamku lirih.
Bibi Ratna memperhatikanku. “Apakah Nyonya akan datang?”
Aku tidak langsung menjawab.
Beberapa detik aku hanya menatap undangan itu.
Lalu perlahan berkata,
“Di mana Tuan Adrian?”
“Di ruang kerja, Nyonya.”
Aku mengangguk kecil. “Aku akan menemuinya.”
—
Aku berjalan menuju ruang kerja dengan langkah pelan. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Tok.
Tok.
“Masuk.”
Aku membuka pintu dan masuk.
Adrian sedang duduk di belakang mejanya, seperti biasa, fokus pada laptopnya. Namun begitu aku masuk, ia langsung menutup layar laptopnya dan menatapku.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku berjalan mendekat, lalu meletakkan undangan itu di atas mejanya.
Ia meliriknya sekilas.
Dan hanya dalam satu detik, ekspresinya berubah.
Tidak banyak.
Tapi aku bisa melihatnya.
Dingin… menjadi lebih dingin.
“Dari siapa?” tanyanya, meski sepertinya ia sudah tahu.
“Vanessa,” jawabku pelan.
Sunyi.
Beberapa detik ia hanya menatap undangan itu.
Lalu ia menyandarkan punggungnya ke kursi roda.
“Abaikan saja,” katanya singkat.
Aku sedikit terkejut. “Tidak datang?”
“Tidak perlu.”
Jawabannya tegas.
Tanpa ragu.
Namun entah kenapa… aku tidak langsung setuju.
Aku menatap undangan itu lagi.
“Kalau kita tidak datang…” kataku pelan, “apa itu tidak akan menimbulkan masalah?”
Ia menatapku.
“Masalah apa?”
“Aku tidak tahu… tapi ini undangan resmi. Banyak orang penting mungkin akan datang.”
Ia menghela napas pelan.
“Vanessa tidak mengundang kita untuk menghormati,” katanya datar. “Dia mengundang untuk menunjukkan sesuatu.”
Aku mengerutkan kening sedikit. “Menunjukkan apa?”
Ia menatapku lurus.
“Bahwa dia masih punya kendali.”
Kata-katanya tenang.
Tapi jelas.
Aku terdiam.
Masuk akal.
Sangat masuk akal.
Aku menatap undangan itu lagi, lalu berkata pelan,
“Kalau begitu… bukankah justru kita harus datang?”
Adrian sedikit mengangkat alis.
“Kenapa?”
Aku menelan ludah pelan.
“Kalau kita tidak datang… berarti kita menghindar.”
Aku menatapnya.
“Dan kalau kita datang… berarti kita tidak takut.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Adrian menatapku lebih lama dari biasanya.
Seolah menilai kata-kataku.
“…Kamu berubah,” katanya pelan.
Aku sedikit terkejut.
“Berubah?”
Ia mengangguk kecil.
“Dulu kamu tidak akan mengatakan hal seperti itu.”
Aku menunduk sedikit.
“Dulu… aku juga tidak akan berani berpikir seperti ini.”
Sunyi lagi.
Lalu Adrian mengambil undangan itu, membukanya sekali lagi, membaca sekilas.
Kemudian menutupnya.
“…Baik,” katanya akhirnya.
Aku sedikit terkejut. “Kita datang?”
“Iya.”
Jawabannya singkat.
Tapi cukup membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Bukan karena senang.
Tapi karena… ini akan menjadi sesuatu yang besar.
Ia lalu menatapku lagi.
“Siapkan dirimu.”
Aku mengangguk pelan. “Iya.”
Namun sebelum aku berbalik, ia berkata lagi—
“Dan Alina…”
Aku menoleh.
“Jangan percaya apa pun yang dia lakukan nanti.”
Tatapannya tajam.
Serius.
Aku mengangguk.
“Iya.”
—
Malam pesta tiba lebih cepat dari yang aku bayangkan.
Aku berdiri di depan cermin di kamarku, mengenakan gaun yang sudah disiapkan oleh Bibi Ratna.
Gaun itu sederhana.
Tidak terlalu mencolok.
Tapi elegan.
Warna lembut yang tidak terlalu menarik perhatian.
Aku menatap diriku sendiri di cermin.
Jujur saja… aku gugup.
Sangat gugup.
Aku belum pernah datang ke acara seperti ini.
Belum pernah berada di dunia seperti itu.
Dan yang lebih membuatku tidak tenang—
Vanessa.
Aku tahu ini bukan sekadar pesta ulang tahun.
Ini… medan perang.
Perlahan aku menarik napas.
“Aku tidak sendiri…” bisikku pelan.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa itu.
Tok.
Tok.
“Nyonya,” suara Bibi Ratna terdengar. “Tuan sudah menunggu.”
Aku mengangguk, meski ia tidak bisa melihatku.
“Iya, Bi.”
Aku melangkah keluar kamar.
Dan di sana—
Adrian sudah menungguku di ujung lorong.
Ia mengenakan jas hitam rapi.
Wajahnya tenang seperti biasa.
Dingin.
Tapi kuat.
Aku berhenti beberapa langkah darinya.
Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
Beberapa detik.
Lalu berkata singkat—
“Cukup.”
Aku berkedip.
“Cukup?”
“Tidak berlebihan,” lanjutnya. “Bagus.”
Aku sedikit tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Ia memutar kursi rodanya pelan.
“Ayo.”
Aku berjalan di sampingnya.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku tidak berjalan di belakang.
Aku berjalan… sejajar.
—
Mobil berhenti di depan hotel mewah itu.
Lampu-lampu terang.
Mobil-mobil mahal.
Orang-orang berpakaian elegan keluar masuk dengan senyum sosial mereka.
Dunia yang sama sekali asing bagiku.
Seorang petugas membuka pintu mobil.
Aku turun pelan.
Lalu berdiri di samping Adrian.
Untuk sesaat, aku ragu.
Tapi kemudian—
Aku mengingat sesuatu.
“Kamu tidak perlu terbiasa sendirian.”
Tanganku bergerak perlahan.
Dan tanpa berpikir panjang—
Aku memegang pegangan kursi rodanya.
Mendorongnya dengan pelan.
Adrian sedikit terdiam.
Mungkin tidak menyangka.
Tapi ia tidak menolak.
Kami bergerak bersama menuju pintu masuk.
Dan begitu kami masuk—
Semua mata langsung tertuju pada kami.
Bisikan mulai terdengar.
“Itu Adrian…”
“Dia datang?”
“Dan itu… istrinya?”
Tatapan mereka berpindah padaku.
Menilai.
Membandingkan.
Aku menelan ludah pelan.
Tapi kali ini—
Aku tidak menunduk.
Aku tetap berjalan.
Mendorong Adrian dengan tenang.
Dan di ujung ruangan—
Aku melihatnya.
Vanessa.
Berdiri di tengah keramaian.
Cantik.
Mewah.
Dan tersenyum—
Begitu melihat kami.
Senyum yang sama seperti sebelumnya.
Senyum yang tidak tulus.
Senyum yang penuh rencana.
Dan saat itulah aku sadar—
Malam ini…
Bukan sekadar pesta ulang tahun.
Ini adalah permainan.
Dan aku…
Sudah masuk ke dalamnya.