NovelToon NovelToon
DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Romansa / Pihak Ketiga / Suami amnesia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:583.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Abang janji akan kembali ‘kan? Berkumpul lagi bersama kami?” tanya Meutia Siddiq, menatap sendu netra suaminya.

“Iya. Abang janji!” ucapnya yakin, tapi kenyataannya ....

Setelah kabar kematian sang suami, Meutia Siddiq menjadi depresi, hidup dalam kenangan, selalu terbayang sosok yang dia cintai. Terlebih, raga suaminya tidak ditemukan dan dinyatakan hilang, berakhir dianggap sudah meninggal dunia.

Seluruh keluarga, dan para sahabat juga ikut merasakan kehilangan mendalam.

Intan serta Sabiya, putri dari Meutia dan Ikram – kedua gadis kecil itu dipaksa dewasa sebelum waktunya. Bahkan berpura-pura tetap menjalani hari dimana sang ayah masih disisi mereka, agar ibunya tidak terus menerus terpuruk, serta nekat mau bunuh diri, berakhir calon adik mereka pun terancam meninggal dalam kandungan.

Dapatkah Meutia beserta buah hatinya melewati badai kehidupan?
Bagaimana mereka menjalani hari-hari berat itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 31

Tubuh Ikram bereaksi, wajahnya mulai pucat saat kinerja otak dipaksa lebih dari porsinya.

Arinta melongo, dia bergumam lirih. “Dokter? Dia Dokter?”

Petugas administrasi mulai paham, dia langsung mengganti pertanyaan dengan bahasa formal seperti kepada calon pasien lainnya. Hal tersebut berhasil membuat Ikram sedikit nyaman.

Byakta Nugraha mendekati petugas administrasi. “Tolong sampaikan kepada asisten pemilik rumah sakit, kalau Byakta Nugraha telah tiba. Sebelumnya saya sudah membuat janji temu.”

"Baik, pak. Mohon tunggu sebentar ya?” Gagang telepon langsung diangkat dan menyambungkan dengan kontak asisten pemilik rumah sakit.

Ekspresi wajah Ambu bertambah keruh, kenyataan ini sedikit demi sedikit membuatnya tidak nyaman. Seperti ditampar oleh fakta – kalau identitas pria yang pernah ditolong itu bukan dari kalangan biasa.

Abah berusaha menetralkan rasa terkejut. Bisa membuat janji langsung dengan asisten pemilik rumah sakit, berarti pria berwajah tegas mengenakan kaos longgar, celana kolor selutut ini adalah orang berkuasa.

Dzikri berbisik ke petugas administrasi. “Nanti ada wanita yang akan mengisi formulir ini. Dia istrinya Dokter Ikram Rasyid.”

“Baik, pak.” Angguknya, lagipula dengan pemberitahuan kalau pemeriksaan ini mungkin lewat jalur vip, langsung melibatkan pemilik rumah sakit, maka tak ada masalah. Dia pun mengenal dokter Ikram.

Setelah menunggu hampir lima menit, dari arah tangga. Seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri keluarga Meutia.

Deru napasnya terdengar kasar, dia baru saja menuruni anak tangga dari lantai tiga sampai bawah, dikarenakan lift selalu penuh.

Dia sedikit membungkukkan bahu. Jantungnya berdebar kencang bila berhadapan dengan pemilik saham lima persen di rumah sakit tempatnya bekerja. “Maaf, telah membuat juragan Byakta menunggu sedikit lama.

Byakta mengangguk singkat, lalu berjalan dibelakang sang asisten sahabatnya.

Rombongan itu naik lift yang sudah ditahan oleh petugas kebersihan.

***

Disinilah para anggota keluarganya Meutia, ada juga Ambu dan suaminya serta anak cucu.

Pria berumur lima puluh tahun lebih, sedang bercengkrama dengan Byakta Nugraha. Mereka sama-sama perintis selain juga memang pewaris tunggal kekayaan keluarga.

Beberapa saat kemudian, masuklah tiga orang berkisaran umur awal empat puluh tahunan. Mengenakan pakaian santai, dikarenakan ini hari Minggu, waktunya dokter spesialis libur.

“Dokter Ikram Rasyid? Alhamdulillah Anda masih hidup. Saya sempat tak percaya ketika dihubungi, dipinta datang untuk memeriksa kondisi rekan sejawat.” Salah satu dari mereka menghampiri Ikram yang menatap terkejut.

“Maaf, siapa yang Anda maksud dokter?”

“Astaghfirullah. Maafkan saya yang mulai pikun ini,” candanya. Seharusnya dia memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Perkenalkan, saya dokter Arif. Dokter ahli saraf.” Tangan kanannya terulur.

Ikram langsung berdiri, menyambut uluran tangan. “Saya … Ikram,” katanya ragu-ragu.

"Anda adalah seorang dokter umum, dokter Ikram Rasyid. Dulu pernah bertugas disini, kalau tak salah tiga tahun lamanya. Kemudian minta dimutasi ke kota kecil," beritahu dokter Arif.

Ekspresi Ikram sulit diterka, dia masih mencerna informasi mengejutkan ini.

Lalu, sosok lainnya bergantian mengulurkan tangan. “Saya dokter Ismail, seorang Psikiater. Tak lama lagi kita juga jadi rekan sejawat, karena Anda sedang menempuh program spesialis kedokteran jiwa (Psikiatri). Sudah separuh jalan.”

Informasi tambahan ini membuat Ikram termangu, sampai membutuhkan waktu menyambut uluran tangan itu. "Terima kasih atas informasinya, Dokter Ismail."

“Saya psikolog, Heri.” Dia menyalami hangat calon pasiennya.

Bukan cuma satu dokter, tapi tiga sekaligus. Melalui Byakta Nugraha – keluarga Meutia meminta penanganan khusus teruntuk Ikram Rasyid.

Ambu, seperti seseorang sesak napas. Matanya terus memperhatikan interaksi Ikram yang terlihat luwes berkenalan. Pria itu sangat berbeda ketika saat berada di kelurahan Sampan.

‘Dia terlihat bersinar, tidak kebanting dengan para dokter hebat itu,’ Arinta memuji sosok yang tidak disangka-sangka adalah seorang dokter, dan calon Psikiater.

Dia benar-benar tidak menyangka kalau pria kesehariannya sangat sederhana, bukanlah orang biasa.

Rasa kagum Abah bertambah, kini dia telah menemukan jawaban dari banyaknya pertanyaan, praduga, tentang sikap dan pembawaan diri seorang Ikram Rasyid.

Sesudah perkenalan singkat itu. Ikram dibawa ke bagian pemeriksaan menyeluruh pasien ( Medical Check-Up).

Dia akan menjalani serangkaian tes yang mencakup; pemeriksaan fisik, tes laboratorium (darah, urin), cek tekanan darah, pemeriksaan jantung, rontgen untuk mengetahui kondisi paru-paru, dan pemeriksaan lainnya.

Baru esok hari, dokter ahli saraf, psikiater, dan psikolog, akan menentukan pilihan cara penyembuhan terhadap dokter Ikram Rasyid.

.

.

Di lantai bawah, jemari Meutia bergetar saat mengisi formulir data diri suaminya. Dia hafal betul Nomor Induk Kependudukan, tanggal kelahiran Ikram.

Setelahnya mereka menyusul ke ruang pemeriksaan, tetap tidak menampakkan wajah, bersembunyi di tempat aman.

“Sabar sedikit lagi, Tia. Ini yang terbaik untuk Ikram, sebab dia takkan sanggup kalau kita memberikan kejutan bertubi-tubi, disaat otaknya mungkin ada jaringan saraf yang butuh ditangani tim medis.” Nirma memeluk bahu sahabatnya. Sebagai seorang mantan perawat, sedikit banyaknya dia tahu tentang kesehatan.

Meutia mengangguk, tersenyum lebar. Jenis senyum ikhlas, dia menerima kondisi ini. Tak mengapa untuk sementara waktu seperti bayangan mengikuti langkah suaminya. Semua itu demi kesembuhan ayah dari putra-putri mereka.

“Sepertinya masih lama selesainya, apa tak sebaiknya kita cari tempat nyaman. Nanti juga Dzikri pasti menemui dan mengatakan tentang pemeriksaan itu.” Dhien mengusulkan.

“Ke kantin saja. Kalian pasti lapar, kita pun belum ada makan siang.” Meutia memeluk lengan saudaranya.

Mereka lalu berjalan menuju kantin rumah sakit yang ada di lantai satu.

***

Ketiga wanita bersuamikan pria mapan, dan setia itu memesan menu sesuai selera.

Tidak lama kemudian – jus Alpukat, Mangga, Sirsak, memenuhi meja para wanita. Untuk menu makan siang, ada; soto, nasi sayur, nasi ayam.

Meutia makan dengan pikiran tertuju pada Ikram. Batinnya terus meyakinkan kalau suaminya itu pasti bisa melewati serangkaian tes menyakitkan tanpa mengalami kendala. Dan berharap hasilnya bagus.

‘Ya Rabb, kali hamba mohon – tolong berikan kesembuhan bagi bang Ikram. Mendengarnya berkata tak memiliki uang, hati hamba hancur, apalagi melihatnya berusaha menerima keadaan kalau semisal hasil tes kesehatan itu tidak sesuai harapan.’

Saat sedang menikmati makan siang, tiba-tiba Dhien menyenggol lengan Meutia. Mengode untuk melihat ke arah belakang tempat duduk mereka.

Meutia langsung menoleh, sorot matanya berubah tegas dengan raut kesal tertuju pada Arinta dan ibunya.

Hal sama pun dilakukan oleh Arinta, niat hati ingin makan siang. Malah ketemu dengan wanita yang mengaku-ngaku istrinya pria diinginkannya.

Ambu bertanya dengan tatapan aneh. Tidak biasanya Arinta memasang ekspresi kesal. “Ada apa, Rin? Mengapa berhenti ...?”

"Dia wanita yang mengaku-ngaku istrinya Yunus, Ambu. Dia juga yang menghalangiku kala hendak memaksa papanya Denis pulang ke kelurahan Sampang." Di belakang tubuh, tangan Arinta mengepal.

"Ayo kita datangi dia! Karenanya keadaan jadi rumit!"

.

.

Bersambung.

Alhamdulillah, cover nya udah diganti lagi. Yang kemarin aku kurang sreg 🥰

1
syamil mauza
semoga liburan ini membuat mereka bertemu
Cublik: Aamiin ❤️
total 1 replies
syamil mauza
😭😭😭😭,,panen bawangnya Lom kelar ya thor
syamil mauza
😭😭😭,ga tega liat Muthia sama intan
meisan
😭😭😭😭😭
meisan
baru juga baca udah banyak bawang nya 😭😭
Sri Wahyuni
selalu keren 👍👍👍👍 walopun diawal" penuh air mata, tp berakhir bahagia.. terimakasih bnyk" kakak 😍😍😍😍🩷🩷🩷
Cublik: Terima kasih, Kakak ❤️
total 1 replies
Sri Wahyuni
ga sabar liat kata" pedas dr mutia, biar kembali ke setelan awal, cwe tangguh 💪💪🫰🫰
Susi Lawati
ya Alloh kak cub, di cerita ini benar2 menguras air mata sedih banget, setiap kata2, setiap do'a yg di langitkan oleh intan Mak jleb banget ke hati, tapi disini sebuah pembuktian kalau ikram dan Meutia berhasil mendidik anak2 nya menjadi anak yg Sholihah, baik Budi pekerti, walau sikap intan sering buat mamaknya naik darah tapi pada sebenarnya intan anak yg lembut hatinya, terbukti ketika di hadapkan dengan ujian yg begitu berat, intan bisa bersikap bijak tidak menampakan kesedihan nya di hadapan adik2nya dan mamaknya berusaha tegar, kuat padahal dia juga sama rapuhnya, pokoknya cerita luar biasa.....love love banyak buat ka cub 🥰
Susi Lawati: sama sama kakak cublik 🥰
total 3 replies
Sri Wahyuni
cerita tia ini mengandung bawang dr bab 1 sampe sini masih buat sedih 😭😭😭😭😭😭
Sri Wahyuni
lanjut ksini kak 🫰🫰🫰🫰
Anonymous
Serius aku gak suka Bang Ikram menyayangi ansk orang lain
Anonymous
Gak rela ....Ikram peduli dgn anak orang kain sedangkan anaknya sendiri menangis bberdarah"mendoakan ayahnya yg hilang
Anonymous
Gak rela .....ada wsnita lain dihidup Ikram
Kasian Tia dan anak"nya
Anonymous
Aku rasa anak kak Din dan kak Mutia akan jadi rintenir darat🤭🤭🤭
Anonymous
Haa bang Ikram salah ucap ya ...."kok bisa"
Hm
Anonymous
Gadis anggun kesayangan abang 🤭
Abinaya Albab
maaf lupa kasih bintang 😘
Cublik: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Anonymous
Akal bulus rinta anaknya buat alasan
dasar wsnita taktahu malu
Hafifah Hafifah
🤔🤔🤔🤔 kayaknya bener deh Tia dia g pernah menikah
Hafifah Hafifah
benar banget tuh tebakan mu tia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!