Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 Misi Sampingan
(tolong Baca dari awal ya gaes, nggk di baca juga nggak papa, yang penting jangan di skip ya, bia retensi tetap stabil dan otor bisa up kelanjutannya 🙏🙏)
Alneo mendapatkan potion penyembuhan dari sistem, dan ia pun menyentuh potion tersebut lalu memakainya.
Tiba-tiba saja, Sebuah kehangatan yang luar biasa nyaman tiba-tiba menjalar dari pusat dada Alneo, mengalir cepat ke seluruh pembuluh darahnya.
Rasa sakit yang membakar di otot-otot kaki dan kelumpuhan akibat kehabisan energi sembuh dalam hitungan detik.
Napasnya kembali teratur dan segar, seolah ia baru saja bangun dari tidur yang nyenyak.
Alneo mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang kembali pulih, bahkan terasa lebih kuat dari sebelumnya.
"Kakak!" teriak Riani terkejut saat melihat Alneo sudah siuman dan meletakkan minuman yang ia ambil dari sumur dengan daun pisang menghampiri kakaknya
"Kakak sudah bangun, syukurlah," kata Riani merasa lega dan memberikan minuman dari daun pisang tersebut.
"Kakak, minumlah," kata Riani.
"Terima kasih Riani," kata Alneo meminum air tersebut, meskipun rasanya sedikit asem, tapi ia tetap meminumnya untuk menghargai jerih payah sang adik.
Setelah minum, Ia kembali berdiri. "Kita harus terus bergerak. Jika kita lama di sini, kita pasti akan tertangkap."
Riani mengangguk cepat. Ia meraih tangan kanan Alneo, menggenggamnya dengan sangat erat seolah takut jika ia melepaskannya.
"Kita... tidak akan pulang ke rumah lagi, kan Kak?" tanya Riani lirih.
"Rumah itu... bukan rumah kita lagi sejak Ayah melakukan ini," katanya sendu.
Alneo terdiam sesaat. Tatapannya menatap Riani.
Mengingat wajah ayahnya yang dengan tega menjual adiknya demi uang judi membuat hati Alneo marah dan sakit.
Rasa hormatnya sebagai seorang anak telah mati!
"Tidak, Riani. Kita tidak akan pernah kembali ke rumah itu. Mulai hari ini, hanya ada kau dan Kakak. Dan Kakak bersumpah, siapa pun yang berani mengusik kehidupan kita lagi... mereka harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal," ucap Alneo. Suaranya rendah, namun sarat dengan tekad yang dingin.
"Tapi, Kak... barang-barang kita..."
"Jangan pikirkan itu lagi. Keselamatanmu jauh lebih berharga dari rongsokan di rumah itu. Ayo kita pergi." kata Alneo tegas. Ia menggenggam jemari adiknya dengan erat. .
Mereka segera bergegas meninggalkan tempat tersebut untuk mencari jalan raya utama.
Alneo menuntun adiknya setengah berlari, menyusuri jalan-jalan tikus.
Sebuah layar hologram biru yang redup mendadak berkedip.
"Sistem, tunjukkan jalan raya terdekat yang aman!" perintah Alneo dalam hati.
[Perintah Diterima. Mengunduh Peta Topografi Lokal...]
"Sistem Medis Mandiri: Menginisialisasi Navigasi Lingkungan...]
Wusss.
Sebuah peta digital transparan membentang di depan matanya. Di atas peta itu, sebuah titik biru berkedip pelan, itu adalah posisi ia dan Riani
"Kak Alneo?" Riani mendongak. Langkah kakinya agak melambat saat menyadari tatapan kakaknya sempat kosong selama beberapa detik.
Ia menatap wajah Alneo dengan dahi berkerut, seolah sedang mencari sesuatu yang berbeda dari sang kakak.
"Ya, Riani? Ada apa? Kakimu sakit?" tanya Alneo, langsung menurunkan pandangannya penuh perhatian.
"Bukan... Kakak... sudah tidak apa-apa? Tadi Kakak kelihatan pucat sekali, seperti... seperti orang pikirannya kosong. Riani takut sekali," kata Riani menatap kakaknya sedikit ngeri.
Alneo sesaat tertegun. Alneo tersenyum tipis, lalu mengacak rambut Riani dengan lembut untuk mengusir kecemasan bocah itu.
"Iya, Riani. Kakak sudah tidak apa-apa, lihat? Rasa sakit dan lelahnya mendadak hilang begitu saja karena melihatmu aman. Kakak sekarang jauh lebih kuat dari yang kamu bayangkan," kata Alneo merentangkan sebelah tangannya.
Riani mengembuskan napas lega. "Benar ya? Kakak tidak sedang berbohong dan menahan sakit, kan?"
"Kapan Kakak pernah membohongi putri kecil Kakak, hm?" Alneo terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Sekarang, fokus kita adalah menjauh dari sini. Kita harus cari kos-kosan untuk tempat tinggal baru kita."
"Kos-kosan? Tapi... kita tidak punya uang, Kak," kata Riani ragu. "Uang Kakak kan sudah habis di ambil ayah. Kita mau bayar pakai apa?"
"Kakak punya uang, jadi jangan khawatir. Kita akan tinggal di tempat yang aman dan layak," kata Alneo, nadanya begitu meyakinkan hingga Riani terdiam.
"Benarkah? Kakak dapat uang dari mana?" tanya Riani penuh rasa penasaran, takut jika kakaknya melakukan hal yang berbahaya.
Alneo mengetuk pelan dahi adiknya. "Ada dewa penolong yang memberikan Kakak modal untuk memulai hidup baru. Tugasmu sekarang hanya percaya pada Kakakmu ini. Oke?"
Riani mengerucutkan bibirnya, namun akhirnya mengangguk. "Janji ya, Kakak tidak akan melakukan hal berbahaya lagi?"
"Janji," ucap Alneo tegas.
mereka pun kembali berjalan untuk menuju jalan utama.
Sebuah notifikasi baru dari sistem hologramnya yang berkedip cepat.
Ting!
[Misi Sampingan Diaktifkan]
[Temukan Tempat Berlindung.]
[Status misi: Sedang berlangsung]
Alneo menyeringai tipis. "Sistem ini benar-benar tahu apa yang aku butuhkan," batinnya.
"Ayo, Riani. Jalan raya sudah dekat. Kehidupan baru kita dimulai ini," ujar Alneo sambil menggandeng erat tangan adiknya, melangkah mantap menuju titik biru di petanya.