【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Malam telah mencapai puncaknya, menyisakan kesunyian yang begitu pekat merayap di setiap sudut Desa Sukamaju. Seluruh penghuni rumah sudah lama terbuai dalam mimpi masing-masing. Pak Rahman, Bu Aminah, Lisa, dan Rika bersama bayinya telah terlelap, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Namun, ketenangan itu tidak berlaku di ruang tengah. Di sana, satu-satunya sumber kehidupan hanyalah seberkas cahaya biru yang berpendar dari layar ponsel. Fandi masih terjaga, duduk meringkuk di sudut lantai dengan ibu jari yang bergerak lincah, tenggelam sepenuhnya dalam dunia *game online* yang tidak ada habisnya.
Di dalam kamarnya, Tina yang semula tertidur lelap tiba-tiba terbangun. Tenggorokannya terasa kering dan mencekat, memaksanya untuk membuka mata di tengah kegelapan. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, ia berjalan menuju dapur. Setelah meneguk segelas air dingin yang membasahi kerongkongannya, pandangan Tina beralih pada jam dinding usang yang tergantung di dekat rak piring. Jarum pendeknya tepat menunjuk ke angka dua subuh.
Tina terdiam sejenak di kegelapan dapur. Alih-alih langsung kembali ke tempat tidur, ada bisikan di hatinya yang menuntun langkahnya menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri, membasuh wajahnya yang lelah, lalu mengambil air wudhu dengan khusyuk. Air subuh yang dingin seolah menembus hingga ke dalam pori-porinya, menghadirkan ketenangan batin yang magis.
Kembali ke kamar, Tina mengenakan mukenah putih bersihnya. Di atas sajadah yang tergelar, ia bersujud panjang dalam salat sunnah tahajud, menumpahkan segala sesak, kebingungan, dan beban hidup yang selama ini tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Setelah menutup salatnya dengan doa yang panjang, Tina mengambil Al-Qur'an kecilnya, mengaji dalam rona suara yang lirih, membiarkan ayat-ayat suci itu mengalun menjadi penyejuk jiwanya.
Selesai beribadah, Tina tidak langsung berbaring untuk tidur. Ia melipat sajadahnya perlahan, namun matanya menatap celah di bawah pintu kamar yang masih memancarkan cahaya lampu ruang tengah. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, dengan masih mengenakan mukenah putihnya, Tina membuka pintu dan melangkah keluar mendatangi Fandi.
"Fandi..." panggil Tina lirih.
"Astaghfirullah!" Fandi terlonjak kaget, ponsel di tangannya hampir saja terlepas. Ia menatap ke depan dengan mata membelalak, dadanya kembang kempis karena jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak, di tengah rumah yang remang-remang pada pukul dua subuh, tiba-tiba muncul sesosok wanita bermukenah putih bersih tepat di hadapannya. "Apaan sih, Kak?! Bikin kaget saja! Kalau aku punya penyakit jantung, sudah mati aku sekarang!" umpat Fandi ketus, mencoba menutupi rasa terkejutnya.
Tina tidak membalas umpatan itu dengan kemarahan. Dengan gerakan tenang, ia melipat kakinya dan duduk di lantai tepat di hadapan adik laki-lakinya itu. Suasana mendadak menjadi canggung.
"Apa kamu tidak capek hidup kayak gitu terus, Fan? Buang-buang waktu saja," buka Tina, suaranya terdengar datar namun sarat akan keprihatinan yang mendalam. "Coba kamu pikir baik-baik... kamu itu sudah dewasa sekarang. Kamu anak laki-laki satu-satunya Abah di rumah ini. Suatu hari nanti, beban rumah ini akan berpindah ke pundakmu."
Fandi mendengus malas, matanya kembali beralih pada layar ponsel yang menampilkan visual permainan yang ramai. "Ngomong apaan sih malam-malam begini? Kurang kerjaan sekali," sahutnya acuh tak acuh, jarinya kembali menekan-nekan layar dengan kasar.
Tina menghela napas panjang melihat respons adiknya yang begitu bebal. Di dalam dadanya, ada denyut ketakutan yang samar yang selalu ia rasakan setiap kali mencoba berbicara serius dengan Fandi. Ada trauma kecil di sana; ia takut jika ia salah berucap atau terlalu menekan, adiknya yang bertubuh lebih besar itu akan tiba-tiba mengamuk dan merusak barang-barang dan membanggakan orang rumah.
Akhirnya, Tina memilih terdiam. Ia tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan hanya menatap wajah adiknya dalam-dalam. Di bawah temaram lampu ruang tengah, sepasang mata Tina menatap Fandi dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa sedih, kecewa, dan kebingungan yang membuncah. Tina benar-benar tidak habis pikir, mengapa adik laki-lakinya bisa berakhir menjadi sosok yang sekasar dan semalas ini.
Padahal, ingatan masa lalu berputar di kepala Tina. Fandi dulu adalah anak yang berbakat. Dia adalah alumni sebuah pesantren terkenal di kota kabupaten. Abah dan Ibu sampai harus berhemat mati-matian demi membiayai sekolah agamanya di sana. Namun, harapan besar itu hancur berantakan ketika Fandi justru terpengaruh pergaulan buruk di pondok, melanggar aturan berat, hingga akhirnya dikeluarkan secara tidak hormat sebelum sempat menamatkan pendidikannya. Waktu itu, keluarga mereka menanggung malu yang luar biasa. Pak Rahman harus ponten-panting mencari sekolah tampungan biasa di desa tetangga demi menyelamatkan masa depan Fandi, agar anak itu setidaknya bisa mendapatkan selembar ijazah SMA. Tapi sayangnya, ijazah itu kini hanya menjadi pajangan tak berguna di dalam laci.
Fandi yang sedang fokus bermain *game* mendadak merasa risih. Saraf di punggungnya menegang karena merasa diawasi dengan begitu intens. Seolah-olah sedang ditatap oleh hantu di tengah malam, Fandi akhirnya menghentikan aktivitas jarinya dan menurunkan ponselnya dengan kesal.
"Kalau ada yang mau diomongin, bilang aja cepat! Tidak usah melihatiku seperti itu!" sergah Fandi kasar.
Sentakan Fandi menyadarkan Tina dari lamunan masa lalunya. Ia mengerjapkan mata, mencoba menguasai diri. "Itu... tadi siang, Pak David menawarkan pekerjaan di kantor grosirnya di kecamatan. Bagian administrasi. Kakak sempat terpikir untuk menawarkan itu padamu. Kalau kamu mau berubah dan berniat kerja, besok Kakak bisa datang ke rumah Pak David untuk menanyakannya lebih lanjut."
Tina menatap Fandi penuh harap, berharap ada binar ketertarikan atau sedikit saja rasa tanggung jawab yang terusik di mata adiknya. Namun, realitas kembali menamparnya.
Fandi hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu mengeluarkan suara pendek, "Oh."
Setelah itu, tanpa beban, ia kembali mengangkat ponselnya, memakai kembali *earphone*-nya, dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda seolah-olah tawaran pekerjaan yang bisa mengubah hidupnya itu tidak lebih penting dari sebutir debu.
Tina yang melihat reaksi dingin dan keras kepala adiknya hanya bisa membisu. Tidak ada gunanya lagi berbicara pada dinding batu yang bebal. Tanpa berkata apa-apa lagi, Tina bangkit berdiri. Dengan hati yang semakin berat dan kecewa, ia melangkah pelan kembali menuju kamarnya, mengunci pintu, dan membiarkan sisa malamnya larut dalam kepasrahan.
Esok paginya, matahari kembali terbit membawa rutinitas yang sama. Setelah menyelesaikan urusan domestik rumah yang tiada habisnya, Tina berangkat ke sekolah PAUD seperti biasanya. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan desa yang mulai ramai oleh aktivitas warga. Udara pagi itu cukup segar, namun pikiran Tina masih sedikit berkabut akibat obrolannya dengan Fandi semalam.
Saat langkah kakinya melewati depan pekarangan rumah Ibu Yuna, pandangan Tina teralihkan. Rumah panggung itu tampak sedang kedatangan tamu. Di bawah naungan pohon mangga yang rindang di halaman rumah Ibu Yuna, terparkir sebuah kendaraan yang sangat mencolok. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap, bersih tanpa noda, tampak begitu kontras dan asing di antara lingkungan pedesaan yang berdebu.
Tina menghentikan langkahnya sejenak, melirik sekilas ke arah mobil mewah tersebut. Alisnya bertaut, dahinya berkerut mencoba mengingat sesuatu. *“Sepertinya aku pernah lihat mobil itu... tapi entah di mana, ya?”* batin Tina dalam hati. Pikirannya mencoba memutar memori beberapa hari lalu, ia teringat akan mobil yang sempat ia lihat secara samar-samar di dekat kebun cokelat, namun ia tidak berani berspekulasi lebih jauh.
Tak ingin dituduh tidak sopan karena memandangi rumah orang terlalu lama, Tina segera menggelengkan kepalanya, mengusir rasa penasaran itu, dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju sekolah dengan langkah yang dipercepat.
Namun, apa yang tidak disadari oleh Tina adalah, di balik kaca mobil SUV yang gelap dan tertutup rapat itu, seseorang sedang duduk diam. Sepasang mata yang tajam, dingin, namun penuh dengan ketertarikan yang intens, sejak tadi tidak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Tina dari kejauhan. Pemuda itu—Andry—memperhatikan bagaimana hijab Tina yang sedikit tertiup angin pagi, bagaimana cara gadis itu berjalan dengan anggun meski hanya mengenakan pakaian sederhana, dan bagaimana binar ketegaran tetap terpancar dari wajahnya yang lelah.
Andry menyandarkan punggungnya pada kursi kemudi yang empuk, sebuah senyuman misterius kembali terukir di sudut bibirnya. Kunjungannya ke rumah Ibu Yuna pagi ini tentu bukan tanpa alasan. Ia sedang mengumpulkan kepingan informasi, menyusun rencana dengan sangat rapi. Tanpa Tina sadari, sepasang mata di dalam mobil asing itu adalah sosok yang memegang kunci takdir baru—sebuah takdir besar yang sebentar lagi akan mengetuk pintunya dan mengubah seluruh alur kehidupannya yang rumit selamanya.