NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 4 : PERDEBATAN DI MEJA MAKAN KELUARGA BASKARA

Pagi hari yang cerah menyiram kediaman megah keluarga Baskara dengan cahaya keemasan. Tepat pukul tujuh pagi, aroma harum dari nasi goreng mentega, roti panggang, dan kopi hitam yang pekat sudah menyeruak di dalam ruang makan yang bernuansa klasik modern. Lantai marmer putih yang berkilau memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal di atas meja makan panjang berbahan kayu jati pilihan.

Di sana, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi. Di ujung meja, duduk sang putra sulung sekaligus kepala keluarga saat ini, Raditya Evan Baskara (29 tahun). Pria itu adalah Direktur Utama di Rumah Sakit Pusat Harapan Medika, sebuah rumah sakit swasta terbesar dan paling terkenal yang merupakan milik keluarganya sendiri. Raditya adalah sosok pria yang sangat tampan dengan kulit putih bersih. Keunikan yang paling memikat dari wajahnya yang tegas adalah sepasang lesung pipi yang dalam di kedua pipinya, yang sayangnya sangat jarang terlihat karena ia selalu memasang ekspresi dingin dan kaku.

Di sebelah kanannya, duduk sang adik laki-laki, Dimas Narendra Baskara (27 tahun). Berbeda dengan Raditya yang bergelut di dunia medis, Dimas memilih jalur akademis dan saat ini sudah menjabat sebagai Rektor di Universitas Megah Bangsa, sebuah kampus swasta paling terkenal di kota itu. Dimas juga memiliki wajah yang sangat tampan dengan pembawaan yang lebih santai dan ramah.

Di sebelah kiri Raditya, duduk adik bungsunya, Amanda Khanza Baskara (25 tahun). Amanda adalah seorang desainer baju terkenal di kota itu yang rancangannya selalu menjadi langganan para artis papan atas. Wajahnya cantik jelita dan sifatnya paling jahil di antara mereka bertiga.

Sementara itu, di kepala meja yang lain, duduk sang ibu tercinta, Ambarwati Baskara (54 tahun). Sejak sang suami tercinta, Suryadi Baskara, meninggal dunia empat tahun yang lalu karena sakit jantung yang dideritanya, Ambarwati menjadi pusat dari keluarga ini. Ketiga anaknya sangat menghormatinya dan selalu memanggilnya dengan sebutan "Mommy".

Suasana meja makan yang awalnya tenang hanya diiringi suara dentingan sendok dan garpu, mendadak berubah tegang ketika Ambarwati meletakkan cangkir tehnya perlahan lalu berdeham.

"Radit," panggil Ambarwati, tatapannya terfokus tajam pada putra sulungnya yang sedang mengunyah sepotong roti gandum.

"Iya, Mommy? Ada apa?" tanya Raditya, menghentikan gerakannya lalu menatap sang ibu dengan sopan.

Ambarwati tersenyum manis. Sebuah senyuman yang langsung membuat firasat Raditya mendadak menjadi tidak enak. "Mommy sudah memikirkan hal ini matang-matang. Umurmu sudah dua pukul sembilan tahun, Radit. Sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu. Teman Mommy, Jeng Larasati, punya anak perempuan yang sangat cantik dan berpendidikan tinggi namanya Natasha Olivia Renata. Mommy berencana menjodohkanmu dengan Natasha minggu depan."

Uhuk! Uhuk!

Raditya langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia segera mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Wajah tampannya yang putih bersih seketika berubah menjadi masam. Lesung pipinya yang menawan tenggelam di balik raut wajahnya yang mendadak kusut.

"Mommy, Radit tidak mau," tolak Raditya dengan tegas tanpa ragu-ragu sedikit pun. "Radit tidak suka di jodohkan seperti ini. Ini sudah zaman modern, Mom, bukan zaman Siti Nurbaya lagi di mana anak harus menerima pilihan orang tuanya mentah-mentah!"

Mendengar penolakan keras dari sang abang, Dimas yang sedang mengunyah nasi goreng langsung meledakkan tawa kecilnya. "Bwahaha! Rasakan itu, Mas Radit! Zaman sekarang masih saja ada drama perjodohan. Kasihan sekali Pak Direktur Utama kita ini."

Amanda tidak mau kalah. Ia ikut tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, sengaja meledek kakaknya yang selalu bersikap sok jantan di rumah sakit. "Hahaha! Benar kata Mas Dimas, Mom! Lihat wajah Mas Radit, langsung sepet begitu seperti mangga muda! Lagipula, tipe wanita pilihan Mommy pasti yang sosialita kaku. Mas Radit kan sudah kaku seperti kanebo kering, kalau ditambah perempuan kaku, rumah ini bisa jadi museum patung!"

"Dimas! Amanda! Diam kalian berdua, jangan ikut campur!" bentak Raditya, matanya mendelik tajam ke arah kedua adiknya yang masih asyik mentertawakannya.

"Dimas, Amanda, jangan meledek abangmu," tegur Ambarwati, meskipun matanya sendiri berkilat jenaka. Namun, ia kembali menatap Raditya dengan serius. "Radit, Natasha itu model papan atas. Dia baik, sopan, dan keluarganya setara dengan kita. Kenapa kamu langsung menolak sebelum bertemu?"

"Mommy, tolong mengerti Radit," Raditya menghela napas panjang, mencoba mengontrol suaranya agar tetap terdengar tenang namun penuh penekanan. "Radit tidak mau dan tidak akan pernah mau menikah karena terpaksa. Urusan pasangan hidup, biarkan Radit yang menentukan sendiri."

Ambarwati mengernyitkan dahinya, melipat kedua tangannya di atas meja. "Mau menentukan sendiri bagaimana, Radit? Sampai umurmu dua puluh sembilan tahun begini, Mommy bahkan tidak pernah melihatmu membawa satu pun teman perempuan ke rumah ini. Jangankan pacaran, dekat dengan rekan dokter perempuan di rumah sakit saja kamu selalu ketus dan menjaga jarak! Mau sampai kapan Mommy menunggu?"

Dimas menyenggol lengan Amanda, lalu berbisik dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh seluruh meja. "Nda, kayaknya Mas Radit kita ini sebenarnya tidak tertarik sama perempuan deh. Makanya di rumah sakit dia cuma fokus sama jarum suntik dan berkas pasien."

"Ih, Mas Dimas jangan sembarangan! Tapi... bisa jadi sih, habisnya aku tidak pernah lihat Mas Radit matanya jelalatan kalau ada model cantik datang ke butikku," sahut Amanda sambil cekikikan, menutup mulutnya dengan serbet.

Raditya mengepalkan tangan di bawah meja. Telinganya memerah karena kesal terus-menerus diledek oleh kedua adiknya. Dalam keadaan terdesak dan demi menghentikan rencana perjodohan gila ibunya, otak jenius Raditya langsung berputar cepat mencari alasan.

"Siapa bilang Radit tidak punya pacar?!" seru Raditya dengan suara lantang, membuat tawa Dimas dan Amanda seketika terhenti. Ambarwati pun tampak terkejut.

"Oh ya? Siapa?" tanya Ambarwati dengan nada meragukan.

Raditya menegakkan punggungnya, menatap ibunya dengan pandangan penuh percaya diri, meskipun di dalam hatinya ia sedang merutuki kebohongannya sendiri. "Radit... Radit sebenarnya sudah punya pacar, Mom."

"Hah?! Serius, Mas?!" Dimas melotot, hampir saja menjatuhkan sendoknya ke atas piring. "Jangan bohong ya! Sejak kapan seorang Raditya Evan Baskara punya pacar? Hantu dari laboratorium rumah sakit ya?"

"Diam, Dimas!" ketus Raditya. Ia kemudian kembali menatap ibunya dan mulai mengarang cerita fantasi yang luar biasa demi meyakinkan sang Mommy. "Dia bukan hantu, Dimas. Pacar Radit itu... dia sangat cantik. Cantik sekali seperti bidadari yang turun dari langit! Matanya... matanya berwarna biru jernih, sangat indah dan langka. Kulitnya putih bersih, pembawaannya sangat tegas, mandiri, dan dia wanita yang sangat terhormat!"

Raditya terus memuji sosok perempuan imajiner itu habis-habisan di depan keluarganya. Ia mendeskripsikan wanita itu dengan kata-kata yang begitu puitis dan penuh pujaan, seolah-olah ia sedang jatuh cinta setengah mati. Padahal, kenyataan yang sebenarnya sangat berbanding terbalik dan luar biasa lucu. Sepanjang hidupnya selama 29 tahun, Raditya sama sekali tidak pernah berpacaran! Jangankan berpacaran, menyentuh tangan perempuan yang bukan pasien atau ibunya saja hampir tidak pernah ia lakukan karena sifatnya yang terlalu perfeksionis dan kaku.

Dimas dan Amanda saling berpandangan dengan tatapan tidak percaya, sementara Ambarwati menyipitkan matanya, mencoba mencari kebohongan di balik binar mata putra sulungnya.

"Mata biru? Cantik seperti bidadari?" Ambarwati mengulang kata-kata Raditya dengan nada sangsi. "Radit, kamu tidak sedang mengarang cerita hanya untuk menghindari Natasha, kan?"

"Tentu saja tidak, Mommy! Untuk apa Radit berbohong?" bohong Raditya dengan wajah paling meyakinkan yang bisa ia pasang. "Dia benar-benar pacar Radit. Kami sudah berhubungan beberapa waktu ini, hanya saja Radit sengaja belum membawanya ke rumah karena dia sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang profesional."

Amanda menopang dagunya, menatap abangnya dengan senyuman menyelidik. "Wah, kalau memang benar dia secantik bidadari dan bermata biru, kenapa Mas Radit tidak bawa dia ke sini malam minggu besok? Kami semua mau lihat, apakah bidadari itu nyata atau cuma khayalan Mas Radit yang kesepian karena terlalu lama jomblo, hahahaha!"

"Benar kata adikmu, Radit," sahut Ambarwati dengan senyuman penuh kemenangan. "Bawa perempuan bermata biru itu ke rumah ini dalam waktu dekat. Kalau dalam dua minggu kamu tidak bisa membawanya ke hadapan Mommy, maka perjodohan dengan Natasha akan tetap Mommy laksanakan tanpa ada penolakan lagi!"

Raditya menelan ludahnya dengan kasar. Kamar perang yang ia ciptakan sendiri kini berbalik menjebak dirinya. Dua minggu? Dari mana ia bisa menemukan wanita bermata biru yang cantik seperti bidadari dan mau berpura-pura menjadi pacarnya dalam waktu singkat di kota ini?

"Baik, Mom. Radit akan bawa dia ke sini secepatnya," jawab Raditya dengan nada angkuh yang dipaksakan, berusaha menjaga harga dirinya di depan adik-adiknya yang kembali tersenyum meledek.

Sarapan pagi itu berakhir dengan pikiran Raditya yang mendadak berkecamuk hebat. Pria berusia 29 tahun yang biasanya sangat tenang saat menghadapi operasi bedah darurat di rumah sakit, kini merasa sangat frustrasi hanya karena sebuah kebohongan yang ia ciptakan sendiri di meja makan.

Setelah ketegangan pembicaraan tentang perjodohan itu mereda, piring-piring di meja makan pun sudah mulai kosong. Raditya Evan Baskara melirik jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Ia harus segera bergegas karena ada jadwal rapat penting dengan jajaran direksi dan para dokter spesialis di Rumah Sakit Pusat Harapan Medika tepat pukul delapan lewat lima belas menit.

Raditya mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri. Ia merapikan jas dokter berwarna putih bersih yang tersampir di lengan kursinya, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat berwibawa.

"Mommy, Radit berangkat ke rumah sakit dulu ya. Ada rapat direksi pagi ini," pamit Raditya sambil melangkah mendekati Ambarwati Baskara. Ia membungkuk hormat, meraih tangan ibunya, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan penuh takzim. "Assalamualaikum, Mom."

"Waalaikumsalam. Ingat janji kamu ya, Radit. Dua minggu dari sekarang, bawa pacar bidadari bermata birumu itu ke rumah ini. Kalau tidak, siap-siap Mommy panggil Jeng Larasati dan Natasha ke sini," sahut Ambarwati dengan senyuman penuh kemenangan, sengaja kembali menekan putra sulungnya.

Raditya hanya bisa tersenyum masam mendengar ancaman halus ibunya. "Iya, Mommy. Radit ingat."

Melihat abangnya bersiap pergi, Dimas Narendra Baskara dan Amanda Khanza Baskara pun ikut menyusul berdiri. Mereka berdua juga bergantian mencium punggung tangan sang Mommy dengan takzim dan mengucapkan salam sebelum akhirnya berjalan beriringan mengekor di belakang Raditya menuju ke area parkir depan rumah mewah mereka.

Begitu melangkah keluar dari pintu utama dan tiba di area parkir yang luas, suasana tenang langsung pecah. Di sana, berjejer tiga mobil mewah milik Baskara bersaudara. Sebuah mobil sport Mercedes-Benz milik Raditya, mobil sedan BMW hitam milik Dimas, dan sebuah Mini Cooper merah milik Amanda.

Dimas mempercepat langkah kakinya hingga berhasil menyejajari posisi Raditya. Dengan wajah yang dipenuhi seringai usil, ia langsung menyenggol lengan kakaknya.

"Mas Radit! Wah, parah sih. Hebat banget kamu ya sekarang," goda Dimas dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan. "Sejak kapan seorang Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Harapan Medika yang terkenal kaku seperti batu es ini bisa punya pacar? Mana speknya tidak main-main lagi, bidadari bermata biru! Di Jakarta ini cari cewek bermata biru asli di mana coba? Kamu tidak sedang berpacaran dengan boneka manekin dari butiknya Amanda, kan? Hahaha!"

Amanda yang berjalan di sisi lain langsung ikut menimpit kakaknya dengan tawa yang tidak kalah renyah. "Hahaha! Benar kata Mas Dimas, Mas Radit! Jangan-jangan Mas Radit cuma halusinasi karena terlalu sering mencium bau obat bius di ruang operasi? Coba kasih tahu aku, siapa namanya? Biar aku bisa rancangkan baju pengantin bertema negeri dongeng untuk bidadari bermata birumu itu!"

Mendengar rentetan ledekan dari kedua adiknya yang terus saja memojokkannya sejak di meja makan, Raditya langsung menghentikan langkah kakinya secara mendadak tepat di samping pintu mobil Mercedes-Benz miliknya. Ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu memberikan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin ke arah Dimas dan Amanda.

"Dimas! Amanda! Bisa tidak kalian berdua diam?!" bentak Raditya dengan suara baritonnya yang tegas, mencoba memasang wajah semenakutkan mungkin seperti saat ia sedang menegur para dokter residen yang melakukan kesalahan di rumah sakit. "Urus saja pekerjaan kalian masing-masing! Dimas, kamu itu seorang rektor, jaga wibawamu! Dan kamu Amanda, cepat pergi ke butikmu sebelum para pelangganmu mengeluh!"

Namun, setelah membentak kedua adiknya, Raditya langsung memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah lain. Ia berpura-pura sibuk merogoh saku celananya untuk mencari kunci mobil. Padahal, tindakan itu ia lakukan hanya karena ia merasa sangat panik dan malu. Semburat warna merah muda sudah menjalar di kedua pipi putihnya. Ia sangat takut jika Dimas atau Amanda sempat melihat wajahnya yang sudah memerah karena malu akibat kebohongan konyol yang ia karang sendiri tadi.

Di dalam hatinya, Raditya sedang merutuki dirinya habis-habisan.

"Sial, siapa sebenarnya gadis bermata biru itu? Aku sendiri saja tidak tahu bisa mendapatkan perempuan seperti itu di mana! Mengapa mulutku bisa seceroboh itu di depan Mommy tadi?" batin Raditya frustrasi.

Melihat abang mereka memalingkan wajah dengan gerakan yang sangat kikuk, Dimas dan Amanda tentu saja tidak bodoh. Mereka justru semakin tertawa terpingkal-pingkal. Mereka tahu betul bahwa abang sulung mereka yang biasanya dikenal sangat dingin, tegas, dan tidak tersentuh itu kini sedang bertingkah sangat konyol karena salah tingkah.

"Aduh, lihat itu, Nda! Mas Radit muka sangarnya langsung hilang, telinganya merah merona!" ledek Dimas sambil menunjuk-nunjuk telinga Raditya yang memang sudah memerah padam. "Sudahlah, Mas, mengaku saja kalau kamu cuma mengarang cerita karena takut dijodohkan dengan Natasha, kan? Hahaha!"

"Iya nih, Mas Radit konyol banget! Ya sudah ah, aku mau berangkat ke butik dulu. Dah, Mas Radit sayang! Selamat mencari bidadari bermata birunya ya, semoga tidak ketemu di rumah dukun! Hahaha!" pamit Amanda sambil berjalan mundur menuju mobil Mini Cooper-nya, masih dengan sisa-sisa tawanya yang meledek.

"Cepat pergi dari sini sebelum aku potong semua anggaran fasilitas kalian berdua!" ancam Raditya dengan kesal, tangannya mengibas-ngibas di udara, mengusir kedua adiknya dengan gusar.

"Hahaha! Kabur, Nda! Pak Direktur Hospital sudah mau mengamuk!" seru Dimas sambil tertawa puas, lalu segera masuk ke dalam mobil BMW hitamnya.

Dalam waktu beberapa menit, mobil Dimas dan Amanda perlahan bergerak keluar dari gerbang rumah, menyisakan klakson pendek yang sengaja dibunyikan untuk kembali menggoda Raditya.

Melihat kepergian kedua adiknya yang menyebalkan itu, Raditya akhirnya bisa menghela napas lega yang sangat panjang. Ketegangan di pundaknya perlahan mengendur. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal dengan ekspresi wajah yang sangat frustrasi. Lesung pipinya sempat muncul sekilas saat ia merutuki kebodohannya sendiri dengan senyuman kecut.

"Kenapa aku bisa sebodoh dan sekonyol ini di depan Mommy tadi? Bidadari bermata biru... ck, dasar mulut sialan! Sekarang dari mana aku harus mencari perempuan seperti itu dalam waktu dua minggu?" gumam Raditya pada dirinya sendiri dengan suara rendah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran dengan keputusannya yang sangat tidak masuk akal demi menghindari perjodohan dengan Natasha Olivia Renata.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Raditya menekan tombol remote pada kunci mobilnya. Pip-pip. Suara kunci mobil terbuka. Pria berusia 29 tahun itu membuka pintu mobil Mercedes-Benz mewahnya, lalu mendudukkan tubuh jangkungnya di balik kemudi yang nyaman. Ia memakai sabuk pengaman, menyalakan mesin mobil yang menderu halus, lalu mulai menjalankan kendaraannya keluar dari pekarangan rumah menuju ke jalan raya kota Jakarta yang sudah mulai padat.

Di sepanjang perjalanan menuju ke Rumah Sakit Pusat Harapan Medika, pikiran Raditya sama sekali tidak bisa fokus pada berkas rapat yang ada di dalam tas kerjanya. Otaknya terus berputar memikirkan bagaimana caranya keluar dari belenggu kebohongan yang ia ciptakan sendiri pagi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!