NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dangerous Game

Cooper Group.

Manhattan, New York.

Sejak beberapa menit yang lalu, Emily Cooper tampak gelisah. Ia mondar-mandir di dalam ruang kerjanya yang luas dan rapi, mencari sesuatu. Tas tangan merah marun bermerek mahal miliknya telah ia buka dan tutup berkali-kali. Laci-laci meja pun diperiksa satu per satu, namun nihil. Sesekali, ia berdiri diam dengan tangan di pinggang dan gigi menggigit pelan bibir bawahnya, mencoba mengingat.

"Aku yakin sekali sudah membawanya tadi, Ceysa," keluhnya frustasi kepada sang sekretaris yang kini turut membantunya mencari.

"Coba hubungi kembali, Nona."

"Sudah. Tapi tidak berdering. Aneh sekali... ponsel itu tidak pernah mati," balas Emily resah.

Ponsel yang dimaksud Emily bukanlah ponsel biasa. Itu adalah perangkat khusus untuk urusan bisnis, berisi data penting, jadwal rapat, dokumen-dokumen rahasia, hingga daftar kontak para kolega penting. Nilai fisiknya tak seberapa—Emily bisa membeli puluhan yang serupa. Tapi isinya, itulah yang membuatnya begitu gelisah.

Emily melangkah cepat ke arah pintu ruangannya. Ia mencoba mengingat kembali bagaimana alurnya sejak ia tiba di kantor pagi ini.

"Aku masuk... lalu langsung ke toilet untuk memastikan penampilanku," gumamnya, memperagakan membuka pintu, masuk dan berjalan ke arah toilet pribadi yang berada di sudut ruangan, diikuti pandangan Ceysa yang kini memutar tubuhnya.

"Tapi aku sudah memeriksa toilet. Tidak ada di sana," lanjutnya, kecewa. Ia kemudian berjalan kembali menuju area duduk, berhenti sejenak di depan sofa.

"Aku sempat duduk di sini. Menerima satu panggilan dari ponsel pribadiku."

Emily duduk perlahan, menirukan gerakannya tadi pagi saat duduk di sana.

"Setelah panggilan selesai, aku menuju meja kerja seperti biasa. Tapi aku tidak ingat mengeluarkan ponsel satunya lagi atau tidak. Dan sekarang, itu tidak ada di tasku." Ia bangkit berdiri, memijat dahinya yang mulai pusing.

"Apa Nona benar-benar yakin membawanya pagi ini?"

Emily mengangguk.

"Mungkin tertinggal di mobil, Nona?"

Emily terdiam sejenak. Wajahnya tampak tak yakin. Tapi itu satu-satunya kemungkinan masuk akal yang tersisa. "Mungkin kau ada benarnya, Ceysa."

"Mau aku periksa ke mobil, Nona?"

"Tidak perlu, biar aku saja. Kau siapkan saja jadwalku hari ini, dan letakkan dokumen-dokumen yang harusnya kutandatangani di mejaku. Aku tak akan lama."

Ceysa mengangguk patuh, matanya mengikuti langkah Emily yang segera berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan cepat. Bunyi-bunyi langkah kakinya yang tegas menggema di lorong, membuat beberapa staf yang sedang berlalu lalang otomatis menghentikan aktivitasnya dan berdiri rapi memberi salam hormat. Meskipun usia Emily lebih muda dari sebagian besar dari mereka, aura dan otoritas Emily tak pernah diragukan.

Tak sempat berbasa-basi, Emily hanya membalas dengan senyum tipis, sekilas namun cukup untuk menunjukkan wibawanya. Ia langsung menuju lift dan menekan tombol menuju lantai basement—area parkir khusus tempat mobil pribadinya terparkir.

Begitu pintu lift terbuka di basement, Emily segera melangkah keluar. Tangannya sigap menekan remote mobil—lampu hazard menyala disertai bunyi singkat yang menandai keberadaan kendaraannya. Ia langsung menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir rapi di area eksklusif.

Inilah repotnya menyetir sendiri, pikirnya sambil membuka pintu pengemudi. Selalu saja ada barang yang tertinggal dan membuatnya kelimpungan. Tapi tetap saja, Emily lebih suka mengemudi sendiri. Setidaknya di dalam mobilnya, ia merasa lebih bebas. Tak ada sopir yang diam-diam mengamati, tak ada obrolan basa-basi. Hanya dirinya bersama alunan musik yang selalu ia putar dan senandungkan.

Menunduk, ia memeriksa jok depan—kosong, membuka pintu penumpang di samping, menyibak tas kerja cadangan yang kadang ia tinggalkan di sana—tetap tak ada. Ia turun, membuka pintu belakang, menelusuri jok hingga ke sela-sela dan kolong. Tangannya menyusuri bagian bawah kursi. Tetap tak ada.

Emily mengernyit. Kali ini semakin gelisah.

"Sedang mencari ini, Nona Cooper?"

Sebuah suara berat terdengar dari belakang, membuat Emily refleks berdiri tegak setelah sebelumnya menungging ke dalam mobilnya. Ia menoleh cepat dan di sana berdiri Raphael, bersandar santai di sisi Lamborghini merah gelapnya, kedapatan memandangi bokongn wanita itu sedari tadi. Kaki tersilang, senyum menyebalkan terukir di ujung bibir pria itu, dan tangan kirinya terangkat sebatas dada, mengayun lambat ponsel yang sedari tadi Emily cari mati-matian. Tangan satunya menggenggam rokok yang masih menyala, diistirahatkan malas di atas pahanya.

Wajah Emily mengeras.

"Kenapa ponselku bisa ada padamu?" tanyanya geram. Langkah kakinya cepat saat ia mencoba merebut ponselnya dari tangan pria itu.

Gesit, Raphael mengangkat ponsel itu lebih tinggi, membuat Emily hanya bisa menangkap angin, mendongak kesal. Senyum sang pria semakin lebar kala mata mereka bertemu dengan jarak yang begitu dekat kini.

"Kembalikan ponselku, pencuri!" semprot Emily sinis, sedikit berjinjit untuk mencoba meraihnya lagi. Tapi sia-sia. Raphael berdiri penuh sekarang, menjulang tinggi, menghalangi upaya Emily dengan mudah.

Sungguh bedebah sialan.

"Raphael!" gertak Emily tegas, garang. "Kembalikan sekarang juga!"

Raphael terkekeh rendah. Ia mengisap rokoknya sekali lagi, lalu melemparkannya ke bawah dan menginjaknya pelan dengan sol sepatu kulit mahalnya.

"Beginikah caramu berterima kasih, hm? Padahal aku sudah dengan tulus meluangkan waktu dan tenaga hanya demi mengembalikan milikmu ini," ujar Raphael, mendekatkan wajahnya ke arah sang wanita.

Emily mengibaskan tangannya di antara wajah mereka, mual oleh aroma tembakau yang menusuk dan membuat kepalanya pening.

"Oh, please," tukasnya malas sambil mengedikkan bahu. "Jangan pura-pura baik, karena aku tahu kata tulus bahkan tidak masuk dalam kamus hidupmu, Raphael."

Ia menyilangkan tangan di dada, menatap pria itu dengan sinis, dagu terangkat sedikit, menantang. "Tak mungkin ponsel itu tiba-tiba ada padamu tanpa alasan. Kau pasti sudah merencanakan sesuatu karena pria sepertimu tidak pernah datang tanpa maksud. Kau hanya bergerak jika itu memberimu keuntungan. So, give me back my phone and tell me what you want!"

Mendengar itu, Raphael terkekeh rendah, tatapannya santai menangkis kegarangan Emily yang menurutnya tak menakutkan sama sekali. Baginya, wanita itu justru terlihat seperti kucing kesayangan yang di awal pertemuan sangat galak, lincah, menghindar, tapi pada akhirnya akan tunduk, menempel, dan menurut jika disentuh di titik yang tepat. Menggemaskan.

"Aku suka kecerdasanmu, Nona Cooper," balasnya dengan seringai genit. Ia menantang balik dengan mendekatkan wajahnya, lalu mengangkat tangan untuk menyentuh dagu sang wanita. Tapi Emily dengan cepat mencekal pergelangan tangan Raphael, menekannya kuat sejenak sebelum menghempasnya kasar.

Raphael terdiam sesaat.

Tatapan mereka saling beradu tajam saat Raphael mengibaskan ujung lengan jasnya bekas sentuhan kasar Emily tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari wajah wanita itu. "Terus terang, aku tidak suka berbasa-basi, Emily," ucapnya, kali ini intonasi suaranya berubah, lebih dalam, lebih berat, dan mendominasi pun serius.

Emily tersentak kecil, bisa merasakan suasana yang berubah di antara mereka.

Raphael melangkah lebih dekat, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan intens. "Sejak pertama aku melihatmu secara langsung, aku terus memikirkanmu, memikirkan bagaimana rasanya menyentuhmu."

Ia menyeringai tipis, melangkah maju hingga hembusan napasnya terasa menekan pertahanan Emily. "Betapa aku ingin melucuti semua keangkuhan yang kau pakai sebagai perisai itu, mencengkeram lenganmu, dan menarikmu begitu dekat ke dalam kuasaku hingga kau tidak memiliki celah sedikit pun untuk melarikan diri."

Raphael memiringkan kepalanya sedikit, menatap Emily dengan sorot mata yang menggelap. "Aku ingin mendengar suaramu pecah saat aku menenggelamkanmu dalam badai sensasi yang belum pernah kau rasakan sebelumnya. Aku ingin kau memanggil namaku berulang kali, kehilangan seluruh kendali logikamu saat kehangatan yang mendesak itu membuat pertahananmu runtuh tanpa sisa. Kau adalah perwujudan dari seluruh obsesi yang selama ini aku cari. So, why don't we make a deal—serahkan seluruh kepasrahanmu malam ini, dan aku pastikan kau menang telak atas Andrew Paco."

Emily tertawa geli, sarkas—tawa yang terdengar sengaja dibuat-buat untuk mengejek, tak sedap terdengar di telinga, bak sedang menertawakan lelucon paling tolol yang pernah ia dengar. Dengan angkuh, ia mengangkat pergelangan tangannya, memandangi jam berlian mungil yang melingkar manis di sana. "Matahari sudah tinggi, Raphael, dan kau masih terjebak dalam mimpi basahmu?" sindirnya. "Come on, wake up. Kurangilah menonton tayangan dewasa supaya khayalanmu tidak terlalu tinggi. Dan ingat, hidup ini bukan panggung untuk memuaskan egomu. Dunia nyata tidak berputar di sekitar fantasimu yang murahan itu saja."

Lalu dengan satu gerakan berani, Emily menampar pelan rahang tegas pria itu untuk membuatnya sadar bahwa ia bukan wanita gampangan. "Terima kasih sudah repot-repot memikirkanku, Raphael. Sayangnya, aku bahkan tak pernah membuang waktu sedetik pun untuk membayangkan tidur bersamamu. Di luar sana banyak jalang yang rela membuka diri tanpa kau minta, kenapa tidak ke mereka saja, dan tinggalkan aku dari fantasi absurdmu itu!"

Emily memberikan senyum mengejek terakhir sebelum merampas ponselnya dari tangan Raphael, lalu membalikkan badan untuk pergi. Tapi belum sempat ia mengambil dua langkah, pergelangan tangannya ditarik kasar membuat tubuhnya terhempas dan kembali menubruk dada keras Raphael. Nafas mereka beradu berat, ujung hidung Emily menyentuh rahang Raphael, dan pria itu menatapnya dengan sorot membakar.

"Kau pikir aku akan mundur hanya karena ocehan kecilmu tadi?" bisiknya serak. "Semua penolakanmu itu justru semakin membuatku bersemangat. Aku selalu menyukai wanita yang suka melawan, bermulut lancang dan keras kepala. Itu... fantasiku."

Dengan satu gerakan sentakan yang tak terduga, tangan Raphael mencengkeram jemari wanita itu, lalu menariknya dengan paksa. Pria itu menekan telapak tangan Emily tepat di atas asetnya—membuat Emily bisa merasakan secara langsung itu dan hawa panas tubuhnya yang kian memburu.

"Kurang ajar!" desisnya tajam, menunjuk wajah Raphael dengan geram. "Sekali lagi kau melewati batas, aku tak akan segan melaporkanmu atas pelecehan!" Ia langsung berbalik, melangkah cepat dengan rahang mengeras, menahan gejolak emosinya agar tak meledak sepenuhnya.

Sementara di belakang, Raphael masih berdiri santai dengan senyum miring menyebalkan, menikmati setiap kemarahan itu. "Ingat ini, Emily," ucapnya, "Aku tidak suka penolakan."

"Go to hell, Raphael!" bentak Emily, tak berhenti melangkah.

"Only if you're coming with me, sweetheart."

Belum sempat Emily mencapai lift, masalah baru datang lagi hingga ia menghela napas keras, kesal bukan main. Kepalanya terasa pening, dan ia memijat pelipis sambil menahan sumpah serapah yang hampir-hampir lolos dari bibir merahnya. Hari ini benar-benar layak dikutuk. Bagaimana tidak? Dari arah berlawanan, Andrew tiba-tiba muncul, melangkah enteng dengan senyuman menjijikkan terpampang di wajahnya. Demi Tuhan—apa dunia ini hanya dihuni pria-pria tinggi nafsu? Apakah tak ada satu pun yang normal tersisa? Emily jengah.

"Mau apa kau?" tanya tanpa basa-basi.

Andrew melangkah mendekat hingga kini berdiri di hadapan Emily. "Tadinya kupikir kau butuh waktu. Tapi rupanya kau masih keras kepala, Emily," ucapnya. "Aku datang untuk memberimu satu kesempatan terakhir. Pikirkan ulang tawaranku untuk menikah. Karena jika tidak, aku tak akan ragu membuat skandal baru yang lebih besar, lebih kotor, dan cukup untuk menghancurkan reputasimu sepenuhnya. Aku tidak suka menunggu lama."

"Berapa kali lagi harus kukatakan kalau aku tidak mau, Andrew?" lontar Emily tajam. "Kau susah paham bahasa manusia, apa bagaimana? Atau harus kugunakan bahasa binatang supaya masuk ke otakmu?"

Ia berbalik cepat, ingin segera berlalu dari hadapan pria itu. Namun Andrew melangkah lebih dulu, membentang tubuhnya di depan Emily, menghalangi jalur langkahnya.

"Jaga omonganmu di hadapanku, Emily!" Suara Andrew merendah tajam, dingin dan mengancam. "Kau pikir aku takut padamu? Aku bisa melucuti semua pakaianmu sekarang juga dan menidurimu di sini kalau aku mau!"

Jari-jari Emily mengepal, rahangnya mengeras menahan mual jijik di perutnya. "Persetan. Minggir dari hadapanku!"

Andrew tak bergeming. Nafasnya sudah mulai liar, matanya gelap menatap Emily bak ingin menerkamnya. Emily melangkah mundur pelan-pelan, namun tangan Andrew cepat menangkap lengannya.

"Lepas, Andrew! Aku sudah cukup muak mendengar ocehan pria-pria gila penuh nafsu pagi-pagi begini!" bentaknya.

Andrew tersulut. Tangannya mencengkeram lengan Emily kuat, menyeret tubuh langsing wanita itu ke sisi mobil, membenturkannya kasar ke pintu. "Sudah cukup basa-basinya," geram Andrew. "Kau pikir kau bisa terus menginjakku dan lolos begitu saja?"

Tubuhnya menekan Emily, tangannya mulai menjalar liar, haus dan keji. Emily meronta, berusaha menendang, meludah, menggigit, apapun itu untuk menghindar. Dan tepat ketika Andrew hampir berhasil merobek pakaiannya sebuah tangan lain, lebih besar mencengkeram bahu Andrew dari belakang.

Seketika, cengkeraman itu menancap dalam, menyakitkan. Andrew mendesis, tubuhnya menegang, terpaksa melepas Emily karena rasa sakit yang begitu menyengat hingga membuatnya limbung. Emily segera mengambil kesempatan itu, mundur cepat, menyandarkan dirinya di sisi mobil dengan napas terengah.

Andrew menoleh—dan membeku.

Raphael berdiri di belakangnya.

Tegap, gelap, setelan jas hitamnya selaras dengan sorot matanya yang menyala. Untuk beberapa detik, keduanya saling beradu tatap.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!