Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Lila kembali mengucek matanya, senyum langsung terbit di bibir Lila begitu memastikan kalau lelaki di depannya ini Danu.
"Lila nggak sedang mimpi kan?" lirih Lila.
Danu mengernyit menatap Lila yang sedari tadi hanya bengong, tak seperti biasanya yang langsung menggandeng tangannya dan bercerita hal-hal tak penting.
Dia jadi ragu untuk menumpang di rumahnya, apa dia ke rumah Lula saja? jujur Danu masih bingung ingin bilang apa ke Lila.
"E..." Danu garuk-garuk kepala sendiri, mereka hanya saling diam.
"Mas Danu! Ini beneran mas Danu? Lila nggak mimpi kan? Tumben banget mas Danu mau ke sini? apa mata hari terbit dari barat?"
Danu terkejut bukan main dengan teriakan Lila, dia memang pernah bilang ke Lila kalau dia akan ke rumahnya jika matahari terbit dari barat. Danu benar-benar tidak menyangka Lila masih ingat kata-kata itu, dia jadi malu sendiri.
"Mas salah ketuk pintu"
Danu ingin pulang saja, namun Lila buru-buru merangkul lengan Danu agar tidak pergi.
"Mas Danu sudah terlanjur sampai sini, jadi harus masuk"
Lila menarik lengan Danu secara paksa, dia pura-pura menolak, padahal di hatinya dia begitu senang karena bisa numpang mandi di sana.
Saking semangatnya Lila bahkan tak sadar membawa Danu ke arah kamarnya.
"Lho Lo Lo Lo...kita mau kemana?"
Danu kini benar-benar berhenti saat mereka sudah di depan pintu kamar Lila.
"Ke kamar"
"Mau ngapain?"
Danu buru-buru melepas tangan Lila yang merangkul lengannya. Memang dasar edan anak satu ini, bisa-bisanya dia mengajak lelaki dewasa seperti dia ke kamarnya.
"Hehehe mau ngapain ya Mas?" Lila garuk-garuk kepala sendiri, dia tadi refleks saja karena saking senangnya.
Danu geleng-geleng kepala,dia ingin kembali berjalan ke ruang tamu, namun Lila lagi-lagi berulah.
"Mas Danu mau ke mana? Di sini aja, bobok sama Lila boleh kog, dulu mas juga sering bobok bareng Lila kan? Jangan pergi Mas"
Lila memeluk Danu dari belakang,dada Lila menempel sempurna di punggung Danu, dia sangat takut Danu kembali keluar dari rumahnya, ini kejadian langka, dia tidak mau Danu pulang begitu saja.
Astaga Lila! Bicara apa dia? Bagaimana mungkin dia bisa menyamakan kejadian dulu dengan sekarang, dulu Lila masih kecil,imut, dadanya juga masih rata. Tapi sekarang dia kan sudah besar, dadanya juga,apalagi Lila masih sangat muda dan cantik, lelaki seperti Danu mana bisa tahan jika tidur bersama. Dia bisa berubah jadi monster di atas ranjang.
"Mas Danu jangan pergi"
Danu mencoba melepas pelukan Lila, namun Lila tidak mau melepasnya.
"Mas nggak mau kemana-mana Lil, cuma mau ke ruang tamu"
Mendengar jawaban itu, Lila langsung melepaskan pelukannya.
"Oohh Ayo! Mas Danu tumben sekali ke sini. Mas mau ngelamar Lila ya?"
Danu kembali mendelik. Lila yang melihat itu langsung menutup mulutnya. Mas Danu tampan sekali kalau begini, bau keringatnya buat Lila jadi ingat adegan panas yang baru saja dia lihat, penuh peluh dan seksi.Lila pengen banget bawa Mas Danu nya ke ranjang beneran.
Lila sudah dua puluh tahun, dia belajar memuaskan suami dengan melihat film dewasa itu. Untuk berjaga-jaga jika mas Danu menikahinya, secara Mas Danu nya sudah kepala tiga, jadi pasti langsung minta ke pelaminan. Dan Lila siap kapan saja untuk itu.
"Mas Danu mau minum apa? Jus, Kopi atau Susunya Lila"
"Lila!" Tegur Danu karena Lila kembali menggodanya.
"Hehehe maksudnya Lila susu dietnya Lila, bukan yang ini"
Lila benar-benar menunjuk buah dadanya dengan jari telunjuk,membuat Danu memalingkan wajahnya.
"Terserah kamu saja, tapi sebenarnya apa mas boleh numpang mandi di sini? Air di rumah mendadak macet"
Lila menatap Danu dengan curiga, kog bisa air macet? padahal sumber air di rumah ini dan di rumah sebelah dari sumur yang sama. Apa ini hanya alasan Mas Danu saja agar bisa ke rumahnya? Apa mas Danu mulai tergoda?
"Boleh tidak?" Tanya Danu mulai kesal, melihat Lila yang hanya bengong saja.
"Boleh kog, boleh banget. Tiap hari mandi di sini juga boleh, Mas tinggal di sini sekalian juga Lila boleh"
"Kalau begitu Mas minjam handuknya"
Lila dengan semangat langsung berlari ke kamarnya mengambil handuk yang masih bersih.
Dia bahkan mengambil alat mandi baru untuk Danu. Lila tidak menyangka sama sekali Mas Danu mau mandi di sini, apa dia goda sekalian ya? Lila tersenyum geli sambil menciumi handuk di tangannya. Rasanya dia sudah seperti istri Mas Danu saja. Lila buru-buru berlari ke depan untuk memberikan handuk dan perlengkapan mandi itu.
"Ini sikat giginya masih baru mas"
"Terima kasih. Kamar mandinya di mana?"
"Di kamar Lila mas, mau Lila antar"
"Lila! Saya tahu di rumah sebesar ini tidak hanya ada satu kamar mandi"
"Hehehe jangan marah mas, nanti tampah ganteng. Itu di pojok sana kamar mandinya, mas lurus saja"
Danu bergegas pergi, sebelum Lila mulai bicara aneh-aneh lagi.
Melihat Danu sudah menutup pintu, Lila juga berniat untuk mandi. Dia pergi ke kamarnya, menanggalkan semua bajunya dan memakai handuk saja sebelum masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Lilaaaaaa!"
Panggilan itu membuat Lila tak jadi masuk. Lila buru-buru berlari ke sumber suara tanpa memperdulikan penampilannya.
Mas Danu kenapa sih? Teriak-teriak begitu.
"Lilaaaaaa!"
"Iya mas, iya" Lila berlari sambil memegangi sampul handuknya, takut saja kalau jatuh di tengah jalan.
"Ada apa Mas?ngapain manggil-manggil Lila?"
"Astaga Lila! Kamu mau goda saya?"
Lila bingung, dia memang punya niatan itu, tapi nanti, bukan sekarang.
"Enggak kog"
"Lalu ngapain kamu seperti itu?"
"Mau mandi, Mas Danu mau kita mandi bareng?" ucap Lila sambil melangkahkan kakinya maju ke arah pintu kamar mandi.
"Jangan gila kamu Lil"
"lagian mas Danu suudzon terus sama Lila, tadi Lila juga mau mandi, tapi mas Danu manggil-manggil"
Danu terdiam, melihat Lila yang berpenampilan seperti ini jiwa lelakinya langsung memuncak, yang di bawah sana bahkan sudah berdiri tegak, tapi Danu mencoba tetap waras.
"Ini ada barang kamu yang ikut ke bawa"
"Apa Mas?"
Lila sempat bingung, karena barang yang di maksud Mas Danu tertutupi oleh kaos yang tadi di kenakan nya.
"Sudah ambil saja"
Lila tidak langsung mengambil kaos itu, dia menjual barang yang ada di dalam kaos itu, dan menariknya keluar.
Al hasil sebuah bra berukuran besar nampak dari kaos itu.
Lila tak jadi mengambilnya, dia jadi malu sendiri kenapa bra nya bisa ikut terbawa.
"Cepat Ambil!"
Kedua wajah dua insan itu sudah sama-sama memerah karena malu. Sumpah Danu tadinya tidak ingin memanggil Lila, tapi melihat bra itu tergantung di kamar mandi, Danu jadi terus membayangkan isinya.