Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C004: Anggota Baru [Felix Nalendra]
...Selamat Baca...
Setelah memutuskan siapa yang dia rekrut, dia kembali menuju kantor Bu Margaret untuk urusan Felix. Dia mulai melihat biodata Felix, banyak kejutan dari dalam diri Felix.
Di atas meja kerja Bu Margaret, sebuah berkas tebal tertata rapi dengan nama "FELIX NALENDRA" terpampang jelas di sampul depan. Ethan membukanya perlahan, mulai membaca setiap baris dengan cermat.
Biodata Felix Nalendra
•Usia: 14 Tahun
•Tanggal Lahir: 17 Oktober
•Tinggi Badan: 165 cm
•Alamat: Desa Avania Timur, Kecamatan Avania, sekitar 2 jam berkendara dari kota Astia, 6 jam berkendara dari kota Adelia pusat.
•Keluarga: Hidup sederhana bersama orang tua dan dua adik kandung—adik laki-laki berusia 10 tahun dan adik perempuan berusia 7 tahun.
-Ayahnya bekerja sebagai petani sayuran, ibunya sebagai penjaga toko kelontong desa.
-Meskipun kondisi ekonomi terbatas, keluarganya selalu mendukung impian Felix untuk belajar seni.
•Pendidikan: Mengikuti program beasiswa penuh di Akademi Teater Astra selama 2 tahun, setelah dinilai memiliki bakat luar biasa dalam bidang musik dan sastra.
-Sebelumnya, dia hanya belajar menyanyi dari video di internet dan menulis cerita di buku catatan bekas yang dia kumpulkan.
•Hobi: Menulis lirik lagu dan cerita pendek, menyanyi di luar rumah saat membantu ayahnya bekerja di kebun, serta mempelajari teori musik secara mandiri.
-Banyak karya tulisannya yang pernah memenangkan lomba menulis tingkat kecamatan dan kabupaten.
•Bakat Khusus: Selain vokal yang luar biasa, Felix juga memiliki kemampuan untuk menyusun harmoni dan melodi secara alami.
-Dia pernah menulis lebih dari 50 buah lirik dan 15 buah komposisi musik yang belum pernah diproduksi secara profesional.
•Impian: Menjadi penyanyi solo atau anggota grup idol yang bisa menyampaikan pesan positif melalui musiknya, atau menjadi komposer yang bisa membuat lagu untuk banyak artis berbakat.
-Dia juga berharap bisa mengangkat taraf hidup keluarganya dan membangun sekolah seni kecil di desanya agar anak-anak desa juga bisa belajar seni.
•Riwayat: Pernah ditawari masuk salah satu perusahaan hiburan besar, namun ditolak di tahap akhir karena dianggap "penampilannya tidak sesuai standar pasar".
-Sejak itu, dia semakin tertutup dan sering menjadi target ejekan karena rambut panjangnya yang dia pertahankan sebagai bentuk kenang-kenangan terhadap ibunya yang dulu juga memiliki rambut panjang sebelum sakit parah.
-Titik kecil di sudut matanya adalah bekas luka kecil saat dia masih kecil yang tidak pernah sembuh sempurna, yang membuatnya merasa kurang percaya diri.
Ethan menutup berkas dengan hati yang terasa sesak. Dia tidak menyangka bahwa di balik sosok anak yang pendiam dan kurang percaya diri itu, tersembunyi cerita yang begitu kuat dan bakat yang luar biasa.
“Bu Margaret, mengapa saya tidak tahu bahwa Felix bisa menulis lagu dan komposisi?” tanya Ethan dengan suara penuh kagum.
Bu Margaret menghela napas perlahan. "Felix sangat pemalu, Tuan Ethan. Dia jarang menunjukkan karya tulisannya kepada orang lain karena takut akan ditertawakan lagi."
"Saya sendiri baru menemukan kemampuannya saat membersihkan ruangan latihan dan menemukan buku catatan yang penuh dengan lirik dan not musik yang luar biasa."
“Kita harus membantu dia mengembangkan semua bakat itu,” ujar Ethan dengan tegas.
“Selain menjadi trainee, saya ingin Felix juga terlibat dalam proses pembuatan lagu untuk grup kita nanti. Dia bisa menjadi aset yang sangat berharga.”
“Mereka juga sudah menyetujui untuk Felix menjadi bagian dari perusahaan Anda, Tuan Ethan,” tambah Bu Margaret sambil mengambil surat persetujuan dari laci meja.
“Orang tua Felix datang kemarin sore setelah saya menghubungi mereka. Meskipun mereka khawatir dengan jarak dan kondisi hidupnya di kota, mereka sangat mendukung karena tahu ini adalah kesempatan emas untuk Felix.”
Ethan menerima surat persetujuan dengan hati yang penuh rasa tanggung jawab. "Beritahu orang tua Felix bahwa saya akan menjaganya seperti keluarga sendiri."
"Saya akan menyediakan akomodasi di dekat perusahaan, biaya pendidikan tambahan, dan juga akan membantu mereka secara finansial sesuai dengan kemampuan saya."
Bu Margaret mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, Tuan Ethan. Orang tua Anda dulu juga selalu melakukan hal yang sama—membantu anak-anak berbakat yang tidak memiliki kesempatan."
"Ternyata Anda memang menuruti jejak orang tua Anda.” Ethan tersenyum sambil melihat keluar jendela kantor ke arah ruangan latihan di mana Felix sedang membersihkan buku dan barang-barangnya.
“Saya hanya ingin memberikan kesempatan yang sama seperti yang dulu orang tua saya berikan kepada banyak orang. Felix punya masa depan yang cerah, dan saya akan memastikan dia bisa mencapainya.”
Setelah menandatangani semua dokumen rekrutmen dan menyusun jadwal untuk Felix datang ke perusahaan pada hari berikutnya, Ethan berangkat dari Akademi Teater Astra dengan hati yang lebih penuh semangat.
Di mobilnya, dia mulai membuat catatan tentang rencana pelatihan khusus untuk Felix—mulai dari pelatihan vokal intensif, hingga waktu khusus untuk mengembangkan kemampuan menulis lagunya.
“Besok Felix akan datang, kemudian saya akan mencari calon trainee selanjutnya di restoran yang saya tahu,” gumam Ethan sambil menyetir.
“Semakin banyak bakat yang kami kumpulkan, semakin kuat kami akan membangun grup yang hebat.”
Matahari mulai menyinari jalan pulang, dan Ethan merasakan bahwa setiap langkah yang dia tempuh semakin membawa dia dekat dengan impian untuk membangun grup dan mengembalikan kejayaan Lucifer Entertainment.
Setelah urusan rekrutan pertama selesai, dia pergi mengunjungi perusahaannya, dia tahu Evan pasti datang untuk latihan di Lobby, karena ruang latihan yang belum selesai di perbaiki.
Sesampainya di perusahaan, sudah ramai dengan mobil mobil kontraktor yang dia minta dari Leo Martinez kemarin, dia memarkirkan mobilnya dan masuk lobby, menemukan Evan latihan menari di cermin full body.
"Evan," panggil Ethan, Evan langsung berhenti dan menoleh.
"Kak Ethan, ada apa kak?" Tanyanya setelah mendekat ke arah Ethan, Ethan mengajak Evan duduk di ruang tunggu disana.
"Saya sudah ada satu calon trainee, junior mu. Dia akan datang kesini esok hari, sebelum saya datang kamu bisa mengajaknya berkeliling dulu untuk melihat keadaan perusahaan."
"Lalu jelaskan rencana kita dua hari sebelumnya, pastikan dia mengerti. Saat saya datang saya akan mulai mengontraknya, sekalian memperbarui kontrakmu."
"Setelah itu kami bertiga akan mencari calon trainee lainnya besok, setelah urusan kontrak dan pengenalan pertama, mengerti?" Tanya Ethan, Evan mendengarkan dengan jelas dan mengangguk mengerti atas rencana Ethan.
"Saya mengerti kak, saya akan berusaha dan tidak mengecewakan anda." Katanya dengan senyuman lebar, Ethan balas tersenyum. Dan menepuk bahu Evan.
"Baiklah, saya serahkan pada anda untuk urusan awalnya juniormu, setelah latihan kamu bisa kembali pulang hari ini." kata Ethan, Evan mengangguk dengan sungguh sungguh. Setelah berbincang sebentar lagi, Ethan pamit pulang yang langsung di iyakan oleh Evan.
***
Pukul 07.30 WAZ pagi, tanggal 28 Maret
Gedung Lucifer Entertainment sudah terlihat lebih hidup dengan keberadaan beberapa mobil kontraktor yang sedang melakukan pekerjaan perbaikan di halaman depan.
Suara mesin pembersih dan tukang yang bekerja teratur terdengar jelas, memberikan kesan bahwa perusahaan sedang dalam proses pembaharuan.
Felix berdiri di depan gerbang perusahaan dengan tas kecil di tangan, wajahnya menunjukkan campuran rasa takut dan antusiasme.
Dia telah mengenakan baju baru yang diberikan oleh akademi—kemeja putih polos, celana panjang biru tua, dan sepatu sekolah yang sudah diasah rapi.
Rambut panjangnya masih terikat dalam ponytail, namun kali ini dia sedikit membukanya sehingga sebagian rambut menyelimuti wajahnya dengan lebih rapi.
Setelah beberapa saat melihat gedung yang bertuliskan LUCIFER ENTERTAINMENT, dia menghela napas dalam dan melangkah masuk ke dalam.
Sesampainya di lobi, dia menemukan seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun sedang berlatih gerakan tari di depan cermin full body yang baru saja dibersihkan.
Gerakan tubuhnya lancar dan penuh kekuatan, menunjukkan tingkat keahlian yang tinggi.
Saat mendengar suara langkah kaki Felix, pemuda itu berhenti dan menoleh dengan ekspresi yang ramah namun profesional.
“Selamat pagi, kamu pasti Felix Nalendra yang akan menjadi trainee baru ya?” ucap pemuda itu dengan nada yang jelas dan sopan.
“Saya Evan Carter, trainee pertama perusahaan ini. Kak Ethan telah menyuruh saya untuk menjemput dan mengajak kamu berkeliling.”
Felix mengangguk perlahan, suara bisanya sedikit menggigil. “Ya, Tuan Evan. Betul, saya Felix. Mohon bantuannya.”
“Silakan tidak perlu malu, Felix,” ujar Evan dengan senyum yang menenangkan.
“Mari kita mulai dengan berkeliling perusahaan agar Anda mengenal setiap bagiannya. Kak Ethan akan datang pukul 09.00 pagi untuk mengurus proses kontrak.”
Evan kemudian mengajak Felix berjalan melalui setiap bagian perusahaan yang sudah dapat diakses:
“Bagian ini adalah lobi utama yang juga difungsikan sebagai area latihan sementara hingga ruang latihan utama selesai diperbaiki,” jelas Evan sambil menunjuk ke arah cermin full body dan area ruang tunggu yang sudah dibersihkan.
“Di lantai dua terdapat ruang kantor dan ruang kreatif yang sedang dalam proses perbaikan. Nanti Anda bisa menggunakan ruang kreatif untuk menulis lirik atau mengembangkan komposisi musik.”
Mereka melanjutkan ke lantai 3 tempat latihan vocal dan tari, ada tambahan ruangan untuk akting, lantai 4 tempat kostum dan gudang. Di lantai 5 terdapat ruang rapat dan gudang lainnya.
Kemudian mereka lanjut lagi ke area depan gedung yang sedang dibersihkan oleh tukang. "Halaman depan akan direnovasi menjadi lebih menarik dan profesional."
"Selain itu, di seberang jalan perusahaan terdapat kompleks apartemen sedang yang akan disewakan sebagai tempat tinggal para trainee."
"Setiap kamar akan dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti tempat tidur, meja belajar, kulkas, dan akses internet."
“Pada hari kemarin, Kak Ethan telah menjelaskan rencana perusahaan pada saya,” lanjut Evan dengan nada yang lebih serius.
"Kita akan membentuk grup idol yang akan melakukan debut dalam waktu satu tahun. Proses pelatihan akan mencakup latihan vokal, tari, akting, serta pendidikan tentang etika dan profesionalisme di industri hiburan."
"Selain itu, Kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakat khusus Kamu sebagai penulis lirik dan komposer.”
Felix mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap poin penting dalam benaknya. “Terima kasih atas penjelasannya, Tuan Evan. Saya akan berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak mengecewakan perusahaan.”
“Silakan panggil saya Kak Evan saja,” ucap Evan dengan senyum ringan.
“Kita akan bekerja sama sebagai tim, jadi tidak perlu terlalu formal dalam hubungan antar sesama trainee.”
Pukul 09.00 WAZ pagi
Ethan tiba tepat waktu dengan membawa berkas kontrak yang sudah disiapkan. Dia mengenakan jas biru tua dengan dasi hitam, memberikan kesan sangat profesional dan terpercaya.
“Selamat pagi, Felix. Senang bertemu denganmu secara resmi,” ucap Ethan dengan tangan terbuka untuk berjabat tangan.
“Semoga Evan telah menjelaskan segala hal dengan jelas.”
“Ya, Tuan Ethan. Segala hal sudah saya pahami,” jawab Felix dengan suara yang lebih mantap.
“Baiklah, mari kita duduk dan bahas isi kontrak yang telah saya susun,” ujar Ethan sambil menempatkan dua berkas kontrak di atas meja.
“Satu untuk Felix, dan satu untuk Evan—karena saya akan memperbarui kontrak kerja kalian sesuai dengan perkembangan perusahaan.”