dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Pelan - Pelan Mengganggu
Sore itu langit mulai berubah warna menjadi jingga, cahaya matahari yang mulai masuk kamar melalui jendela ruang praktik menciptakan bayangan panjang di lantai putih Rumah Sakit Bintang Medika. Namun berbeda dari biasanya, dr. Nayla Azzura tampak terlihat kurang fokus kali ini dimana tatapannya beberapa kali jatuh ke layar ponsel di atas meja kerjanya dimana terlihat room chat pesan terakhir itu masih ada.
" Tapi tidak masalah, tetap cantik"
Nayla langsung menghela nafasnya pelan, dalam dan panjang.
" Ganggu banget..." gumamnya pelan.
Tapi anehnya nomor itu tidak ia blokir, padahal biasanya siapapun laki-laki yang terlalu cepat mendekat langsung masuk daftar list abaikan. Namun laki-laki satu ini, sedikit berbeda dan itu cukup mengganggu hati dan pikiran Nayla.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruangannya diketuk.
" Masuk..."
Terlihat seorang dokter perempuan yang masuk sambil membawa gelas kopi ditangannya, dr. Celine sahabat Nayla sejak masa koas yang mungkin orang-orang akan mengenalnya.
" Tumben bengong...".
" Ehhh... Enggak" Nayla langsung tersadar dari lamunannya.
" Enggak pinter bohong..." Celine menyipitkan matanya.
perempuan itu kini duduk didepan meja Nayla, tatapannya lalu berhenti pada paper bag di salah satu sudut ruangan praktik Nayla.
" Oke... Ini justru lebih aneh" Alis Celine terangkat.
Nayla ikut melihat tatapan Celine yang mengarah ke paper bag.
Sial...
" Kapan kamu beli makanan diluar?" tanya Celine penuh selidik.
" Bukan, aku gak ada waktu buat pesan makanan diluar" jawab Nayla.
" Terus itu..." dagu Celine menunjuk paper bag.
Hening...
Satu detik.
Tiga detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
" WAAAIIITTTTT..." Celine langsung berteriak dengan kedua mata yang membelalak.
" ADA COWOK? NAYLA SIAPA COWOK ITU? CEPAAAATTTT JAWAB JUJUUURRR...." wajahnya semakin mendekat ke arah Nayla dengan rasa penasaran yang begitu besar.
" Enggak usah teriak, Celine. Ini bukan hutan.." jawab Nayla tenang.
" CEPAAAATTTT... Jawab siapa?" lagi Celine berusaha mencari jawaban.
" Cuma pasien" jawab Nayla singkat.
Hening kembali, lalu....
" HAHHH..?"
" Celine suaranya... Udah dia cuma pasien" Nayla kini memijat pelipisnya, karena sudah tahu pasti bagaimana reaksi dari sang sahabat.
" Jadi yang kirim makanan itu pasien? Yang bikin kamu sampe bengong?" tanya Celine semakin kepo.
" Aku enggak bengong..." Nayla langsung menatap tajam Celine.
" OOOHHH NOOOO... Jadi, kamu mulai tertarik ya..." Celine tersenyum jahil.
" Ngaco banget omongannya..." Nayla kembali memberikan tatapan tajamnya.
" Defensif banget sih Bu dokter".
" CELLLL...."
" Oke... Oke... Tapi ganteng kan?" Celine terkekeh.
" Hmmm... lumayan" Nayla sempat diam berpikir karena merasa pertanyaan itu terasa sulit untuk dijawab.
" DENGAR... LUMAYAN KATANYAAAAAA.... OH TUHAN..." Celine semakin heboh dibuatnya.
" Berisik Celine..." Nayla mendecih.
Celine langsung tertawa puas, sudah bertahun-tahun baru kali ini Nayla mau membahas laki-laki. Dan itu sangat menarik.
🌟
Di Mahardika Group.
Arsen baru saja selesai meeting saat ponselnya berbunyi, tidak ada balasan dari Nayla sama sekali padahal sudah dua jam dan itu membuat Arsen kini menarik nafasnya panjang.
" Galak banget..." gumam Arsen pelan sambil tersenyum kecil.
" Pak, kenapa?" Sekretarisnya yang bernama Bima kini melirik bingung.
" Enggak dibalas chat Saya, Bim" jawab Arsen.
" Bapak...?" Bima hampir saja tersedak.
" Kenapa, Bim?".
" Perempuan mana yang tidak membalas chat dari seorang Arsen Mahardika?" tanya Bima.
" Dokter tapi galak banget" Arsen mengangkat bahunya.
" Galak?" Bima memastikan.
" Iya, galak..dingin.. Tapi cantik banget" ucap Arsen seperti tengah membanggakan.
" Waahhh... Sepertinya Bapak sudah kena pesona sang dokter" Bima langsung mengangguk pelan.
Arsen tertawa kecil mungkin benar apa yang dikatakan oleh Bima, karena anehnya semakin Nayla menjaga jarak ia justru semakin ingin mengenalnya.
Malam hari rumah Nayla terasa begitu terlalu sunyi seperti biasanya, hanya ada suara televisi kecil dari ruang tengah dan sang Ayah yang sedang duduk dengan koran ditangannya.
" Pulang malam lagi?" Sang Ayah menyambut dengan hangat.
" Pasien sedang banyak, Yah" Nayla tersenyum kecil.
Ayahnya mengangguk pelan, tatapan lelaki paruh baya itu selalu lembut. Tapi Nayla tahu sebagian hati Ayahnya sudah lama patah sejak ibunya memilih untuk pergi, dan sejak saat itu juga rumah mereka kehilangan arah.
" Capek?" tanya Ayahnya pelan.
" Enggak, biasa aja" Nayla menggelengkan kepalanya.
Padahal itu semua bohong karena sebenarnya ia selalu merasa capek, tapi sudah terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Saat masuk kedalam kamar ponselnya kembali berbunyi dan nomor itu lagi.
" dokter sudah pulang?"
Nayla menghela nafasnya dan lima menit berlalu masih betah menatap layar ponselnya, lalu entah mengapa hatinya bergerak sendiri untuk membalas pesan.
" Sudah..."
Hening... dua detik kemudian balasan itu masuk dengan cepat.
" YA TUHAN DIBALES 😭"
Nayla refleks terdiam lalu tanpa sadar tertawa kecil, sampai dirinya sendiri terkejut. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia tertawa karena seseorang?.
" Berarti saya tidak di block ya, dokter? 😀, dokter sudah makan?"
Lalu kembali jari Nayla mengetik cepat membalas pesan dari Arsen.
" Sudah"
" Bagus, jangan sakit ya.. Saya takut dimarahin lagi nanti"
Membaca balasan pesan dari Arsen, kali ini benar-benar membuat Nayla menggelengkan kepalanya pelan.
" Laki-laki ini kenapa seperti tidak kehabisan cara bicara? tapi anehnya, aku merasa tidak terganggu..."
Malam ini yang biasanya terasa terlalu sunyi, kono sedikit berbeda karena terasa lebih hangat meskipun Nayla belum mau mengakuinya sama sekali.