NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dangerous Curiousity

​Keheningan di dalam mobil perdana menteri yang meluncur membelah jalanan ibu kota terasa seperti lilitan kawat berduri di leher Kael Arden. Di pangkuannya, map kulit merah darah milik Aurelia Vane terasa panas, seolah membawa sisa suhu tubuh wanita itu. Kael menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang dingin, memejamkan mata, namun yang ia lihat hanyalah siluet Aurelia di atas meja obsidian, kulit pucat yang menantang kegelapan, dan tawa rendah yang merobek martabatnya.

​Saat mobil tiba di kediaman pribadinya, sebuah rumah kaca minimalis yang tersembunyi di perbukitan pinggiran kota, Kael tidak langsung turun. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Rambutnya masih tertata, namun matanya memancarkan kekacauan yang tidak bisa disembunyikan oleh protokol mana pun.

​Ia adalah seorang pria yang terbiasa memecahkan masalah dengan logika matematika murni. Baginya, dunia adalah serangkaian variabel yang bisa dikendalikan melalui fungsi f(x) \= y. Namun, Aurelia Vane adalah variabel anomali yang merusak seluruh sistemnya.

​Masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, Kael melempar jas abu-abunya ke sembarang kursi, sebuah tindakan ceroboh yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ia segera membuka map merah itu. Di dalamnya bukan hanya sekadar daftar nama informan, melainkan sebuah teka-teki yang jauh lebih dalam.

​Dokumen-dokumen itu berisi rincian aliran dana yang terenkripsi menggunakan algoritma asimetris yang sangat kompleks. Kael menyalakan superkomputer pribadinya, jemarinya bergerak di atas keyboard dengan kecepatan mekanis. Ia mulai membedah kode-kode tersebut, mencoba menemukan benang merah antara kabinetnya dan Vane Group.

​Namun, di tengah tumpukan data finansial itu, ia menemukan sebuah amplop kecil berwarna hitam. Tanpa nama. Tanpa segel.

​Kael membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah foto polaroid tua. Foto itu menunjukkan seorang gadis kecil berdiri di depan sebuah gedung terbakar, mengenakan gaun putih yang ternoda abu. Gadis itu memiliki mata yang sama dengan Aurelia, liar, dingin, dan penuh luka. Di balik foto itu tertulis sebuah koordinat geografis dan satu kalimat pendek:

​"Curiosity killed the cat, but satisfaction brought it back. Are you satisfied yet, Kael?"

​Kael tertegun. Rasa ingin tahu itu kini bukan lagi tentang keamanan nasional. Itu berubah menjadi rasa lapar yang menyiksa untuk mengetahui siapa sebenarnya Aurelia Vane. Mengapa ia begitu membenci pemerintah? Mengapa ia begitu terobsesi untuk menghancurkan Kael, atau lebih tepatnya, mengapa ia ingin Kael ikut hancur bersamanya?

​Ia mulai mengaktifkan akses ke server intelijen tertinggi, menggunakan otorisasi tingkat satu yang hanya boleh digunakan dalam keadaan perang. Kael memindai basis data Interpol dan deep web yang tidak tersentuh oleh unit sibernya. Ia mencari profil Aurelia yang asli, bukan profil publik yang dipoles oleh tim humas Vane Group.

​Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Kopi di meja Kael sudah mendingin, tidak tersentuh. Matanya yang memerah terus menatap layar yang menampilkan serangkaian algoritma dekripsi data.

​Ia mencoba memecahkan lapisan enkripsi pada file bernama "Project Chrysalis" yang ia temukan di dalam folder yang diberikan Aurelia. Semakin dalam ia masuk, semakin sesak napasnya. Aurelia tidak hanya meretas sistemnya, ia telah menanamkan "bibit" di dalam infrastruktur energi negara sejak sepuluh tahun lalu, bahkan sebelum Kael menjabat sebagai Perdana Menteri.

​"Dia bukan baru saja muncul," gumam Kael, suaranya parau oleh kelelahan dan adrenalin. "Dia adalah arsitek dari kehancuranku yang sudah dipersiapkan sejak lama."

​Namun, yang membuat Kael semakin kehilangan kendali adalah rekaman audio yang tersimpan di bagian akhir file tersebut. Ia memasang headphone, dan suara yang keluar dari sana bukanlah suara transaksi ilegal, melainkan suara napas. Napas Aurelia yang berat, terekam di sebuah ruangan yang sunyi, disusul oleh bisikan pelan yang menyebut namanya.

​"Kael... kau sudah terlalu lama bermain di tempat terang. Tidakkah kau ingin tahu bagaimana rasanya terbakar di kegelapan bersamaku?"

​Suara itu terdengar sangat nyata, seolah Aurelia berdiri tepat di belakangnya, membisikkan racun itu langsung ke telinganya. Kael melepaskan headphone nya dengan sentakan keras, dadanya naik turun dengan cepat. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke lembah yang masih gelap.

​Tangannya menyentuh lehernya, tepat di tempat kuku Aurelia menggoresnya tadi malam. Sensasi itu masih ada, dingin, tajam, dan memabukkan. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi memeriksa dokumen itu untuk mencari bukti kejahatan. Ia mencarinya karena ia haus akan setiap jengkal keberadaan Aurelia. Ia ingin tahu apa yang wanita itu makan, apa yang ia mimpikan, dan siapa pria-pria yang pernah menyentuh kulit porselen itu sebelum dirinya.

​Rasa cemburu yang primitif mulai merayap di pembuluh darahnya saat ia teringat foto Aurelia di atas yacht bersama para elite dunia. Ia membayangkan tangan-tangan pria lain menyentuh pinggangnya, atau bibir pria lain yang mendengar tawa gelapnya.

​Kael kembali ke mejanya, namun kali ini ia tidak membuka dokumen pemerintah. Ia membuka sistem pengawasan satelit real time. Dengan koordinat yang ia miliki sebagai penguasa negara, ia mengarahkan lensa satelit ke kediaman pribadi Aurelia, sebuah penthouse di puncak Vane Center.

​Layar monitornya kini menampilkan gambar termal dari lantai teratas gedung tersebut. Di sana, di balkon yang tadi ia datangi, terlihat satu titik panas. Siluet tubuh seseorang yang sedang berdiri sendirian di tengah dinginnya udara pagi.

​Kael memperbesar gambar itu hingga resolusi maksimal. Meskipun hanya gambar termal, ia bisa mengenali postur tubuh itu. Aurelia sedang menatap ke arah perbukitan, tepat ke arah di mana rumah Kael berada. Seolah-olah wanita itu tahu bahwa di detik ini, Kael sedang mengawasinya dari angkasa.

​Aurelia mengangkat gelasnya ke arah kamera satelit, sebuah gestur penghormatan yang mengejek.

​Kael mengepalkan tangannya di atas meja. Obsesi ini sudah melampaui batas kewajaran. Ia adalah seorang Perdana Menteri, pria yang seharusnya memikirkan nasib jutaan rakyatnya, namun malam ini ia menghabiskan sumber daya negara hanya untuk mengintip seorang wanita yang merupakan musuh besarnya.

​"Apa yang kau lakukan padaku, Aurelia?" desisnya pada layar monitor.

​Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar.

​"Berhenti menggunakan satelit negaramu untuk mengintipku, Kael. Itu sangat tidak sopan. Jika kau ingin melihatku lebih dekat, kau tahu di mana harus menemukanku. Tapi ingat, setiap kali kau melihat, kau akan semakin terjebak. Kau tidak sedang mempelajari musuhmu, kau sedang membangun penjaramu sendiri."

​Kael melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak. Amarah dan gairah meledak dalam dirinya dalam waktu yang bersamaan. Ia merasa telanjang di depan wanita itu. Setiap langkah taktisnya, setiap pikiran rahasianya, seolah sudah terbaca oleh Aurelia.

​Ia berjalan ke arah cermin besar di sudut ruangan. Kael merapikan kemejanya, mengancingkan kancing teratasnya, dan mencoba mengembalikan tatanan rambutnya yang berantakan. Ia harus kembali menjadi sang Perdana Menteri yang dingin. Ia harus memegang kendali.

​Namun, saat ia menatap matanya sendiri di cermin, ia melihat pantulan seorang pria yang sedang tenggelam. Ia tidak lagi melihat seorang pemimpin bangsa, ia melihat seorang pemburu yang menyadari bahwa dirinya sebenarnya adalah mangsa.

​Rasa ingin tahu yang berbahaya ini telah berubah menjadi kebutuhan fisik. Kael menyadari bahwa ia tidak akan bisa tidur, tidak akan bisa memerintah, dan tidak akan bisa bernapas dengan benar sampai ia berhasil menaklukkan Aurelia Vane, bukan di meja perundingan, bukan di dalam sel penjara, tapi di bawah kekuasaan mutlaknya sendiri.

​Matahari mulai terbit di ufuk timur, membiaskan cahaya jingga yang pucat ke dalam ruang kerja itu. Kael berdiri tegak, wajahnya kembali menjadi topeng pualam yang tak tertembus. Namun di balik jas mahalnya, jantungnya berdetak dengan ritme yang liar.

​Permainan ini baru saja dimulai, dan Kael tahu, untuk memenangkan perang ini, ia harus bersedia kehilangan segalanya, termasuk nuraninya.

​"Kau ingin aku terbakar di kegelapan, Aurelia?" gumamnya sambil mengambil kembali jasnya. "Maka aku akan memastikan kau adalah orang yang memegang obornya saat aku melakukannya."

​Pagi itu, Kael Arden keluar dari rumahnya bukan untuk bekerja, melainkan untuk memulai sebuah perburuan yang akan menghancurkan tatanan dunianya selamanya. Dan jauh di pusat kota, Aurelia Vane tersenyum sambil menyesap wiski terakhirnya, menunggu sang singa yang kini sudah terjerat dalam jaring laba-labanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!