NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benteng Persatuan

Langkah kaki mereka bergema di lantai marmer kediaman utama keluarga Buwana. Tempat yang dulu terasa dingin, penuh ketegangan, dan seolah menjadi penjara bagi Naura, kini berubah menjadi benteng kekuatan yang kokoh. Di bawah cahaya lampu gantung kristal yang megah itu, Dewa Angkasa Buwana berjalan di depan, tubuhnya tegap, aura kekuasaan dan kekejaman yang dikenal seluruh dunia bawah tanah kembali terpancar kuat dari setiap gerak-geriknya. Di sampingnya, Naura berjalan sejajar, tangannya tergenggam erat di tangan suaminya, wajahnya memancarkan keberanian seorang Ratu yang siap memimpin bersama rajanya. Di belakang mereka, mengikuti dengan penuh rasa hormat dan ketulusan, ada Ibu Maya, Rian, Raga, Pak Wahyu, dan Sera wanita yang dulunya penuh rahasia, namun kini telah membuktikan dirinya sebagai sekutu paling berharga dan sahabat sejati.

Sera berjalan dengan kepala tegak, tidak lagi menyembunyikan apa pun. Tatapannya jernih, penuh penyesalan atas masa lalu yang keliru, namun juga penuh tekad untuk menebus segalanya. Ia adalah saksi sejarah panjang perseteruan ini, dan kini ia menjadi pendukung terbesar persatuan Buwana dan Zafira.

Sesampainya di ruang kerja utama yang luas dan beraroma kayu mahoni, Dewa berhenti. Ia berbalik menghadap mereka semua. Wajahnya yang tampan namun dingin itu kini tampak serius, sorot matanya tajam meneliti satu per satu orang yang berdiri di hadapannya orang-orang yang kini menjadi satu keluarga besar, terikat oleh kebenaran dan tujuan yang sama.

"Kita sudah melewati satu pertempuran besar," suara Dewa terdengar rendah namun bergetar kekuatan, menggema di ruangan itu. "Arga sudah jatuh, kebohongan soal hubungan darah antara aku dan Naura sudah terbongkar total, dan kebenaran bahwa kita adalah dua keluarga besar yang berbeda, yang tidak memiliki ikatan darah apa pun, kini sudah jelas terang benderang bagi kita semua."

Dewa melirik sekilas ke arah Naura, tatapannya melembut sepersekian detik sebelum kembali berubah tajam.

"Namun, jangan ada yang berpikir bahwa semuanya sudah selesai. Arga hanyalah ujung tombak dari jaringan besar kejahatan yang ingin melihat nama Buwana dan Zafira musnah. Musuh yang sesungguhnya, orang-orang yang berada di balik layar, yang selama ini memanfaatkan ambisi orang lain untuk keuntungan mereka sendiri, mereka masih ada di luar sana. Mereka melihat kita bersatu, mereka melihat kekuatan kita, dan aku yakin mereka sedang ketakutan sekaligus merencanakan langkah selanjutnya yang lebih kejam."

Dewa melangkah perlahan mendekati meja kerja besar di tengah ruangan, tangannya yang berurat kuat menepuk permukaan meja itu pelan.

"Dunia tahu aku adalah iblis. Aku adalah pemimpin sindikat yang tidak pernah mengenal ampun. Bisnis yang kami bangun bukan hanya bisnis bersahabat yang duduk di balik meja kaca. Bisnis ini berjalan di dua kaki: kaki hukum yang sah dan kokoh, serta kaki kekuasaan di bawah tanah yang berdarah dan penuh ancaman. Aku membangun kekuasaan ini dari puing-puing kehancuran masa lalu, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun meruntuhkannya, apalagi menyakiti wanita yang menjadi nyawaku sendiri."

Sera maju selangkah, wajahnya penuh kesungguhan. Ia menatap Dewa dan Naura bergantian.

"Dewa, Naura... aku tahu aku orang yang paling banyak menyimpan rahasia, dan aku tahu butuh waktu lama bagi kalian untuk benar-benar mempercayaiku sepenuhnya. Dulu aku terjebak dalam pandangan yang salah, aku mengira persaingan adalah satu-satunya cara bertahan, dan aku terlalu takut untuk bicara jujur. Tapi setelah melihat pengorbanan kalian, setelah melihat cinta yang tumbuh di tengah kebencian, aku sadar aku salah besar."

Sera menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan mata berkilat tekad.

"Aku tahu setiap inci wilayah, setiap jalur perdagangan, setiap nama orang penting, dan setiap celah kelemahan yang dimiliki oleh kelompok yang selama ini berusaha menghancurkan kita. Aku tahu siapa saja yang masih memegang kendali di balik layar. Mulai hari ini, semua pengetahuan itu, semua koneksi yang aku miliki, semuanya aku serahkan padamu, Dewa. Padamu dan Naura. Aku berjanji akan berjuang di barisan terdepan, menebus semua kesalahanku, dan menjadi teman setia yang tidak akan pernah mundur meski harus menghadapi maut sekalipun."

Dewa menatap wanita itu lekat-lekat. Ia bisa merasakan ketulusan yang mengalir dari setiap kata yang diucapkan Sera. Dulu, ia menganggap wanita ini sebagai sosok yang penuh teka-teki dan bahaya, namun kini ia tahu, kehadiran Sera adalah aset terbesar yang mereka miliki. Sera tahu di mana letak jebakan, dan Sera tahu bagaimana cara menaklukkan mereka.

"Terima kasih, Sera," ucap Dewa pelan namun tegas. "Masa lalu sudah lewat. Yang penting sekarang adalah ke mana kita akan melangkah ke depan. Aku tidak pernah membenci kamu, aku hanya membenci kebohongan yang memisahkan kita semua. Dan hari ini, kamu sudah membuktikan bahwa kamu berada di pihak kebenaran. Mulai detik ini, kamu bukan lagi sekadar kenalan orang tua, tapi kamu adalah bagian dari keluarga ini, sekutu terpercaya kami."

Naura tersenyum hangat, lalu berjalan mendekati Sera dan meraih tangan wanita itu. "Benar kata Dewa. Kita semua pernah tersesat, kita semua pernah dibutakan oleh dendam. Tapi sekarang kita sama-sama melihat cahaya yang sama. Kita akan berjuang bersama, Sera. Kita akan menjaga nama besar Buwana dan Zafira, dan kita akan memastikan tidak ada lagi kebohongan yang bisa memisahkan kita."

Suasana di ruangan itu menjadi hangat dan penuh tekad. Ibu Maya tersenyum bahagia melihat persatuan yang akhirnya terjalin, sementara Rian, Raga, dan Pak Wahyu mengangguk mantap, siap melaksanakan perintah apa pun yang akan diberikan oleh pemimpin mereka.

Dewa kembali berdiri tegak, aura pemimpin yang kejam dan berwibawa kembali mendominasi ruangan. Ia berjalan ke arah peta besar wilayah kekuasaan yang tergantung di dinding, menunjuk garis-garis wilayah bisnis dan jalur kekuasaan yang tersebar luas.

"Besok pagi, kita mulai langkah besar pertama," perintah Dewa tegas, suaranya berubah menjadi komando yang mutlak. "Rian, kumpulkan semua pemimpin cabang dan pengurus bisnis kita. Kita akan melakukan pembersihan besar-besaran. Siapa saja yang masih memiliki hubungan atau loyalitas pada musuh, siapa saja yang mencoba memainkan dua peran, mereka harus disingkirkan. Tidak ada tempat bagi pengkhianat di kerajaanku. Aku tidak peduli seberapa besar keuntungan yang mereka berikan, jika mereka berbahaya bagi keluarga ini, mereka harus musnah."

Rian menunduk hormat. "Siap, Tuan Dewa. Akan saya laksanakan dengan ketat."

Dewa menoleh ke arah Raga dan Pak Wahyu. "Kalian berdua bekerja sama dengan Sera. Kalian akan memetakan kembali seluruh aset, baik yang tercatat resmi maupun aset tersembunyi yang dulu disembunyikan oleh kelompok musuh. Kita akan ambil alih semuanya. Bisnis ini harus semakin kuat, semakin luas, dan tidak boleh ada celah sedikit pun yang bisa dimasuki lawan. Kekayaan Buwana dan Zafira harus menyatu, menjadi kekuatan ekonomi yang tak tergoyahkan di negeri ini."

"Baik, Tuan. Kami akan bekerja sekuat tenaga," jawab Raga mantap.

Terakhir, Dewa menoleh ke arah Naura. Tatapannya berubah lembut, namun di balik kelembutan itu tersimpan rasa bangga dan kepemilikan yang tak terbatas. Ia berjalan mendekat, lalu merangkul bahu istrinya, memposisikan wanita itu berdiri di sampingnya di hadapan semua orang, setingkat dengannya.

"Dan kau, Naura..." ucap Dewa pelan, namun terdengar jelas oleh semua orang. "Kau adalah Nyonya Buwana, dan kau adalah pewaris murni keluarga Zafira. Sejak awal pernikahan ini, aku mengira kau hanya gadis lemah yang dikirim sebagai tumbal. Aku mengira kau adalah musuh yang harus kuhukum. Tapi ternyata, kaulah kekuatan terbesarku. Kaulah satu-satunya wanita yang mampu berdiri tegak di sampingku, di dunia yang penuh darah, bahaya, dan kekejaman ini."

Dewa menatap mata istrinya lekat-lekat, menegaskan kembali kebenaran yang menjadi pondasi hidup mereka sekarang.

"Ingatlah selalu, istriku sayang. Kita tidak bersaudara. Tidak ada setetes pun darah yang sama di tubuh kita. Kita dipersatukan bukan karena kewajiban atau ikatan keluarga, melainkan karena takdir yang menyatukan dua kekuatan besar, dan karena cinta yang tumbuh melewati duri dan darah. Kau bebas mencintaiku sepenuhnya, dan aku berhak memilikimu seutuhnya. Tidak ada dosa, tidak ada larangan, dan tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa memisahkan kita lagi."

Naura tersenyum indah, matanya berbinar penuh cinta dan kebanggaan. Ia membalas genggaman tangan suaminya.

"Aku tahu itu, Dewa. Dan aku siap. Aku siap menjadi Ratu yang kau butuhkan, aku siap menghadapi musuh-musuhmu, aku siap mengelola bisnis besar ini bersamamu. Di mana pun kau berada, di sisi mana pun kau bertarung, aku akan selalu ada di sana. Kita bukan lagi dua keluarga yang saling bermusuhan. Kita adalah satu kekuatan mutlak."

Dewa mengecup kening istrinya sejenak, lalu kembali menatap semua orang yang ada di ruangan itu dengan sorot mata mematikan seorang penguasa.

"Permainan belum selesai. Musuh masih banyak, bahaya masih mengintai, dan perjalanan kita masih sangat panjang hingga kita benar-benar mencapai puncak kekuasaan dan kedamaian yang abadi. Tapi mulai hari ini, kita berjalan dengan kebenaran di sisi kita. Kita berjalan bersatu, tidak terpecah belah lagi oleh kebohongan apa pun."

Suara Dewa menggelegar penuh semangat dan ancaman bagi siapa saja yang berani melawan.

"Siapa pun yang berani menghalangi jalan kita, siapa pun yang berani mengancam keselamatan keluarga ini, atau siapa pun yang berani mencoba memisahkan aku dan Naura... mereka akan merasakan arti sesungguhnya dari kejamnya seorang Dewa Angkasa Buwana. Aku akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, sampai nama mereka hilang dari sejarah, dan tidak ada satu pun yang berani mengingat mereka lagi."

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!