NovelToon NovelToon
Terapi Hati Psikiater Gemulai

Terapi Hati Psikiater Gemulai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Dokter Genius
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.

Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.

Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.

Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Dia Lelaki kan?

"Tante?" ucap pria itu dengan sedikit terkejut menyambut kehadiran mereka.

Namun, ibu Lova hanya bisa tersenyum bingung menggaruk pelipisnya. Sementara Lova memilih diam menundukkan kepala.

"Maaf, Dok. Apakah kita pernah bertemu?" tanya sang ibu.

Pria yang mengenakan jas berwarna putih itu tersenyum tipis dan sedikit menghela napas. Wajar saja wanita itu tak mengenalnya lagi. Saat kuliah di luar negeri, ia memang merombak beberapa bagian di wajahnya. Dengan memasang senyum profesional, ia menyilakan kedua pasien tersebut untuk duduk.

"Ada yang perlu saya bantu?" tanyanya setelah memastikan kedua tamu terlihat duduk dengan nyaman.

"Begini, Dok ... Ini putri saya ..."

Di tangan sang psikiater ini, terlihat beberapa dokumen tentang wanita muda yang ada di samping sang ibu. "Zarish Allova ... Zarisha?" tebaknya.

Nama itu langsung menarik ingatannya pada malam hujan dua puluh tahun lalu. Gadis kecil yang pingsan dalam pelukannya. Dengan panik ia menggendong gadis kecil itu ke sebuah rumah sakit terdekat. Dan suara panik kedua orang tuanya yang terus memanggil:

“Zarisha!”

Wanita muda itu tersentak mendengar sebuah nama yang berusaha ia kubur. Kedua tangannya, tergenggam erat di atas pangkuan.

"Lova, Dok ... Kami memanggilnya dengan Lova," terang sang ibu mewakilkan Lova yang terus bungkam.

Sejenak, kening pria itu mengerut. Ia menekan tombol pada telepon yang ada di hadapannya.

"Iya, Dok?" ucap yang di seberang.

"Tolong ke sini sebentar," ucap sang dokter.

Pintu putih itu terbuka. "Ya Dokter Arnold, ada yang bisa saya bantu?"

"Sebentar," ucap Dokter yang ternyata bernama Arnold itu.

"Tant, eh maksud saya Bu ... Ibu mau menyembuhkan putri Ibu kan?"

Wanita paruh baya itu mengangguk dengan cepat.

"Kalau begitu, saya minta izin untuk meninggalkan kami berdua saja," permintaan sekaligus perintah dari pria yang bekerja sebagai ahli kejiwaan ini.

"Tapi, anak saya takut dengan pria, Dok," ucap sang ibu turut merasa khawatir.

Arnold melihat ke arah Lova yang masih tertunduk. "Oh, begitu ..." Ia mengangguk tipis. "Justru karena itu saya minta Ibu untuk meninggalkan kami. Karena, pengobatan ini akan lebih mudah jika kami hanya berdua."

Sang ibu mengangguk dan bersiap bangkit. Namun, dengan cepat tangan Lova menahan sang ibu dan kepalanya menggeleng beberapa kali.

"Mbak jangan khawatir. Dokter Arnold akan membantu mengatasi masalah, Mbak," ucap sang perawat yang telah berada di sisi ibunya.

"Ma," bisik Lova.

"Ayolah ... Kamu pasti bisa, Lova. Mama akan menunggumu di luar." Sang ibu bangkit dan melepaskan genggaman tangan putrinya dan segera keluar bersama sang perawat.

Lova mematung. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia merasa terjebak, di sebuah ruangan tertutup bersama pria asing.

"Adik kecil, anggap aku ini adalah kakak kamu!" ucap Arnold dengan suara ringan, persis seperti pertama kali masuk ke ruang ini.

Kepala Lova setengah terangkat, mencoba memastikan siapa yang baru saja berbicara. Meski ia tak berani melihat wajahnya langsung. Ia hanya melihat name tag pada jas putih yang dikenakan. Terlihat sebuah nama: dr. Arnoldy Darmawan, MD, Psychiatrist.

"Ibumu bilang, kamu takut pada pria. Hmmm, kamu pasti capek ya, hidup penuh ketakutan selama itu?" ucapnya bersandar santai pada kursi kerja.

Lova mengernyitkan kening heran mendengar obrolan dari sang dokter. Anehnya, kali ini jantungnya masih berdetak seperti biasa tanpa rasa berat.

Setelah sekian menit menunggu jawaban, tetapi tak kunjung terdengar suara dari pasiennya. Pipinya menggembung dan bibirnya sedikit tertaut.

"Jawab dong, masa aku didiemin kayak gini? Aku ini bukan patung loh ..." Kali ini, dokter itu menumpukan dagu pada tangan kirinya. Jemari tangan yang lain mengetuk meja pelan.

Lova mengangguk pelan, tetapi kepalanya semakin tertunduk.

"Loh? Angkat dong wajahnya! Kamu kan bukan tersangka ataupun narapidana. Jadi, coba lihat aku dulu deh. Aku kan tak semenakutkan itu ..." ucapnya dengan suara ringan, tanpa tekanan.

Lova mulai merasa ragu. Jempol di kedua tangannya saling beradu. Memang, dari cara sang dokter berbicara, ia merasa sedikit lebih santai. Bibirnya mulai bergerak.

"Sini lihat aku dulu, aku bukan monster kan?"

Perlahan, Lova mengangkat wajahnya. Ia langsung menangkap rupa seorang pria yang memiliki kulit glowing, dengan wajah rapi, bersih dari segala rambut khas pria yang biasa berada di sekitar hidung dan dagu.

"Ci ... Luk ... Ba ...," ucap Arnold dan terkekeh mencoba mencairkan suasana di antara mereka

Lova terbatuk melihat kelakuan pria yang terlihat begitu berkilauan ini. 'Apa benar, ada laki-laki seperti ini juga?' batinnya, menutup mulutnya menahan rasa geli.

"Nah, gitu dong. Kalau kamu tertawa, tertawa aja, gih! Biar perasaanmu bisa jadi lebih ringan."

Lova mengatupkan bibirnya rapat, tetapi pikirannya justru semakin berisik.

Bibir merah dokter itu terlihat terlalu bagus untuk ukuran laki-laki. Belum lagi alis rapi dan kulit terawat yang bahkan terasa lebih mulus dibanding miliknya sendiri.

‘Dia beneran lelaki kan?’ batinnya.

"Eit? Kamu bilang apa?" sela Arnold dengan wajah mendelit.

Lova tersentak. Ia tak mengatakan apa pun di bibirnya.

"Ayo ngaku!" Arnold mencabik melipatkan kedua tangannya di dada layaknya wanita yang sedang merajuk.

"Nga-ngaku apa, Dok?" tanya Lova gugup.

"Ayo ngaku! Kamu lagi gosipin aku di dalam hati kamu kan?"

Mendengar tuduhan absurd itu, tawa kecil lolos begitu saja dari bibir Lova sebelum cepat-cepat ia tutup dengan tangannya sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertawa di hadapan seorang pria.

Melihat perkembangan pasiennya, Arnold tersenyum puas sambil mengangguk kecil.

“Hmmm, aku boleh nanya enggak sih? Sebenarnya alasan kamu ke sini tuh buat apa?”

Kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut. Tidak lagi bercanda sepenuhnya.

“Ekhem ... sebenarnya ... Mama yang maksa,” jawab Lova pelan.

“Ohhh, jadi kamu pasien paksa ya?” gumam Arnold sambil menopang dagu. "Hari gini, masih suka dipaksa-paksa?"

Lova menggigit jarinya. "Soalnya Mama udah stress dengan keadaanku ini. Sudah enam kali pria datang ingin melamarku, tapi aku ...."

Ucapannya kembali terhenti. Kedua matanya terpicing dan hendak menunduk lagi. Namun, sebelum kepala itu turun ...

"Eit, tunggu ... Tunggu ... Aku nggak mau ya, kamu melihat ke bawah terus. Kamu lihat aku dong!" ucapnya dengan cepat.

Lova yang hampir tenggelam, segera membuka mata. "Eh, iya, Dok."

"Nah, ayo ikut aku ...." Arnold bangkit dan berdiri di sisi Lova.

"Ke-kemana, Dok?" tanya Lova merasa tegang.

*bersambung*

1
mimief
wkwkwkwkwkwk
kamui itu
🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
iya dia istrimu dok....ayo buktikan kejantanan mu jgn bikin orang" memandang rendah harga diri mu dok
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
ya ampun Clarissa tambah kena mental sendiri kan ....niat mau berobat sekalinya melihat tambah parah 🤣🤣🤣🤣
mimief
mau ikut KA....
dimana aja yg penting ikuuuy🫣🤣
mimief: jiaaaaah 🤣🤣🫣
total 2 replies
Eva Karmita
satu kata LANJUT OTOR 🔥💪🥰
SoVay: huufft, akhirnya selesai juga nulisnya. tp buat malam ya kaka
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
masih ngarep ya Teddy. aq mulai bingung pilih yang mana 😂 teddy meski tau lova bagaimana, dia masih ttp bertahan
Aku Rajin Membaca
membayangkan ular lg mendesissss
Aku Rajin Membaca
duuuh, gimana nanti kalau lova udah jatuh cinta, ternyata malahnsadar dimanfaatin?
Aku Rajin Membaca
lova sebenarnya mau dianggap apa? jngan buru2 jtuh cinta ya?
Aku Rajin Membaca
arnold minta ditampol beramai-ramai nih kayaknya
Aku Rajin Membaca
nold,.lu kenapa cong? wkwkwkw..lg viral ni cong
Aku Rajin Membaca
setelah blokir teddy, kesadaran mulai mncul
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita: kasih balik cintaaaaaaa....
total 2 replies
mimief
sudah lah nold
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
Eva Karmita
jangan buat dokter Arnold lolos bikin Shok terapi buat pak dokter sadar hubungan pernikahan bukan untuk main"
Eva Karmita: karena kamu ngeselin tauuuuu....😩😏😜🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Eva Karmita
kopi meluncur... lanjut otor semangat 🔥💪🥰
SoVay: makasi ya kak 🙈
total 1 replies
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
mimief: aku jugaaaa...
bakalan ada
total 3 replies
Eva Karmita
kenak sudah kamu pak dokter makanya kalau ada masalah tu jangan lari ke club harusnya mendekatkan diri kepada Tuhan... pengen lihat setelah Lova dikirimi video tadi reaksinya kayak apa pengen lihat pak dokter nangis di pojokan kamar menyesali diri 🤣🤣🤣 kirim Ted biar tau rasa Arnold ditinggalkan istrinya kayak apa ....sebel jadi orang kok seenaknya ngk mikirin perasaan orang lain
Eva Karmita: wkwkwk 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!