NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit yang Mulai Berbicara

Tiga bulan telah berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Tiga bulan sejak Setya mengemasi sebagian pakaiannya dengan wajah penuh amarah—bukan karena menyesal, melainkan karena malu diusir oleh ibu kandungnya sendiri.

Kini, rumah besar milik Ibu Aminah menjadi saksi bisu bagaimana Arumi mencoba menyusun kembali kepingan hidupnya yang hancur. Setya benar-benar telah pergi, memilih untuk tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota bersama Raya, wanita yang ia sebut sebagai masa depan barunya.

​Arumi tidak lagi menangis. Matanya yang dulu selalu sembab kini tampak lebih jernih, meski tersimpan dingin yang membeku di sana. Setiap pukul tiga dini hari, saat dunia masih terlelap, Arumi sudah bergulat di dapur. Ia tidak lagi sekadar berjualan nasi uduk di depan rumah atau di pasar. Dengan bantuan Kak Nia dan modal kecil dari Ibu mertuanya, Arumi mulai merintis usaha katering kecil-kecilan. Tangannya yang kasar kini semakin sering bersentuhan dengan api dan pisau, ia tidak pernah mengeluh. Baginya, setiap butir keringat yang jatuh adalah cara untuk membasuh jejak pengkhianatan Setya dari ingatannya.

​"Rum, istirahat dulu. Ini sudah hampir jam enam, pesanan untuk kantor pelabuhan sudah siap dikirim," ujar Kak Nia sambil menyodorkan segelas teh hangat.

​Arumi mengusap peluh di pelipisnya. Mendengar kata pelabuhan, jantungnya tidak lagi berdegup kencang karena rindu, melainkan karena rasa muak. "Iya, Kak. Sebentar lagi. Aku mau pastikan sambalnya pas. Aku tidak mau pelanggan kecewa hanya karena aku kurang fokus."

​Di sela-sela kesibukannya, Arumi sesekali mendengar kabar tentang Setya. Kabar yang ia dengar tidak pernah indah. Hidup Setya bersama Raya tidak semanis yang dibayangkan pria itu.

Tanpa ada Arumi yang mengatur keuangan, tanpa ada Arumi yang menyiapkan segala kebutuhan dari hal terkecil hingga terbesar, hidup Setya mulai berantakan, dan itu belum seberapa. Karena hari ini, kejutan pertama dari sumpah Arumi mulai menampakkan wujudnya.

​Pagi itu, suasana pasar yang riuh mendadak gempar karena sebuah berita. Arumi yang sedang belanja bahan pokok tidak sengaja berpapasan dengan salah satu tetangga Mbak Sarah.

​"Eh, Arumi! Kamu sudah dengar belum? Itu ... si Sarah!" bisik wanita itu dengan wajah penuh semangat untuk bergosip.

​Arumi menghentikan kegiatannya memilih sayuran. "Mbak Sarah kenapa?"

​"Suaminya, si Bambang! Ternyata diam-diam punya simpanan di kota seberang, Rum! Parahnya lagi, si Bambang itu malah sudah menikah siri dan sekarang perempuan itu sedang hamil tua. Si Sarah ngamuk-ngamuk di rumahnya sampai pingsan karena si Bambang lebih memilih pergi membawa mobil dan tabungan mereka untuk perempuan itu. Persis seperti yang terjadi padamu, Rum!"

​Arumi tertegun sejenak. Ia teringat ucapannya di malam syukuran itu: 'Mbak Sarah, kamu akan merasakan bagaimana rasanya dikhianati suamimu sendiri!'

​Ada rasa getir yang aneh di dada Arumi, tapi bukan rasa kasihan. Ia hanya menatap langit pasar yang kusam. Satu-satu orang sudah mulai membayar harganya. Sarah, wanita yang dengan teganya memfasilitasi pernikahan siri Setya dan Raya, kini justru harus menelan pil pahit yang sama. Ia yang dulu menertawakan Arumi karena kurang merawat diri, kini harus merasakan bagaimana rasanya dibuang demi wanita yang lebih subur.

​Namun, rentetan berita duka tidak berhenti di sana. Belum kering luka di hati Sarah, sebuah kabar yang lebih mengejutkan datang dua hari kemudian.

​Telepon di rumah Bu Aminah berdering kencang di tengah malam. Kak Nia yang mengangkatnya, dan seketika wajahnya pucat pasi. Ia segera memanggil Arumi dan Bu Aminah yang sedang beristirahat.

​"Ada apa, Nia? Siapa yang telepon jam begini?" tanya Bu Aminah cemas.

​"Ibu ... Tante Ratna, Bu," suara Nia bergetar. "Tante Ratna mengalami kecelakaan beruntun saat pulang dari luar kota bersama keluarga besarnya. Mobilnya hancur dihantam truk. Tante Ratna ... meninggal di tempat dengan kondisi yang sangat tragis."

​Arumi merasa seolah oksigen di sekitarnya tersedot habis. Tante Ratna. Orang yang menjadi saksi pernikahan siri Setya. Orang yang mendukung penuh Raya untuk masuk ke dalam rumah tangganya. Meninggal secara mendadak dan tragis.

​Bu Aminah menangis, bagaimanapun Tante Ratna adalah kerabatnya. Arumi hanya bisa terdiam membeku. Pikirannya melayang pada sumpah yang ia ucapkan di bawah langit malam itu. Ia meminta keadilan, tapi ia tidak menyangka bahwa keadilan itu akan datang dengan cara yang begitu mengerikan.

​"Ya Allah..." bisik Arumi lirih. Ia merasa bulu kuduknya meremang.

​Keadaan keluarga besar yang dulu mengkhianatinya kini berubah menjadi mendung yang pekat. Kabar duka terus menyusul seperti ombak yang tak kunjung reda. Tak lama setelah pemakaman Tante Ratna, salah satu adik Mbak Sarah yang dulu paling kencang menyindir Arumi di dapur, tiba-tiba jatuh sakit. Bukan sakit biasa, melainkan penyakit serius yang menyerang syaraf, membuatnya lumpuh dalam waktu singkat dan menghabiskan sisa harta keluarga mereka untuk biaya pengobatan yang tak kunjung membuahkan hasil.

​Satu per satu, orang-orang yang tertawa di atas penderitaan Arumi kini tertunduk lesu karena beban hidup yang tiba-tiba menghantam.

​Di tengah semua kekacauan itu, Setya mulai merasakan getarannya. Jabatan yang dulu ia banggakan di pelabuhan mulai goyah karena ia sering tidak fokus bekerja, tertekan karena masalah keuangan dan Raya yang mulai menunjukkan sifat aslinya yang manja dan boros. Raya bukan Arumi. Raya tidak tahu cara mengelola uang recehan menjadi modal dagang. Raya hanya tahu cara menghabiskan gaji Setya dalam sekejap untuk pakaian dan kosmetik.

...----------------...

​Sore itu, Setya mencoba datang ke rumah ibunya. Ia tampak kusam, berat badannya turun, dan wajahnya tidak lagi bercahaya. Ia berdiri di depan pagar, menatap Arumi yang sedang sibuk mengemas kotak-kotak katering.

​"Rum..." panggil Setya dengan suara serak.

​Arumi menghentikan gerakannya. Ia tidak mendekat ke pagar. Ia hanya menatap suaminya—atau calon mantan suaminya itu—dari kejauhan. Tidak ada lagi cinta di mata Arumi. Yang ada hanyalah tatapan seorang asing.

​"Mau apa kamu ke sini, Setya?" tanya Bu Aminah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, suaranya dingin dan tajam.

​"Setya cuma mau lihat anak-anak, Bu. Dan ... Setya dengar soal Tante Ratna dan Mbak Sarah. Setya takut, Bu. Semuanya seperti ... seperti tidak masuk akal," ujar Setya dengan suara bergetar.

​"Takut?" Arumi akhirnya bersuara. Ia berjalan perlahan menuju pagar, tangannya tetap memegang erat celemeknya. "Kamu takut karena melihat mereka tumbang satu per satu? Kamu takut karena sekarang gilirannya akan sampai padamu?"

​"Arumi, tolong jangan bicara begitu. Aku suamimu—"

​"Suamiku sudah mati di malam kalian tertawa di rumah Sarah," potong Arumi tanpa emosi.

"Sekarang, kamu hanya seorang pria yang sedang menunggu antrean karmanya sendiri. Pergilah, Setya. Jangan bawa kesialanmu ke rumah ini. Doa yang kupanjatkan setiap sujudku belum selesai. Dan aku tidak akan pernah menarik satu kata pun dari sumpahku sampai aku melihat keadilan yang seadil-adilnya."

​Setya menatap Arumi dengan ngeri. Ia seolah tidak mengenali wanita di depannya. Arumi yang dulu lembut dan penurut kini telah menjelma menjadi wanita yang memiliki ketegasan sedingin es. Dengan langkah gontai, Setya berbalik pergi, tanpa tahu bahwa di dalam kantong celananya, ia baru saja menerima surat peringatan pertama dari kantornya—awal dari kejatuhan ekonominya yang akan segera menyusul.

​Arumi kembali ke dapur. Ia mengambil pisau dan kembali mengiris sayuran. Setiap irisan itu terasa seperti cara ia membuang masa lalunya. Langit memang mulai berbicara, dan bagi Arumi, ini barulah awal dari babak baru kehidupannya yang mandiri.

1
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
setya bukannya nyari istrinya malahan dudk didket raya🙄
Risa Istri Cantik
Sarah itu karma buatmu
Risa Istri Cantik
Setya ngemis kerjaan ke mantan istri
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
astaga semua itu juga karena ngurus anak dan kamu
Risa Istri Cantik
Sumpah serapahnya Arumi jadi nyata
Risa Istri Cantik
Arumi jadi wanita tangguh
Risa Istri Cantik
Arumi pasti perasaannya campur aduk
Risa Istri Cantik
Setya mengkhianati Arumi ya kejam
Risa Istri Cantik
Setya ngga tahu diri deh
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
putus iya karena ga suka kamu kali si dhanu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ibumu udah kecewa berat smaa kamu setya
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
cinta kan ga bisa dipaksa valerie😔
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
anaknya arumi, bukanya anakmu juga
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
ibumu pikir, setya bakalan berubah ternyata malahan nmbah parah😭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
gila, dia bikin ibunya kena serangan jantung demi raya😭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
nah iya bner
kamu anak durhaka🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ternyata beban sesungguhnya adalah raya🤭🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
iya setya itu bodoh buang berlian demi batu krikil 🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
iri kan, keluargamu lebih memilih orang lain dibanding anak durhaka kaya kamu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
lagian kamu ninggalin keluarga demi orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!