Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Malam di mansion pesisir pantai itu biasanya diisi dengan kemesraan yang tanpa sekat. Setelah berbulan-bulan membangun kembali puing-puing kepercayaan dan kesehatan pasca-trauma, kamar utama mereka telah menjadi tempat perlindungan paling suci bagi Ezzra dan Elowen.
Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan pendar keemasan pada sprei sutra yang kusut, sementara suara deburan ombak di luar jendela menjadi musik latar yang menenangkan.
Ezzra baru saja selesai mandi, handuk masih melingkar di pinggangnya, memperlihatkan otot punggungnya yang kokoh. Ia melangkah menuju laci nakas tempat ia biasanya menyimpan kotak kecil yang selama ini menjadi "protokol wajib" setiap kali mereka bercinta. Namun, saat jemarinya meraba ke dalam laci yang biasanya berisi beberapa strip pengaman, ia hanya menemukan kekosongan.
Ezzra mengernyit. Ia membuka laci itu lebih lebar, mengaduk isinya, namun tetap tidak menemukan apa-apa.
"Sayang?" panggil Ezzra, menoleh ke arah Elowen yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca sebuah buku jurnal penelitian. "Kau melihat kotak kecil di laci ini? Di mana semua pengaman kita?"
Elowen tidak langsung menjawab. Ia menutup bukunya perlahan, meletakkannya di atas pangkuannya, lalu menatap Ezzra dengan tatapan yang sangat tenang—bahkan terlalu santai untuk situasi tersebut.
"Oh, itu. Sudah kuberikan pada pelayan tadi pagi untuk dibuang," jawab Elowen singkat.
Ezzra mematung. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena gairah, melainkan karena rasa terkejut yang tiba-tiba. "Kenapa dibuang? Kita baru membelinya minggu lalu, El."
Elowen memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke mata gelap suaminya. "Aku ingin hamil, Ezzra. Jadi, berhenti memakai pengaman itu. Aku ingin kita melakukan ini secara alami mulai malam ini."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Ezzra merasa lidahnya mendadak kelu. Pikirannya melayang pada sebuah pembicaraan rahasia di ruang kerja Logan Valerio, tepat dua hari sebelum pernikahan mereka berlangsung.
Hari itu, Logan Valerio menatap Ezzra dengan tatapan yang sangat tajam, jauh lebih mengintimidasi daripada saat ia memberikan bogem mentah di rumah sakit. Logan tidak membicarakan soal warisan atau saham, melainkan soal kesehatan putri satu-satunya.
"Ezzra, aku memberikan restuku padamu bukan tanpa syarat," suara Logan waktu itu terdengar berat dan penuh peringatan.
"Dokter pribadi keluarga sudah memberitahuku secara detail. Rahim Elowen mengalami syok hebat akibat kejadian itu. Keguguran yang dialaminya bukan keguguran biasa; ada trauma jaringan yang serius. Jika dia hamil lagi dalam waktu dekat, nyawanya taruhannya. Risiko pendarahan dan kegagalan organ sangat tinggi."
Logan mencengkeram bahu Ezzra kuat-kuat. "Pastikan dia jangan dulu hamil selama setahun pertama. Gunakan pengaman. Lakukan apa pun agar itu tidak terjadi sampai dokter menyatakan dia benar-benar pulih. Jangan beritahu dia soal risiko ini, aku tidak ingin dia merasa cacat atau dihantui ketakutan lagi. Biarkan ini menjadi tanggung jawabmu sebagai laki-laki."
Ezzra telah menyanggupi janji itu. Baginya, keselamatan Elowen adalah hukum tertinggi. Selama berbulan-bulan ini, ia dengan disiplin menggunakan pengaman, menahan egonya yang sebenarnya juga sangat mendambakan kehadiran buah hati dari rahim wanita yang dicintainya.
Kembali ke masa kini, Ezzra mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat panik. Ia mendekat ke ranjang, duduk di tepi kasur sambil mengusap lembut pipi Elowen.
"El... bukankah kita sudah membicarakan ini?" ucap Ezzra dengan suara yang ia usahakan tetap lembut. "Kita masih kuliah, Sayang. Semester ini jadwalmu sangat padat dengan proyek penelitian itu. Aku hanya berpikir... mungkin bukan sekarang waktunya. Kita punya seluruh hidup kita untuk punya anak nanti."
Elowen mengerutkan kening, ia tampak tidak puas dengan jawaban itu. Ia menepis tangan Ezzra dengan halus. "Alasan kuliah lagi? Ezzra, kau tahu itu tidak masuk akal. Kak Florence bahkan hamil Apolo saat usianya masih delapan belas tahun. Dia bisa melewatinya, dia bisa membagi waktu antara mengurus anak dan urusan sosialnya. Dan aku pun begitu. Aku pasti bisa."
Elowen memegang tangan Ezzra, menatapnya dengan binar harapan yang membuat hati Ezzra terasa tersayat.
"Kita akan mencobanya, Ez. Aku ingin ada bagian dari dirimu yang tumbuh di dalam diriku. Aku merasa sudah siap. Fisikku sudah kuat, aku sudah berolahraga, aku sudah minum vitamin—"
"Tidak, El. Belum saatnya," potong Ezzra cepat, mungkin sedikit terlalu keras.
Deg.
Elowen terdiam. Ia menatap Ezzra dengan tatapan tidak percaya. "Apa? Kau barusan bilang apa?"
Ezzra memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap mata Elowen yang mulai berkaca-kaca. "Aku belum ingin punya anak sekarang. Itu keputusanku."
Kalimat itu keluar begitu saja sebagai mekanisme pertahanan Ezzra untuk merahasiakan kondisi medis Elowen. Ia lebih baik terlihat seperti suami yang egois daripada harus melihat Elowen hancur karena mengetahui rahimnya masih terlalu rapuh untuk mengandung.
"Kau belum ingin...?" suara Elowen bergetar. "Setelah semua yang kita lalui? Setelah kehilangan yang kemarin? Aku pikir kau juga menginginkannya, Ezzra. Aku pikir kau ingin kita menebus kehilangan itu."
"Memiliki anak bukan soal menebus kesalahan masa lalu, Elowen!" Ezzra berdiri, berjalan menjauh menuju balkon.
"Aku hanya tidak ingin perhatianmu terbagi. Aku ingin kau fokus pada studimu, pada dirimu sendiri. Aku masih ingin memilikimu seutuhnya tanpa gangguan siapa pun, bahkan anak kita sendiri sekalipun."
Kebohongan itu meluncur lancar dari bibir Ezzra, meskipun di dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri. Ia tahu betapa kata-katanya akan menyakiti Elowen, namun ia tidak punya pilihan. Baginya, kemarahan Elowen jauh lebih baik daripada kematian Elowen.
"Kau sangat egois, Ezzra Velasquez," ucap Elowen lirih. Ia bangkit dari ranjang, mengambil bantalnya, dan berjalan menuju pintu kamar.
"Kau mau ke mana?" tanya Ezzra panik.
"Tidur di kamar tamu. Jika kau begitu takut perhatianku terbagi, maka malam ini kau tidak akan mendapatkan perhatianku sama sekali," jawab Elowen dingin sebelum membanting pintu kamar dengan keras.
Ezzra jatuh terduduk di lantai balkon, menyandarkan kepalanya pada pagar besi yang dingin. Ia menatap langit malam yang kelam, merasakan beban rahasia yang kini menghimpit dadanya. Ia telah memenangkan pertempuran soal pengaman malam ini, namun ia tahu, ia baru saja memulai perang dingin dengan wanita yang paling dicintainya—sebuah perang yang ia jalani demi menjaga nyawa sang istri tetap ada di sisinya.
sehat2 selalu buat kak penulisnya 🤗