Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 4.
Akhirnya mau tak mau Aurora kembali menghampiri Gama.
"Ada apa kak?." Tanya Aurora ingin sekali ia langsung cabut, tapi khawatir Gama akan makin marah.
Menggerakkan kepala ke samping kearah kursi yang tadi mereka duduki, seolah mengatakan Aurora harus duduk kembali tanpa bisa membantah.
Aurora menghela napas berat akhirnya Aurora duduk kembali di samping Gama, hening tidak ada yang berbicara.
"Soal pengakuan—" Belum juga Gama menyelesaikan bicaranya Aurora menyelanya.
"Kak aku minta maaf sekali lagi, aku—bohong sama kakak aku minta maaf." Ungkap Aurora jujur ia merasa cemas melihat respon Gama yang diam tanpa membalas pengakuan Aurora.
"Bohong apa?." Tanya Gama setelah diam beberapa saat.
Aurora meremas kedua tangan gugup."i—itu soal waktu pengakuan kalau a—aku suka s—sama kakak dan ngajak kakak pacaran." Aurora terbata bata menjawab pertanyaan Gama ia menunduk tidak berani menatap kearah Gama yang sekarang memandang Aurora intens, entah apa yang di pikiran Gama sekarang Aurora tidak tahu.
"A—aku ngelakuin itu karna t—tantangan dari temen aku kak, a—aku kegoda karna kalau tantangannya berhasil aku bakal dapet uang, dan tantangannya aku di suruh buat deketin kakak dan ngajak kakak pacaran." Lanjut Aurora.
"Berapa?." Tanya Gama masih menatap Aurora intens.
Aurora mendongak menatap kearah Gama bingung."Hah?."
"Uangnya."
Aurora yang emang manusia paling lemot dan loading ia tidak paham apa maksud Gama di tambah Gama yang irit bicara makin membuat Aurora lemot memahami kata katanya.
Gama menghela napas pelan." Lo bilang, lo dapet tantangan dari temen lo berapa bayaran dari temen lo kalau berhasil?. Jelas Gama.
"Oh...dapet 7 juta." Aurora sekarang paham maksud dari Gama.
Gama menganggukkan kepala pelan." Gue bisa kasih lo lebih."
"Apanya?."
"Uang."
Aurora mengerutkan kening bingung sudah Aurora kasih tahu bahwa otaknya lemotnya melebihi kura kura." Uang? Kenapa kakak mau kasih aku uang?."
"Lo lemot ya." Ujar Gama.
Aurora meringis pelan menggaruk kepala yang tidak gatal."hehehe...aku emang agak lemot, makanya kakak jangan setengah setengah kalau ngomong tuh."
"Padahal udah jelas."
Aurora protes." Jelas dari mana nya irit gitu kalau ngomong."
Gama tersenyum kecil melihat tingkah Aurora yang memprotes bicaranya yang irit.
Aurora membelalakkan mata tidak percaya melihat pemandangan langka, melihat Gama tersenyum meskipun hanya senyum kecil karna yang Aurora tahu Gama sangat sulit tersenyum sedikitpun, paling hanya menyeringai itu bukan di sebut sebuah senyuman kan.
"Kakak senyum?." Pekik Aurora tanpa sadar.
Gama yang tersadar menetralkan ekpresi wajahnya kembali datar.
"Yah... kenapa datar lagi." Aurora lesu melihat Gama kembali datar.
"Padahal tadi ganteng kalau senyum." Ucap Aurora keceplosan menutup mulut dengan kedua tangannya dan memalingkan wajah karna malu dengan ucapannya yang tidak tahu malunya.
Gama diam tanpa Aurora sadari telinganya sudah memerah mungkin Gama salting dengan ucapan Aurora yang mengatakan Gama tampan.
Aurora masih tidak berani melihat ke depan masih memalingkan wajahnya, Aurora tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang sudah semerah tomat karna malu.
"Kenapa liat kearah sana?." Tanya Gama.
Aurora mengutuk Gama apakah Gama pura-pura tidak tahu kalau sekarang Aurora sedang malu hah.
"Gue emang ganteng."
Aurora merengut seolah protes dengan kepercayaan diri dari seorang Gama, Aurora baru tahu bahwa Gama bisa narsis juga.
Gama menaik turunkan alisnya seolah sedang menggoda Aurora, Aurora merengut kesal melihat tingkah Gama sekarang yang agak menyebalkan, Dan Aurora sekarang tahu dari sifatnya yang dingin Gama juga bisa menyebalkan.
"Enggak masih gantengan Kim Taehyung daripada kakak." Jawab Aurora mengelak.
Gama terkekeh pelan mendengar jawaban Aurora seolah lucu di matanya.
"Balik lagi, gue bisa kasih lo lebih dari temen lo kalau lo mau." Gama masih membahas soal tadi tentang tantangan dari temannya.
Aurora yang pada kenyataannya suka uang mulai kehasut dengan tawaran Gama, apakah benar Gama akan kasih Aurora uang lebih gede daripada Zara.
"Berapa?." Tanya Aurora.
" 15 juta." Ujar Gama
Aurora membelalakkan mata kaget mendengar jawaban Gama yang enteng banget kalau ngomong."Hah!? Tapi apa syaratnya?." Aurora tidak mudah tertipu lagi ia tidak akan mengiyakan sebelum tahu apa syaratnya.
"Syaratnya lo jadi pacar gue mulai sekarang, dan lo nggak bisa minta putus kalau bukan gue yang mutusin hubungan ini."
Aurora cengo sesaat mendengar penuturan Gama yang tidak masuk akal." Yang bener aja!!?."
"Kenapa? Gue tau lo suka uang kan, tawaran dari gue kurang menarik buat lo?."
"Gede banget, nggak sayang itu uang lo."
Gama menggeleng pelan."Enggak, uang gue banyak."
Aurora mencibir melihat kesombongan Gama." Laganya banyak uang."
Gama terkekeh pelan melihat ekpresi mengejek dari Aurora.
"Jadi gimana mau atau enggak?." Tanya Gama sekali lagi.
Aurora diam memikirkan tawaran daru Gama, kalau Aurora menerima tawaran Gama Aurora akan dapat uang 15 juta, tapi di satu sisi lain Aurora pasti tidak akan bebas lagi dan tidak bisa memutuskan hubungan mereka.
"Bentar kak, kenapa kakak tiba-tiba mau pacaran sama aku?."
"Nggak ada alasan."
"Kok gitu sih, ya harus ada alesannya dong."
"Jadi apa jawabannya." Gama mengalihkan pembicaraan Aurora.
"Aku enggak tau." Jawab Aurora pada akhirnya.
"Hem, gue kasih lo waktu buat mikir."
Aurora mengangguk karna sudah bel masuk berbunyi Aurora akhirnya pamit pergi untuk masuk ke kelasnya, jangan sampe telat karna kalau telat Aurora akan dapat hukuman.
Aurora sampai di kelasnya Zara dan Khanza melihat kearah Aurora dengan tatapan seperti ingin memangsa buruannya.
"Apa sih." Ucap Aurora risih dengan tatapan kedua temannya tersebut.
"Gimana gimana?." Tanya Zara yang paling semangat.
Khanza hanya diam mendengarkan tapi dia juga penasaran.
"Gimana apanya?."
"Halah sok nggak tau lo."
"Udah diem tuh guru udah ada." Aurora menghela napas lega akhirnya bisa mengalihkan pembicaraan, kalau tidak Zara tidak akan berhenti bertanya.
Zara mencibir kesal tingkah Aurora yang menyebalkan membuat rasa penasarannya belum hilang.