(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 2 - DETAK LOGAM
...Beberapa hal berhenti ketika hari berakhir......
...…dan beberapa hal justru mulai berdetak dalam kegelapan....
...⚙⚙⚙...
Matahari perlahan tenggelam di balik punggung Pegunungan Kharvendal yang menjulang kaku. Semburat emas terakhir menyapu kawah tambang terbuka Brakenford, memantul di antara debu dan kerangka besi sebelum akhirnya meredup menjadi warna jingga yang lelah. Hari kerja telah berakhir, raungan mesin yang memekakkan telinga mulai berhenti satu per satu, meninggalkan keheningan yang asing.
Arven berdiri diam di tengah jalur tambang dengan bahu yang merosot. Napasnya terasa berat, paru-parunya seolah dipenuhi oleh debu dan sisa panas logam yang baru saja ia tangani. Ia menyeka wajahnya dengan lengan, meninggalkan garis hitam oli di pipinya yang kotor oleh peluh.
“Jika dunia ini adalah sebuah mesin,” bisiknya pelan pada diri sendiri, “hari ini ia pasti sudah rusak.”
Di sekelilingnya, suasana mulai lengang. Para penambang sibuk mengemasi peralatan dan menarik gerobak terakhir menuju desa. Uap panas perlahan menghilang dari mesin-mesin mekanik yang berjajar di sepanjang jalan, karya-karya Eldric, pria yang bertahun-tahun lalu mengubah ritme hidup desa ini selamanya.
Arven menatap mesin pengangkat batu hidrolik yang berdiri kokoh dengan sistem katrol dan silinder tekanannya. Tak jauh dari sana, mesin pemecah batu mekanik dengan roda gigi raksasanya tampak diam, sebuah penemuan yang dulu mampu menggantikan tenaga lima orang sekaligus. Namun langkah kaki Arven tidak menuju desa, ia justru berjalan lebih dalam ke pusat tambang.
^^^*gambar buatan AI^^^
Di tengah area galian yang luas dan berdebu, berdiri sebuah sosok yang melampaui segala mesin lainnya. Warga mengenalnya sebagai Raksasa Tambang, namun bagi Arven, namanya adalah Astraeus, nama yang diberikan ayahnya, sebuah nama yang terasa jauh lebih hidup.
Arven tahu kebenarannya. Mesin itu bukan alat tambang biasa. Ia pernah membaca sebuah buku milik ayahnya, mesin itu adalah sesuatu yang jauh lebih tua dari desa ini. Sesuatu yang berasal dari masa lalu yang hampir dilupakan dunia. Mesin itu adalah Titan Gear.
Mesin perang kuno dari zaman yang disebut dalam legenda sebagai Perang Titan.
Namun Titan ini berbeda. Ukuran tubuhnya lebih kecil dari Titan perang yang pernah dicatat dalam sejarah. Sistem mesinnya juga jauh lebih kompleks.
Arven sering mencoba memahami sistem dalam Astraeus. Namun setiap kali ia membuka panel mesin, ia selalu menemukan sesuatu yang tidak ia mengerti. Sistem energi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Rangka mekanik yang terlalu maju untuk mesin tambang. Dan sebuah inti mesin yang tidak pernah benar-benar berhenti berdenyut. Terkadang Arven merasa Titan itu masih ingin hidup.
Arven berjalan mendekati Astraeus. Tubuh logam raksasa itu menjulang setinggi dua rumah kayu, dengan pilar-pilar kaki baja yang tertanam kuat seolah sedang menopang berat dunia.
Sore itu, suasana terasa berbeda. Arven menyipitkan mata, menatap ke arah bagian dada Astraeus dari kejauhan. Mesin itu seharusnya diam total, namun sebuah kilatan samar muncul di balik celah pelat bajanya. Sangat cepat, hampir seperti ilusi yang diciptakan oleh cahaya senja.
Arven mengernyit. “...Apa barusan itu?”
Ia melangkah maju tanpa sadar, mendengar debu tipis berderak di bawah sepatunya. Sekali lagi, sebuah kedipan cahaya biru muncul lalu menghilang dari balik rongga mesin. Jantung Arven berdetak lebih cepat, ia tahu betul Astraeus tidak seharusnya aktif tanpa seseorang di panel kontrolnya.
Arven menghentikan langkahnya beberapa meter di depan kaki raksasa itu. Matanya mendongak perlahan, menyusuri lekuk lengan mekanik besar yang tergantung diam dalam keheningan senja. Bayangan Astraeus jatuh memanjang, menelan tubuh Arven dalam kegelapan baja.
Ia masih ingat dengan jelas cerita para penambang ketika menemukan sosok ini. Bukan di permukaan, melainkan jauh di kedalaman tanah. Awalnya mereka mengira itu hanyalah reruntuhan logam kuno yang tak berguna. Namun, ayahnya datang keesokan harinya, dan dalam hitungan bulan, "reruntuhan" itu mulai bernapas kembali. Eldric tidak membangkitkannya sebagai mesin perang, ia menjinakkan raksasa itu menjadi alat tambang, memaksanya tunduk pada ritme kerja manusia.
“Dan kau bilang mesin tidak punya kemauan,” gumam Arven pelan, mengulangi ejekan penambang tadi.
Ia melangkah lebih dekat. Kabut gunung mulai merayap turun, menyelimuti kaki-kaki baja Astraeus yang kaku. Arven menyandarkan Titan Wrench yang berat di bahunya, menatap permukaan logam yang hitam oleh jelaga.
“Selamat sore Astraeus,” ucapnya santai, seolah menyapa seorang kawan lama. “Kerja bagus hari ini.”
Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak kecil. Ketika ia masih terlalu kecil untuk bisa memanjat Astraeus. Ketika ia hanya bisa berdiri di tanah sambil memandang raksasa logam itu dengan mata penuh kagum.
Dulu Eldric sering tertawa melihatnya melakukan itu. Namun ayahnya tidak pernah menghentikannya. Sebaliknya, Eldric hanya berkata satu hal. “Mesin juga punya irama mereka sendiri.”
Arven tidak pernah benar-benar mengerti maksud kata-kata itu. Namun ia tetap melakukan kebiasaan itu setiap hari.
Arven berhenti tepat di samping pilar logam yang menjadi kaki sang raksasa. Ia mengangkat telapak tangannya, menyentuh permukaan baja yang dingin dan kasar. Tak ada gerakan. Tak ada suara. Hanya benda mati yang mendingin setelah seharian bekerja.
“Sudah hampir malam,” lanjutnya lirih. “Istirahatlah di sini. Aku pulang dulu.”
Namun, saat Arven baru saja hendak menarik tangannya, suara seperti detak jantung terdengar.
DUM...
Arven membeku. Suara itu tidak datang dari udara. Getaran itu merambat langsung dari permukaan baja ke telapak tangannya, menembus kulit hingga ke tulang.
DUM...
Lebih pelan, namun jauh lebih jelas. Itu adalah denyut jantung mekanis yang berdetak jauh di dalam rongga rangka utama. Arven menarik tangannya sedikit, matanya menajam, mencari sumber getaran yang mustahil itu.
“...kau juga dengar itu?” bisiknya hampir tanpa suara.
Di belakangnya, hiruk-pikuk penambang yang sedang membereskan alat mendadak sunyi. Beberapa dari mereka menoleh dengan wajah pucat.
“Oi... kau dengar itu?”
“Jangan bilang dia mulai bertingkah lagi.”
“Tidak lucu kalau benda sebesar itu bangun sendiri tanpa ada yang menarik tuasnya.”
Suara para penambang tidak lagi santai. Ketakutan merayap di antara mereka saat melihat Astraeus yang biasanya diam kini seperti sedang berusaha untuk hidup. Seorang penambang tua melangkah maju, menyipitkan mata ke arah sosok raksasa itu dalam remang kabut.
“Arven,” ucapnya tegas namun penuh kegelisahan, “mungkin kau harus memeriksanya sekarang.”
Hening kembali menggantung. Kabut semakin tebal, mengaburkan pandangan. Di tengah kawah tambang, Astraeus tetap berdiri diam, namun Arven yakin ada sesuatu di balik lapisan baja itu yang bukan sekadar rangkaian gear dan hidrolik.
Tanpa membuang waktu, Arven langsung menuju tangga logam yang menempel pada kaki Astraeus. Besi tebal itu berderit pelan saat kakinya mulai memanjat. Setiap anak tangga terasa dingin dan aus oleh gesekan waktu, dipenuhi noda minyak hitam yang menjadi saksi bisu kerja keras selama bertahun-tahun.
Tangga ini adalah tambahan dari ayahnya. Eldric sengaja memasangnya agar seseorang bisa menjangkau bagian dalam sang raksasa tanpa bantuan derek. Arven terus naik. Sepatu botnya berdentang ritmis pada logam.
KLANG... KLANG... KLANG...
Semakin tinggi ia memanjat, angin gunung berembus semakin kencang, membawa aroma belerang dan uap dingin. Para penambang di bawah kini hanya terlihat seperti titik-titik kecil yang bergerak gelisah di antara gerobak batu.
Akhirnya, Arven mencapai platform servis di bagian pinggang Astraeus. Pelat baja lebar ini adalah tempatnya mengakses panel-panel utama. Ia berdiri sejenak, mengatur napas yang sedikit memburu akibat ketinggian, lalu melangkah mendekati rangka utama.
Tangannya kembali menyentuh permukaan baja. Semuanya terlihat normal, hingga sebuah lampu kecil di salah satu panel dada Astraeus menyala sendiri.
BLINK...BLINK...BLINK...
Tak ada yang mengaktifkannya, namun indikator itu terus berkedip dengan ritme yang stabil. Saat Arven menekan panel pelindung di dadanya, getaran kecil itu kembali terasa, lebih halus, lebih intim, menyerupai denyut nadi yang baru saja bangun dari tidur panjang.
Arven mengerutkan dahi. Ia membuka sebuah panel kecil di sisi tubuh Titan itu. Lampu indikator tua di dalamnya berpijar biru redup, menandakan sistem energi inti masih aktif sepenuhnya meskipun tuas tenaga sudah lama dimatikan.
Di balik celah rangka mekanik, cahaya biru itu berdenyut perlahan. Arven menatap cahaya biru itu selama beberapa detik, terpaku oleh keindahan sekaligus kejanggalan yang ada di hadapannya.
“...kau tidak pernah benar-benar mati, ya?”
Cahaya biru itu terus berdenyut, seperti sesuatu yang hanya menunggu waktu. Dan tanpa alasan yang bisa ia jelaskan, Arven merasa mesin itu sedang menunggu dirinya.
Kini Arven merasa ragu pada apa yang selama ini ia pahami tentang mesin. Karena jika ini bukan sekadar mesin, maka sesuatu di dalamnya sedang mulai hidup.
...⚙...
Beberapa ratus meter dari desa Brakenford...
Di dalam hutan pinus yang lebat, seseorang berdiri diam di balik bayangan pepohonan. Sosok itu mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Wajahnya tersembunyi di balik tudung. Namun matanya tajam.
Ia memandang langsung ke arah desa. Lebih tepatnya ke arah Titan Gear yang berdiri di tengah tambang.
Sosok itu berbicara pelan pada dirinya sendiri.
“Jadi... kau benar-benar ada.” Ia mengamati Titan itu dengan penuh perhatian. Lalu pandangannya berpindah pada seorang pemuda yang sedang berdiri di atas mesin itu.
Sosok misterius itu terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata pelan. “Menarik...”
Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh ke dalam hutan. Namun sebelum menghilang di antara pepohonan, ia menoleh sekali lagi ke arah desa.
"Sepertinya permainan ini akhirnya dimulai."
Dan jauh di dalam pegunungan Kharvendal, sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang akan segera turun dari pegunungan. Dan ketika itu terjadi, desa Brakenford tidak akan pernah sama lagi.
...⚙⚙⚙...
Jika kalian suka cerita dari novel ini, bantu like dan subscribe, jangan lupa komen teori dan tanggapan kalian mengenai novel ini.
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)