Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
###Selamat membaca 😊
Langit siang itu terasa lebih terik dari biasanya. Namun bagi Alya semuanya terasa dingin, langkahnya cepat meninggalkan lorong kampus, seolah ingin menjauh dari tempat itu, dari kenyataan yang baru saja menghantam hidupnya.
Di belakangnya, Raka menyusul dengan langkah lebar.
“Alya!”
Alya berhenti.
Tapi tidak langsung menoleh.
Raka akhirnya berdiri di depannya, mencoba menangkap tatapan gadis itu.
Wajah Alya masih sama tenang di luar. Tapi matanya…
tidak bisa berbohong.
“Lo serius tadi?” tanya Raka, suaranya rendah tapi penuh tekanan.
Alya mengangguk pelan.
“Iya.”
Raka mengusap wajahnya kasar.
“Ini gak masuk akal…”
Ia tertawa kecil, tapi bukan karena lucu tapi lebih ke arah tidak percaya.
“Dosen kita sendiri? Pak Arka?”
Alya tidak menjawab.
Karena menyebut nama itu saja, sudah cukup membuat dadanya terasa berat.
“Lo nolak, kan?” tanya Raka cepat.
Alya terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya… tidak ..
“Aku coba,” ucapnya pelan.
Raka langsung menatapnya tajam.
“Coba?”
Nada suaranya berubah.
“Ini bukan hal yang lo ‘coba’, Ly. Ini hidup lo.”
Alya menunduk.
Ia tahu, ia sangat tahu.
“Ayah gak akan berubah pikiran,” bisiknya.
Raka mendekat sedikit.
“Ya lo lawan.”
Alya menggeleng.
“Gak semudah itu.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Kenapa sih harus selalu nurut? Sekali aja… lawan.”
Alya menatapnya. Ada sesuatu di matanya.
Lelah.
“Karena dari dulu… aku gak pernah punya pilihan.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat sisi Alya yang selama ini tersembunyi.
Bukan dingin.
Bukan cuek.
Tapi… terbiasa menahan.
“Kalau gitu sekarang punya,” ucap Raka pelan.
Alya tersenyum kecil.
Pahit.
“Terlambat.”
####
Malam itu…
suasana rumah kembali terasa menekan.
Alya berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya.
Tangannya menggenggam erat.
Ini bukan pertama kalinya ia masuk ke ruangan itu.
Tapi kali ini rasanya berbeda.
Lebih berat dan lebih menegangkan.
Ia mengetuk.
“Masuk.”
Suara itu terdengar seperti biasa.
Dingin tanpa emosi.
Alya masuk perlahan dan mahendra sudah duduk di kursinya, seolah sudah menunggu.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Alya menarik napas dalam.
“Aku mau bicara.”
Mahendra menatapnya.
“Bicaralah.”
Alya menegakkan tubuhnya dan berusaha menguatkan diri.
“Aku gak setuju dengan perjodohan ini.”
Sunyi.
Ruangan terasa semakin dingin,mahendra tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru semakin tajam.
“Alasan?.”
Satu kata pendek tapi menekan.
“Aku masih kuliah.”
“Bisa dilanjutkan.”
“Aku belum siap menikah.”
“Kamu akan siap.”
Jawaban itu selalu sama.
Selalu memotong tidak memberi ruang.
Alya mengepalkan tangannya.
“Aku gak kenal dia.”
Mahendra menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu akan mengenalnya setelah menikah.”
Seketika emosi Alya naik.
“Itu bukan cara yang benar!”
Untuk pertama kalinya suaranya meninggi di ruangan itu. Mahendra berdiri perlahan, aura ruangan langsung berubah.
Lebih berat.
Lebih menekan.
“Jangan ajari Ayah tentang yang benar atau salah.”
Alya langsung terdiam.
Namun kali ini ia tidak mundur.
“Ini hidup aku,” ucapnya, lebih pelan tapi tegas.
Mahendra melangkah mendekat,tatapannya lurus ke mata Alya.
“Dan Ayah yang menentukan arah hidup kamu.”
Hening.
Mencekik..
“Aku bukan barang yang bisa dijodohkan,” bisik Alya.
Mahendra menghela napas pelan. Seolah mulai kehilangan kesabaran.
“Cukup.”
Satu kata itu seperti batas.
“Pernikahan ini tetap terjadi.”
Nada suaranya berubah.
Lebih tegas Dan lebih final
Alya menatap ayahnya, air matanya mulai jatuh..
Tapi kali ini ia tidak menghapusnya.
“Kalau aku tetap nolak?”
Pertanyaan itu berani
Sangat berani...
Mahendra menatapnya lama,Sangat lama.
Lalu berkata
“Kamu tidak akan menolak.”
Kalimat itu menghancurkan segalanya lagi.
#####
lanjuttttt
Malam semakin larut. Alya duduk di tepi tempat tidurnya dengan lampu kamar redup.
Suasana sunyi.
Tapi pikirannya… tidak. Ia menatap kosong ke depan. Semua terasa berat,seolah ia berjalan di jalan yang sudah ditentukan, tanpa bisa berbalik.
Ponselnya bergetar. Nama itu muncul lagi.
Raka..
Alya ragu sejenak,l alu mengangkatnya.
“Halo…”
“Gimana?” suara Raka terdengar langsung.
Alya tersenyum pahit.
“Sama aja.”
Di ujung sana, Raka terdiam.
Lalu..
“Dia maksa?”
“Iya.”
Sunyi beberapa detik.
“Ly…” suara Raka berubah lebih pelan, “lo mau nikah sama dia?”
Pertanyaan itu…
langsung menusuk.
Alya tidak langsung menjawab karena jawabannya…
jelas
“Gak.”
Jawaban itu lirih,tapi jujur..
Raka menarik napas dalam.
“Kalau gitu jangan.”
Alya menutup matanya.
“Aku gak punya pilihan, Ra.”
“Punya.”
Suara Raka tegas sekarang.
“Lo cuma takut.”
Alya terdiam. Kalimat itu…benar.
Tapi menyakitkan...
“Aku capek, Ra…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya, suaranya benar-benar lemah.
Di ujung sana, Raka terdiam lama.
Lalu berkata pelan
“Kalau lo gak bisa lawan sendirian… gue bantu.”
Alya membuka matanya. Sedikit terkejut.
“Maksud lo?”
“Gue gak akan diem aja liat lo dipaksa kayak gini.”
Ada ketegasan di suara itu. Sesuatu yang belum pernah Alya dengar sebelumnya.
Namun di sisi lain kota…
Seorang pria berdiri diam di balkon apartemennya,menatap malam.
Tenang..
Tapi pikirannya jauh dari itu.
Arka..
Ia teringat satu kalimat
“Saya benci Bapak.”
Entah kenapa kalimat itu tidak bisa hilang dari pikirannya.
Ia menghela napas pelan..
Lalu bergumam
“Kalau memang harus dibenci…”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya menjadi lebih dalam.
“…tidak masalah.”
Namun jauh di dalam dirinya ada sesuatu yang mulai bergerak Perlahan hampir tidak terasa
maaf lancang🙏🙏🙏