Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Sahabat seperti keluarga
Malam itu, di tengah gemerlapnya cahaya lampu, di sebuah kamar luas apartemen mewah milik Junho, pria itu terbangun dari tidurnya. Setelah seharian beristirahat, ia mencoba duduk. Kini tubuhnya sudah tidak seberat sebelumnya lagi. Ia menatap sekeliling—sunyi. Hanya pemandangan kota Seoul pada malam hari yang terlihat dari jendela.
Ingatannya melayang pada kejadian tadi siang, ketika Nala datang untuk mengambil file yang akan dibawa ke rapat. Lalu tiba-tiba pandangannya kabur, dan ia tidak ingat apa pun lagi, meskipun samar-samar ia sempat mendengar suara banyak orang yang ia yakini sebagai petugas medis.
Dengan langkah pelan, ia berjalan keluar dari kamarnya. Tangannya masih terpasang infus, yang membuatnya terpaksa melepaskannya dengan paksa demi memudahkan dirinya bergerak. Begitu sampai ke ruang tamu, ia melihat semuanya masih sama.
Hanya saja, ada semangkuk air di mangkuk kaca besar yang di dalamnya terdapat sapu tangan. Ia tidak ingat apa pun tentang itu.
Hingga akhirnya ia berjalan ke arah meja dekat televisi besar, lalu mengambil tabletnya karena ingin mengecek CCTV dan melihat apa yang terjadi. Di sana ia bisa melihat Nala yang dengan panik mengurusnya—menyeka hidungnya yang berdarah, menghubungi tim medis, bahkan mengompres keningnya.
Yang membuatnya sedikit tersenyum adalah saat mendengar wanita itu meminta izin dengan ragu-ragu untuk masuk ke dapurnya, seperti seseorang yang benar-benar takut melakukan kesalahan, tetapi tetap ingin membantu.
Di tengah itu, tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi. Dengan santai Junho melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Ia berjalan menuju pintu dan melihat layar. Senyumannya seketika terbit saat melihat semua member SOLIX ada di sana. Tanpa ragu ia membuka pintu dan membiarkan semua teman yang sudah ia anggap saudara itu masuk.
Pintu apartemen terbuka, dan seketika riuh suara memenuhi ruangan yang sedari tadi hanya berisi keheningan mesin pendingin udara.
“Ya Tuhan, leader-nim! Kau masih hidup rupanya!” teriak Hoseung paling dulu, masuk tanpa basa-basi sambil menenteng kantong besar berisi makanan dan minuman, diikuti oleh tawa keras Jinwoo yang bahkan belum sempat melepaskan masker wajahnya.
Junho hanya mendengus kecil, setengah geli, setengah lelah, sementara keenam orang di depannya berbaris tanpa formasi—masing-masing membawa sesuatu: Yoohan dengan tas obat, Jihwan membawa bunga dalam pot yang entah untuk apa, Taeyang menggenggam boneka kecil berwarna biru, dan Kiyoon… dengan ekspresi polosnya malah mengacung-acungkan termometer digital.
“Kenapa kalian semua datang?” tanya Junho akhirnya, suaranya serak namun masih tenang.
“Karena kau menghilang dari group chat selama lebih dari delapan jam. Kami sempat mengira kau diculik oleh fans ekstrem,” sahut Yoohan datar.
“…atau diculik oleh naskah lagu baru yang kau benci,” tambah Jihwan, membuat yang lain tertawa keras.
Junho hanya menghela napas, menahan senyum yang mulai terbit di wajahnya.
“Aku hanya sakit sedikit, tidak perlu membuat konferensi penyelamatan internasional,” ujarnya sembari duduk dengan tenang di sofa. Begitu juga dengan keenam sahabat bandnya.
“‘Sedikit’?” Jinwoo menaikkan alisnya, melempar pandang pada tangan Junho yang masih terlihat merah bekas jarum infus yang ditarik paksa. “Kau sampai infus sendiri di rumah, Junho. Itu bukan ‘sedikit’, itu bodoh tapi bangga,” lanjutnya, yang membuat Junho langsung berkata,
“Hyung… kalian benar-benar tidak pernah berubah.” Junho memijat pelipisnya, setengah malu, setengah terharu.
“Dan semoga tidak akan pernah. Sekalipun kau nanti menikah dan punya anak, kami tetap akan datang tanpa izin,” sahut Hoseung cepat, menjatuhkan diri ke sofa panjang seolah rumah sendiri.
“Dan aku yang akan menyeretmu keluar kalau itu terjadi,” ujar Junho masih lemah.
Tawa lagi-lagi memenuhi ruangan. Udara yang tadinya berat kini terasa ringan. Bahkan Junho—yang biasanya menjaga jarak dengan ekspresi tenang dan wibawa seorang leader—kini tertawa kecil, membiarkan dirinya larut dalam kegaduhan yang justru menenangkan.
“Biar aku tebak, yang merawatmu tadi bukan dokter pribadi, kan?” ujar Taeyang tiba-tiba dengan nada penuh misteri.
Junho menatapnya heran.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Taeyang menunjuk mangkuk kaca di meja yang masih berisi air setengah dingin dan sapu tangan terendam di dalamnya.
“Kau terlalu perfeksionis untuk meninggalkan sesuatu seperti itu di ruang tamu. Jadi siapa yang melakukannya?” tanyanya.
Keheningan sekilas melintas. Semua mata kini memandang Junho dengan rasa ingin tahu yang sama. Junho menatap benda itu cukup lama, sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Nala… wanita itu yang melakukan ini. Kurasa aku membuatnya ketakutan,” ujarnya menatap layar tablet yang sudah mati.
Semua orang menatap Junho, hingga Kiyoon akhirnya menimpali.
“Ketakutan?” tanya Kiyoon polos.
“Dia terlihat gugup, tapi tetap menolong. Aku bahkan baru tahu dia sampai memanggil tim medis. Lihat ini.”
Junho menyalakan tabletnya lalu menyerahkannya pada teman-temannya.
Semua orang melihat rekaman itu—saat Nala datang dengan gugup, lalu panik karena tiba-tiba Junho pingsan, menyeka darah di hidungnya ketika Junho sudah tak sadarkan diri, bahkan saat ia meminta izin masuk ke dapur walaupun tidak ada sahutan.
Semua member tertegun melihatnya.
Jika orang lain yang berada di posisi Nala, mungkin saja mereka akan kabur atau justru mengambil kesempatan. Tetapi Nala tidak. Wanita itu mengesampingkan rasa takutnya dan membantu Junho sebisanya.
“Wah, aku tersentuh melihatnya. Seorang wanita yang di ambang ketakutan dan bingung tetap bisa menyelamatkan nyawa leader kita,” seru Hoseung dengan nada menggoda.
Yang lain tertawa lagi, kali ini lebih keras.
Namun Yoohan yang duduk di kursi seberang hanya menatap Junho dengan pandangan lembut—pandangan yang menyimpan rasa syukur karena pria itu akhirnya tampak sedikit lebih hidup malam ini.
Jihwan yang paling sensitif di antara mereka tiba-tiba berkata dengan nada pelan namun tulus.
“Kau tahu, hyung, kadang kita terlalu sibuk sampai lupa bahwa tubuh ini bukan mesin. Kalau hari ini kau jatuh, mungkin itu cara tubuhmu bilang… ‘istirahatlah sedikit.’”
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening sejenak.
Junho menatap mereka satu per satu—keenam orang yang telah bersamanya lebih dari satu dekade, yang tahu sisi dirinya lebih baik daripada siapa pun.
“Itu benar… tapi ngomong-ngomong, apa Nala belum punya pacar?” ujar Taeyang, yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
“Kau mau apa?” tanya Jihwan menatap lekat rekan bertengkarnya itu.
“Aku rasa, ya… dia berbeda dari wanita lain. Coba kalian bayangkan. Jika wanita lain yang ada di posisinya, dia mungkin saja akan mencari kesempatan atau melakukan sesuatu yang tak terpikirkan. Wanita mana yang tidak ingin melihat Junho hyung sedekat itu?” ujarnya.
Hoseung mengangguk.
“Aku setuju. Dari yang aku dengar, dia juga seorang LUNARIS. Coba kalian bayangkan, fans mana yang tidak akan mengambil kesempatan di saat seperti itu?” ujar Hoseung.
Semua orang mengangguk, kecuali Junho.
“Kalian ingat Aeri? Staf koreografi yang diputus kontraknya secara sepihak karena melanggar batas privasi Hoseung?” ujar Jinwoo.
Semua orang mengangguk.
“Rumor di antara karyawan mengatakan dia mengundurkan diri karena jatuh cinta pada Hoseung, padahal kenyataannya dia tidak bisa profesional karena obsesinya itu,” ujar Yoohan.
Mereka mengangguk setuju.
“Benar… itulah hal yang biasanya dilakukan fans. Tapi Nala berbeda. Walaupun dia bertemu dan berhadapan langsung dengan biasnya, dia tetap profesional. Kalian tahu itu sulit untuk wanita,” ujar Hoseung sembari terkekeh.
“Menurut kalian, aku dan dia cocok…?” ujar Taeyang.
Semua orang sontak menoleh padanya, bahkan Kiyoon hampir tersedak makanan yang sedang ia kunyah.
“Apa?” ujar Jihwan memastikan pendengarannya.
“Aku rasa… memang wanita seperti itu yang aku cari. Wanita yang berbeda dari wanita lain. Wanita yang tidak terobsesi padaku hanya karena gelarku, wanita yang tidak berlebihan hanya karena melihat wajahku. A—”
Ucapan Taeyang dipotong Junho.
“Tidak cocok!”
Semua mata tertuju pada Junho.
“Kenapa?” tanya Taeyang.
“Pokoknya tidak cocok. Aku dengar dia sudah punya kekasih, jadi benar-benar tidak cocok denganmu,” ujar Junho tegas.
Semua orang melongo tak percaya.
“Kau bercanda, hyung?” tanya Jihwan.
Junho menggeleng.
“Tidak. Aku mendengar… eum… tak sengaja.”
Semua orang menyipitkan mata, menatap curiga pada Junho.
Ruangan seketika senyap.
Semua yang semula bercanda kini memandang Junho dengan tatapan campur antara kaget dan penasaran.
Yoohan menyandarkan punggungnya di kursi, bibirnya terangkat samar.
“Menarik sekali. Jadi kau tahu dia punya kekasih… karena mendengar secara tak sengaja?”
Junho membuang tatapan, berpura-pura sibuk meneguk air mineral di meja.
“Kalian ini… terlalu banyak drama,” ujarnya pelan, namun nada suaranya sedikit bergetar. Hoseung mencondongkan tubuh, menatap Junho dengan senyum menggoda.
“Tapi wajahmu tak bisa berbohong, Junho-ya. Kau terlihat… cemburu.”
“Cemburu? Tidak ada alasan untuk itu. Aku hanya tidak ingin Taeyang terangkut masalah hanya karena menyukai wanita yang sudah memiliki kekasih,” ujar Junho, tersenyum samar.
Namun di balik senyum tenangnya, dada Junho terasa aneh.
Ada sesuatu yang menyesak di dalam dirinya sejak nama Nala disebut tadi—terutama ketika Taeyang dengan ringan mengatakan ia tertarik padanya.
Ada rasa yang ia sendiri enggan akui.
Bukan karena tidak tahu apa itu, melainkan karena terlalu cepat, terlalu berisiko, dan terlalu bertentangan dengan logika yang selama ini ia junjung.
“Junho-hyung, kami sudah cukup lama bersamamu untuk tahu kapan kau jujur dan kapan tidak. Kalau benar kau tidak punya perasaan apa pun pada gadis itu, kenapa wajahmu berubah sejak kami sebut namanya?” ucap Jihwan tiba-tiba, nadanya lembut tapi tegas.
Junho menatap mereka bergantian. Enam pasang mata yang mengenalnya lebih dalam dari siapa pun. Tidak ada yang bisa ia sembunyikan di depan mereka. Ia menghela napas pelan, suaranya lirih ketika berkata.
“Aku… tidak tahu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi...” ujar Junho yang membuat keheningan kembali menggantung. Yoohan hanya memutar gelas di tangannya, lalu menatap Junho dengan tatapan tajam namun tenang.
“Itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar darimu selama ini,” ujar nya yang membuat Junho menunduk. Ia tidak membantah.
Bayangan Nala kembali hadir di pikirannya—cara wanita itu bicara sopan dengan intonasi lembut, senyum kecilnya yang terlihat tulus tapi penuh kehati-hatian, dan keberaniannya untuk tetap menolong di tengah ketakutan.
Ia ingat bagaimana tangan Nala yang gemetar saat menekan handuk dingin ke keningnya. Ia bahkan bisa mengingat aroma halus sabun tangan yang tertinggal di kulitnya.
Dan itu... cukup untuk membuat dadanya kembali berdebar dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan.
Sejak pertama dia melihat Nala dalam daftar para peserta yang mendaftar kan karya nya di acara penghargaan dia memang sudah tertarik bukan hanya sekedar pada tulisan nya tapi juga pada Nala, ada sisi lain dari wanita itu yang membuat nya terasa seperti manusia biasa.
“Dia berbeda,” ujar Junho tiba-tiba. Suaranya begitu tenang, tapi ada sesuatu yang dalam di balik kata-katanya. “Aku sudah bertemu banyak orang, banyak wanita di dunia ini… tapi tidak ada yang membuatku ingin memperhatikan sekecil itu. Tidak ada yang membuatku ingin tahu apa yang mereka pikirkan setelah pergi,” lanjut nya tanpa sadar, seolah yang berbicara bukan hanya mulut nya.
Kiyoon yang dari tadi diam hanya menatap dengan mulut sedikit terbuka. Jinwoo meletakkan lengannya di bahu Junho dengan ekspresi antara kagum dan terkejut.
“Junho… kau sadar barusan kau baru saja mengakui sesuatu?” ujarnya setengah berbisik.
Junho hanya menatap ke arah jendela besar di depannya. Lampu kota Seoul berkilau di bawah sana, seperti lautan bintang yang terbalik. Ia menarik napas dalam, lalu berkata nyaris seperti gumaman,
“Mungkin… untuk pertama kalinya, aku mulai memahami kenapa orang-orang bisa kehilangan arah karena satu orang,” ujar nya yang membuat suasana hening sesaat.
Hanya suara angin malam yang menyelinap melalui ventilasi kecil di dinding. Hingga akhirnya tawa kecil terdengar dari Yoohan.
“Akhirnya, Kim Namjunho jatuh cinta,” ujar nya antara bahagia dan tidak menyangka.
"Apa kita harus bersiap-siap menyiapkan hadiah pernikahan?" ujar Hoseung sambil mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
Nada suaranya penuh godaan. Ucapannya itu langsung membuat semua orang mengangguk setuju—kecuali Taeyoon yang hanya menatap Junho dalam diam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di wajah leader mereka.
Junho sendiri hanya menggeleng pelan.
“Tidak secepat itu,” balas Junho dengan suara tenang, bibirnya membentuk senyum tipis.
Namun kali ini, senyum itu bukan lagi sekadar penyangkalan—melainkan sesuatu yang lebih lembut. Penerimaan yang datang perlahan, hampir tak terlihat, tetapi nyata.
"Kau tahu, tidak baik menunda-nunda. Kalau dia terlanjur jatuh cinta pada orang lain, habislah kau. Wanita tidak peduli dengan siapa mereka—mereka hanya peduli pada sesuatu yang disebut cinta," ujar Jihwan sambil mengangkat bahu ringan.
Jinwoo langsung mengangguk setuju.
"Jinjja, dia benar juga."
"Ouh ya, Jihwan… kau dan kekasihmu itu bagaimana?" tanya Jinwoo tiba-tiba, menoleh ke arahnya dengan senyum jahil.
Jihwan menggaruk tengkuknya, sedikit canggung.
"Aku akan memikirkannya nanti. Yang lebih kupikirkan sekarang adalah bagaimana reaksi fans kalau mereka tahu. Wahh… aigoo…" ujarnya setengah mengeluh.
Yoohan langsung menggeleng cepat.
"Pengecut," katanya datar.
Ia bersandar ke kursinya, menatap Jihwan dengan ekspresi serius.
"Jika kau memang serius, kau tidak akan peduli badai apa yang ada di depan. Jangan menggantung anak orang terlalu lama. Fans memang berharga bagi kita… tapi mereka bukan segalanya. Arasseo?"
Hoseung langsung terkekeh pelan.
"Dia bisa bicara seperti itu karena fans-nya banyak," sindirnya santai.
Ucapan itu langsung memicu gelak tawa di seluruh ruangan. Bahkan Junho yang biasanya paling tenang pun ikut tertawa kecil, bahunya sedikit bergetar.
Malam itu apartemen besar milik leader SOLIX itu kembali dipenuhi canda dan ejekan khas sahabat lama—suasana yang jarang terjadi di tengah jadwal mereka yang padat.
Mereka terus mengobrol tentang banyak hal—tentang musik baru, tentang konser, tentang kenangan trainee yang memalukan—hingga akhirnya waktu menunjukkan bahwa malam sudah terlalu larut.
Satu per satu mereka berdiri.
"Aigoo, leader-nim harus istirahat," gumam Hoseung sambil meregangkan tubuhnya.
Akhirnya mereka berpamitan pada Junho, meninggalkan apartemen itu satu per satu.
Setelah kehebohan dan tawa yang memenuhi apartemen besar itu perlahan memudar, satu per satu para member SOLIX meninggalkan kediaman Junho. Suara pintu terakhir menutup dengan bunyi lembut.
Dan hening kembali menguasai ruang luas yang beberapa jam lalu terasa hangat oleh canda dan tawa.
Junho berdiri diam beberapa saat di ruang tamu.
Sunyi terasa berbeda setelah kegaduhan tadi—lebih luas, lebih dalam. Ia akhirnya berjalan perlahan menuju balkon, langkahnya tenang namun pikirannya jauh dari kata tenang.
Udara malam Seoul menyambutnya begitu pintu kaca dibuka. Angin tipis menyentuh wajahnya, membawa aroma kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Di bawah sana, jalanan tampak seperti nadi raksasa yang terus berdetak. Lampu kendaraan bergerak perlahan, berbaris seperti serangga bercahaya yang merayap di antara gedung-gedung tinggi.
Junho menyandarkan tubuhnya pada pagar kaca balkon, menatap jauh ke langit malam. Bintang-bintang tampak redup di balik cahaya kota—hampir tak terlihat, namun tetap ada.
Di tangan kirinya, tablet yang tadi menampilkan wajah panik Nala kini telah ia matikan. Layar hitam itu memantulkan bayangan wajahnya sendiri namun bayangan lain tetap tinggal di pikirannya.
Wajah Nala.
Cara wanita itu menatapnya dengan mata penuh kecemasan. Cara alisnya berkerut saat ia memanggil tim medis. Cara tangannya yang kecil sedikit bergetar saat menyeka darah di wajahnya dengan handuk dingin.
Junho masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
Bahkan lebih jelas dari yang seharusnya.
"Aigoo…" gumamnya pelan, hampir seperti menghela napas.
Ada sesuatu dalam itu yang terasa asing—namun anehnya menenangkan.
Perasaan yang selama ini tidak pernah ia izinkan tumbuh kini seperti mengetuk perlahan dari dalam dadanya. Meminta ruang Junho menarik napas panjang. Udara malam memenuhi paru-parunya, dingin dan bersih.
Lalu ia tertawa kecil.
Tawa yang sangat pelan—hampir seperti ejekan pada dirinya sendiri. Seorang leader yang selalu rasional seorang pria yang selalu berhati-hati.
Namun kini…
“Apa aku benar-benar sedang jatuh cinta…?” gumamnya lirih.
Suara itu hampir tenggelam oleh angin malam Seoul.
Telepon genggam di meja bergetar pelan. Nama Kang Doyun muncul di layar, seolah semesta mengingatkannya bahwa masih ada satu orang yang selalu bisa ia ajak bicara tanpa takut dihakimi. Junho menekan tombol panggil, dan beberapa detik kemudian suara serak namun hangat terdengar di seberang sana.
“Ya, akhirnya kau menelpon. Kukira kau sudah lupa punya teman manusia,” ujar Doyun santai.
Junho tersenyum samar, berjalan ke dalam lagi sambil menatap langit di luar jendela.
“Aku tidak lupa. Hanya… terlalu sibuk berpikir,” ujar nya sembari meletakkan tablet nya di meja, dia memilih masuk ke kamar nya dan berdiri di depan jendela kaca besar kamar apartemen mewah tersebut.
“Berpikir tentang apa?” tanya nya.
“Bukan aku, tapi temanku,” jawab Junho cepat, nadanya tenang tapi jelas dibuat-buat.
“Temanmu?” tanya Doyun dengan nada curiga.
“Ya, temanku ini... katanya sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Dia bertemu seseorang yang membuatnya... entah, berbeda. Tidak ada hal istimewa, tidak ada momen romantis, tapi ada sesuatu dalam diri orang itu yang membuatnya ingin tahu lebih jauh. Tapi dia takut salah mengartikan semuanya,” lanjut Junho, berusaha terdengar acuh.
Beberapa detik keheningan, hanya terdengar napas Doyun di ujung sambungan. Lalu suara tawa rendah terdengar.
“Temanmu itu sepertinya tidak bodoh, tapi terlalu takut mengakuinya,” ujar nya yang membuat Junho terdiam.
“Mengaku apa?” tanya nya lagi.
“Bahwa dia sudah jatuh cinta. Orang seperti itu tidak peduli pada siapa pun tanpa alasan. Kalau ‘temanmu’ sampai mengingat hal-hal kecil, sampai resah tanpa sebab, itu bukan kebingungan, Junho. Itu tanda bahwa hatinya sudah memilih, hanya saja otaknya belum mau menerima,” jelas nya yang membuat Junho menghela napas pelan, menatap lantai marmer yang memantulkan siluet dirinya sendiri.
“Lalu apa yang harus dilakukan kalau pilihan itu… mungkin rumit?” tanya nya seolah ragu mengucapkan itu.
“Semua cinta yang tulus selalu rumit di awal. Tapi yang sejati akan selalu menemukan caranya. Kau hanya perlu jujur—pada diri sendiri dulu.” Doyun tertawa kecil lagi.
“Dan sampaikan pada ‘temanmu’, jangan terlalu banyak alasan. Dunia terlalu pendek untuk pura-pura tidak peduli pada seseorang yang membuatnya hidup lagi,” lanjut nya, namun Junho tak langsung menjawab.
Ia menatap keluar jendela lagi, melihat refleksi kota yang kini perlahan diselimuti kabut tipis. Hatinya terasa hangat sekaligus berat.
“Baiklah, akan ku sampaikan pada temanku,” katanya akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan.
“Bagus. Dan sampaikan juga, aku tahu itu bukan cerita tentang teman mu,” balas Doyun cepat sebelum memutus sambungan telepon, membuat Junho menatap layar ponsel dengan tawa kecil yang nyaris tidak terdengar.
Ia menutup mata sesaat, membiarkan keheningan kembali menyelimuti ruangan. Sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya saat ia berbisik pelan pada dirinya sendiri.
“Terima kasih… untuk sudah datang ke hidupku, Nala. Sekarang aku tahu siapa yang aku inginkan... dan aku berjanji akan mendapatkan itu,” ujar nya terdengar seperti sumpah seorang pria yang mulai setuju dengan permintaan hati.
Dia berjanji akan membuat wanita itu jadi milik nya apapun yang terjadi.
Lalu malam pun kembali tenang—menyimpan rahasia kecil yang kini mulai tumbuh di antara kebingungan dan keberanian.