NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Hilang

Dalam waktu sepuluh menit, Aisha sudah berada di lobi apartemen Arka. Arka berdiri di dekat resepsionis, wajahnya pucat, berbicara dengan petugas keamanan.

“Dia masuk ke lobi jam setengah tiga,” kata petugas keamanan sambil memutar rekaman CCTV. “Dia berjalan ke arah toilet... tapi tidak keluar dari toilet.”

“Mungkin dia keluar lewat pintu lain?” tanya Arka.

“Toilet hanya satu pintu, Pak. Ini kami putar rekamannya.”

Aisha menatap layar monitor. Terlihat Baskara masuk ke toilet umum di sudut lobi. Anak itu membawa tas ranselnya. Beberapa menit kemudian, seorang pria dengan topi dan masker keluar dari toilet. Pria itu membawa tas ransel yang sama.

“Stop!” Aisha berteriak. “Itu tas Baskara.”

Petugas keamanan memperbesar gambar. Pria bertopi itu memang membawa ransel merek yang sama dengan milik Baskara. Tapi bagaimana mungkin? Baskara yang masuk ke toilet, yang keluar adalah pria dewasa.

Arka langsung menghubungi polisi. Sementara Aisha berlari ke toilet itu, membuka semua pintu bilik satu per satu.

Semua kosong.

Ia berlutut di lantai toilet yang lembab, mencoba mencari petunjuk. Di sudut, ia menemukan sesuatu. Selembar kertas kecil yang terlipat.

Aisha membukanya dengan tangan gemetar.

Tulisan tangan dengan spidol hitam:

“Aisha, aku hanya ingin berbicara. Jangan bawa polisi. Baskara baik-baik saja. Aku tunggu teleponmu.”

Tidak ada tanda tangan. Tapi Aisha tahu.

Ren.

Ia memegang kertas itu, jari-jarinya memutih karena menekan terlalu keras. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena takut. Ini adalah kemarahan. Kemarahan yang selama tiga minggu ini ia pendam, yang ia ubah menjadi penyesalan dan kesedihan. Kini kemarahan itu keluar, membara, membakar setiap sel dalam tubuhnya.

Arka masuk ke toilet dengan dua petugas keamanan. “Apa itu?” tanya Arka melihat kertas di tangan Aisha.

Aisha memberikannya. Arka membaca, lalu wajahnya berubah. Bukan marah. Tapi sesuatu yang lebih dalam—rasa bersalah.

“Ini karena aku,” kata Arka lirih. “Aku yang memperkenalkan Ren pada keluarga kita. Aku yang percaya padanya.”

“Ini karena aku,” Aisha berdiri. Matanya membara. “Aku yang membiarkan dia masuk. Aku yang... aku yang...”

“Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan.” Arka meraih lengan Aisha. “Kita harus temukan Baskara.”

Aisha menggeleng. “Ren bilang jangan bawa polisi.”

“Kau mau percaya padanya?”

“Aku tidak percaya padanya! Tapi jika kita bawa polisi, dan Ren tahu, dia bisa... dia bisa melakukan apa pun pada Baskara.”

Arka mengepalkan tangan. Ia mengambil ponselnya, menghubungi nomor Ren. Panggilan diteruskan ke pesan suara. Ia coba lagi. Tetap sama.

“Ren tidak mengangkat,” kata Arka frustrasi.

Aisha mengambil ponselnya sendiri. Ia menekan nomor Ren, tapi panggilan langsung masuk ke pesan suara. Ren telah memblokir nomor Arka, tapi mungkin tidak nomornya.

Ia menekan tombol merah, lalu menulis pesan:

“Ren, ini Aisha. Aku akan lakukan apa pun yang kau minta. Jangan sakiti Baskara. Aku mohon.”

Pesan itu terkirim. Tanda centang satu. Belum dibaca.

Mereka menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.

Aisha berdiri di dekat jendela lobi, memperhatikan setiap mobil yang lewat, berharap Baskara akan turun dari salah satunya.

Arka mondar-mandir di belakangnya, sesekali mengangkat telepon dari polisi yang mulai datang.

Akhirnya, pukul enam sore, pesan dari Ren masuk.

“Sendirian. Aku akan memberitahu tempatnya. Jika kau membawa polisi atau Arka, kau tidak akan pernah melihat Baskara lagi.”

Aisha menunjukkan pesan itu pada Arka. Wajah Arka mengeras.

“Kau tidak jadi pergi sendiri,” katanya tegas.

“Arka, dia bilang—”

“Aku tidak peduli. Aku tidak akan membiarkan istriku—maaf, mantan istriku—menghadapi pria gila itu sendirian.”

Aisha menatap Arka. Ada sesuatu di mata pria itu yang selama ini hilang. Bukan hanya kemarahan atau rasa bersalah. Tapi tekad. Tekad seorang ayah yang akan melakukan apa pun untuk anaknya.

“Aku akan ikut, tapi diam-diam,” kata Arka. “Polisi akan berada di sekitar lokasi tanpa terlihat.”

Aisha mengangguk. Ia membalas pesan Ren:

“Aku datang sendiri. Beri aku alamatnya.”

Ren mengirim sebuah alamat. Vila di kawasan Puncak. Vila yang dulu sering mereka gunakan untuk liburan keluarga. Vila yang sekarang menjadi milik Ren setelah Arka menjualnya tahun lalu karena trauma.

Perjalanan ke Puncak memakan waktu dua jam. Aisha mengendarai mobilnya sendiri, dengan Arka mengikuti di belakang dengan jarak aman. Polisi telah disiagakan di beberapa titik, namun diperintahkan untuk tidak terlihat.

Hujan turun di tengah perjalanan. Gerimis tipis yang membuat jalanan licin. Aisha menggenggam setir dengan tangan dingin. Pikirannya hanya pada Baskara.

Apa yang Ren lakukan padanya? Apakah dia ketakutan? Apakah dia lapar? Apakah dia menangis sendirian?

Aisha menekan pedal gas lebih dalam.

Saat tiba di vila, hujan sudah berhenti. Vila itu berdiri di tengah perkebunan teh yang gelap. Hanya beberapa lampu yang menyala di dalam.

Aisha keluar dari mobil. Udara dingin pegunungan langsung menusuk kulitnya. Ia melihat bayangan Arka berhenti di kejauhan, mematikan lampu mobil.

Ia berjalan menuju pintu vila. Pintu itu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Ren berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan senyum yang dulu membuat Aisha merasa istimewa. Kini senyum itu hanya membuatnya muak.

“Aisha,” sapa Ren lembut. “Aku tahu kau akan datang.”

“Mana Baskara?”

“Masuk dulu. Dingin di luar.”

“Ren, mana Baskara?”

Ren menghela napas, lalu menepi. “Dia baik-baik saja. Tidur di kamar atas. Aku hanya memberinya susu hangat. Dia lelah.”

Aisha masuk. Ia langsung menuju tangga, tapi Ren menahan lengannya.

“Sebentar. Kita bicara dulu.”

“Aku tidak ingin bicara. Aku hanya ingin membawa anakku pulang.”

Ren menatapnya dengan mata yang tiba-tiba berubah. Tidak lagi lembut. Ada sesuatu yang gelap di sana.

“Anakmu? Atau anak kalian?” Ren tersenyum miring. “Kau tahu, Aisha, aku iri. Bukan hanya pada Arka. Tapi pada kalian berdua. Kalian memiliki sesuatu yang tidak pernah aku miliki. Keluarga.”

“Kau bisa punya keluarga sendiri jika kau tidak menghancurkan orang lain.”

“Aku mencoba,” suara Ren meninggi sedikit. “Tapi setiap kali aku melihat kalian, aku ingat bahwa aku tidak pernah punya kesempatan. Karena kau memilih Arka. Karena kau memilih pria yang tidak bisa memberimu waktu, sementara aku di sini, selalu ada untukmu.”

“Kau tidak pernah ada untukku, Ren. Kau hanya ada untuk dirimu sendiri.”

Ren tertawa. Tawa yang pahit. “Kau tahu, ketika kau akhirnya mau tidur denganku, aku pikir aku menang. Aku pikir akhirnya kau memilihku. Tapi ternyata tidak. Kau tetap memilih Arka. Kau tetap pulang ke rumah itu. Kau tetap menjadi istrinya.”

“Karena aku mencintainya.”

“Dan kau tidak mencintaiku?”

Aisha menatap Ren lurus-lurus. “Tidak. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya membutuhkan perhatian yang tidak bisa kau berikan juga. Karena yang kau inginkan bukanlah aku, tapi kemenangan atas Arka.”

Wajah Ren berubah. Membeku. Lalu retak.

“Kau bicara seolah kau tidak bersalah,” bisiknya. “Tapi kau sama seperti aku, Aisha. Kau egois. Kau mengambil apa yang kau inginkan tanpa memikirkan orang lain. Satu-satunya perbedaan adalah, aku jujur tentang itu. Kau tidak.”

“Aku tahu aku salah,” Aisha tidak menunduk. “Aku tahu aku egois. Tapi aku berubah. Aku tidak akan menjadi orang yang sama lagi. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan anakku karena egomu.”

Aisha mendorong tangan Ren dan berlari menaiki tangga.

“BASKARA!”

Ia membuka setiap pintu kamar. Di kamar paling ujung, ia menemukan Baskara terbaring di tempat tidur, mata terpejam, napas teratur.

Aisha berlutut di sampingnya, memeriksa detak jantungnya, suhu tubuhnya. Baskara hanya tidur. Ia menghela napas lega.

“Baskara, Nak, bangun. Ibu di sini.”

Baskara tidak bergerak. Aisha mengguncang bahunya pelan. Anak itu mengerang, membuka mata dengan berat.

“Bu?” suaranya serak, mengantuk. “Aku... aku ngantuk banget.”

“Ibu tahu. Ayo bangun. Kita pulang.”

Aisha mendongak Baskara, membantunya duduk. Tapi Baskara seperti kehilangan tenaga, tubuhnya lemas.

“Ibu, aku pusing...”

Aisha menoleh. Di meja samping tempat tidur, ada gelas kosong yang masih menyisakan sisa susu. Susu yang diberi Ren.

“Ren memberimu apa?” tanya Aisha panik.

“Susu... dia bilang biar aku tenang...”

Aisha merasakan amarah membakar lagi. Ren telah memberinya obat tidur. Atau mungkin lebih dari itu.

“Ayo, Nak, Ibu bawa.”

Aisha menggendong Baskara. Di usia dua belas tahun, Baskara sudah cukup berat, tapi Aisha tidak peduli. Ia menopang anaknya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, berjalan menuju pintu.

Ren berdiri di lorong, menghalangi jalan.

“Aisha, jangan bawa dia pergi. Aku belum selesai bicara.”

“Kita sudah selesai bicara, Ren. Sejak aku mengusirmu dari rumahku, kita sudah selesai.”

“Kau tidak bisa memutuskan kapan kita selesai! Aku yang memulai ini, aku yang mengakhiri!”

Ren meraih lengan Aisha. Tapi sebelum ia sempat menarik, sebuah tinju menghantam wajahnya dari samping.

Arka.

Arka berdiri di lorong itu dengan mata merah, napas memburu. Ia memukul Ren sekali lagi, kali ini tepat di perut, membuat pria itu terhuyung dan jatuh.

“Jangan pernah sentuh anakku lagi,” geram Arka, suaranya bergetar hebat.

Ren tertawa sambil memegangi perutnya. “Anakmu? Kau bahkan tidak bisa menjaga istrimu. Apa kau yakin bisa menjaga anakmu?”

Arka hendak memukul lagi, tapi Aisha menghentikannya. “Bawa Baskara dulu. Dia diberi obat.”

Arka langsung mengalihkan perhatian. Ia mengambil Baskara dari gendongan Aisha, memangku putranya dengan lembut. Baskara hanya setengah sadar, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Mereka bertiga berjalan menuruni tangga. Di belakang, Ren masih tertawa pelan.

“Aisha!” teriak Ren dari dalam vila. “Kau pikir ini selesai? Ini baru awal! Aku akan menghancurkan kalian! Aku akan membuat Baskara tahu bahwa ibunya adalah pelacur yang menjual dirinya untuk perhatian! Aku akan—”

Pintu mobil ditutup, meredam teriakan Ren.

Arka mengemudi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan vila itu. Aisha di kursi belakang memangku Baskara, memeluknya erat.

“Bu...” Baskara membuka mata sebentar. “Aku... aku takut, Bu.”

“Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini. Ayah di sini. Kita akan menjaga kamu.”

“Om Ren... jahat... kenapa Ibu...”

Baskara tidak menyelesaikan kalimatnya. Obat itu kembali membuatnya terlelap.

Aisha menatap wajah putranya. Di bawah lampu jalan yang sesekali masuk ke dalam mobil, ia melihat bekas air mata di pipi Baskara.

Anak itu menangis sebelum tertidur. Anak itu ketakutan. Dan semua ini karena Aisha. Karena Ren masuk ke hidup mereka karena Aisha. Karena kelemahan Aisha.

Ia menunduk, mencium kening Baskara.

“Maafkan Ibu, Nak. Ini semua salah Ibu.”

Arka menatapnya melalui spion tengah. Tidak ada kata-kata. Hanya tatapan yang penuh dengan luka yang sama.

Di dalam mobil yang melaju cepat menuju Jakarta, mereka bertiga adalah keluarga yang hancur yang berusaha menyatukan puing-puing yang tersisa. Mereka tidak lagi utuh. Mungkin tidak akan pernah utuh lagi.

seperti dulu. Itu tidak mungkin.

Ia menyalakan mobilnya, mengusap rambut basa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!