Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Rahasia
“Dijual? Siapa yang berani melakukan itu?” Yvone memukul meja, lalu berdiri dari duduknya.
Suaranya yang keras, menarik perhatian pengunjung yang lain.
Meski ia orang yang berkecimpung di dunia bawah, tetapi Yvone sama sekali tidak pernah terlibat dalam sindikat perdagangan manusia.
Kendati bisnis itu sangat menggiurkan, Yvone memiliki prinsip yang berbeda. Lebih baik menghabisi daripada menjual.
“Nyonya Brighita yang melakukannya,” jawab Sui.
“Apa? Wanita tua itu…” Kedua tangan Yvone mengepal kuat.
“Lalu bagaimana dengan Arsen? Apa dia tahu?” tanya Yvone lagi. Ia ingin tahu, apakah pria itu juga terlibat dalam hal ini, jika benar, maka Yvone akan memasukkan pria itu dalam daftar hitamnya.
Akan tetapi, gelengan kepala Sui membuat Yvone bingung.
“Tuan Arsen tidak tahu apa-apa. Terakhir kali, Tuan ingin bicara dengan saya, beliau menanyakan Anda. Tetapi, Nyonya Brighita lebih dulu memergoki kami.”
Tatapan Yvone menyipit, keraguan kini menyelimuti hatinya. Sejak awal melihat Arsen, dia adalah orang yang dingin, terkadang memberi perhatian yang berlebihan. Namun, tak jarang juga membuatnya kesal karena lebih memprioritaskan Renata dibandingkan dirinya.
Yvone bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa perasaan Arsen terhadap Rose?
‘Tunggu, kenapa aku memikirkan itu?’ batin Yvone. ‘Apa pentingnya perasaan pria lagi pula jika benar, yang disukai Arsen bukanlah dirinya, tapi Rose si wanita gendut, bukan Yvone Faranes.’
“Nyonya, maafkan saya karena tidak menjalankan tugas dengan baik,” kata Sui merasa bersalah.
Yvone menatap Sui, lalu kembali ke kursinya. “Bukan salahmu, aku tahu kejadiannya akan begini.” Yvone juga merasa bersalah karena telah meninggalkan Sui sendirian. Harusnya ia meletakkan penjaga di sisi Sui.
“Lalu bagaimana sekarang, Nyonya? Apa Tuan sudah lebih baik pada Nyonya?” tanya Sui.
Yvone menggeleng pelan. “Aku sudah memutuskan untuk berpisah dengannya,” kata Yvone yang membuat Sui seketika membulatkan matanya.
“Apa? Nyonya, Anda tidak boleh berpisah, Anda tidak boleh meninggalkan Tuan Arsen, beliau dalam bahaya,” kata Sui.
Kening Yvone mengkerut.
“Sui, apa maksudmu?”
Sui terdiam, ingatannya terlempar pada beberapa bulan yang lalu. Setelah kepergian Yvone ke luar negeri, ia sering mengalami kesulitan dalam bekerja.
Brighita dan Alexa seringkali menindas dirinya, dan memberikan pekerjaan yang tak ada habisnya. Renata juga tak jarang turut menindasnya. Meski begitu, Sui tetap bertahan sampai menunggu Yvone pulang.
Hingga puncaknya, pada malam itu, Sui tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Brighita, Renata, dan juga Alexa. Sui sudah berusaha untuk tidak ketahuan, tetapi kehadiran pelayan lain membuatnya tertangkap basah.
“Nyonya, saya mendengar percakapan antara Nyonya Brighita, Nona Alexa, dan juga Nona Renata,” kata Sui.
Yvone mulai tertarik dengan pembahasan ini. “Percakapan apa?”
“Selama ini, mereka bukan hanya memberi obat pada Anda, tapi juga pada Tuan Arsen.”
“Apa?” Yvone jelas saja kaget. “Apa kau serius? Bagaimana mungkin mereka melakukan itu pada Arsen?”
Yvone benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang ibu bertindak demikian kepada putranya sendiri. Lalu Renata, sejak awal Yvone memang sudah curiga wanita itu memiliki niat yang tidak baik.
“Mereka ingin menguasai aset milik keluarga Reinhart. Nyonya, Tuan sangat mencintai Anda, Tuan bermaksud untuk memindahkan asetnya atas nama Anda, tapi Nyonya Brighita dan Nona Alexa tidak setuju. Itu sebabnya mereka memberikan obat pencuci otak pada Tuan agar Tuan patuh kepada mereka,” jelas Sui menceritakan kembali apa yang ia dengar dari percakapan antara Brighita, Alexa, dan Renata.
“Pantas saja, Tuan sering mengeluh sakit kepada,” sahut Daniel yang sejak tadi memilih diam.
Yvone teringat sesuatu, saat berbicara dengan Arsen, pria itu tampak tidak fokus. Pandangannya berkeliaran, seperti sedang merasa gelisah, dan kekhawatiran yang berlebihan.
“Sebenarnya Tuan tidak pernah memprotes Anda meski bentuk tubuh Anda berubah jadi gendut. Tuan tetap mencintai Anda. Tapi karena mereka terus menghasut Tuan sampai-sampai Tuan berubah.”
“Lalu apa lagi?” tanya Yvone lagi.
“Nona Renata, semua ini ide Nona Renata. Dia tidak benar-benar menyukai Tuan, tapi hanya ingin hartanya saja. Nyonya Brighita menjanjikan 25% saham kepada Nona Renata jika wanita itu berhasil menikahi Tuan Arsen dan membujuk Tuan untuk tanda tangan surat pengalihan aset.” Sui terus menceritakan apa yang sudah dicerna oleh kepalanya.
“Benar-benar gila. Mereka memang gila. Uang memang membuat orang jadi gila,” umpat Yvone.
“Apa kau punya bukti kuat tentang percakapan mereka?” tanya Daniel.
Sui menatap Daniel, kemudian menjawab, “Aku sempat merekam pembicaraan mereka. Tapi ponselku hilang saat aku dibawa ke pelabuhan.”
“Ah, sayang sekali,” gumam Daniel pelan.
Sui meraih pergelangan Yvone lalu mengguncangnya pelan. “Nyonya, Anda harus kembali pada Tuan Arsen, jika tidak Anda akan kehilangan beliau selamanya.”
Mendengar itu, Yvone membuang muka. Sebenarnya ini sama sekali bukan urusannya. Karena ia hanya menumpang di tubuh Rose saja. Akan tetapi, entah mengapa batinnya terusik dengan ucapan Sui. Seolah dirinyalah yang mengalami semua ini.
“Aku tidak akan kembali, aku sudah muak dengannya,” kata Yvone. Ia sendiri tidak yakin bahwa ia benar-benar mengatakannya.
“Nyonya, jangan begitu. Bagaimanapun, Anda dan Tuan pernah melalui masa-masa bersama,” bujuk Sui.
Yvone mana ingat semua itu. Jelas saja, karena dirinya bukanlah Rose, melainkan Yvone. Tiba-tiba sebuah bayangan putih muncul dan berdiri di hadapannya. Dunia seketika berhenti. Detak jam pun berhenti. Orang-orang di sekitar tampak mematung.
Yvone kebingungan, di antara mereka hanya dirinya yang bisa bergerak.
“Rose?” gumam Yvone.
Sosok itu lantas mengacungkan jari telunjuknya ke arah dahi Yvone. Sebuah ingatan berlomba-lomba muncul di kepala Yvone, bagai kepingan puzzle yang saling melengkapi.
“Rose, maukah kau menikah denganku?” Arsen mengenakan setelan jas hitam, berlutut di hadapan Rose sembari menyodorkan sebuah kotak perhiasan berisi cincin berlian.
Rose tersenyum lalu menjawab, “Ya, Arsen. Aku akan menikah denganmu.”
Ingatan-ingatan masalalu itu, kini memenuhi isi kepada Yvone. Seolah semua itu adalah ingatannya miliknya sendiri. Arsen telah berjanji sehidup semati, begitu juga dengan Rose yang bersedia menerima Arsen dalam keadaan sehat maupun sakit.
Dan janji mereka telah terikat dalam sebuah pernikahan suci yang tidak akan bisa dihancurkan oleh siapapun. Ingatan itu berakhir ketika Sosok bayangan putih itu menarik tangannya.
“Mulai saat ini, ingatanku sepenuhnya milikmu, sebagai gantinya, aku akan mengambil ingatanmu,” kata Rose.
Yvone membuka mata, bola matanya memindai sekitar. Semua orang kembali bergerak saat Rose menghilang.
Di sisi lain, Arsen telah bersiap untuk menjemput Rose di rumah orang tuanya. Rasa sakit di kepalanya telah menghilang setelah ia meminum obat pereda nyeri. Arsen sendiri juga tidak mengerti mengapa dirinya sering mengalami sakit kepala.
Setelah selesai dengan penampilan, Arsen segera meraih kunci mobil, lalu melangkah meninggalkan kamar. Saat hendak masuk dalam kendaraan, atensinya tertarik oleh sebuah kendaraan lain memasuki halaman.
Arsen urung memasuki mobil, dan berdiri menatap para penumpang yang tak asing baginya.
“Arsen, kau mau ke mana?” tanya Brighita yang lebih dulu keluar dari mobil. Selanjutnya disusul Alexa, dan yang terakhir Renata.
“Ma, aku akan pergi menjemput Rose.”
“Apa? Untuk apa kau menjemputnya, bukankah dia ingin bercerai darimu?” Brighita tampak keberatan dengan niat Arsen.
“Tidak, Ma. Aku tidak akan pernah bercerai dengan Rose.”
Setelah mengatakan itu, Arsen berbalik hendak masuk ke dalam mobilnya saat tiba-tiba ia merasa sebuah benda tumpul menghantam tengkuknya.
Bugh!