Di tengah pekuburan yang telah melapuk dimakan waktu, tiga gundukan pusara berdiri sejajar bagai rahang terbuka. Mereka bukan sekadar batu nisan bisu, melainkan pintu gerbang yang bernapas. Bisikan-bisikan dingin merayap dari celah-celah tanah, memanggil nama, menjerat jiwa, menjanjikan sebuah kunci.
Kunci itu bukan benda berupa logam. Ia adalah ungkapan metaforis yang berdenyut layaknya jantung yang baru dicabut. Saat Laura menggenggamnya, dunia yang ia kenal seketika retak.
Lantai di bawah kakinya meleleh menjadi lumpur hitam. Realitas bukan lagi sesuatu yang tegak dan nyata, melainkan sesuatu yang merangkak naik. Dari kedalaman liang lahat, dari perut bumi yang kelaparan, kegelapan merambat perlahan; menelan tawa, menelan akal sehat, dan menyeretnya hidup-hidup ke dalam kebenaran yang mengerikan di mana orang mati bukanlah mereka yang tertidur begitu saja, melainkan mereka yang selalu berusaha menyampaikan sebuah kabar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Terpendam
Seorang psikolog wanita dengan suara lembut mencoba mengajak Laura dan Amelia berbicara, akan tetapi bagi keduanya, rentetan kata-kata terasa berat di lidah. Bagaimana menjelaskan kengerian saling bunuh antara orang yang dicintai? Bagaimana menceritakan kesepian yang menusuk di tengah ketidak pastian? Mereka hanya bisa menjawab dengan kalimat-kalimat pendek, terputus-putus, dan seringkali diakhiri dengan tatapan pasrah ke arah dinding putih. Namun, ketika mata mereka bertemu, ada pemahaman yang tak terucapkan, sebuah ikatan yang terbentuk dari trauma yang sama.
"Semua berawal dari hilangnya kontak yang terlalu lama." Ucap seorang petugas polisi masuk ke ruang tempat Laura dan Amelia dirawat.
"Kedua orang tua kalian mencoba menghubungi kalian berulang-ulang. Setelah hampir dua hari, mereka akhirnya sepakat untuk melaporkan kehilangan ini kepada pihak berwajib."
"Ayahnya Amelia yang pertama memberikan informasi tentang nama hotel tempat kalian menginap, sebab putrinya sempat bercerita melalui telpon." Tutur petugas polisi melanjutkan. "Dari situ kami lalu menelusuri, kami mendapat keterangan dari pihak hotel, bahwa empat orang, atas nama Roni, Ariana, Amelia dan Laura, bepergian untuk sebuah tur sungai, hari kalian bepergian adalah tanggal 25 Maret, 2026, kami melakukan interogasi ke pihak pelayaran di tanggal 27 Maret, 2026, dan memang pada hari tanggal 25 sempat terjadi insiden perahu mati, yaitu tersangkut di dangkalan pasir. Petugas saat itu didatangkan dan berhasil mengevakuasi sekitar 30 penumpang termasuk Nahkoda. Jadi saat kami kembali bertanya di tanggal 27, disebutkan bahwa tidak ada yang hilang saat pelayaran di tanggal 25, sebab suluruh penumpang telah dihitung, dan berjumlah 30 orang. Hari berikutnya kami terus mencoba melakukan pencarian, tidak membuahkan hasil, lalu hari-hari berikutnya lagi, hari ini, kami memutuskan kembali mencari ke pulau tempat perahu sempat mengalami kandas, dan sekarang di sinilah, kami berhasil menemukan kalian, dan membawa kalian ke tempat ini." Ungkap polisi menjelaskan panjang lebar.
Pemandangan di ruang perawatan menjadi haru biru saat orang tua Laura dan Amelia masuk. Ibu Laura, dengan wajah sembap dan mata bengkak, langsung memeluk putrinya erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Air mata tumpah ruah, kalimat-kalimat syukur dan penyesalan terucap bergantian. Ayah Laura, dengan raut wajah keras yang tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya, mengusap kepala putrinya lembut. Hal yang sama terjadi pada Amelia; ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, dan ayahnya menepuk bahu putrinya, berusaha menenangkan.
"Ibu tahu kalian akan selamat, sayang," bisik ibunya Laura di antara isakannya, "ibu tidak pernah berhenti berdoa."
Namun, di tengah kelegaan itu, awan mendung kembali menyelimuti. Pintu ruangan terbuka lagi, dan masuklah sepasang suami istri dengan wajah yang lebih pucat dan tatapan lebih hampa: orang tua Ariana. Mereka datang bukan dengan harapan, melainkan dengan konfirmasi kabar duka yang paling menyakitkan.
Melihat Laura dan Amelia yang terbaring, hati mereka seakan diremas. Ibu Ariana langsung terhuyung, untungnya sang suami sigap menopangnya. Tidak ada kata yang terucap, hanya suara isak tangis yang tertahan dan tatapan mengukir kepedihan yang ditujukan kepada kedua gadis itu. Tatapan itu seolah bertanya, "Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
Laura dan Amelia merasakan tusukan nyeri di hati mereka. Betapa menyedihkan melihat orang tua Ariana yang kini harus menghadapi kenyataan pahit. Mereka berdua memalingkan wajah, tak sanggup menatap langsung kesedihan yang begitu kental itu. Beban di pundak mereka terasa semakin berat. Keduanya tahu, selain memulihkan diri, mereka juga harus mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan kisah yang sebenarnya, kisah tentang bagaimana persahabatan yang erat harus berakhir tragis di sebuah pulau terpencil, dan bagaimana dua nyawa melayang karena keputusan yang mengerikan. Pertemuan ini, antara kelegaan dan duka, menjadi babak baru dalam proses penyembuhan yang panjang dan menyakitkan.
Tal berapa lama kemudian. Seorang wanita paruh baya kemudian muncul dari balik pintu, dia adalah wanita yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga dekat Roni, masuk terhuyung mendengar berita kematian keponakannya yang begitu mendadak dan tragis. Roni si anak yatim piatu itu adalah segalanya baginya, anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang.
Kedatangan Tante Roni menambah lapisan duka yang pekat di ruangan rumah sakit itu. Wajahnya yang keriput dan lelah, dipenuhi guratan kesedihan. Saat ia melihat Laura dan Amelia, tatapannya beralih dari satu ke yang lain, seolah mencari jawaban atas apa yang terjadi pada Roni.
"Roni... keponakanku satu-satunya..." suaranya pecah bercampur isak tangis. Ia mendekati Laura dan Amelia secara bergantian, memegang tangan mereka erat-erat. "Kalian bersamanya di sana, kan? Apa yang terjadi? Bagaimana Roni bisa... bagaimana dia bisa pergi begitu cepat?"
Pertanyaan itu menusuk jantung Laura dan Amelia. Mereka tak sanggup menjawab. Melihat Tante Roni yang begitu rapuh, kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki, membuat mereka merasa semakin bersalah, semakin terbebani. Amelia merasakan tenggorokannya tak dapat mendorong suara. Sedang Laura menundukkan kepala, menghindari tatapan mata di depannya yang melontar kepedihan.
Orang tua Laura dan Amelia mencoba menenangkan Tante Roni, menjelaskan bahwa semuanya masih dalam penyelidikan dan mereka juga belum tahu detail pastinya. Namun, itu tidak banyak membantu. Tante Roni hanya ingin Roni-nya kembali. Ia terus memanggil nama Roni, seolah berharap pemuda itu akan muncul dan memeluknya.
Setelah pertemuan emosional yang menguras tenaga dan melelahkan hidung yang harus tersumbat, dokter dan psikolog memutuskan bahwa Laura dan Amelia membutuhkan penanganan yang lebih intensif dan terpisah untuk proses penyembuhan mereka. Beban psikologis yang mereka tanggung terlalu besar untuk hanya diobati secara fisik. Mereka harus ditempatkan di kamar terpisah, jauh dari keramaian dan tekanan, agar bisa fokus pada pemulihan mental dan emosional mereka.
Kabar itu disampaikan dengan hati-hati oleh dokter kepada keluarga. "Mereka sangat trauma, Tuan dan Nyonya. Untuk sementara, mereka akan dipindahkan ke bangsal khusus agar bisa mendapatkan perawatan psikologis yang lebih intensif dan terfokus. Kontak dengan keluarga akan dibatasi untuk beberapa waktu, demi kebaikan mereka."
Laura dan Amelia yang mendengar keputusan itu, merasakan gelombang kepanikan kecil. Setelah berhari-hari hanya memiliki satu sama lain sebagai sandaran, kini mereka harus terpisah. Pandangan mereka bertemu lagi, penuh dengan kekhawatiran yang baru. Mereka tahu ini demi kebaikan, namun rasa takut akan kesendirian kembali muncul.
"Aku... aku baik-baik saja di sini," bisik Laura lirih, mencoba menolak.
"Kami tidak apa-apa kalau bersama," tambah Amelia, mencoba meyakinkan.
Namun, keputusan sudah bulat. Dengan berat hati, perawat membantu memindahkan Amelia ke sebuah kamar di lantai lain, sementara Laura tetap di bangsal yang sama namun di kamar yang berbeda. Tirai privasi terpasang, memisahkan mereka dari dunia luar. Di kamar masing-masing, mereka berdua terbaring dalam kesendirian, dikelilingi keheningan yang terasa begitu asing setelah hiruk pikuk perjuangan hidup di pulau dan keramaian kedatangan keluarga.
Seorang psikolog akan secara rutin mengunjungi mereka, berbicara tentang apa yang terjadi, membantu mereka memproses trauma, dan mengajarkan mekanisme koping. Terapi akan dimulai, sedikit demi sedikit mengurai benang kusut dalam pikiran mereka. Makanan akan disajikan di kamar, dan kunjungan keluarga akan sangat dibatasi, hanya pada jam-jam tertentu dan dalam pengawasan.