“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Yang Tak Terucap
Fahri menunggu kalimat itu selesai. Namun yang datang justru… hening.
Beberapa detik berlalu.
Lalu, di balik cadarnya, Ayza tersenyum lagi. Tipis. Tertahan. Seolah memaksa dirinya terlihat baik-baik saja.
“Baik.”
Jawaban itu akhirnya keluar. Singkat. Ringan. Terlalu ringan.
Fahri tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Ayza beberapa detik, mencoba menangkap sesuatu dari sorot matanya.
Ada yang berubah. Sangat halus… tapi terasa. Seperti ada kalimat yang hampir terucap, namun sengaja ditarik kembali sebelum sempat keluar.
Fahri mengerti. Dan memilih untuk tidak memaksa.
“Bisnisnya lagi sibuk banget, ya?” tanya Ayza akhirnya, berusaha terdengar biasa.
Fahri mengangkat alis sedikit. “Kenapa tanya begitu?”
“Belakangan dia sering pulang malam,” jawab Ayza pelan. “Kadang juga gak pulang.”
Fahri terdiam. Ia menyandarkan tubuhnya kembali. “Memang lagi banyak proyek,” katanya. “Beberapa kerja sama baru juga lagi jalan.”
Ayza mengangguk pelan. “Sering meeting di luar?”
“Sering.”
Jawaban itu singkat. Terlalu singkat.
Ayza menatap Fahri. “Kalau… meeting sama klien,” ucapnya hati-hati, “biasanya di mana?”
Fahri tersenyum kecil. “Kenapa? Kakak lagi interogasi aku?”
Ayza ikut tersenyum di balik cadarnya, tapi tipis. “Enggak. Cuma nanya.”
Fahri menghela napas pelan. “Kalau klien besar, biasanya di kantor atau restoran. Kadang hotel… tapi di ruang meeting, bukan di kamar.”
Deg.
Jawaban itu terasa seperti hantaman pelan… tapi tepat mengenai dadanya. Sorot mata Ayza sempat goyah sepersekian detik, sebelum kembali tenang seperti semula.
“Hmm… begitu ya.”
Fahri menangkapnya. Perubahan yang nyaris tak terlihat… namun terlalu jelas untuk diabaikan.
Ia menyipitkan mata sedikit.
“Kenapa, Kak?”
Ayza menggeleng cepat. “Gak apa-apa.”
Fahri tidak percaya. Namun ia memilih diam.
Beberapa detik berlalu.
“Kak Ayza…” panggilnya pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
Ayza menoleh.
Kalimat itu tertahan di bibir Fahri. Ia ingin bertanya.Ingin memastikan. Namun akhirnya ia hanya tersenyum.
“Kalau ada apa-apa… bilang ke aku, ya.”
Ayza menatapnya. Lalu mengangguk pelan. “Iya.”
Fahri ikut mengangguk. Namun di dalam hatinya… ia tahu. Ada sesuatu yang tidak beres.
Dan sejak ia mengenal pria itu… ia merasa tidak tenang saat menyebut nama Kaisyaf dalam pikirannya.
Fahri mengalihkan pandangannya sejenak. Tangannya meraih botol air di meja, membukanya tanpa benar-benar merasa haus.
“Beberapa minggu ini…” ucapnya pelan, seolah berpikir, “Kak Kaisyaf memang agak beda.”
Ayza langsung menatapnya.“Beda gimana?” tanyanya, terlalu cepat sebelum sempat ia tahan.
Fahri menangkap itu. Namun ia pura-pura tidak menyadarinya.
“Belakangan ini…” jawab Fahri pelan, seolah mempertimbangkan. “… dia malah lebih sering narik aku ikut.”
Ayza menatapnya. “Maksudnya?”
Fahri kembali menyandarkan punggungnya. “Beberapa proyek besar dia mulai bagi ke aku. Bahkan hal-hal yang biasanya dia pegang sendiri… sekarang dia jelasin detail.”
Ayza terdiam.
Fahri mengerutkan kening sedikit. “Awalnya aku pikir dia lagi mau ekspansi, jadi butuh orang kepercayaan,” lanjutnya. “Tapi…”
Ia berhenti sejenak.
“rasanya kayak…” ia menghela napas pelan, “dia lagi nyiapin sesuatu.”
Ayza menunduk pelan. Tangannya kembali saling menggenggam.
“Ny… nyiapin apa?” tanyanya lirih, hampir seperti bisikan.
Fahri menggeleng. “Gak tahu pasti,” jawabnya jujur. “Cuma… rasanya aneh aja.”
Ia menatap Ayza.
“Kayak orang yang gak mau ninggalin sesuatu dalam keadaan berantakan.”
“Dia bahkan sempat bilang… aku harus siap ambil alih kalau suatu saat dia gak bisa.”
Ayza terdiam. Dadanya kembali terasa sesak. Menyiapkan sesuatu. Kata itu berdentang di kepalanya. “Apa dia… sedang merencanakan sesuatu dengan orang lain?” pikiran itu datang begitu saja.
“Sering keluar juga?” tanyanya pelan.
Fahri mengangguk. “Iya. Tapi gak selalu jelas meeting sama siapa.”
Kalimat itu seperti menekan luka yang belum sempat ia obati.
Ayza menunduk sedikit. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuannya.
Fahri memerhatikannya dalam diam.
Potongan-potongan itu mulai tersusun di kepalanya.
Sering pulang malam. Kadang tak pulang. Dan sekarang… pertanyaan-pertanyaan yang terlalu spesifik.
Ia menghela napas pelan.
“Kak…” panggilnya hati-hati.
Ayza mengangkat wajahnya.
Fahri menatapnya lekat. Kali ini lebih serius. “Kak Kaisyaf… gak bikin masalah, 'kan?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat jantung Ayza berdetak lebih keras.
Ayza menggeleng. Tapi di dalam hatinya… entah kenapa, ia mulai takut.
Mungkin… yang ia hadapi bukan sekadar masalah rumah tangga biasa.
Setelah Ayza pergi, Fahri terdiam menatap mobil itu yang semakin menjauh.
“Apa yang sebenarnya terjadi…” gumamnya pelan.
Akhir-akhir ini, Kaisyaf memang berubah. Lebih dingin. Lebih tegas. Dan… lebih sering melibatkannya dalam banyak hal.
Permintaan bantuan yang dulu sesekali, kini hampir tanpa jeda. Namun Fahri tidak pernah menolak.
Baginya, Kaisyaf bukan sekadar rekan bisnis. Pria itu… adalah orang yang mengangkatnya dari titik terendah.
Orang yang ia hormati. Yang ia percaya. Yang tidak mungkin ia curigai tanpa alasan yang jelas.
Fahri menghembuskan napas pelan. Lalu tiba-tiba, sebuah ingatan terlintas.
Waktu itu… Kaisyaf sempat terdiam cukup lama saat melihat seorang anak perempuan di sebuah acara.
Tatapannya… berbeda.
“Jangan-jangan…” gumam Fahri pelan. “Dia pengen punya anak perempuan?”
Pikirannya mulai menyusun kemungkinan.
Kerja lebih keras. Lebih sibuk. Lebih serius.
“Biar bisa liburan sama Kak Ayza… terus punya anak lagi…” Ia tersenyum kecil. “Al juga sudah besar…”
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Entah kenapa… ada sesuatu yang tetap terasa janggal.
Fahri mengerutkan kening.
“Kalau cuma itu alasannya…” bisiknya pelan, “kenapa harus sejauh ini…?”
***
Setelah beberapa saat berdiri diam menatap arah mobil Ayza yang kini sudah tak terlihat, Fahri menghela napas pelan.
Ia lalu berbalik, membersihkan diri dari sisa oli dan keringat.
Tak lama kemudian, ia sudah berada di dalam mobilnya, melaju menuju kantor Kaisyaf.
Ada sesuatu yang ingin ia pastikan… langsung dari orangnya.
Perjalanan terasa lebih sunyi dari biasanya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan wajah Ayza tadi.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Tak butuh waktu lama, Fahri telah tiba.
Ia melangkah masuk ke dalam gedung, menyapa beberapa karyawan yang ia kenal, lalu langsung menuju ruang kerja Kaisyaf.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan meja kerja pria itu, menyandarkan bahunya santai.
“Kak… jangan kerja terus,” ujarnya ringan. “Nanti kalau sakit, aku juga yang repot.”
Kaisyaf tidak langsung menatap. Tangannya masih membolak-balik berkas di depannya.
“Kalau begitu…” ucapnya tenang, “kamu harus bantu aku lebih banyak.”
Fahri langsung mengangkat tangan.
“Baik, aku tarik kata-kataku tadi,” katanya cepat, setengah tertawa. “Anggap saja tidak pernah kukatakan.”
Kaisyaf tersenyum tipis. Namun senyum itu… tidak benar-benar sampai ke matanya. “Seharusnya kamu serius, Fahri.”
Fahri mengerutkan kening sedikit. “Untuk apa?”
“Untuk berjaga-jaga.”
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua kebenaran disembunyikan dengan kebohongan,...
...kadang hanya dengan diam."...
..."Yang paling menakutkan bukan perubahan,...
...tapi ketika kita tidak tahu alasan di baliknya."...
..."Ada hal-hal yang terasa salah,...
...bahkan sebelum kita menemukan buktinya."...
..."Ketika seseorang mulai mempersiapkan sesuatu,...
...sering kali… itu bukan untuk tetap tinggal."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.