NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

...Aroma Rindu Di Kantin Batalyon...

Di sela jam makan siang di batalyon hari itu, Arka masih sibuk di ruang kerjanya. Kapten Yudha telah pergi beberapa saat lalu, meninggalkan Arka dalam kesunyian yang hanya ditemani oleh suara gesekan lembar-lembar kertas beberapa kali.

Namun, Arka tahu pasti bahwa fokusnya sudah menguap entah ke mana. Tangan pria itu perlahan bergerak, meraih saku dada sebelah kirinya. Jemari kasarnya mengambil selembar foto yang sedikit lecek karena genggamannya beberapa saat lalu.

Naira.

Sebuah foto berlatar kuning dengan ekspresi aneh dan menolak formal yang terpampang di sana. Menatapnya, senyum Arka yang biasanya terkunci rapat perlahan mengembang. Pikirannya seketika jatuh pada pembicaraan dengan Kapten Yudha beberapa saat lalu.

Naira adalah kebalikan dari dunianya yang kaku.

Suara derap langkah kaki yang mendekat mendadak memutus lamunannya. Dengan gerakan refleks yang cepat, Arka kembali memasukkan foto tersebut ke saku kirinya.

Pintu terbuka. "Ka, kamu enggak istirahat?"

Pria itu langsung menegakkan posisi duduknya, menatap ke arah Kapten Yudha yang baru saja kembali. "Siap. Berkas catatan kesehatan ini hampir selesai dipantau, Kapten."

Kapten Yudha menganggukkan kepalanya ringan. "Selepas itu cepat istirahat. Menu di kantin hari ini cukup enak."

"Kapten sudah makan?" tanya Arka, matanya kembali berpura-pura meneliti setiap lembar surat di hadapannya.

"Sudah."

"Memangnya menu apa sampai Kapten Yudha bilang enak?"

Kapten Yudha terkekeh pelan. "Sayur lodeh. Tempe bacem goreng. Ada sambal bawang yang pedas, sama es teh manis."

Deg.

Arka seketika menghentikan gerakan tangan yang hendak membalik kertas. Ingatannya langsung terlempar ke momen hampir sebulan lalu. Saat pertama kali ia menikmati makan siang di rumah Naira, sayur lodeh adalah masakan pertama yang dihidangkan oleh gadis itu untuknya. Ditambah dengan sengatan sambal bawang pedas yang sempat membuat wajah kakunya memerah padam saat itu.

Tanpa membuang waktu lagi, pria itu buru-buru menutup lembar berkas di hadapannya dengan sekali sentak. Ia bangkit berdiri. "Izin, Kapten. Saya harus makan siang dulu."

"Oh? Ya, silakan," sahut Kapten Yudha agak heran melihat perubahan ekspresi juniornya yang mendadak buru-buru.

Arka melangkah lebar, bergegas keluar dari ruangan menuju pantry kompi di sisi lain gedung. Aroma ketumbar dan wangi gurih santan langsung tercium samar begitu ia melintasi koridor terdekat menuju dapur.

Di dalam pantry, beberapa prajurit tampak masih duduk menikmati sisa makanan mereka. Sementara itu, Arka langsung berjalan cepat mendekat ke arah meja saji, lalu meraih satu nampan besi bersekat miliknya.

Nasi hangat dipadukan dengan guyuran sayur lodeh yang mengepulkan uap, berdampingan dengan potongan tempe bacem goreng yang berwarna cokelat gelap manis.

"Lettu Arka mau tambah sambal?" tanya ibu penjaga kantin ramah begitu melihat sang perwira menyodorkan nampannya.

Pria itu segera menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Iya, Bu. Sambalnya agak banyak, ya."

Pria itu kemudian mengambil secangkir es teh manis, lalu berjalan menuju sisi pojok ruangan yang agak sepi. Setelah mendudukkan diri, tangan kirinya bergerak mengeluarkan kembali pasfoto Naira dari dalam sakunya, meletakkannya di sisi nampan tersembunyi. Rasanya ia hampir gila menahan desakan rindu yang tiba-tiba membuncah begitu saja di dadanya.

Arka mulai menikmati sayur tersebut. Benar kata Kapten Yudha, rasanya memang enak. Namun, lidahnya jelas tahu ini berbeda jauh dengan sayur lodeh buatan Naira yang rasa santannya lebih lembut, aroma ketumbarnya yang pas, dan tentu saja... sambal kantin ini sama sekali tidak sepedas sengatan sambal bawang buatan gadis itu.

"Nai..." pria itu bergumam sangat lirih, menatap lekat-lekat pasfoto dengan senyuman kaku di hadapannya.

Begitu makanannya tandas tanpa sisa, Arka merapikan nampannya dan buru-buru melangkah lebar menuju koperasi batalyon. Beruntung, telepon umum koin di sudut ruangan sana sedang sepi siang ini. Langkah Arka kian tergesa. Hari Sabtu, libur nasional. Ia tahu pasti Naira sedang tidak mengajar dan berada di rumah.

Pria itu bergegas merogoh kantong, mengeluarkan beberapa keping koin yang langsung berderak jatuh begitu dimasukkan ke dalam mesin telepon. Jemari besarnya menekan deretan tombol nomor tujuan rumah Naira dengan hafal di luar kepala.

Dada Arka berdesir cemas selama beberapa saat, hingga bunyi nada sambung itu akhirnya terputus.

"Halo?" suara lembut seorang gadis menyahut di seberang sana.

Seketika itu juga, gumpalan beban di dada Arka menguap tanpa sisa. Rasa lega yang luar biasa merayapi seluruh sudut hatinya.

"Halo, Nai."

"Mas Arka?"

"Iya, ini Mas. Kamu lagi apa?" Suara dari seberang terdengar gemeresak pelan.

"Di rumah, Mas. Eh, Mas... tadi Bude Wati nanya..." Naira menjeda kalimatnya ragu.

Arka mengernyit lembut. "Terus?"

"Aku ketemu Santoso," suara dari seberang terdengar menggebu, menahan luapan emosi yang sempat tertahan.

Seketika rahang Arka mengeras. Tatapannya menajam tanpa sadar ke arah dinding wartel. "Kamu baik-baik saja?"

"Bude Wati bela Nai, terus..." Suara dari seberang sempat terdengar terputus-putus karena sinyal yang naik turun.

"Terus kenapa, Nai?" tuntut Arka, suaranya merendah penuh intimidasi.

"Aku nampar Santoso karena dia mukul Bude Wati."

"Bagus."

"Hah?" Naira terdengar cengo di seberang sana.

"Bagus. Kamu memang harus berani," tegas Arka tanpa keraguan sedikit pun. Calon istrinya tidak boleh diinjak-injak oleh orang lain.

Naira terdiam sesaat, sebelum akhirnya buru-buru mengalihkan topik pembicaraan dengan suara yang kembali ceria. "Mas, aku tadi masak soto."

Arka perlahan menyandarkan bahu tegapnya ke kaca pembatas wartel. Ketegangan di tubuhnya meluruh seketika. Ia diam mendengarkan ocehan riang gadis itu di seberang sana tentang betapa nikmatnya kuah kaldu soto daging buatannya pagi ini. Lambat laun, seutas senyum tipis terangkat dari sudut bibir Arka.

Di tengah riuhnya Batalyon dan tumpukan berkas Wasrik, Arka rasa dirinya memang sudah benar-benar dimabuk Naira.

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!