Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34. Barraq kabur
“Ya, ya. Aku dengar, Bang," sahut mas Barraq dengan membiarkan berat tubuhnya ia bebankan padaku.
Ia lunglai? Ia benar-benar membawaku dalam masalah, dengan ia keluar di dalam.
"Bukan Abang mau membenarkan kelakuan gila kau, tapi Abang kasian sama kau. Materi itu penting, Nak. Kau terbiasa hidup serba mudah dan serba ada. Orang tua kau kuat modalnya, ingat itu, Nak. Abang loh kasian sama kau, Abang tak mau kau nyesel. Yang patuh, turutin aja. Balik lah cepat ke Singapore, jangan sampai bang Nadim nyandak kau di Medan.” Nasihat itu terdengar penuh dengan kasih sayang.
"Bang, jaman sekarang banyak AI. Belum tentu itu aku kan? Abang nggak bisa langsung percaya sama foto itu dong,” jelas mas Barraq dengan menyangga tubuhnya dengan siku.
Lama-lama ia berat juga, guys.
"Setelah foto mesum itu, terus sekarang kau kl*maks kan? Abang paham situasi kau sekarang, Nak. Kalau kau tak bisa nekan betina kau, lebih baik kau baliklah ke Singapore. Jangan sampai bang Nadim dan ayah benar-benar cabut fasilitas kau, Nak,” ungkap si penelepon, yang membuatku tidak percaya.
"Bang, itu memang rencana bang Nadim kan? Memang dia nggak ridho anak bawaan pacarnya ini dapat hak keluarga!” Mas Barraq melirikku yang berada di bawahnya. Ia nampak sekali tidak mau menyingkir dari atasku.
"Seburuk itu pikiran kau dengan ayah biologis kau, Nak?" Suara laki-laki di seberang telpon terdengar tenang.
“Kalau gitu memang inginnya, biar aku yang keluar dari keluarga ini!" ancamnya begitu angkuh.
Apa masalah yang ia hadapi sebenarnya?
“Kau ngerti tak sih, kalau mereka cuma ingin menyelamatkan kau. Mereka tak mau kau disalahkan, mereka tak mau kau kesusahan, mereka tak mau kau masuk ke dalam masalah yang lebih kompleks. Stop bilang tentang kau anak bawaan pacar bang Nadim. Andai kata kau dalam posisi serupa, langkah yang kau ambil pun akan sama. Kau akan tetap pulang ke keluarga kau, Nak. Jangan seolah kau mampu berdiri di kaki sendiri, songkongan dari mereka untuk semua usaha baru yang ingin kau bangun itu tak sedikit modal, Nak. Jangan keras kepala!"
Tut.
Layar ponselnya langsung kembali ke layar utama. Sepertinya si penelepon mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Mas Barraq langsung memandang wajahku, ia memberikan senyum terbaiknya dan memposisikan pinggulnya dengan gerakan maju dan mundur.
Ia melanjutkan kegiatan ini?
"Mas!” Aku menahan pahanya dengan betisku.
"Nggak usah dipikirin, Sayang. Biar jadi urusan Mas nanti,” jelasnya dengan mulai membangkitkan minatku kembali.
Ia anak laki-laki yang bebal.
"Mas, kamu udah keluar!” Aku memukul dadanya pelan.
Aku kesal ia tidak bisa safety. Padahal di awal janjinya begitu meyakinkan.
“Mas belum keluar, kamu tenang aja," jawabnya dengan tersenyum manis.
Aku menelisik bola matanya. Senyumnya menenangkan, seolah memang tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
"Kita lanjut ya?” Ia menyatukan dahi kami.
Merasakan sedikit pergerakan di bawah sana, ditambah sensasi panas yang memenuhi. Aku yakin ia sudah tumpah, ada cairannya yang terjebak di dalam intiku.
"Lepasin, Mas!" pintaku dengan mendorongnya kasar.
Pikirku, cepatlah dicabut agar meleleh keluar. Daripada terjebak di dalam sana, nanti bagaimana jika sampai telurku dibuahi oleh air miliknya?
“Mas tak bisa kau perintahkan, Dea! Kau harus ingat itu!" bisiknya lugas dengan tenaganya yang ia gunakan untuk menahanku memberontak padanya.
Aku bergidikan, darahku seperti merambat perlahan dan bisa aku rasakan di dalam lapisan kulitku. Ia kembali menunjamkan lebih dalam kemudian menariknya sedikit jauh, lalu menghantamku kembali penuh tenaga.
Aku meracau seperti burung. Rasanya cukup sakit, tapi temponya membangkitkan minatku kembali.
Aku perempuan bodoh, yang kembali terang**** dengan cara kasarnya.
Laki-laki yang tengah menguasai tubuhku, benar-benar tidak memiliki rasa puas hingga aku merasakan intiku kering karena terlalu sering bergesekan dengan miliknya. Baru ketika ia menyadari kondisiku, ia melepaskanku dengan lelehan panas yang sangat banyak membasahi area yang kemungkinan sudah lecet karenanya.
Perih, aku meringis menahan sensasi yang ia tinggalkan.
Pengakuannya tidak sesuai dengan fakta. Aku yakin ia keluar berkali-kali, dengan miliknya yang enggan ia keluarkan dari milikku sejak tadi.
Namun, yang membuatku tidak habis pikir. Ia mampu menyambung beberapa ronde dalam satu waktu.
“Maaf, De. Gara-gara Mas, kau memerah parah," ujarnya dengan jemarinya yang berada di tepian milikku.
Aku terkulai tak berdaya, membiarkannya mengecek kondisiku dan membersihkan diriku dari sisa-sisanya. Setidaknya aku dilepaskannya dalam kondisi hidup, meski ia sudah menggepurku dengan buaian rasa manis yang terindah.
Aku rasa, aku tertidur kelelahan.
Aku mendengar ocehan mulut Selly di dekatku, tapi aku masih belum bisa memulihkan tenagaku dengan segera. Aku melirik ke arahnya, melihatnya yang bolak-balik mengumpulkan pakaianku dan meletakkannya di dekatku.
“Kau diperkaos apa sama-sama butuh sih?”
“Mana sampai tadi dipanggilkan dokter sama Barraq, pikiranku jadi berspekulasi ke mana-mana."
“Apa yang kau rasa sekarang?"
“Barraq balik sama keluarganya, dia dijemput di bawah tadi."
“Mana yang sakit?"
Suara Shelly masih mendominasi ruangan ini dengan seluruh laporannya ketika aku tertidur tadi.
“Aduh…" Aku meringis ketika bergeser posisi mencoba untuk bangkit, karena di area milikku benar-benar perih sekali.
Rasanya lebih-lebih seperti pertama kali kehilangan keperawananku dulu. Batang macam apa tadi yang menghantamku tak tau kira?
“Dea, Dea…” Shelly duduk di tepian tempat tidur, ia membantuku menutupi dadaku dengan selimut.
Aku memeluk selimut yang Selly rapatkan tadi, kemudian aku menggeser posisiku sampai aku bisa bersandar pada kepala ranjang ini. Aku masih meringis, karena aku paksakan tadi untuk beralih tempat.
"Mana yang sakit? Biar aku langsung telpon Barraq.” Ia menyalakan ponselnya dalam genggamannya itu.
Jika mas Barraq kembali, bisa-bisa ia menggepurku tanpa kasihan lagi.
Aku menggeleng, mengisyaratkan tanganku di depan tubuhku. "Jangan hubungi dia lagi,” putusku cepat.
Kan benar? Ia tumpah di dalam. Karena posisiku yang baru bangun sekarang, membuat sisa-sisa airnya meleleh keluar.
“Kau diperkaos Barraq, De?" Mata bulatnya mekar sempurna.
Kenapa juga ia memakai lipstik merah menyala? Aku jadi tambah takut ia memakanku hidup-hidup.
"Menurut kau?” Aku melirik ke nakas, di situ ada air mineral botol yang masih tersegel.
Apa mas Barraq sengaja menyediakannya untukku?
Aku langsung meraih air mineral tersebut, membukanya dan meminumnya buru-buru. Kerongkonganku kering kerontang, aku seperti tidak minum seharian rasanya.
"Kau doyan, dia enak. Aku tau itu,” putusnya tanpa bertanya banyak padaku.
Bola matanya berputar. "Hah, udalah! Aku jadi pengen,” lanjutnya dengan bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah jendela.
Shelly membuka gorden, hari sudah sangat terang. Aku melirik ke arah jam dinding, aku tidak percaya sekarang pukul satu.
Aku teringat, ketika malam tadi mas Barraq mengajakku masuk ke dalam kamar hotel ini. Aku meraih ponselku yang tergeletak tak jauh dari air mineral di atas nakas tadi. Kemudian melihat ke arah jam yang tertera di ponselku.
Sudah berganti tanggal, ini pukul satu siang hari. Aku melewatkan pekerjaanku sejak tadi pagi dan aku belum absen masuk. Bisa-bisa mas Barraq menegurku karena tidak ada pekerjaan yang dikerjakan, tapi aku sudah terhitung dalam jam kerja.
Alamat potong gaji.
“Mampus aku, Shel!" Aku langsung membuka emailku.
“Barraq udah bereskan pekerjaan kau setengahnya," terangnya bertepatan dengan terbukanya laporan input pagi tadi.
“Aku tak habis pikir sama kau, De. Status kau bersuami loh, De! Tapi bisa-bisanya kau kl***ks di bawah laki-laki yang bukan suami kau. Di mana akal kau! Bisa-bisanya kau diakali sama Barraq." Ia berjalan mondar-mandir, dengan dress yang menonjolkan bentuk badannya yang indah.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠