Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pasar pagi Desa Tidar biasanya ramai oleh suara tawar-menawar ikan dan sayuran. Tapi hari ini, keramaian itu terhenti sejenak saat dua sosok berjalan berlawanan arah di lorong sempit antara kios-kios.
Di satu sisi, Raka. Dia memakai kemeja lengan panjang lusuh untuk menutupi memar latihan. Matanya waspada, mengamati setiap sudut. Di kepalanya, Sistem 2bit berjalan pasif, merekam pola gerak orang-orang di sekitarnya sebagai data tambahan.
Di sisi lain, Bima.
Dia terlihat berbeda. Bajunya longgar, menutupi tubuhnya yang kurus tapi padat. Tangannya dibalut perban putih kotor yang sudah mengering oleh darah lama. Wajahnya tetap pucat, tapi matanya... matanya tidak lagi kosong. Mereka tajam. Fokus. Seperti predator yang baru saja menemukan mangsa favoritnya.
Hendra dan Joko tidak ada di sampingnya kali ini. Bima datang sendirian.
Mereka bertemu tepat di tengah lorong. Jarak lima meter.
Warga pasar yang melihat mereka langsung mundur, memberi ruang lebar. Gosip tentang "rivalitas mematikan" mereka sudah menyebar luas. Tidak ada yang berani jadi penonton dekat-dekat.
Raka berhenti. Napasnya teratur. Dia ingat pelajaran Laras: Jangan takut pada ujung senjata. Takutlah pada orang yang memegangnya.
Bima juga berhenti. Dia menatap Raka. Tidak ada senyum. Tidak ada ejekan. Hanya tatapan menilai.
"Kau terlihat lebih segar," ucap Bima. Suaranya datar. Serak.
"Kau terlihat seperti baru keluar dari kuburan," balas Raka tenang.
Bima tidak tersinggung. Malah, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Mungkin."
Dia melangkah maju. Satu langkah.
Insting Raka berteriak. Bahaya.
Tangan kanan Bima bergerak. Cepat. Tidak ada ancang-ancang. Tidak ada teriakan. Hanya pukulan lurus yang ditujukan ke dada Raka.
Raka tidak menghindar ke samping. Dia mengingat simulasi semalam. Masuk ke zona mati.
Dia melangkah maju, menyongsong pukulan itu, sambil memiringkan bahu kirinya untuk menangkis lengan Bima.
Bam!
Dampaknya keras. Tulang belikat Raka terasa retak sesaat. Tapi dia berhasil mengalihkan arah pukulan Bima sehingga hanya mengenai otot bahunya, bukan jantung atau paru-paru.
Sebelum Bima bisa menarik tangannya, Raka sudah masuk ke dalam jangkauannya. Tangan kanannya melayang, siap memukul ulu hati Bima.
Tapi Bima tidak mundur.
Dia justru menerima pukulan Raka di perutnya. Dug!
Wajah Bima tidak berubah ekspresi. Sama sekali. Seolah-olah dia tidak merasakan sakit. Dengan tangan kiri yang bebas, Bima mencengkeram kerah baju Raka dan menariknya kuat-kuat ke depan, lalu membenturkan dahi mereka.
Crack!
Raka melihat bintang-bintang. Kepalanya berdenyut nyeri. Penciumannya dipenuhi bau besi dan keringat asam.
Bima melepaskan cengkeramannya. Raka terhuyung mundur, memegang dahinya yang berdarah.
Bima berdiri tegak. Napasnya bahkan tidak terengah-engah. Dia menatap Raka dengan tatapan dingin.
"Teknikmu bagus," kata Bima pelan. "Efisien. Cerdas. Tapi kau masih terlalu lembut. Kau menghitung rasa sakit. Aku tidak."
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada pukulan dahi tadi. Raka merasakan dingin yang merambat dari tulang belakangnya. Bukan karena luka fisik, tapi karena realisasi bahwa lawan di hadapannya telah melampaui batas kewarasan manusia biasa. Bima bukan lagi bertarung untuk menang. Dia bertarung untuk membuktikan bahwa rasa sakit hanyalah ilusi.
Raka mengusap darah di dahinya. Pandangannya kabur sesaat, tapi fokusnya kembali tajam. Dia menyadari satu hal: Bima telah menghilangkan rasa takut akan cedera. Itu membuatnya mustahil dibaca. Mustahil diprediksi dengan logika biasa karena dia rela menghancurkan dirinya sendiri demi melukai lawan.
"Kau gila," gumam Raka.
"Gila adalah harga yang harus dibayar untuk kekuatan," jawab Bima.
Dia berbalik, siap pergi. Pertarungan singkat itu—hanya sepuluh detik—sudah cukup baginya. Dia tidak ingin mengalahkan Raka hari ini. Dia ingin Raka tahu bahwa aturan main telah berubah.
"Latihan terus, Raka," kata Bima tanpa menoleh. "Karena lain kali, aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita tidak bisa bangun lagi."
Dia menghilang ke kerumunan warga yang masih terpaku ketakutan.
Raka berdiri di sana, napas berat. Dahinya berdarah. Bahunya nyeri. Tapi otaknya bekerja cepat. Menganalisis.
[!] Analisis Lawan: Bima.
[!] Gaya Bertarung: Brutal / Self-Destructive.
[!] Kelemahan Terdeteksi: Tidak ada pertahanan diri terhadap serangan balik kompleks. Hanya mengandalkan ketahanan.
[!] Rekomendasi: Gunakan variasi serangan. Jangan adu tenaga.
Sistem memberikan data dingin. Raka menghela napas. Dia menang secara teknis? Mungkin. Tapi secara psikologis, Bima baru saja memenangkan ronde pertama. Karena Raka sekarang ragu. Ragukan apakah tekniknya cukup untuk menghentikan orang yang tidak peduli pada rasa sakit.
Laras muncul dari balik kios sayur. Wajahnya serius. Dia melihat darah di dahi Raka.
"Dia menyerangmu?" tanya Laras.
"Hanya tes," jawab Raka, membersihkan darahnya dengan kain sapu tangan. "Dia semakin kuat, Laras. Dan semakin berbahaya."
Laras menatap arah Bima pergi. Matanya menyipit.
"Kita butuh rencana baru," katanya. "Teknik dasar tidak akan cukup melawan orang gila."
Raka mengangguk. Dia tahu. Simulasi Level 3 saja tidak cukup. Dia butuh sesuatu yang lebih. Sesuatu yang bisa menembus pertahanan daging baja Bima.
"Malam ini," kata Raka. "Aku akan buka modul berikutnya. Apapun risikonya."
Laras menatapnya lama. Lalu dia mengangguk sekali.
"Aku akan siapkan obat luka. Kau akan membutuhkannya."
Mereka berjalan pulang berdampingan. Matahari mulai naik, menerangi pasar yang kembali ramai. Tapi bagi Raka, dunia terasa lebih gelap. Lebih dingin.
Karena dia sadar, musuh utamanya bukan lagi preman desa. Tapi monster yang diciptakan oleh obsesi sendiri.
Dan monster itu sedang lapar.
Bersambung.